Jumat, 03 Juni 2022

“SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG” Oleh : Yoffie Cahya

 “SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG”

Oleh : Yoffie Cahya


Satu lagi ide cemerlang ditawarkan Rg.Bagus Warsono , yaitu mengajak para penyair yang telah

berusia 60 tahun ke atas untuk membuat sebuah antologi puisi. Antologi puisi yang ditulis khusus

oleh para penyair yang telah berusia 60 tahun ke atas baru kali ini terjadi dalam sejarah kesusastraan

Indonesia, bahkan mungkin juga dalam kesusastraan dunia.

Ada beberapa hal menarik yang bisa dianalisis menyangkut isi , tema dan kualitas dari antologi

tersebut jika sudah rampung dan ditayangkan.

Meskipun terkesan hanya “sisa -sisa”, tentu kita berharap bahwa isi , tema dan kualitas dari antologi

tersebut sesuai dengan usia para penyair, karena pada usia sekian, setiap penyair punya kelebihan

dalam perkara rekam jejak dan “jam terbang”, pengalaman dalam proses kreatif dan lama malang

melintang dalam dunia kepenyairan. Dengan kata lain, antologi puisi tersebut merupakan hasil karya

para penyair yang boleh dikatakan sudah menjadi “ begawan” puisi.

Akan tetapi , ternyata kenyataan di atas bukan merupakan sebuah jaminan mengingat menulis puisi

bukan sebuah ilmu yang bisa dihafal di luar kepala. Menulis puisi dalam usia berapa pun adalah

sebuah proses, seni yang sangat ditentukan oleh bakat alam, intelektualisme, pengalaman

membaca , motivasi, keuletan dan kegigihan serta semangat seseorang untuk menjadi penyair yang

baik dan diperhitungkan. Antara penyair yang satu dengan yang lain mempunyai unsur - unsur

tersebut dalam kadar atau prosentase yang berbeda – beda. Beberapa hal di bawah ini juga akan

menentukan warna, isi , tema dan kualitas antologi tersebut.

Pertama , tidak setiap penyair dalam perjalanan hidupnya menikmati situasi yang kondusif untuk

terus menulis puisi , terlebih puisi tidak memberikan jaminan materi sebagai nafkah untuk hidup.

Setiap penyair punya profesi tertentu untuk menafkahi keluarga. Mereka bekerja di bidang lain ,

sebagai penyair atau menulis puisi hanya sebagai hobi saja.

Kedua , romantika , vitalitas dan energi kepenyairan secara psikologis dialami penyair di usia kepala

2 , 3 dan 4. Rata – rata para penyair berada di puncak karier pada tiga dekade tersebut. Mungkin

hanya satu – dua orang penyair saja yang berada di puncak karier di usia kepala 5 ke atas.

Ketiga , setiap penyair biasanya mengalami masa – masa “ kemandulan” atau masa- masa vakum

yang relatif panjang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya pekerjaan yang banyak menyita

waktu, situasi lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung dan sebagainya. Selain itu banyak

para penyair yang “ merangkap” sebagai cerpenis, esais, novelis dan sebagainya.

Sebagai contoh , Goenawan Muhammad , pernah dalam waktu lama tidak lagi menulis puisi.

Beruntung, menjelang hari tuanya ia mulai produktif lagi menulis puisi. Demikian juga dengan

Sapardi Djoko Damono. Penyair yang satu ini justru lebih populer di usia tua setelah beberapa waktu

namanya tenggelam.

Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa sangat tidak mungkin seseorang yang benar – benar

penyair sepanjang hidupnya hanya berkutat menulis puisi.

Keempat, menulis puisi tidak hanya mengolah pikir dan rasa dalam seni memilih kata dalam

berbahasa , namun di satu sisi menulis puisi juga merupakan refleksi atau tanggapan terhadap

kehidupan. Secara psikologis , sejak usia kepala 6 jiwa manusia mulai dilanda kejenuhan dan

kelelahan dalam menanggapi berbagai aspek kehidupan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi fisik yang

mulai melemah, apalagi jika sering mengalami berbagai cobaan hidup yang terasa berat dan

melelahkan Hal ini dialami juga oleh penyair sebagai manusia .Dan kalau pun ia masih menulis puisi

di usia 60 tahun ke atas, karya – karya puisinya bisa jadi berkualitas “ mentok” , dalam arti ia tidak

bisa lagi menulis puisi yang lebih baik dari puisi- puisi yang ditulisnya ketika masih berusia lebih

muda.

Barangkali berkaitan dengan hal – hal yang seperti itulah Rg. Bagus Warsono membuat judul “Sisa-

sisa Gesang” untuk antologi para penyair yang berusia 60 tahun ke atas ( baca : lansia ) ini.

Namun sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, kita tetap berharap bahwa antologi ini

merupakan hasil karya para penyair yang sarat dengan pengalaman dalam menulis puisi yang tentu

saja sedikit banyak bisa menunjukkan sisa- sisa kepiawaian mereka. Kita berharap agar para penyair

mengeluarkan sisa -sisa “kekuatan” nya agar antologi ini dapat memenuhi harapan kita semua. Ya ,

semoga “ Sisa – sisa Gesang” bukan merupakan padang pasir yang gersang, tapi merupakan pelangi

yang indah di senja hari. Semoga antologi ini banyak mengandung unsur – unsur positif bagi dunia

sastra, mendapat apresiasi dari berbagai pihak, terutama dari para penyair yang berusia lebih muda

dan penyair muda yang masih mencari identitas kepenyairan . Semoga ***

Yoffie Cahya, penyair, penulis fiksi dan nonfiksi , tinggal di Kadipaten , Kabupaten Majalengka, Jawa

Barat.


Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda