“SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG” Oleh : Yoffie Cahya
“SISA -SISA GESANG” , ( SEMOGA) TIDAK “GERSANG”
Oleh : Yoffie Cahya
Satu lagi ide cemerlang ditawarkan Rg.Bagus Warsono , yaitu mengajak para penyair yang telah
berusia 60 tahun ke atas untuk membuat sebuah antologi puisi. Antologi puisi yang ditulis khusus
oleh para penyair yang telah berusia 60 tahun ke atas baru kali ini terjadi dalam sejarah kesusastraan
Indonesia, bahkan mungkin juga dalam kesusastraan dunia.
Ada beberapa hal menarik yang bisa dianalisis menyangkut isi , tema dan kualitas dari antologi
tersebut jika sudah rampung dan ditayangkan.
Meskipun terkesan hanya “sisa -sisa”, tentu kita berharap bahwa isi , tema dan kualitas dari antologi
tersebut sesuai dengan usia para penyair, karena pada usia sekian, setiap penyair punya kelebihan
dalam perkara rekam jejak dan “jam terbang”, pengalaman dalam proses kreatif dan lama malang
melintang dalam dunia kepenyairan. Dengan kata lain, antologi puisi tersebut merupakan hasil karya
para penyair yang boleh dikatakan sudah menjadi “ begawan” puisi.
Akan tetapi , ternyata kenyataan di atas bukan merupakan sebuah jaminan mengingat menulis puisi
bukan sebuah ilmu yang bisa dihafal di luar kepala. Menulis puisi dalam usia berapa pun adalah
sebuah proses, seni yang sangat ditentukan oleh bakat alam, intelektualisme, pengalaman
membaca , motivasi, keuletan dan kegigihan serta semangat seseorang untuk menjadi penyair yang
baik dan diperhitungkan. Antara penyair yang satu dengan yang lain mempunyai unsur - unsur
tersebut dalam kadar atau prosentase yang berbeda – beda. Beberapa hal di bawah ini juga akan
menentukan warna, isi , tema dan kualitas antologi tersebut.
Pertama , tidak setiap penyair dalam perjalanan hidupnya menikmati situasi yang kondusif untuk
terus menulis puisi , terlebih puisi tidak memberikan jaminan materi sebagai nafkah untuk hidup.
Setiap penyair punya profesi tertentu untuk menafkahi keluarga. Mereka bekerja di bidang lain ,
sebagai penyair atau menulis puisi hanya sebagai hobi saja.
Kedua , romantika , vitalitas dan energi kepenyairan secara psikologis dialami penyair di usia kepala
2 , 3 dan 4. Rata – rata para penyair berada di puncak karier pada tiga dekade tersebut. Mungkin
hanya satu – dua orang penyair saja yang berada di puncak karier di usia kepala 5 ke atas.
Ketiga , setiap penyair biasanya mengalami masa – masa “ kemandulan” atau masa- masa vakum
yang relatif panjang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya pekerjaan yang banyak menyita
waktu, situasi lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung dan sebagainya. Selain itu banyak
para penyair yang “ merangkap” sebagai cerpenis, esais, novelis dan sebagainya.
Sebagai contoh , Goenawan Muhammad , pernah dalam waktu lama tidak lagi menulis puisi.
Beruntung, menjelang hari tuanya ia mulai produktif lagi menulis puisi. Demikian juga dengan
Sapardi Djoko Damono. Penyair yang satu ini justru lebih populer di usia tua setelah beberapa waktu
namanya tenggelam.
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa sangat tidak mungkin seseorang yang benar – benar
penyair sepanjang hidupnya hanya berkutat menulis puisi.
Keempat, menulis puisi tidak hanya mengolah pikir dan rasa dalam seni memilih kata dalam
berbahasa , namun di satu sisi menulis puisi juga merupakan refleksi atau tanggapan terhadap
kehidupan. Secara psikologis , sejak usia kepala 6 jiwa manusia mulai dilanda kejenuhan dan
kelelahan dalam menanggapi berbagai aspek kehidupan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi fisik yang
mulai melemah, apalagi jika sering mengalami berbagai cobaan hidup yang terasa berat dan
melelahkan Hal ini dialami juga oleh penyair sebagai manusia .Dan kalau pun ia masih menulis puisi
di usia 60 tahun ke atas, karya – karya puisinya bisa jadi berkualitas “ mentok” , dalam arti ia tidak
bisa lagi menulis puisi yang lebih baik dari puisi- puisi yang ditulisnya ketika masih berusia lebih
muda.
Barangkali berkaitan dengan hal – hal yang seperti itulah Rg. Bagus Warsono membuat judul “Sisa-
sisa Gesang” untuk antologi para penyair yang berusia 60 tahun ke atas ( baca : lansia ) ini.
Namun sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, kita tetap berharap bahwa antologi ini
merupakan hasil karya para penyair yang sarat dengan pengalaman dalam menulis puisi yang tentu
saja sedikit banyak bisa menunjukkan sisa- sisa kepiawaian mereka. Kita berharap agar para penyair
mengeluarkan sisa -sisa “kekuatan” nya agar antologi ini dapat memenuhi harapan kita semua. Ya ,
semoga “ Sisa – sisa Gesang” bukan merupakan padang pasir yang gersang, tapi merupakan pelangi
yang indah di senja hari. Semoga antologi ini banyak mengandung unsur – unsur positif bagi dunia
sastra, mendapat apresiasi dari berbagai pihak, terutama dari para penyair yang berusia lebih muda
dan penyair muda yang masih mencari identitas kepenyairan . Semoga ***
Yoffie Cahya, penyair, penulis fiksi dan nonfiksi , tinggal di Kadipaten , Kabupaten Majalengka, Jawa
Barat.
Label: Edisi 1 Januari-Juni 2022



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda