Kamis, 16 Juni 2022

PENYAIR SEBAGAI JURU KISAH Oleh: Eko Windarto

 PENYAIR SEBAGAI JURU KISAH

Oleh: Eko Windarto

Teeuw (Satoto, 1986: 1-2) mengemukakan bahwa mempelajari sastra itu ibarat memasuki hutan, makin ke dalam makin lebar, makin belantara. Dan, di dalam ketersesatan itu ia akan memperoleh kenikmatannya. Dari pendapat ini, terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang komplek dan dalam. Di dalamnya penuh makna yang harus digali melalui penelitian yang mendalam pula. Itulah sebabnya kehadiran metode penelitian sastra memang perlu, karena selama ini yang telah ada baru apresiasi, studi, kajian, telaah, dan sejenisnya. Padahal penelitian jelas berbada dengan istilah-istilah tersebut. Melalui penelitian, sekurang-kurangnya persyaratan metodologis akan dan harus terpenuhi.

Pendekatan penelitian ada bermacam-macam, tergantung sisi pandang peneliti. Semakin rinci jenis pendekatan yang dipilih, tentu penelitian akan semakin sempit dan detail. Masing-masing pendekatan memiliki arah dan sasaran yang berbeda-beda. Secara garis besar, Tanaka (1976:9) mengenal dua pendekatan yaitu: (1) mikro sastra dan (2) makro sastra. Mikro sastra artinya kajian yang menganggap bahwa memahami karya sastra dapat berdiri sendiri tanpa bantuan aspek lain di sekitarnya. Sebaliknya, makro sastra adalah pemahaman sastra dengan bantuan unsur lain di luar sastra. Dua tawaran pendekatan tersebut, sebenarnya sejajar dengan pendekatan Wellek dan Warren (1989), yaitu pendekatan instrisik dan ekstrinsik. Pendekatan instrinsik adalah penelitian sastra yang bersumber pada teks sastra itu sendiri secara otonom. Sedang pendekatan ekstrinsik adalah penelitian unsur-unsur luar karya sastra. Yakni pengkajian konteks karya sastra di luar teks.

Oleh sebab itu saya mencoba mengkaji atau menelaah puisi Prof. Wahyudi Siswanto lewat bahasa alam. Karena puisi-puisinya banyak bicara tentang alam di sekitarnya. Mari kita telusuri puisi di bawah ini.

Parade Rayap

Oleh: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto

lihatlah parade berjuta rayap

membangun istana raksasa

bagi tubuh mungil mereka

bangunan dipenuhi lorong-lorong sempit

bilik khusus yang rumit

gudang-gudang penyimpan bahan makan

lubang pengatur sinar matahari dan kodisi udara

areal peetanian bercocok tanam

dalam sarang yang sama

jangan bertanya tentang kenyamanan di sana

sebab sirkulasi dan kelembaban udara begitu sempurna

apakah engkau tidak bertanya

bagaimana berjuta rayap dalam satu sarang melakukan kerjasama sempurna

bila mereka nyata-nyata buta

: coba siapa bisa menjawabnya

****

Dengan tegas Al Qur'an mengatakan seluruh penghuni langit dan bumi keseluruhannya bisa bertasbih dan bicara. " Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka." ( Qs Al-isra (17):44)

Mereka semua bisa berbicara dan berkomunikasi dengan semua manusia sebagai ditegaskan dalam ayat innahu lahaqqu mitsla ma antum tanthiqum. Bahkan, partikel dan organisme terkecil pun bisa berbicara.

Demikian juga penyair, bisa menyatu dan bicara pada alam sekelilingnya lewat puisinya yang menyatu dalam diri alam itu akan menghasilkan bahasa alam yang terasa liris, yang mengingatkan kita pada puisi ekologi, yang sementara ini sering diabaikan sebagian penyair kita. Padahal melalui PUISI Ekologi bisa membawa kita dalam kesadaran menjaga dan melestarikan alam yang sekarang mengalami kerusakan sangat parah.

Dengan demikian, seorang PENYAIR tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari kondisi kehidupan alam sekitarnya, termasuk juga keadaan alam tempat PENYAIR itu berada. Benda-benda dan suasana di sekelilingnya sering kali dipergunakan PENYAIR untuk mengekpresikan perasaan atau pun pikiran-pikirannya. Seperti halnya dengan puisi berjudul PARADE RAYAP yang menarik untuk kita kaji. Yang mana sang penyairnya sangat peka melihat sesuatu di sekelilingnya. Terbukti ia mampu melihat dengan mata batinnya untuk mengungkapkan parade rayap seperti pada bait pertama ini / lihatlah parade berjuta rayap/ membangun istana raksasa/ bagi tubuh mungilnya/. Dari situlah aku lirik menggambarkan berjuta rayap bisa membangun istananya sendiri tanpa bantuan manusia yang punya akal dan pikiran. Dari situ kita sebagai manusia yang berakal pikiran kok banyak yang tidak mampu membangun istananya sendiri? Kenapa negeri yang gema ripah loh jinawi kok belum bisa berdiri di kakinya sendiri? Padahal kemerdekaan telah diraih berpuluh tahun yang lalu. Kenapa? Entahlah.

Pada bait dua, kita disuguhi penggambaran yang begitu gamblang / bangunan dipenuhi lorong-lorong sempit/ bilik khusus yang rumit/. Nah, dalam lorong-lorong sempit dan rumitan, rayap-rayap tidak pernah mengeluh untuk membuat istananya. Coba kita bandingkan dengan manusia yang kaya mau pun yang miskin masih banyak mengeluh bila dirundung sedikit kerumitan hidup. Penggambaran ini mestinya menjadi cermin bagi manusia yang berakal.

Rayap-rayap juga masih bisa hidup di bawah genting, di kayu-kayu lapuk, di dalam tanah, dan dimana saja. Itu terbukti pada bait ini, / gudang-gudang penyimpanan bahan makanan/ lubang pengatur sinar matahari/ dan kondisi udara areal pertanian bercocok tanam/ daly sarang yang sama/. Betul-betul penggambaran yang runut dan menampar wajah manusia yang selalu mengeluh dan minta lebih. Ya, memang manusia itu banyak yang serakah dari pada yang menerima apa adanya. Padahal kita tahu, bahwa kehidupan dan rejeki manusia telah dicatat sebelum atau semenjak dia dilahirkan.

Pada bait empat ini kita serasa diajak membicarakan imajinasi-imajinasi aku lirik, yang mana ia mencoba mengajak kita melihat hukum alam yang tak perlu dipertanyakan lagi karena sudah menjadi sunahtullah, seperti yang ia lukiskan lewat diksi dan metafora yang menarik untuk disimak, / jangan bertanya tentang kenyamanan di sana/. Suatu penggambaran aku lirik untuk membantu para pembaca mengerti artinya. / sebab sirkulasi dan kelembaban udara begitu sempurna/. Memang, jika kita mengandaikan diri terperosok masuk ke lubang kecil maka napas akan sesak dan tersengal-sengal. Oleh karena itu jangan bertanya lagi karena itulah sesungguhnya hidup di dunia ini. Penuh rintangan dan jalan yang sempit dan harus bisa dilalui dengan sempurna.

Lagi-lagi pada bait lima kita dihadapkan pada aku lirik sang juru kisah untuk bertanya kepada berjuta rayap untuk membangun elemen-elemen sebuah cerita yang tersaji lewat mata batinnya. / apakah engkau tidak bertanya/ bagaimana berjuta rayap dalam satu sarang/ melakukan kerjasama sempurna/ bila merek nyata-nyata buta/. Kalau dibaca dan dirasakan, maka.posisi juru kisah memberi ruang dan menambah dramatiknya cerita, juga ikut membentuk irama dalam cerita puisi ini. Pada bait lima ini aku lirik berdiri di luar cerita dan mengisahkan langsung sebuah tanya kepada pendengar atau pembacanya. Pada bagian ini aku lirik mencoba menjadi orang buta dalam artian yang luas untuk memberi gambaran pada orang-orang yang sehat dan sempurnya. Sungguh, satir yang teramat halus dan mengena.

Di bait terakhir aku lirik menghujamkan pertanyaan begitu pedas dan tajam bagi manusia yang bertubuh utuh dan sempurna. Saya hanya bisa geleng kepala cara aku lirik meminjamkan mulut dan mata batinnya untuk berbicara dalam penuturan yang begitu menghentakkan. COBA SIAPA BISA MENJAWAB.

sekarputih, 1542019

Label:

Senin, 13 Juni 2022

PENGAKUAN SASTRAWAN BUKAN MENCETAK ANTOLOGI PUISI

 DOELOE bukan main senangnya ketika karya sastraku dimuat di salah satu media cetak  regional , kala itu di Indramayu tak ada media cetak yang ada di Cirebon dan Bandung. Kira-kira tahun 80-an. Seakan kebanggaan  besar, bagi pemula seperti saya kala itu yang masih duduk di bangku sekolah guru. Kebanggaan pengakuan dari seorang pengasuh kolom sastra sebuah media kepada seorang sastrawan pemula. Apalagi disekolahku dulu koran mingguan regional itu (PR Edis Cirebon/redaktur budayanya Nurdin M Noor kalau tidak salah ) itu dipasang di majalah dinding sekolah.

   Kejadian semacam itu mungkin dialami oleh sastrawan lain meski bobot dan publikasinya lebih luas. Hal demikian biasa media cetak tersebut  membedakan karya dengan jumlah honorarium yang diberikan. Terlepas dari itu semua pendek kata untuk bisa dimuat di media massa memerlukan karya yang baik disamping seleksi ketat redaktur mengingat banyaknya karya yang datang di meja redaktur budaya.

   Lain doeloe lain sekarang kini tak ada lagi penilaian atau pengantar/catatan redaksi/komentar/esai pendek seorang redaktur budaya mengantarkan karya puisi/cerpen penyair/sastrawan bila pun ada hanya dimedia cetak nasional yang bersar seperti PR, Republika, Kompas, saja. Bila penulis pemula mengirimkan karya ke media ini dijamin berkemungkinan seribu satu.

  Demikian sastrawan dibentuk dari kesungguhan cita rasa terhadap satra dengan talenta tersendiri. Lambat laun datang juga pengakuan orang lain atas karya itu secara bertahan dan mungkin perlahan. Talenta yang diasah akan menghasilkan karya yang bagus. Pada gilirannya pengakuan menimbulkan minat orang lain untuk mempublikasikan atau mendokumentasikan seperti memuat dalam koran majalah atau menerbitkannya dalam  buku dan alat dokumentasi lainnya.

   Perkembangan sastra menunjukan kegembiraan dengan semakin banyaknya karya sastra muncul baik media cetak maupun elektronik. Karya sastra demikian banyak sehingga bukan tidak mungkin akan tumbuh persaingan yang tidak sehat dalam mempublikasikannya.

   Kepiawaian mempublikasikan karya sastra menjadikan sastrawan cepat populair, sebaliknya karya bagus tak pandai mempublikasikan menjadikan teman arsip lapuk yang disimpan di rak butut pula. Namun yang lapuk itu kelak menjadi barang langka yang akan dicari kemudian.

   Sastrawan instan akhirnya muncul bak jamur dimusim hujan, hanya dengan uang kurang dari 2 jt anda akan memeperoleh buku karya anda itu dicetak penerbit lengkap dengan ISBN dan Hak Cipta. Apakah sastrawan ini termasuk sastrawan, jawabnya bisa mungkin. Namun ia akan diadili publik apakah karyanya itu layak atau tidak dinikmati sebagai karya sastra. Meski peluncuran buku sastrawan instan ini dibuat meriah, dengan kata pengantar penyair kondang yang tentu saja dibayar mahal belum menjamin karya itu diakui sebagai karya yang bagus, juga penyairnya belum tentu cepat dinobatkan sebagai penyair, sebab sebab penyair atau sastrawan bukan pengakuan diri tetapi orang lainlah yang memberinya. Jadi tidak asal cetak antologi kemudian disebut sastrawan. (masagus/agus warsono/rg bagus warsono)


Label: ,

Kamis, 09 Juni 2022

Tetap bersahaja

 Tetap bersahaja (kesawang tentrem lan dihormati) karena kita ini sejatinya penulis bukan sopir ojol ngejar target.

Tidak terburu-buru populair, sebab penyair produknya bukan foto wajah tetapi karya tulis sastra.

Bagi para penulis Lumbung Puisi, namamu tercatat berikut biografi singkatnya di Pusat Dokumentasi Sastra Modern Lumbung Puisi. Baik esidi  Lumbung 1 sampai XI, Tadarus Puisi,  edisi khusus, edisi spesial serta di file karya kegiatan.

Tak ada kata tertinggal oleh kawan main, sebab karya sastra bukan ukuran siapa yg dahulu, tetapi apresiasi oleh pembaca.

Jangan heran dengan tampilan foto teman-teman bercandaria, itu biasa, karena sampai viral bukan penilaian tertinggi bidang sastra.


Label:

Dokumentasi sastra modern Oleh : Rg Bagus Warsono

 Dokumentasi sastra modern

Oleh : Rg Bagus Warsono

A. Sumber

Sumber dokumentasi sastra modern bersumber dari karya karya sastra terkini yang dipublikasikan dalam media cetak dan digital dari media profesional dan amatir dari berbagai lembaga sastra dan non sastra yang memberikan ruang khusus untuk karya sastra.

Sumber media sastra yang begitu banyak dengan sebaran pembaca pada masyarakat yg variatif itu terjaring dari tampilan dan pelaporan serta penelitian yang beraneka. Semua itu dapat diperoleh melalui jalur formal dan non formal serta pemberitaan melalui media sosial dan situs situs dalam dunia internet dewasa ini.

Sumber sastra pun akhirnya memunculkan pelaku-pelaku sastra yang sangat banyak di negeri ini.

Kemudian dunia internet mengalami peningkatan teknologi dengan munculnya media-media sosial seperti facebook, instagram, twitter, whats app (w.a), blog, dan website website yang dimiliki lembaga atau perorangan. Media media sosial itu menampilkan karya-karya sastra sekaligus tokoh-tokohnya. 

(bersambung)


Label:

Jumat, 03 Juni 2022

“SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG” Oleh : Yoffie Cahya

 “SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG”

Oleh : Yoffie Cahya


Satu lagi ide cemerlang ditawarkan Rg.Bagus Warsono , yaitu mengajak para penyair yang telah

berusia 60 tahun ke atas untuk membuat sebuah antologi puisi. Antologi puisi yang ditulis khusus

oleh para penyair yang telah berusia 60 tahun ke atas baru kali ini terjadi dalam sejarah kesusastraan

Indonesia, bahkan mungkin juga dalam kesusastraan dunia.

Ada beberapa hal menarik yang bisa dianalisis menyangkut isi , tema dan kualitas dari antologi

tersebut jika sudah rampung dan ditayangkan.

Meskipun terkesan hanya “sisa -sisa”, tentu kita berharap bahwa isi , tema dan kualitas dari antologi

tersebut sesuai dengan usia para penyair, karena pada usia sekian, setiap penyair punya kelebihan

dalam perkara rekam jejak dan “jam terbang”, pengalaman dalam proses kreatif dan lama malang

melintang dalam dunia kepenyairan. Dengan kata lain, antologi puisi tersebut merupakan hasil karya

para penyair yang boleh dikatakan sudah menjadi “ begawan” puisi.

Akan tetapi , ternyata kenyataan di atas bukan merupakan sebuah jaminan mengingat menulis puisi

bukan sebuah ilmu yang bisa dihafal di luar kepala. Menulis puisi dalam usia berapa pun adalah

sebuah proses, seni yang sangat ditentukan oleh bakat alam, intelektualisme, pengalaman

membaca , motivasi, keuletan dan kegigihan serta semangat seseorang untuk menjadi penyair yang

baik dan diperhitungkan. Antara penyair yang satu dengan yang lain mempunyai unsur - unsur

tersebut dalam kadar atau prosentase yang berbeda – beda. Beberapa hal di bawah ini juga akan

menentukan warna, isi , tema dan kualitas antologi tersebut.

Pertama , tidak setiap penyair dalam perjalanan hidupnya menikmati situasi yang kondusif untuk

terus menulis puisi , terlebih puisi tidak memberikan jaminan materi sebagai nafkah untuk hidup.

Setiap penyair punya profesi tertentu untuk menafkahi keluarga. Mereka bekerja di bidang lain ,

sebagai penyair atau menulis puisi hanya sebagai hobi saja.

Kedua , romantika , vitalitas dan energi kepenyairan secara psikologis dialami penyair di usia kepala

2 , 3 dan 4. Rata – rata para penyair berada di puncak karier pada tiga dekade tersebut. Mungkin

hanya satu – dua orang penyair saja yang berada di puncak karier di usia kepala 5 ke atas.

Ketiga , setiap penyair biasanya mengalami masa – masa “ kemandulan” atau masa- masa vakum

yang relatif panjang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya pekerjaan yang banyak menyita

waktu, situasi lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung dan sebagainya. Selain itu banyak

para penyair yang “ merangkap” sebagai cerpenis, esais, novelis dan sebagainya.

Sebagai contoh , Goenawan Muhammad , pernah dalam waktu lama tidak lagi menulis puisi.

Beruntung, menjelang hari tuanya ia mulai produktif lagi menulis puisi. Demikian juga dengan

Sapardi Djoko Damono. Penyair yang satu ini justru lebih populer di usia tua setelah beberapa waktu

namanya tenggelam.

Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa sangat tidak mungkin seseorang yang benar – benar

penyair sepanjang hidupnya hanya berkutat menulis puisi.

Keempat, menulis puisi tidak hanya mengolah pikir dan rasa dalam seni memilih kata dalam

berbahasa , namun di satu sisi menulis puisi juga merupakan refleksi atau tanggapan terhadap

kehidupan. Secara psikologis , sejak usia kepala 6 jiwa manusia mulai dilanda kejenuhan dan

kelelahan dalam menanggapi berbagai aspek kehidupan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi fisik yang

mulai melemah, apalagi jika sering mengalami berbagai cobaan hidup yang terasa berat dan

melelahkan Hal ini dialami juga oleh penyair sebagai manusia .Dan kalau pun ia masih menulis puisi

di usia 60 tahun ke atas, karya – karya puisinya bisa jadi berkualitas “ mentok” , dalam arti ia tidak

bisa lagi menulis puisi yang lebih baik dari puisi- puisi yang ditulisnya ketika masih berusia lebih

muda.

Barangkali berkaitan dengan hal – hal yang seperti itulah Rg. Bagus Warsono membuat judul “Sisa-

sisa Gesang” untuk antologi para penyair yang berusia 60 tahun ke atas ( baca : lansia ) ini.

Namun sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, kita tetap berharap bahwa antologi ini

merupakan hasil karya para penyair yang sarat dengan pengalaman dalam menulis puisi yang tentu

saja sedikit banyak bisa menunjukkan sisa- sisa kepiawaian mereka. Kita berharap agar para penyair

mengeluarkan sisa -sisa “kekuatan” nya agar antologi ini dapat memenuhi harapan kita semua. Ya ,

semoga “ Sisa – sisa Gesang” bukan merupakan padang pasir yang gersang, tapi merupakan pelangi

yang indah di senja hari. Semoga antologi ini banyak mengandung unsur – unsur positif bagi dunia

sastra, mendapat apresiasi dari berbagai pihak, terutama dari para penyair yang berusia lebih muda

dan penyair muda yang masih mencari identitas kepenyairan . Semoga ***

Yoffie Cahya, penyair, penulis fiksi dan nonfiksi , tinggal di Kadipaten , Kabupaten Majalengka, Jawa

Barat.


Label: