Lomba Penyair Cipta Puisi Nasional 2025 bertema #makanbergizigratis Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2025
Label: kegiatan
Jurnal sastra Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia diterbitkan 6 bukan sekali.
Label: kegiatan
Label: biodata
Puisi-puisi Lomba Penyair Cipta Puisi 2025
Lumbung Puisi sastrawan Indonesia
Bertema Makan Bergizi Gratis
Konduktor : Rg Bagus Warsono
Penyair
Antologi Bersama Makan Bergizi Gratis
(001) Heru Patria, Blitar
(002) Biolen Fernando Sinaga, Dairi
(003) Dody Yan Masfa, Surabaya
(004) Raju, Aceh
(005) Andi Irwan, Sorong
(006) Khodijah, Cirebon
(007) Mohammad Saroni, Mojokerto
(008) Chanchan Parase, Batam
(009) Theo Kiik, Malaka
(010) Raden Mas Sudarmono, Sleman
(011) Abi Chairil Anwar, Malang
(012) Osratus, Sorong
(013) Romö Jatí , Tanjungpinang
(014) Ahmad Maliki Mashar, Indragiri Hilir
(015) Dahta Gautama, Lampung
(016) Iqbal Kurniawan, Lampung Tengah
(017) Tarni Kasanpawiro, Bekasi
(018) Puspasari, Depok
(019) IZ Anwar, Jakarta
(020) Diana Rustam, makasar
(021) Annisa, Sulawesi Barat
(022) Gunadi Yusuf Soenhadji, Kudus
(023) S. Ratman Suras, Medan
(024) Metaria, Kebanga Sulawesi Barat
(025) Kakashi Nurullah, Sumenep
(026) Eko Tunas, Semarang
(027) Wardjito Soeharso, Semarang
(028) Arya Setra, Jakarta
(029) Moel Soenarko, Bandung
(030) Maya Ofifa Kristianti, Semarang
(031) Mustiar Ar
(032) Drajat Adi Cahyono, Salatiga
(033) IGN Oka Putra, Malang
(034) Edi Ustama Saragih, Dumai
(035) Fath WS
(036) Agil Teguh S, Sidoarjo
(037) BH. Riyanto, Pamekasan
(038) Mustofakhilmi
(039) Rodiyatun
(040) Rosyidi Aryadi, Palangkaraya
(041) Khalid Alrasyid, Surabaya
(042) Dyah Nkusuma, Sampit
(043) Mata Atma, Ponorogo
(044) Sulistyo, Jakarta
(045) Rahayu Budiman, Riau
(046) Rudi H. Ponorogo
(047) Elvayanti Tammelle , Parigi Moutong
(048)Eryanto Kamis, Bekasi
(049) Mimi Marvill, Temanggung
(050) Cinta, Bandung
(051) Suyitno Ethex, Mojokerto
(052) Asmara Ruci, Tulungagung
(053) Batari Parfum, Banyumas
(054) Hafney Maulana, Jakarta
(055) Riska Widiana, Riau
(056) Ibrahim Ibrahim, Sidoarjo
(057) Imron Bintang, Kendal
(058) Suriar Amazi, Barito Kuala
(059) Sunawi, Jogyakarta
(060) Chie Setiawati
(061) Ahmad Irfan Fauzan, Serang
(062) Iis Yuhartini, Bekasi
(063) Akhmad Sekhu, Jakarta
(064) Acep Syahril, Indramayu
(065) Fie Asyura , Bengkayang (Kalbar)
(066) Winar Ramelan, Denpasar
(067) Indri Kartika Putri, Magelang
(068) Noor Laila Amin
(069) A.Rahim Eltara, Sumbawa
(070) Hadi Lempe, Pekalongan
(071) Dedi Wahyudi, Karimun
(072) Putri Bungsu, Solo
(073) Agus Sukamto, Pati
(074) Prawiro Sudirjo, Bekasi
(075) Hadijah Karim, Sumbawa
(076) Al Banjary, Barru Sulawesi Selatan
(077) Yohanes Moeljadi Pranata, Jakarta
(078) A. Zainuddin Kr, Pemalang
(079) Siti Suci WInarni, Ponorogo
(080) Rissa Churria, Bekasi
(081) Ais Octadiga, Aceh Utara
(082) Dona Lesmana, Lampung Tengah
(083) Uleceny, Sumbawa
(084) Gunawan DM, Sumbawa
(085) Syarifah Laila Hayati, Riau
(086) Rosidah Resyad RosieR, Sumbawa
(087) Riani Pemulung, Tegal
(088) Ence Sumirat, Cianjur
(089) Sugeng Joko Utomo, Tasikmalaya
(090) Yoffie Cahya, Majalengka
(091) Kasdi Kelanis, Sragen
(092) Juwaini (Cak Ju), Kediri
(093) Riki Utomi, SElat Panjang Riau
(094) Juliati, Indramayu
(095) Merawati May, Bengkulu
(096) Rust Gaok, Pemalang
(097) Asti Musman, Madiun
(098) Abror Y Prabowo, Sleman
(099) Irawati, Agam
(100) Ujang Saepudin, Cianjur
(101 ) Manaek Maruhum Siburian, Merauke
(102) Mang Zaenal, Cirebpn
(103) AM. Haryadi Salim, Semarang
(104) Door Deo
(105) Agus Yuwantoro, Wonosob0
(106) Muhamad Yusuf, Banjarmasin
(107) Thomas Sutasman, Cilacap
(108) Bambang Widiatmoko, Joyakarta
(109) Widjanarko, Semarang
Puisi-puisi Lomba Penyair Cipta Puisi 2025
Lumbung Puisi sastrawan Indonesia
Bertema Makan Bergizi Gratis
(001) BERTANYA CACING KEPADA LALAT,
Heru Patria
(002) Wacana Makan, Biolen Fernando Sinaga
(003) INFLASI, Dody Yan Masfa
(004)Perbaikan Gizi Anak Negeri, Raju
(005) Jamuan Tanpa Harga, Andi Irwan
(006) Santapan Kasih, Khodijah
(007) TIDAK PERLU MAHAL Mohammad Saroni
(008) GLOBALISASI AI, Chanchan Parase
(009) Surat Dari Pak Tani, Theo Kiik
(010) KABAR MAKAN TIDAK KABUR,
Raden Mas Sudarmono
(011) HARAPAN KINI DAN NANTI, Abi Chairil Anwar
(012) PROTES SEKONYONG-KONYONG,
SEPUTAR SUSU DAN GELAS KOSONG
Osratus
(013) MERDEKA TIGA KALI SEHARI, Romö Jatí
(014) CATATAN KECIL NEGERI TERPENCIL,
Ahmad Maliki Mashar
(015) AMBISI DIBAYAR MAKAN, Dahta Gautama
(016) MENUNGGU WAKTU Iqbal Kurniawan
(017) MAKAN GRATIS, Tarni Kasanpawiro
(018) LEZATNYA MASAKAN EMAK, Puspasari
(019) ANAK BANGSA SEHAT NEGARA PUN KUAT,
IZ Anwar
(020) Dari Tanah Kami ke Perut Anak-anak Kami,
Diana Rustam
(021) Jeritan tangis : anak pelosok terpencil, Annisa
(022) BERBUTIR NASI MENANGIS Oleh :
Gunadi Yusuf Soenhadji
(023) JANTURAN PINGGIR KALI, S. Ratman Suras
(024) Syukur akan nikmatnya, Metaria
(025) Dapurku, Kakashi Nurullah
(026) MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN,
Eko Tunas
(027) Utopia Si Jelata, Wardjito Soeharso
(028) MENS SANA IN CORPORE SANO Arya Setra
(029) MENYALAKAN SOLIDARITAS, Moel Soenarko
(030) Jangan Nak, jangan, Maya Ofifa Kristianti
(031) MAKAN GRATIS NIKMAT SEKEJAP, Mustiar Ar
(032) DI BALIK PIRING SEBUAH REALITA,
Drajat Adi Cahyono
(033) Sebutir Harapan, IGN Oka Putra
(034) Batalkan Saja, Edi Ustama Saragih
(035) BISINGNYA MBG, Fath WS
(036) SAYA LAPAR JENDRAL, Agil Teguh S
(037) TENTANG MAKAN SIANG BERGIZI,
LAGI GRATIS ITU,
BH. Riyanto
(038) LAHAP, Mustofakhilmi
(039) MAKAN SIANG DI SEKOLAH, Rodiyatun
(040) Apa Kabar Makan Siang Gratis, Rosyidi Aryadi
(041) KEHIDUPAN DAN KESERAKAHAN,
Khalid Alrasyid
(042) DARI MEJA SEKOLAH ADA CERITA,
Dyah Nkusuma
(043) Tidak Amanah, Mata Atma
(044) SEORANG BOCAH DAN MAKAN SIANG,
Sulistyo
(045) Mimpi Makan Siang Gratis,
Rahayu Budiman
(046) Omong Kosong, Rudi H.
(047) Untuk Tuan dan Puan, Elvayanti Tammelle
(048) PESAN IBUKU :MAKAN GRATIS KENYANG
Eryanto Kamis
(049) MAKAN SIANG DALAM CELOTEHAN DI
NEGERI AMAN DAN TENTERAM,
Mimi Marvill
(050) NTERPRETASI GIZI, Cinta
(051) MENU DITENTUKAN Suyitno Ethex
(052) JANJI BERGIZI MAKAN BERGIZI: GRATIS,
Gurit Asmara Ruci
(053)Rapat Rahasia di Dalam Perut, Batari Parfum
(054) Makan Gratis Bergizi Mimpi atau Nyata,
Hafney Maulana
(055) BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA,
Riska Widiana
(056) Salah Asuhan, Ibrahim Ibrahim
(057) MBG, ADAKAH STRATEGI POLITIS?
Imron Bintang
(058) MAKAN BERGIZI GRATIS, CAHAYA HARAPAN,
Suriar Amazi
(059) SOLUSI MAKAN BERGIZI GRATIS, Sunawi
(060) Drama Babak Pertama, Chie Setiawati
(061) Jangkrik, Ahmad Irfan Fauzan
(062) MENGGAPAI MASA DEPAN CERAH,
Iis Yuhartini
(063) Harapan untuk Anak-Anak Masa Depan,
Akhmad Sekhu
(064) Bukan Makan Gratis, Acep Syahril
(065) Semoga Bukan Sesaat, Fie Asyura
(066) MEMBAYAR JANJI, Winar Ramelan
(067) Jamuan Negeri, Indri Kartika Putri
(068) Makan Bergizi Gratis, Noor Laila Amin
(069) JANJI DALAM SEKOTAK NASI, A.Rahim Eltara
(070) GRATISAN BORONGAN Hadi Lempe
(071) KATANYA GRATIS Dedi Wahyudi
(072) JANGAN KIRA KAMI, Putri Bungsu
(073) Sebuah Kotak Istimewa, Agus Sukamto
(074) Makan Siang Gratis:
Sebuah Renungan Prawiro Sudirjo
(075) MEMBACA INGIN, Hadijah Karim
(076) JANJI UNTUK SEPIRING BERGIZI,
Juhri Al Banjary
(077) SEMBAB, Yohanes Moeljadi Pranata
(078) SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH,
A. Zainuddin Kr
(079) SEPIRING HARAPAN, Siti Suci WInarni
(080) TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN,
Rissa Churria
(081) SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS,
Ais Octadiga
(082) JANJIMU DALAM MIMPIKU ADA
Dona Lesmana
(083) REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR, Uleceny
(084) JANJI TERBUKTI, GUNAWAN DM
(085) Cerita Pagi Di Piring Nasi, Syarifah Laila Hayati
(086) BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU,
Rosidah Resyad RosieR
(087) MAkAN GRATIS DI JALANAN
Riani Pemulung
(088) DOA MAKAN BERGIZI GRATI, Ence Sumirat
(089) BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI
Sugeng Joko Utomo
(090) MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN
Yoffie Cahya
(091) Mungkin Karena Tidak Sarapan
Kasdi Kelanis
(092) SUAPAN BERPENGHIBURAN
JUWAINI (Cak Ju)
(093) Mengeja Nasi Dalam Pikirmu
Riki Utomi
(094) Menguak Asa di Gerbang Pagi
Juliati
(095) MAKAN GRATIS, Merawati May
(096) Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.
Rust Gaok
(097) Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris
Asti Musman
(098) SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG
TERSEDU, Puisi Abror Y Prabowo
(099) Piring Harapan di Meja Negeri, Irawati
(100) Tidak Ada Makan Gratis, Ujang Saepudin
(101 ) NARASI TERKOYAK Manaek Maruhum Siburian
(102) Dilanjut Besok, Mang Zaenal
(103) Semangat Matahari Pagi. AM. Haryadi Salim
(104) ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG
Door Deo
(105) Makan Gratis di Bawah Senja
Agus Yuwantoro
(106) Narasi Tak Berkoda, Muhamad Yusuf
(107) TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN
Thomas Sutasman
(108) DIALOG DALAM HATI, Bambang Widiatmoko
(109) SUARA PERUT RAKYAT, Widjanarko
BELAJAR DARI WARTEG
Rg Bagus Warsono
Rakyat Indonesia awal tahun 2025 disuguhi berita Makan Siang Gratis yang kemudian berganti Makan Bergizi Gratis. Sebuah program pemerintah Prabowo Subiato yang disambut gembira oleh rakyat di pelosok negeri.
Kegembiraan rakyat itu karena Makan Bergizi Gratis bukan implementasi pengamalan amanat UUD 1945 Fakir miskin dipelihara Negar tetapi karena progran ini tidak hanya fakir miskin yang diberi makan tetapi semua anak sekolah dan tidak membedakan status sosial orang tua mereka.
Kegembiraan rakyat itu maklum adanya, karena telah bersifat umum di masyarakat di daerah seperti yang terjadi pada Bantuan Langsung Tunai (BLT), Pembagian Sembako atau Beras yang juga penerimanya tak hanya fakir miskin tetapi mereka yang memenuhi persyaratan administrasi.
Dan pada Makan Bergizi Gratis ini anak-anak yang bukan fakir miskin pun mendapat makan karena sasaran pemberiannya anak sekolah.
Penulis tidak faham apakah program hebat ini akan berjalan seterusnya hingga 5 tahun atau hanya untuk memenuhi janji kampanye presiden terpilih pada Pemilu Presiden lalu. Yang jelas Indonesia akan mencatat prestasi gemilang telah memberi makan anak seluruh Indonesia dari jumlah penduduk sekitar 275 juta lebih ini.
Ada satu hal yaitu pertanyaan penting dalam Makan Bergizi Gratis yaitu 'dapurnya bagaimana? Mengingat jumlah penerima Makan Bergizi Gratis begitu banyak. Nah pada pertanyaan ini mungkin sudah dipikirkan sebelumnya oleh penerintah. Yang jelas dapur memasak harus memiliki perbandingan ideal antara dapur dengan orang yang makan. Contoh di sebuah keluarga saja dapur besar dan kecil tergantung berapa orang yang makan. Tentu untuk memberi makan siswa dari beratus-ratus sekolah di setiap kabupaten diperlukan dapur ukuran besar yang banyak baik segi peruntukan berapa target yang makan dan produksi, jumlah juru masak dan pelayan yang mengantar makanan maupun segi peralatan dapur yang canggih serta tidak lupa dimana dapur harus belanja sayuran dan ikan ayam sekala besar. Ini baru di Sebuah Kabupaten
Enak Nasi Goreng Ibu dan Makan Bergizi Gratis di Sekolah
Kebiasaan keluarga di Indonesia pagi hari menyiapkan nasi goreng untuk sarapan anak-anaknya dan juga Bapak yang mau berangkat kerja sudah terbiasa sejak zaman dulu.
Sampai sekarang pun masih dilakukan ibu-ibu Indonesia. Mengapa? Ada beberapa manfaat nasi goreng pagi yang pasti kesehatan agar anak-anak memiliki tenaga bergerak. Yang kedua tentu saja faktor hemat. Dengan nasi goreng ibu, anak-anak tak perlu lagi sarapan di warung atau kantin sekolah. Dan yang ketiga ada "selera" keluarga dan ibu yang oaling tahu. Pendek kata nasi goreng ibu itu lebih nikmat dan higines.
Beberapa sahabat bercerita bahwa ia bisa cerdas berkat nasi goreng ibu. Katanya banyak pelajaran yang dipetik dari makan pagi atau sarapan pagi itu. Dan nasi goreng buatan ibu memang istimewa.
Sahabat lain bercerita bahwa campuran nasi boreng buatan ibu di tanggal muda lebih enak karena bercampur telor dadar yang dirajang tipis-tipis sehingga terasa telornya. Selang beberapa hari kemudian telor satu di aduk dengan nasi sepenggorengan .
Sambil mesem Kakak yang kini sudah kuliah ngomong bahwa jika tak ada telor ibu menggoreng nasi tampa telor dan bahkan tanpa bumbu hanya garam . Tetapi tetap saja enak !
Demikian nasi goreng ibu memberi semangat buat anak Indonesia. Dan mungkin di beberapa daerah ada juga yang sarapan pagi buatan ibu bukan nasi goreng tetapi yang lain . Semuanya demi anak-anak Indobesia agar cerdas.
Kini Makan bergizi gratis diberikan oleh pemerintah untuk anak sekolah. Tidak tahu itu makan sarapan pagi atau makan siang yang pasti tak tentu datangnya. Yang dekat dapur MBG mungkin pagi sudah datang tetapi yang jauh dari dapur MBG untuk makan siang. Namun makanan tak lagi hangat dan apalagi jika hari hujan. Makan Bergizi Gratis tak lagi dinanti oleh anak-anak karena sudah dingin dan tak menarik lagi.
Penjelasan Kegiatan Lumbung Puisi
Kegiatan Lumbung Puisi bertujuan untuk memelihara dan meneruskan sastra Indonesia untuk berkembang dan berjalan mengiringi kehidupan di republik ini. Sastra disadari terlahir dari bangsa ini dari penulis yang berasal dari pelosok negeri yang tak membedakan geografis.
Sastra itu juga terlahir dari penulis yang tak membedakan status sosial.
Sastra juga terlahir dari penulis yang tidak membedakan derajat popularitas.
Sastra juga terlahir tidak membedakan dari yang tertulis di buku luxs dengan penerbitan penerbit ternama dan diluncurkan bukunya digedung representatif, tetapi juga terlahir dari yang tertulis di kertas atau bahkan media alam seadanya.
Sastra juga terlahir dengan tidak membedakan sastra itu dibaca dimana di gedung megah dengan ribuan penonton dengan pembaca ternama, di youtube dengan jutaan pemirsa tetapi juga terdengar dari gembala di tengah padang seorang diri yang didengar dan dihafal dari pecinta sastra yang kemudian dituturkan temannya.
Demikian penjelasan Lumbung Puisi bahwa Lumbung Puisi bertugas disuruh oleh hatinya sendiri dan hati teman-teman seirama seperjuangan untuk mendokumentasikan karya-karya sastra terbaik putra bangsa baik melalui buku, menulis di antologi bersama, termasuk lomba cipta, dari tampilan digital dari situs apa pun oleh siapa pun, sampai menjaring dimana-mana untuk ditampilkan di grup dan website milik lumbung puisi. Tiada lain agar sastra itu tersambung sampai generasi selanjutnya entah sampai kapan tak terbatas.
Ketentuan: Lomba Penyair Cipta Puisi 2025
Lumbung Puisi sastrawan Indonesia
Bertema Makan Bergizi Gratis
**A. SYARAT :**
1. Peserta adalah Penyair Indonesia
2. Masuk grup fb Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.
3. Mengirimkan 1 (satu) buah puisi karya sendiri yang belum pernah dipublikasikan di media online maupun cetak dengan tema puisi " MAKAN BERGIZI GRATIS"
4. Puisi dikirim ke grup Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia ini dengan diberi tag
#makanbergizigratis dan diberi biodata penulis singkat mulai tangga 11 Januari 2025 dan berakhir/deadlinne pada 31 Maret 2025
5. Peserta hanya boleh mengirim 1 kali pengiriman yang berisi 1 puisi lomba.
6. Tidak diperbolehkan mengganti puisi yang telah dikirim. Apabila kedapatan peserta telah mengirim lebih dari 1 X maka kiriman pertama adalah yang masuk lomba.
7. Peserta yang mengirimkan puisi berulang-ulang akan dihapus sebagai peserta.
8. Puisi yang masuk secara bertahap akan diumumkan sebagai peserta dengan nomor urut untuk dinilai juri secara bertahap dan seluruhnya hingga selesai.
9. Puisi yang masuk sebagai peserta diterbitkan dalam Antologi Bersama Puisi-Puisi Lomba Cipta 2025 dengan judul PUISI-PUISI PENYAIR 2025.
10. Diharapkan peserta memiliki buku Antologi Bersama Puisi'puisi Lomba Cipta dengan mengganti ongkos cetak ( bersifat anjuran tidak harus) untuk penyebaran dan publikasi buku secara langsung .
** B. HADIAH:**
1. Sertifikat untuk semua peserta apabila diminta.
2. Peringkat 1 hingga 15 mendapat hadiah Kaos Khas Lumbung Puisi Terbaru 2025 .
3. Peringkat 1 hingga 5 mendapat hadiah T
(Tas bersulam lumbung puisi yang disulam khusus oleh penyair Denting Kemuning)
4. Peringkat ke 16 dan seterusnya mendapat hadiah cindera mata yang bentuk hadiah dan bentuk lainnya serta batas peringkat penerima hadiah tergantung banyaknya pemberian dari donatur yang masuk panitia.
**C. JURI LOMBA **
Juri lomba bekerja secara online masing memberikan penilaian untuk kemudian berunding memutuskan secara demokratis.
Juri ditunjuk Lumbung Puisi tanpa honorarium tetapi diberi cindera mata alakadarnya. Nama-nama Juri tidak ditulis dalam ketentuan tetapi diumumkan di grup karena bersifat sukarela.
**D.PENGUMUNAN **
Pengumuman pemenang akan diumumkan pada 19 April 2025 di grup ini berbarengan dengan pelaksanaan Lomba Penyair Baca Puisi 2025 Lumbung Puisi di Sanggar Lumbung Puisi , Indramayu.
Demikian ketentuan lomba
*Panitia
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
Rg Bagus Warsono
(Kurator Utama)*
(001)
BERTANYA CACING KEPADA LALAT,
Heru Patria
bertanya cacing cacing dalam perut bocah sekolah
tentang makan bergizi gratis yang katanya program wah
apakah semua ini bukan sekadar program pamer wajah
agar kepemimpinan dianggap syah
agar kedudukan tak goyah
padahal bagimana bisa dengan anggaran sepuluh ribu
memberi makanan bergizi lengkap dengan susu
sedang harga harga terus melambung sepanjang waktu
juga pajak dinaikkan seenak jidatmu
atau bisa jadi makan bergizi gratis cuma program ambigu
lalat angkuh menjawab dengan teguh
bahwa makan bergizi gratis program yang rapuh
akan membuat situasi makin keruh
kaum jelata dipastikan kian mengeluh
sebab mereka harus memeras peluh
penuhi pajak tinggi yang ditetapkan kaum angkuh
lalat bersilat lidah sembunyikan kebenaran
makan bergizi gratis hanyalah program pencitraan
sebab di republik ini kemiskinan sengaja dipelihara
dijadikan lumbung suara saat pemilu tiba
ini tidak ada bedanya dengan bansos rutin
mendidik masyarakat bermental miskin
cacing cacing terdiam tanpa kata
apa yang disampaikan para lalat benar adanya
sungguh kasihan anak usia sekolah di Indonesia
mendapat makan bergizi dengan menu ala kadarnya
apakah mereka lupa kalau negeri ini kaya
cerita tentang lumbung padi pernah berjaya pada masanya
dalam pelukan dewi sri ketahanan pangan itu nyata
tapi
ketika lalat lalat duduk di kursi kuasa
urusan perut dijadikan topeng propaganda
cacing dalam perut dijejali janji semata
tanpa ada realita
untuk apa ada program makan bergizi gratis
jika di sudut negeri masih banyak jelata menangis
tangan tangan ringkih dekati tong sampah tuk mengais
berharap dapat rejeki di sela tangis
kini cacing tak mau lagi bertanya pada lalat
setelah sadar makan bergizi gratis sekadar alat
tipu muslihat dari para pejabat
tipu daya dari para birokrat
ladang empuk bagi kaum penjilat
bara neraka bagi masyarakat
cacing cacing tahu
rendahnya pendidikan di sini bukan karena menu
tapi karena adanya sistem tak menentu
ganti kurikulum setiap ada menteri baru
juga adanya intervensi pada wewenang guru
namun cacing cacing tak bisa berbuat apa apa
kokoh kaki tangan lalat lawan tak sebanding bagi mereka
di akhir semua ini para cacing hanya bisa berdoa
semoga lalat segera turun dari singgasana
sebab generasi bangsa tak hanya butuh makan bergizi
tapi lebih butuh perubahan sistem di segala lini
agar pancasila dan uud 1945 berjalan secara murni
agar semangat reformasi tak setengah hati
makan bergizi gratis hanyalah kedok
tutupi sistem yang terlanjur bobrok
Blitar, 13 Januari 2025
Heru Patria, adalah novelis dari Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya telah banyak dimuat di berbagai media masa baik cetak maupun online. Peraih anugerah Sutasoma 2024 ini juga menulis sastra Jawa berupa gurit, wacan bocah, dan crita cekak. Pendiri komunitas Swara Sastra Jawa ini telah menerbitkan buku antologi puisi, yaitu : Berita Dari Kolong Tol (Intishar, 2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2022), Orasi Anak Negeri (LovRinz, 2023), Rapsodi Dua Hati (IA Publisher, 2024)
(002)
Wacana Makan,
Biolen Fernando Sinaga
.
Terbertik sudah
Wacana makan
Makan makanan bergizi
Makan makanan gratis
Makan makanan bergizi gratis
Makan makanan gratis bergizi
Tolong jangan langsung interupsi
Apakah makanannya bayar, gizinya gratis
Apakah makanannya bergizi banyak atau sedikit
Apakah gratis bukan termasuk gratifikasi?
.
Kritis itu perlu
Tapi kita lebih fokus mengatasi krisis gizi
Karena itu membuat generasi muda kritis
Maksudku, eh maksud kami, kondisinya jadi kritis dan perlu ditangani segera
Dari itu sifat kritis harus terukur
Seperti menu dalam makanan gratis itu
Dari lima kotak di wadah itu
Sebaiknya kelimanya berisi
(Lima kan Pancasila)
Kalau tak bisa, setidaknya empat kotak berisi
Tapi jangan pula gampang menuduh satu kotak dikorupsi
Beritikadlah baik
Baiklah beritikad
Beritikad baiklah
Soal sapi diimpor dari luar negri untuk hal itu, cobalah jangan langsung suuzon
Diimpor kan karena sapi lokal belum cukup
Jangan sampai gara gara makanan bergizi gratis
Jadi menghalangi makanan bergizi berbayar
Saling menghargailah
Dan kalau ada negara lain yang berniat kucurkan dana
Belum tentu kita langsung setujui
Bisa saja kita minta jangan dengan cara dikucurkan
Atau kita bilang, kan kami mau membantu, masa malah dibantu?
.
Nah begitulah
Mari berprasangka baik
Kita bukan hanya ingin membangun fisik
Tetapi juga mental generasi bangsa
Sehat jasmani
Sehat rohani
Jadi sambutlah program
Makan makanan bergizi gratis
Makan makanan gratis bergizi
Dan program ini independen
Tidak bekerja sama dengan produk berslogan
Minum makanan bergizi
Apa apaan itu
Minum kok makanan
Makan kok minuman
Oh, maaf
Kita harus saling menghargai setiap wacana
Demikian disampaikan, terimakasih perhatiannya.
.
Dairi, Jan 2025
Biolen Fernando Sinaga
(003)
INFLASI,
Dody Yan Masfa
Di tengah kota orang-orang berisik
Makan bergizi gratis, hanya angan
Kebun dalam diri terbakar
Sisa-sisa vitamin, limba-limba mineral
Inflasi menghantui, harga melonjak
Makanan bergizi, simbol kapital
Tapi siapa majikannya?
Kebun dalam diri dibakar perompak
Oh, makan bergizi gratis, impian tak tercapai
Tapi kita tetap berharap, makanan seimbang
Untuk kesehatan tubuh dan jiwa
Di tengah krisis, warga teriak
Makan bergizi gratis, untuk siapa?
Di pelosok desa, jari-jari gurita korup
Taman hati terlupakan
Kebun dalam diri meledak
Dody Yan Masfa
2025
Dody Djunaedy
Nama Populer : Dody Yan Masfa
Lahir di Surabaya, 15 Juni 1965. Aktif berkesenian sejak tahun 1987. Fokus pada seni teater dan sastra. Karya antologi puisi yang sudah terbitkan :
- Episode Gadis Zuha ( 2013 )
- Perayaan Pertikaian Dalam Rumah Puisi ( 2021 )
Kontak person : email : dodyyanmasfa@gmail.com
Published by Literanesia — 14 Jan 2025
(004)
Perbaikan Gizi Anak Negeri,
Raju
Makan bergizi gratis, karya cipta pemerintah
Terhidang dalam kotak-kotak nasi
Demi perbaikan gizi anak negeri
Walau tanpa menu ikan melengkapi
Negeri kita, negeri maritim
Nenek moyang kita, pelaut tangguh
Menaklukkan gelombang, derasnya badai
Mencerdaskan generasi, demi martabat gizi anak negerinya
Pun demikian..
Anak-anak sekolahan, bercoloteh gembira
"Besok ada enggak sajian susunya?"
Melengkapi empat sehat lima sempurna
Pikiran polos mewarnai benaknya
Tentang masa depan
Masih dalam perabaannya.
*Kutaradja. 14.01.2025
Aceh-Indonesia*
Rajuddin
Nama Kecil : Raju
Penulis lahir di Desa Nibong Wakheuh. Pada tanggal 20 juni 1973. Kecamatan Tanah Luas. Kabupaten Aceh Utara
Menamatkan pendidikan terakhir
Di Universitas Abulyatama (1992-1996)
Fakultas Peternakan
Jirusan Produksi Ternak Besar.
Buku antologi bersama yang sedang digarap, "Gempita Suara Nusantara"
Menulis merupakan tempat menyalurkan sebuah hobbi, dengan menulis dapat mencurahkan segala ide dan perasaan di antara kata-kata yang tidak dapat terucap.*
(005)
Jamuan Tanpa Harga,
Andi Irwan
Dalam piring emas tersaji alam,
Kehangatan nasi seakan sinar surya,
Sayur hijau, daun zamrud nan dalam,
Daging lembut bagai awan di maya.
Aroma rempah menari di udara,
Mengiring langkah sang perut lapar,
Sebening embun, kuah cinta mengembara,
Menembus jiwa, rasa syukur tersebar.
Lidah berdendang dalam harmoni rasa,
Serupa simfoni sang malam sunyi,
Tiada terikat bayang rupiah durjana,
Ini pesta hati, makan gratis bergizi.
Roti renyah seperti pasir pantai,
Susu putih mengalir bagai salju,
Buah segar, manik surga, kupintai,
Semuanya anugerah, sungguh syahdu.
Di bawah langit tak bertepi,
Kita berbagi, memecah rasa perih,
Makan ini, pelipur diri,
Berkah semesta, menjelma kasih.
*Sorong, 14.01.2025*
Andi Irwan
Nama Pena : Pena Lingga
Penulis lahir di Desa Kendari pada tanggal 09 April 1997. Sulawesi tenggara
Menamatkan pendidikan terakhir di SMA Negeri 02 Pinrang, Sulawesi Selatan.
Pekerjaan: Penulis dan Pegiat seni sastra
Karya yang sementara di garab;
1. Buku Novel: 30 Hari Mengajariku untuk Melepasmu
2. Novel: Dunia Terlalu Berisik
3.Buku Antologi bersama " Bengkel sastra "
Aktivitas:
Anggota komunitas Rumah Literasi dan Bengkel sastra,tempat berbagi ilmu dan inspirasi tentang dunia literasi.
Minat:
Sastra
Cerita horor dan misteri
Budaya lokal Sulawesi
Gaya Menulis:
Mengangkat tema-tema emosional dan reflektif, sering kali menyentuh sisi kemanusiaan, budaya, dan pengalaman hidup sehari-hari.*
(006)
Santapan Kasih,
Khodijah
Di sudut senja kota
Di punggung desa prasaja, terlihat senyum sumringa bocah menyendok nasi bahagia.
"Ada ayam, susu dan buah," cletuk wajah polos tanpa dosa
Makanan tersaji di atas meja sekolah
Mengejar mimpi mengusir lara
Tak ada harga di papan tulis itu,
Selain hati yang tulus bapak dan ibu guru dalam memberi ilmu
Makanan tersaji dari yang peka akan rasa
Atas dasar cinta, memberi harapan pada putra-putri bangsa
Menu gizi gratis, bukan sekadar makanan
Tapi semangat hidup yang dijalankan insan
Dalam setiap sendok yang disantap,
Ada doa tulus hingga ibu pertiwi berbesar hati
Mereka yang datang membagi bukan sekadar tamu,
Melainkan jiwa-jiwa yang ingin bertemu.
Bertukar cerita, membangun asa,
Menghapus kesenjangan dengan cinta.
Di balik meja itu ada
Yang percaya bahwa berbagi adalah jalan nyata.
Tak peduli seberapa kecil yang diberi,
Hati mereka kaya dan tak sunyi.
Menu gizi gratis, lebih dari sekadar kenyang,
Ia adalah harapan yang terus berkembang.
Menyapa jiwa, membangun insani,
Semoga semua yang menghuni negri ini hidup bermartabat dan terpuji
Cirebon 14 Januari 2025
Khodijah S,Pd, M,Pd seorang guru, pernah mengajar di STIE Tunas Nusantara Cawang. Jakarta. Telah menulis 20 judul buku Fiksi & Nonfiksi yang diantaranya:
Membangun Pola Pikir, Komunikasi Transenden dalam Pembentukan Jati Diri, Logika Komunikasi, Berahirnya sebuah Kekosongan, Sukma (fiksi), Kuncup Berkembang (fiksi), Jalan Eshma (fiksi) Atas nama Cinta dan lainnya. Saat ini dalam proses penulisan Sensasi Rasa sebua seni dalam melakukan pengolahan.
(007)
TIDAK PERLU MAHAL
Mohammad Saroni
Makanan bergizi adalah harapan
makanan sehat apa lagi
sebab semua orang ingin sehat
sebab semua orang ingin alfiat
Makanan bergizi adalah kebutuhan
makanan sehat adalah tuntutan
untuk pemerintah yang pro rakyat
bukan hanya slogan apalagi sekedar lips kampanye
Negeri ini kaya sumber daya
tak akan habis tujuh turunan
tetapi semua akan sia-sia semata
ketika sumber daya manusia diabaikan
Maju mundurnya bangsa di tangan manusianya
dan generasi muda adalah harapan utama
tetapi harap hanya tinggal harap semata
ketika mereka tidak mampu apa-apa
Makanan menjadi pengharapan
untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuannya
dan, pemerintah harus mengkondisikan
tidak perlu mahal yang penting bergizi dan sehat
Tidak peduli duit darimana
sebab negeri ini negeri yang kaya
tanah surga yang diberikan-Nya
bukan untuk sebagian orang saja
melainkan untuk semua anak bangsa
Tidak perlu mahal
cukup yang sehat dan bergizi
untuk membangun fisik dan psikis
agar menjadi bangsa dan negara yang kuat
Dapatkah??
Gembongan, 15 Januari 2025
Mohammad Saroni, tinggal di Mojokerto. Menulis sebagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam hati atas suatu kondisi di luar diri.
Menulis untuk genre nonfiksi maupun fiksi.
(008)
GLOBALISASI AI,
Chanchan Parase
.
Ini Globalisasi AI
Di mana setiap usia
Menanam jemari
Di Smarphone
Beberapa anak
Penyandang relatif kecewa
Dapat tekanan pendidikan
Mereka di D.O paksa
Gagal Spp, sebagian
Gagal menggoda gurunya
Untuk pelunasan
Lalu memintas bunuh diri, solusi
Desa yang masih purba
Berita Negara yang luar biasa
Makan bergizi gratis yang dipopulerkan
Tak semerata gembira Indonesia
Sebenarnya pelayanan negeri
Kepada rakyatnya ini, kelayakan
Separoh hati, di mana mata uang
Adalah penghianat nomor satu
Ketidakpuasan
.
Batam, 15 Januari 2025
Chanchan Parase
Nama dari Ibu :Candra
Lahir :Medan 11 Juli 1975
Pendidikan final : SMK
Alamat Batam Kepulauan Riau
Koleksi Antologi bersama +20x
Catatan terakhir baru calon PPPK
(P3K)
(009)
Surat Dari Pak Tani ; Harus Adil dan Merata
Theo Kiik
Jari-jemari ku sudah kaku
tetapi mata ku tak lelah membaca koran-koran baru
tentang lahan sawah yang digusur
dan harapan para petani yang dipaksa kubur.
tentang pengusaha yang semakin makmur
petani yang kehilangan tanah subur
tentang korupsi yang menjamur
dan hakim agung suka manipulator.
Hari ini, aku menulis lagi, tentang makan bergizi gratis untuk anak-anak negeri
Teruntuk tuan dan puan, yang disana
; diatas istana negara
terlampau stunting kah kita
ataukah terlalu hina kedudukan rakyat di mata pejabat? jika ia,
mengapa harus ada pajak rakyat untuk membiayai urusan negara?
Makan bergizi gratis untuk anak-anak bangsa.
Akankah semua anak diperlakukan sama?
: Dari anak-anak abdi negara,
semampai anak-anak pengusaha dan anak-anak jelata.
semua diberi menu makan yang sama?
Lantas bagaimanakah dengan pengemis yang hidup di persimpangan jalan sana?
apakah mereka boleh mendapat jua?
siapakah yang berbicara derita mereka?
Ini negara Pancasila,
bunyi sila kelima,
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
dan pengemis juga rakyat Indonesia.
Sebelum kita lupa
mereka tanggung jawab siapa
mereka juga anak-anak bangsa
harusnya kita adil dan merata.
Malaka, 15 Januari 2025
Theo Kiik, lahir di Anametan. Sebuah kampung yang sangat dekat dengan pusat kota kabupaten Malaka. Pernah menulis satu buku antologi di yang diselenggarakan oleh lumbung puisi dengan judul "Puisi-puisi Melihat Indonesia.
Published by Literanesia — 16 Jan 2025
(010)
KABAR MAKAN TIDAK KABUR,
Raden Mas Sudarmono
Hanya berkabar makan bergizi gratis
apakah rakyat sudah makmur sentosa
seperti nyanyian dalam lagu kebangsaan
ternyata tidak sedemikian akurat
negeri kita sedang tidak baik baik saja
Mari kita saling memberitahu
banyak petinggi negeri ambigu
terbiasa mengumbar janji
omong omong ternyata kosong
berita stunting anak anak dan ibu hamil
menjadi trend proyek negeri terkini
cobalah bertumpu pada sila kelima
telah disebutkan dalam lambang negara
keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
marilah berselancar di media sosial
program unggulan makan bergizi gratis
menelan biaya sebesar 71 triliyun
hanya menyihir menjadi berita mutakhir
keberlanjutan pemerintahan semu
agar korporasi tidak berbau korupsi
Hanya udar rasa bukan mengharap
ayolah ayo kita segerakan program nya
termasuk yang rentan karena kesehatan nya
beramai ramai makan bergizi gratis
kata undang undang benar dijalankan
sebab fakir miskin dipelihara oleh negara
dan disana sini masih banyak pengemis
kehidupannya selalu diliputi rasa pesimis
semangat tentunya hindarkan rasa ngeri dan miris.
*Magelang, 14 Januari 2025*
SUDARMONO lahir Bantul Yogyakarta 1963 pendidikan terakhir S1 Fak Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta, Penulis dan penyuka sastra juga kebudayaan sekarang mengelola Taman Bacaan Masyarakat TBM Ruang Jiwa di Muntilan Magelang tulisan puisi nya banyak diterbitkan oleh Komunitas Sastra di Indonesia pada umumnya diantaranya Gambang Semarang, Kaffein Ruang dan Kreativitas, Jakarta dan Betawi 3 Titimangsa Lahirnya Peradaban Bangsa, Wasiat Botinglangi, Angkatan Milenial, Plengkung Yogyakarta dalam Sajak, Majalah Sastra Semesta, Elipsis, Apajake, Magelang Ekspres, Cakra Bangsa, Tabloid Alinea Baru dan sebagainya. Alamat Gataklamat No 63 RT 04/RW 01 Desa Pucungrejo Muntilan Magelang Jawa Tengah Kode Pos 56414 WA 085226095700 email sudarmonosatrrajiwa@gmail.com*
(011)
HARAPAN KINI DAN NANTI,
Abi Chairil Anwar
wajah-wajah lugu itu
duduk rapi siku dilipat diatas bangku
menunggu masa depan
piring saji cekung lima menyulam asa
menu penuh gizi
tegar menyongsong masa
raut muka mereka suka cita
kala hidangan tiba
upacara diawali dengan lantunan doa
namun disudut sana
satu siswa menyeka air mata
diam, tak mampu mengawali makannya
menerawang jauh ingat rumahnya
emak makan apa ?
seketika disisihkanlah separuh jatahnya
sebagai bukti cinta
seketika itu juga aku tersentak
bukanya ada siswa
nun jauh disana
diantara nusa
yang harus berenang
yang bergelantungan
yang berjalan jauh menembus hutan
untuk menuju sekolah
yang beratap alang-alang
berdinding bambu dianyam
beralaskan tikar daun lontar
namun semangat mencari ilmu tak pernah padam
mereka juga anak bangsa
patut menuntut bukti cinta dari negara
meski harus menunggu lama
namun harapan mesti ada
Malang, 15 Januari 2025
Ayyub Ruddy Prayitno ,SE
Nama Pena : Abi Chairil Anwar [Abi_kh@n]
Tempat/tanggal lahir : Jember/14 Juni 1961
Aktif menulis puisi sejak tahun 1981
dan baru tahun 2011 karya puisi dipublikasikan lewat media sosial utamanya Facebook.
Selain menulis puisi, sejak awal pensiun aktivitas mengisi waktu adalah melukis.
(012)
PROTES SEKONYONG-KONYONG, SEPUTAR SUSU DAN GELAS KOSONG
Osratus
"Susu, ditunggu
Gelas, menanggung rindu
Susu, tak mau tau
Gelas, dirundung pilu
Nasi, menampakkan diri
Serundeng, menggandeng ayam goreng
Sayur buncis, berikan pedasnya
tipis-tipis
Semangka, bikin air liur mengucur
Nasi kotak tersaji silakan dinikmati
sambil menunggu susu
dan gelas bertemu
tapi bukan untukmu, diriku
Kalau nasi kotak
telah disikat dengan telak
sedangkan susu dan gelas
membenamkan diri di lipatan waktu,
tidak berarti mereka tidak
sayang kita, bukan?
Tapi bukan kau yang diberi
makan bergizi gratis itu
melainkan para anak didikku
Susu gratis tetap kita tunggu
dengan rasa gembira yang menyertai kita
Makan bergizi gratis, hiduplah!
Tapi andai kelak makan bergizi gratis
tinggal nama, lapang dada
telah dipersiapkan dari sekarang, bukan?
Susu, gelas setia menunggumu
Susu, buah hati kami susuilah!"
**Sorong, 15 Januari 2025**
Osratus , adalah nama pena dari Sutarso nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 59 tahun lalu. Sekarang, tinggal di Kabupaten Sorong (Papua Barat Daya). Menulis puisi adalah hobinya.*
(013)
MERDEKA TIGA KALI SEHARI,
Romö Jatí
anakku yang lima sekokah semua
dari paud sampai es em a
mereka sedang mengejar cita cita
ada satu yang masih balita
dan satu lagi masih di perut ibunya
kini rasa syukurku padaNya
mereka makannya ditanggung negara
meski sehari dapat sekali saja
itu pun tak mengapa
sudah mengurangi uang belanja
aku yang bekerja
hanya sebagai penyusun batu bata
gaji yang kudapat tak seberapa
setiap harinya harus berlomba
dengan kenaikkan harga
semoga anak anakku nanti
semua bisa jadi menteri
yang tidak doyan korupsi
agar negara bisa memberi makan bergizi
untuk anak anak negeri tiga kali sehari
Kepri
Tanjungpinang
(014)
CATATAN KECIL NEGERI TERPENCIL,
Ahmad Maliki Mashar
Selamat pagi orang-orang penting
Dari tepi hutan di semak ranting-ranting
Kami menahan licin dengan ban gundul
Jalan tanah kuning yang tersiram gerimis
Apak berlumpur amis
Selamat pagi orang-orang penting
Makanan bergizi kami hanya nasi kuning
Sedikit campuran bihun goreng
Di warung samping sekolah yang lantainya tanah kuning
Tiap pagi kami rebutan bagi yang punya uang jajan
Takut ketinggalan tak dapat sarapan
Segelas susu selalu hanya khayalan
Sebab kami terbiasa dengan air putih dari galon lima ribuan
Selamat pagi orang-orang penting
Negeri ini begitu luas, mulai Sabang sampai Merauke
Dari Miangas hingga Pulau Rote
Seakan tanpa batas, berlaut deras dan berimba rebas
Masih ada orang-orang culas.
Sekara, 15 Januari 2025.
AHMAD MALIKI MASHAR. Lahir 1971. Suka puisi sejak masih sekolah, menulis puisi untuk koran kampus dan surat kabar daerah. Sekarang mencoba menulis puisi untuk antologi bersama. Alamat : RT 01/RW 01 Desa Sekara, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Kode pos 29276. HP/WA 08526520047
(015)
AMBISI DIBAYAR MAKAN,
Dahta Gautama
Apakah hanya dengan makan, manusia sanggup hentikan lapar?
Makan gratis di sekolah, tak pernah membentuk manusia sehat secara akal.
Makan hanya sarana kunyah fana,
masuk ke mulut, melewati tenggorokan, terhenti di lambung.
Menjadi ampas dan berakhir di jamban.
Mengapa ada makan gratis di sekolah?
Apakah tak ada sarapan gratis di rumah, yang ditanak ibu atau nenek?
Ah, janji kampanye harus tuntas,
Makan gratis harus ada.
Angka-angka dibikin, dari harga telur
hingga kangkung.
Siapa yang diuntungkan? Perut atau
katering?
Padahal, untuk menghentikan lapar,
manusia mesti digerakkan.
Pikiran dijernihkan dari janji, dan otot
diberi alat untuk menggerakkan mesin.
Industri pertanian mesti dipacu,
produksi pangan wajib swasembada.
Pabrik-pabrik tidak digencet oleh
pajak yang selangit. Dan para buruh
menerima upah yang setimpal.
Makan gizi gratis.
Berada ditengah-tengah: ambisius, janji dan merendahkan marwah manusia.
Taman Gunter, 15 Januari 2025
DAHTA GAUTAMA. Lahir di Hajimena, Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Menekuni sastra sejak tahun 1990. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal dan nasional, antaranya: Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Koran Tempo, Lampung Post, Sumatera Post, Lampung Ekspres, dll.
Buku puisi tunggalnya: Ular Kuning (2011) dan Manusia Lain (2013). Puisi-puisinya tergabung sedikitnya dalam 42 buku Antologi Bersama.
Puisinya yang berjudul: Khimaci di Showa Kinen, masuk dalam 100 Puisi Terbaik 2008 versi Pena Kencana Award (Gramedia Pustaka) dan menerima Anugerah Sastra Pena Kencana Award 2008 peringkat 2.
Kini bekerja sebagai advokat di Kantor Hukum DG&Partners. Pernah menjabat Pemimpin Redaksi Dinamika News (2006 - 2012), Direktur NGO Badan Logistik Informasi (2008 - 2018), Redaktur Pelaksana Majalah Demokratis (2002 - 2006) dan Reporter Antv (1995 - 1998).
(016)
MENUNGGU WAKTU
Iqbal Kurniawan
Ketika pikuranku mulai riuh dengan gaung suara dan tingkah lakumu.
Jangankan makanan bergizi, bahkan hidangan sederhana tak lagi bisa ku santap saat pagi hari.
Waktu kian berlalu, kalimat dan janji yang kau lontarkan layaknya nada.
Kini tak seperti melodi ataupun majas di sebuah aksara.
Tetapi apakah bibir itu menepati janjimu?
Layaknya sebuah angan di langit senja, atau ribuan bintang di tengah malam.
Dimana cinta saat duniaku terasa hampa?.
Kata-katamu, menari di dalam metafora yang indah.
Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu?
Perihal langit renjana, membumi cinta, dan angkara.
Aku bertanya pada angin, dan daun-daun gugur di musim tak menentu.
Apakah kau masih ingin melihat tulisan tanganku?.
Disela puing-puing mimpi, aku merenungi, tentang cinta tak sekedar kata.
wahai tanah yang ku pijak, aku disini menunggu.
Menunggu waktu yang menumbuhkan harap.
Bahkan tak pernah aku ingin menyerah pada delusi.
Sebab ada angan yang ingin kita jadikan nyata.
lampung, 15 Januari 2025
Iqbal Kurniawan, Lahir: 14 September 2000
Penulis lahir di desa bandar agung, kecamatan terusan nunyai, pada taun 14 September 2000, lampung tengah
Pekerjaan: Penulis dan host di room puisi, di beberapa aplikasi live voice
Aktivitas : aktif di room live voice puisi dan sedang merambah di dunia literasi, aktif juga di rumah literasi
(017)
MAKAN GRATIS,
Tarni Kasanpawiro
Memang terdengar manis
Tapi bikin orangtua meringis
Yang tahu kesukaan anaknya hanya ibu
Meskipun ceplok telor dan kangkung ditumis
Asal ibunya yang masak akan disikat habis
Mending dikaji ulang hindari kecurangan
Dari pada program yang terlihat cemerlang
Dijadikan ajang mencari keuntungan
Hanya menguntungkan segelintir orang
Menciptakan banyak kemungkinan
Bekasi, 16 Januari 2024
Tarni Kasanpawiro
(018)
LEZATNYA MASAKAN EMAK,
Puspasari
Pagi ini ada rasa yang berbeda ketika emak membangunkan ku
Aku beranjak ke kamar mandi membawa handukku yang sudah sedikit usang
Dengan bersenandung kecil , aku mandi dan menggosok gigi
Selepas solat subuh , aku sarapan nasi dengan lauk ikan dan sayur kangkung
Makanan sederhana di desaku yang disediakan emak untuk kami sarapan
Lantas aku melangkah ke sekolah bersama teman-teman
Kami berbincang dengan riang " kawan ini hari pertama kita akan mendapatkan makan siang gratis "
Terbayang lezatnya makan gratis yang bergizi di sekolah nanti
Oh....betapa kami ingin menikmati makan lezat bergizi seperti orang-orang kaya di kota
Yang sering kami lihat di televisi .
Waktu belajar terasa sangat lambat , namun akhirnya jam makan siang pun tiba
Ibu guru dengan senyuman yang sangat cantik membagikan kotak- kotak yang berisi makanan
Aku menatap makanan yang diberikan ibu guru
Ada nasi , sepotong tahu , telur rebus, sayur buncis , dan buah pisang , juga susu kotak
Aku tersenyum , inikah yang disebut makanan bergizi
Ah....aku tidak suka sayur buncis
Aku tersenyum, emakku lebih pandai memasak sayur kangkung
Emak juga sering memasak tahu dan juga menggoreng telur ayam peliharaan bapak
Atau terkadang memasak ikan dari Empang di belakang rumah
Buah pisang yang ditanam bapak juga lebih ranum
Makanan bergizi yang kulihat di televisi seketika buyar dari bayangan ku
Ketika aku kembali menatap makanan gratisku siang ini
Aku berdiri dan hanya mengambil susu kotak lalu keluar dari ruang kelas
Tanpa memperdulikan tatapan teman- temanku
Ah...aku ingin cepat pulang dan menikmati lezatnya makanan yang dibikin emak
Sawangan Depok, 16 Januari 2025
Puspasari adalah nama pena dari Ita Puspasari, SE
Lahir dan besar di Semarang tgl 15 juli
Menyelesaikan pendidikan di kota lumpia
Menulis adalah hobby yang dilakukan sejak SMP.
Tulisan nya mengisi Mading dan beberapa media lokal
Kini disela kesibukan sebagai seorang wirausaha mengisi waktu luang dengan menulis , bergabung dengan beberapa grup sastra.
Membukukan karya nya dalam , buku tunggal , kumpul cerpen, antologi bersama, antologi tandem dan antologi kolaborasi.
Tinggal di Semarang . Menulis bagi Puspasari adalah salah satu terapi untuk melawan alzheimer
(019)
ANAK BANGSA SEHAT NEGARA PUN KUAT,
IZ Anwar
Geliat negeriku seumpama orang baru bangun tidur
Gerakannya gemulai patah-patah
Meliuk sambil tengok kanan kiri
Inilah masa kepemimpinan baru
Bebenah dari masa lalu
Gebrakan pertama mulai dijalankan
Di tengah terpuruknya ekonomi rakyat jelata
Tenggelam dalam pajak menghimpit
Daya beli tak bisa didongkrak
Agar tetap sejahtera
Makan bergizi gratis bergulir
Meski belum merata ke seluruh wilayah
Tak pandang bulu kamu siapa
Kaulah anak bangsa
Menjadi sasaran utama
Berharap anak-anak merdeka
Tumbuh kembang tanpa kendala
Yang di sana mencemooh
Sebab menu tak sesuai ekspektasi
Ada yang salah?
Apakah tangan kotor koruptor
Turut memangkas anggaran
Hingga menu makan terkesan apa adanya
Tak mengundang selera
Jangan begitu
Jika benar akibat ulah koruptor
Dia hanya oknum
Mencari kesempatan di dalam kesempitan
Menuai untung tanpa berpikir keberkahan
Jadi, biarkan saja
Dia akan memetik hasilnya kelak
Banyak anak-anak
Harus diselamatkan gizinya
Jika program makan bergizi gratis
Berjalan sesuai aturannya
Tentu harapan itu semakin mekar
Anak-anak negeri bersyukur tak terperi
Bagai secercah cahaya
Terbit dari timur
Memberi kehangatan
Harapan bagi rakyat jelata
Selalu ada senyum
Menghias wajah berseri
Tak perlu debat dan nyinyir
Suara-suara bersipongang
Membelah kota dan desa
Bermacam menu viral di jagat maya
Sesuatu yang baik harus kita dukung
Percayalah
Program makan bergizi gratis
Adalah upaya
Membangun sumber daya manusia Indonesia
Anak bangsa sehat
Negara kuat
*Selatan Jakarta 15 Januari 2025*
IZ Anwar , adalah nama pena dari Sunaenah Anwar, salah seorang pengurus Yayasan Bina perempuan Mulia. Cirebon tempat dia dilahirkan pada tahun 1961, tetapi tumbuh besar di Jakarta yang menjadi domisilinya hingga sekarang. Menulis adalah hobi dan mulai serius pada dunia literasi sejak 2019. Ada karya solo yang sudah diterbitkan yaitu 3 buku novelet yang berjudul "Selalu Ada Jalan", "Hanya Ada Rindu" dan "Terminal Terakhir". Aktif juga pada event nulis bareng berupa antologi puisi dan cerpen, dan sudah mencapai 30 buku*.
(020)
Dari Tanah Kami ke Perut Anak-anak Kami,
Diana Rustam
Di tanah kami tumbuh padi yang benihnya disemai pak tani
Setiap masa tiba malainya menguning merunduk laksana si bijak tua
Bulir-bulirnya penuh berisi. putih. dan ditanak menjadi nasi
Buahbuah ranum bertengger di tangkaitangkai pohon setiap jengkal kebun dalam bedengbedeng yang panjang
Di tanah kami musim tidak pernah khianat: panas hujan panen tetap ada silih berganti dari penjurupenjuru pulau
Di laut kami ikanikan berenang bercengkerama di terumbu karang
Pak nelayan turun pagipagi dan ikanikan terjera pukat. dipikul dalam keranjangkeranjang bambu sepanjang pasir pantai
Digoreng dipanggang di atas api tungku para ibu
Ayam bebek sapi kambing berkawan di kandang peternak
Turun dua tumbuh empat. turun empat tumbuh delapan. turun delapan tumbuh enam belas
Susu murni yang segar rasanya mengalir dari perut sapi. daging empuk gemuk dipupuk rumputrumput hijau liar tepi hutan di pekarangan di pinggir jalan
Telur-telur hangat dierami induk yang khusyuk duduk menganggukangguk setengah mengantuk
Oo, alangkah membanggakannya apabila dari tanah kami yang hidup yang tumbuh yang dirawat ditimangtimang rakyat sendiri masuk dalam piringpiring sarapan pagi anakanak negeri
Oo, alangkah membahagiakannya andai jerih payah itu dari bulir keringat yang menetes di tanah kami. bukan tanah asing yang jauh di sana
Oo, betapa melegakannya di mejameja sekolah tidak ada tagihan untuk bapak ibu di rumah
**Makassar, 16 Januari 2025.**
Diana Rustam tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerita pendek dan puisinya telah dimuat di media-media online.*
(021)
Jeritan tangis : anak pelosok terpencil,
Annisa
Teruntuk puan dan tuan yang duduk di sana di atas kursi empuk engkau bersandar !
Apakah engkau mendengar jeritan kami
Anak pelosok dan terpencil di sudut negeri indonesia ini
Yang telah di janjikan makanan bergizi yang katanya gratis yang tak kunjung ada tanda-tanda akan menampakkan dirinya
Lantas bagaimana dengan kami yang terpencil yang hidup di tanah kuning , jalan tidak rata dan berlumpur ini
Apaka kami boleh mendapatkannya juga?
Siapa kah yang akan bercerita tentang derita kami?
Teruntuk puan dan puan di sana
Apakah kami jga berhak mendapatkannya
Dimanakah janji manis yang pernah ada?
Dimanakah hak kami?
Dimanakah keadilan bagi kami?
Kami juga anak bangsa , anak negeri indonesia
Tapi mengapa makanan bergizi itu belum
Kunjung dan menampakkan diri
Mengapa hanya angan angan semata
Janji kampanye harus tuntas
Makanan gratis yang katanya ada kerap tak kunjung juga
Padahal kami juga berhak mendapatkannya
Kami juga berhak menerima makanan itu yang katanya gratis
Hufffff ..........
Janji kampanye yang tidak pernah jadi kenyataan
Berantas KORUPSI hanyalah sebatas slogan semata
ANNISA
SULAWESI BARAT*
(022)
BERBUTIR NASI MENANGIS Oleh :
Gunadi Yusuf Soenhadji
Berbutir nasi
menunggu pagi
kecemasan tampak dari ronanya
semalam ia merenung sendiri
Esok sepertinya aku banyak yang terbuang sia-sia...gumannya,
teronggok dan membusuk di tong sampah
Aku sangat faham, anak-anak sekarang berbeda selera makan
masakan ibu menjadi pilihan nomor satu
dan jenis lauk-pauk amat menentukan tentang lahapnya
Ya....slogannya sich, sangat manis
makan siang bergizi gratis
tapi apa daya anggaran masih menipis
tinggal aku ditemani lauk seadanya ditambah pisang dan sayur tumis
Berbutir nasi akhirnya menangis
benar dugaanku...rintihnya,
aku banyak tersisa
entah sampai hari, bulan dan tahun yang ke berapa
Makan siang bergizi gratis
proyek masal diawali dari
subsidi sana subsidi sini
bantuan perusahaan anu dan dari sianu
seremonialnya gegap gempita
aparat dan polisi pun datang mengawasi
yang tengah makan diwawancarai karena akan tayang di telivisi
Makan siang bergizi gratis
ternyata bikin banyak orang menangis
pemilik dan karyawan kantin tinggal meringis
jajanan dan aneka makanan tak kunjung habis
*Kudus, 16 Januari 2025*
Gunadi Yusuf Soenhadji Asal kota : Kudus, Jawa tengah Domisili : Jl.KH. Noorhadi 43 Kudus Jateng
Kontak WA : 081325696697 Menempuh Jalur pendidikan IKIP Negeri Semarang dan Pasca Sarjana Manajemen SDM Kegiatan sehari-hari mengelola galeri karya seni Kayu dan barang-barang antik, Instruktur Achievement Motivation Training di lingkungan Pemda Kab Kudus
Aktivitas kepenulisan dilakukan karena hobi tentang sastra, dan aktif di kajian tasawuf. Karya puisi lebih banyak bersifat pribadi dan ada beverapa yang memenuhi di beranda facebook
Beberapa antologi bersama yang pernah diikuti Antologi puisi religi II Sang Musafir, Antologi Puisi Religi III Mata hati, antologi bersama pusai 2023, 100 tahun Penyair Choiril Anwar, antologi panjat pinang akhirnya aku pun bisa, antologi kumpulan puisi penyair Indonesia Melihat Indonesia masa kini, antologi bersama Democrazy, antologi bersama Merdeka Puisi*
(023)
JANTURAN PINGGIR KALI,
S. Ratman Suras
hung, kala sungsang meradang
ubun-ubun terbakar siang yang garang
matahari sepenuh lingkaran
pecah dicucuk gagak rimang
terjadi wolak-walik zaman
anak-anak lapar main petak umpet
wajah layu daun lumbu
nabuh kecrekan nadah recehan
di simpang empat metro yang sumuk
digaruk satu pleton petugas gabungan
tamu negara akan lewat mau ngasih utang
hung, aku lapar. teriak mereka
gizi buruk, kali busuk, cermin terkutuk
tak bisa lagi bernyanyi husale kriuk-kriuk
seperti anak-anak robicon
lahir dari ledakan mercon
laparku lapar beneran
segenggam nasi uduk sambel teri
rajangan kangkung sedikit zat besi
masuk perut jadi otak untuk saling membenci
hung, kau telah kenyang
aku tak bisa makan bangku sekolah
tak usah ditakar-takar makin parah
kau di langit penuh fantasi
aku di bumi pinggir kali basi
sungsang pada comberan kelam
bersama tikus kota yang gemuk dan kotor
sedang dirimu anak penggede
yang bisa mainkan angka-angka gaple
di laci meja kaum birokrat culas
dari luar nampak alim pake lobe
hung, aku lapar kau kenyang
laparku burung kulik terbang mendelik
melihat kali dan laut selalu berdarah
kali digaruk, laut dikeruk
semua serba misterius bagai badut
sembunyi dibalik topeng-topeng lucu
lihatlah, teman-teman senasibku
teronggok terduduk di lantai kelas
hanya karena nunggak spp tiga bulan
tak boleh duduk di kursi sekolah
semua kelas cuma ngejar rupiah
bocah gerobak yang pernah gempar
mengurus ayahnya yang tepar
sambil memunguti sampah-sampah
kota yang makin serakah
hung, di mana raja diraja yang bijaksana
tak hanya dagelan konyol
kartu-kartu gratis bagai mimis
untuk membidik agar jidat-jidat tetap klimis
setiap agenda buat bancakan
aku dan kawan-kawan senasib tak kebagian
hung, dari tepian kali yang busuk
aku tak bisa lagi bercermin
gunung, kali, ular dan lapar
gunung merindukan hujan
kali melingkari ular
ular meliuk memagar laut
laparku grojogan sewu
laparmu laut yang kehilangan rasa
hantu dimakan setan brekasan
wajahku belepotan dan hilang
wajahmu gentayangan jadi cenayang
hung, wautha laparku lapar bayang-bayang
cuma hidup di negeri wayang
usai puisi ini, ke mana singgah
cerita sang dalang?
Tanjung Anom, 170125
S. Ratman Suras, kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 08-10-1965. Mengeluti dunia puisi belajar ala otodidak. Gugur-Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) antologi puisi tunggalnya. Kini tinggsl di Jl. Sosial No. 659 Dsn III, Tanjung Anom, Deliserdang, Sumatra-Utara.*
Published by Literanesia — 18 Jan 2025
(024)
Syukur akan nikmatnya,
Metaria
Tetes tetes air mata
Menyambut sebutir nasi
Dan lauknya
Ada rasa terharu,dan bahagia
Ingin berteriak sejauh mungkin
Meneriakkan rasa syukur
Syukur kepadamu sang pemberi nikmat
Dan terimahkasih kepadamu hamba Allah
Karenamu uluran tanganmu...
Perut kami yang sering melilit kelaparan
Kini terisi penuh
Ibu bapa kami tak lagi risau
Memikirkan jajan kami sehari harinya
Adanya uluran tanganmu menjadikan
Kami lebih giat belajar
Terimahkasih.....
Hamba. Allah hadirmu memberi semangat baru....
Makanan bergizi gratis mu
Membawa kebahagiaan untuk kami
Kalangan bawah
Nama Metaria, Nama panggilan mom treis
Asal kebanga sulawesi barat indonesia
Lahir 9 november 2000***
(025)
Dapurku,
Kakashi Nurullah
Pada sebilik dapurku yang sunyi
Aku tertegun memandang butir-butir nasi
Melamun dalam ceremai suapan jari-jari
Pembuka waktu pemimpin yang katanya berdikari
Bapak, makan bergizi gratismu hari ini
Dengan nasi petanimukah atau uluran luar negeri?
Akankah menjadi tenaga kami?
Atau hanya pemanis pahitnya nestapa negeri?
Aku aduk periukku yang telah kelabu
Ku tuangkan harapan dalam setiap lauk paukku
Nasi gratismu yang bergizi dan bermutu
Mengapa lebih nikmat nasi dan terasi di dapurku
Ohhh, Dapurku
Mulai saat ini engkau kutinggalkan
Begitu pun dapur negeriku yang sudah karatan
Mengejar jatah makan gratisan
Mungkin saja jadi penyebab kemakmuran
Mungkin saja,..ya, mungkin saja kan?
*Kangean, 17 Januari 2025*
**
*Kakashi Nurullah,** Lahir di Kangean Sumenep Madura. Sangat mengagumi karya sastra dan terus berusaha mempelajari sastra
(026)
MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN,
Eko Tunas
Kebersamaan adalah keindahan katamu
Di taman kala resah atau di sekolah saat istirah
Apakah makan bersama adalah bukti keindahan
Anak-anak berseragam nusantara
Juga bapak-ibu guru tercinta
Di bahasa ibu atau negeri -- bahwa kita punya Presiden.
Kebersamaan adalah kebahagiaan katamu
Di ruang bermain atau di kelas belajar
Adakah makan siang gratis tanda kebahagiaan
Anak-anak berbaris menyanyikan lagu kebangsaan
Juga bapak-ibu guru yang mulia
Di hari dan bulan berganti -- bahwa kita punya waktu.
Kebersamaan adalah kehormatan katamu
Di tanah air atau di buku-buku pelajaran
Akankah makan siang gratis satu kehormatan
Anak-anak bercita-cita setinggi matahari
Juga bapak-ibu guru pertiwi sejati
Di tahun-tahun yang datang -- bahwa kita punya kehormatan
Kebersamaan
Keindahan
Kebahagiaan
Dan makan bergizi gratis
Adalah penanda bahwa kita bukan bangsa miskin papa hina dina
Di mata dunia kita punya kehormatan
Tak tergadaikan -- bahwa kita manusia Indonesia.
Semarang 15 Januari 2025
Eko Tunas (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956; umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang. Ratusan tulisan (puisi, cerpen, novel, dan esai) tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat (John dan Jack Pergi dari Tegal, Joshua Igho, Kompas Cetak, 25 September 2002)
Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.
Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Buku-buku karyanya yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (kumpulan puisi, 2000), Ponsel di Atas Bantal (kumpulan puisi, 2010), dan Tunas (kumpulan cerpen, CresindoPress, 2013).
Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Kota Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Sering kali diundang sebagai juri/pembicara dalam kompetisi/diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa. Karya Karya :
Wayang Kertas (novel, 1990)
Bidadari Sigarasa (cerpen 2002)
Puisi Dolanan (1978)
Yang Terhormat Rakyat (puisi, 2000)
Ponsel di Atas Bantal (puisi, 2010)
Tunas (cerpen, CresindO Press, 2013)
Martoloyo Martopuro
Ronggeng Keramat
Menunggu Tuyul
Gerbong
Sang Koruptor
Langit Berkarat
Rumah Tak Berpintu
Palu Waktu
Surat dari Tanah Kelahiran
Meniti Buih
Pasar Kobar
(027)
Utopia Si Jelata,
Wardjito Soeharso
Jangan pernah mengikuti naluri maling
Dialah sumber utama masalah keruwetan hidup Si Jelata.
Seburuk-buruk manusia adalah yang tega mencuri kata-katanya sendiri.
Di tanah lapang
Ada banyak orang
Beramai-ramai meniup matahari
Dengan mulutnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanyaku
"Kami ingin mematikan cahaya matahari." Jawab mereka
Aku hanya geleng-geleng kepala
"Siapakah kalian ini?" Tanyaku lagi
"Kami adalah Pecinta Malam!" Jawab mereka
Mereka menggumam
: "Terang adalah ancaman!"
Aku tersenyum
: "Gelap hanyalah ketidak tahuan."
Kulihat mereka terus saja
Meniup matahari dengan mulutnya
Di bawah komando Si Pembenci Terang
Pohon-pohon wajah
Menunggu saatnya berbuah
Benarkah besok panen dengan sumringah?
Aku mendongak!
Matahari meredup tersaput awan
Tiba-tiba saja rasa rindu menyengat ingatan
Menggelitik harapan dan impian masa depan
Bagai aroma tempe hangat sedang terhidang
Menggoda merayu mengusik puncak selera
Terbang melayang terus mengendus
Mencari sumber bau bawang merah mentah
Yang sempat terlewatkan setelah lima puluh tahun berkelana
Menyeruak kembali menyusun kenangan
Mesti kembali tertata nyata di meja makan
Utopia Si Jelata?
Jangan mudah terbuai janji
Tak kan pernah ada itu dalam catatan memori
Makan siang gratis kok bernilai lengkap gizi
Ah, entahlah!
Wardjito Soeharso
(028)
MENS SANA IN CORPORE SANO
Arya Setra
Hiruk pikuk
Riuh gemuruh
Menyambut uluran asupan untuk anak didik seluruh negeri
Test ombak awal tahun
Menimbulkan berbagai macam opini
Atas situasi yang terjadi
Sementara kantin kantin sepi
Tukang pikulan menanti harapan
Sepeser uang jajan yang di belanjakan
Semoga semua ini
Bukan sekedar menunaikan
Khotbah Janji
Saat menarik simpati di panggung konstitusi
Untuk membangun generasi sehat dan bergizi
Mens sana in corpore sano
Jangan sampai programnya kesana
Dana nya lari kesono....
*Arya Setra, Jakarta 18 Januari 2025*
Arya Setra
(029)
MENYALAKAN SOLIDARITAS,
Moel Soenarko
100 hari dikegelapan penantian
Di kesenyapan dan kebimbangan
Cahaya harapan menerangi kenyataan Mengenali suara semangat ketulusan kegigihan dan kegigihan
Mengajak, merangkul memulihkan kepercayaan 'tuk pembuktian
Program Makan Bergizi Gratis pada anak
Menghasilkan generasi unggul anak bangsa bermartabat
Ibarat cahaya mercusuar di kejauhan
Menuntun langkah melawan arus menuju muara pengakuan
Meraih kompas janji jadi kenyataan
Kelangsungan kehidupan bangsa sejahtera dan berkeadilan.
Moel Soenarko
( nama kecilnya Rr Sri Moeljaningsih ), lahir di Banjarmasin Kal-Sel ) tanggal 29 Maret 1941.
Alamat: Rumah Seni Moel Soenarko
Pondok Hijau Indah, jl Rafflesia No 12
Ciwaruga - Bandung ( 40559 )
Motto : "Dengan Menulis, merawat jalan menuju sinar kebajikan kehidupan."*
(030)
Jangan Nak, jangan,
Maya Ofifa Kristianti
Sayur tumis
dan sepotong ikan
ditambah susu kotak berharga ekonomis
entah sampai kapan program ini tersampaikan
akankah merata di pelosok nusantara
atau hanya ada di ibukota dan
di desa masih sekedar wacana
Makan bergizi gratis
membuat hati miris
juga menangis
banyak nasi dan sayur tak termakan habis
terbuang
tak selera
rasa hambar
enak masakan bunda
Ahhh anak jaman sekarang
lebih gampang membuang
sayang
Nak, lihatlah
para petinggi negara
sudah berupaya
agar kalian terjaga
kesehatan dan gizinya
jangan kau sia siakan
kebaikannya
jangan
*Kalialang baru 18 Januari 2025*
Maya Ofifa, lahir 46 tahun yang lalu di Semarang.
senang membaca puisi, juga beberapa kali bergabung di antologi puisi dan gurit bersama kawan kawan. Saat ini menggeluti dunia pranatacara.
*
(031)
MAKAN GRATIS NIKMAT SEKEJAP,
Mustiar Ar
Makan gratis, nikmat tak terhingga,
Tapi siapa bayar, tidak jelas.
Nasi goreng semua gratis
Sambalnya mahal,
Harga demokrasi tak terbayar.
Di kota orang makan di cafe mewah
Rakyat di suguhi makanan gratis,
Rakyat miskin semakin terjepit
Program politik digulirkan
Atau kebaikan hati sekejap
Makanan gratis
Tapi korupsi merajalela.
Makan gratis, bukan senang sementara
Surutlah ke belakang
Ada yang menderita.
Berbagi itu indah
Tapi jangan salah, makan gratis
Bukanlah solusi
*19 Januari 2025*
(032)
DI BALIK PIRING SEBUAH REALITA,
Drajat Adi Cahyon0
Sinar mentari pagi menyapa di sekolah
Meja panjang penuh piring warna-warni menggoda
Nasi putih, sayur hijau, sekerat daging yang menggiurkan
Gizi gratis: impian nyata, atau hanya ilusi yang dijual pemerintah?
Anak-anak sekolah berlari dengan riang
Sendok di tangan, dunia dalam gigitan
Mereka mengejar mimpi di balik piring
Di aula yang menjadi hutan magis penuh rahasia
Guru-guru dengan senyum penuh kasih
Mengajarkan kebijaksanaan di setiap suapan
Bahwa makanan ini lebih dari sekadar nutrisi
Adalah tanda cinta langit yang tak terputus
Sementara di luar, masyarakat terpecah belah
Pro dan kontra, debat sengit tak pernah jeda
Ada yang melihat berkah, ada yang mencipta fitnah
Namun jiwa yang tenang tak goyah oleh bisikan
Setiap gigitan adalah langkah menuju kedekatan
Dengan Sang Pencipta dalam rahmat tersembunyi
Menyerap hikmah di balik setiap butir-butir nasi
Mencari makna yang tulus dalam kesederhanaan
Sindiran menyelip dalam obrolan malam
Di media sosial maupun di meja makan
"Makan gratis? Siapa yang bayar?" tanya mereka
Seakan uang turun dari langit tanpa penghabisan
Tapi di hati anak-anak hanya rasa syukur yang ada
Setiap sendok nasi adalah janji masa depan cerah
Pro dan kontra jadi latar belakang yang sunyi
Ketika mereka duduk, makan, dan bermimpi
*Salatiga, 20 Januari 2025*
Drajat Adi Cahyono lahir pada tanggal 17 November di Jakarta. Suka menulis puisi sebagai terapi hati ketika lupa berdzikir dan khilaf mengeja kalam ilahi di umur yang tersisa.
(033)
Sebutir Harapan,
IGN Oka Putra
Di saat engkau mengatakan kebijakanmu
Di saat itu pula muncul harapan baru
Kala negara carut marut mengurus keegoisan
Kala senja di atas awan ketidakpastian
Di situ engkau datang bak pahlawan
Dengan gagahnya engkau mengatakan bahwa anak adalah harapan bangsa
Dengan mata yang membara mengisyaratkan kesungguhanmu
Sebagai pemimpin patut ku gugu dan tiru
Kebijakanmu merupakan senyum kebahagian semua murid
Wajah lugu, lucu mereka dengan polos mengisyaratkan ketulusan hati
Senyum itu merupakan balasan atas kebijakan engkau buat yang dimana mereka dapat merasakan nikmat
Semoga engkau sehat selalu
Terimakasih atas pelaksanaan kebijakan yang dulu aku pikir hanya jargonmu
*MALANG, 20 JANUARI 2025*
IGN Oka Putra** lahir 34 tahun silam di Surabaya. Awal tertarik menulis karena ajakan teman hingga akhirnya menjadi salah satu hobi sekaligus untuk mengekspresikan perasaan dan hati
*
(034)
Batalkan Saja,
Edi ustama Saragih
Sebagian lain menyelesaikan kata
Sementara ada yg terlunta
Mengharap dengan amat sangat
Nun di singgasana sang raja merealisasikan khayalnya
Batalkan saja....
Masih uji coba sudah pro kontra
Anank anak yg ingin makanan sehat
Relawan yg menyelam mencari hikmat
Sementara sampah sisa makanan menumpuk stiap hari
Lalu tikus menariknya pelan....
Berlahan
Dan menumpuknya di gorong gorong
Di balik dinding
Dibalik hati yg kering
Batalkan saja.....
Mengakui dengan bijaksana
Bahwa perjalanan ini tidak sederhana
Sebab waktu tak mau menunggu
Dumai 19012026
Aih Tene Nama asli** Edi ustama Saragih**
Lahir 15 02 70 sekolah SPG tapi gak pernah jadi guru. Bikin puisi amatir*
(035)
BISINGNYA MBG,
Fath WS
Genderang MBG bertalu
sesiapa merapat
menahan gunggam
solusi atau mimpi
Berjuta mulut komat kamit, menanti ketidakpastian
yang kurus tetap kurus
yang tambun kian ceking
lalu kapan menyesap ilmu tanpa kebayang sekepal nasi yang belum disantap
Hah ribut lagi,
Mana susu, buah dan daging
dan di sudut sana, beberapa harus melunaskan dengan muntah dan diare
Dan di TV hilir mudik menu menjadi berita utama,
kesalahan kirim, hitung pun menjadi biasa
sampai kapan?
*Lembah Tidar, 20 Januari 2025*
Published by Literanesia — 21 Jan 2025
Fath WS
(036)
SAYA LAPAR JENDRAL,
Agil Teguh S
Wooooe jendral saya lapar
Anak anak saya lapar
Para petani,pekebun,pekerja kasar pun lapar
Kamu hanya petantang petenteng
Sibuk dengan literasimu
Wooooe jendral sudah kau uruskah
Perut penimba ilmu itu
Komposisi gizi tanpa biaya
Apakah itu benar jendral?
Lihat saudaraku yang dipapua makan dengan lahapnya
Lihat saudaraku yang dijakarta masih ada lauk sisa sia sia
Sungguh jendral,aku sudah muram dengan semua ini
Aku murka, tapi jendral aku lemah.
Aku cinta negeri ini
Tolonglah jendral urus kebijakanmu
Tentang makan
Tentang gizi
Jangan lukai mereka,jangan buat mereka menangis hanya karena embel embel gratis.
*Sidoarjo,21 januari 2025*
(037)
TENTANG MAKAN SIANG BERGIZI, LAGI GRATIS ITU,
BH. Riyanto
Di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.
Murid-murid harus menikmatinya. Tepat di siang hari; yang di mana isi perut mereka mulai dipenuhi angin dan angan semata.
Murid-murid wajib merasakan; bahwa makan siang bergizi itu bukanlah kisah asing dan hoax yang semakin membasi.
Maka murid-murid wajib mengerti seutuhnya; bahwa makan siang bergizi itu adalah mengenyangkan, dan bukan sebatas bisa dibayangkan. Bahwa makan siang bergizi itu adalah menguatkan urat-otot, dan bukan melemahkan syaraf-otak.
Bahwa makan siang bergizi (lagi gratis itu) adalah program serius presiden kini; biar para murid Indonesia lebih tampak terurus dan tidak kurus.
Ya, di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.
Dan sambelnya?
Dan aduhai sambelnya; adalah kombinasi pedasnya semangat perjuangan dan (mungkin ambisi); yang menyala-nyala!
*(Pamekasan, 2025)*
BH. Riyanto
(038)
LAHAP,
Mustofakhilmi
Dari tetesan hujan
jatuh ke muka bumi
Nusantara terasa hijau
menyala kehijau subur
tanda tanam siap ditandur
menyemai bibit untuk ditata
teriring doa agar sehat seraya
telah tertanam semakin mapan
bertanam tak berilah macam
dahan tanaman semakin senang
berbuah hasil siap disajikan
menanti panen lama penantian
masak sendiri tak terkirakan
tak tergoda ujaran pecundang
cinta lahan cinta hasil tanaman
sajian mulai tertata di depan
perlahan hati siap santapan
Lahap harap jadi pikiran
Lahap jadi kenyataan
Lahap dalam kemandirian
Lahap nyata adanya
*Gust Must KW Lamatigjur, 090125*
Mustofakhilmi
(039)
MAKAN SIANG DI SEKOLAH,
Rodiyatun
Pemimpin baru, kebijakan baru
Wacana di mana-mana
Anak sekolah dapat makan siang gratis
Mungkinkah realita sesuai rencana?
Terpikir di benakku
Siswa-siswi jumlahnya ribuan
Butuh dapur yang luas, perabotan yang besar
Kerja yang dikejar waktu
Sebab distribusi ke berbagai lokasi
Dengan geografis yang medannya beragam
Mungkinkah sampai di lokasi
Makanan bergizi masih fress, hangat & nikmat untuk dikonsumsi?
Harapanku, semoga saja
Janganlah sampai di lokasi
Makanan hampir basi
Karena disiapkan sejak dini hari
Ditutup ketika asap masih mengepul
Yang ada, malah timbul masalah lagi
*Pracimantoro, 22 Januari 2025.*
**Rodiyatun** , *guru SD.
Senang menulis sejak masih sekolah SPG.
Namun, terkendala peralatan, sekarang, mulai lagi mencoba menulis di berbagai lomba, nulis cerpen maupun puisi di medsos.
*
(040)
Apa Kabar Makan Siang Gratis,
Rosyidi Aryadi
Anggaran membengkak, semua terasa menjadi benar padahal belum tentu suka selera dengan biaya 1 porsi cuma murah meriah maklum di kepala cuma gratis mau makan enak segala.
Inilah gaya hidup para penabuh gerak pematik rasa pada mimpi nyata, jangan paksakan cuma pencitraan memicu perubahan persinggahan 5 tahun cerita anak negeri.
Banyak sekolah tak layak, anak bekerja banting tulang untuk bayar pendidikan yang makin terbang tinggi di cakrawala.
Bergabunglah membaca nyanyian semesta sambil menarikan tarian letih sebatas bulan purnama sambil menabuh genderang keberagaman budaya bangsaku.
Teruslah menabuh keserasian sebab menyeragamkan diri sendiri lebih baik dari pada seragam atasan para pejabat korup.
Tinggalkan budaya malu dalam memerankan karakter seribu wajah luka pada cermin terbelah dua.
Apalah arti sebuah nama kalau memanjakan para pengikut sembari tersenyum malu.
Rosyidi Aryadi kelahiran Banjarmasin, 22 Juli 1956 beberapa kumpulan puisi bersama dalam antologi puisi, penerima Lencana Anugrah 30 Tahun Kesetiaan Setya Sastra Nagari Tahun 2021 dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Penerima Piagam Penghargaan dari LPP RRI Palangka Raya Tahun 2023, Penerima Piagam Penghargaan dari TBM Kalimantan Tengah.
Tinggal di Jl Temenggung Tilung Menteng 17 No 35 RT 02 RW 08 Kel Menteng Kec Jekan Raya, Palangka Raya 73112 Kalimantan Tengah, Wa 081346050064*
(041)
KEHIDUPAN DAN KESERAKAHAN,
Khalid Alrasyid
Melalui makan bergizi, pemerintah ingin anak-anak berselebrasi, mengurai distraksi juga fluktuasi diri
hari-hari bahagia, kenyangkan perut, sehatkan badan, karena makan bergizi adalah susu ibu yang mengenyangkan jiwa. Namun, di balik layar, korupsi mengintai, menghancurkan harapan, meracuni kepercayaan.
Tangan-tangan kotor, mengambil untuk diri, meninggalkan rakyat, dalam kekurangan, makanan bergizi menjadi komoditas, dengan harga kepentingan pribadi.
Korupsi merajalela, menjadi penyakit kronis, menghancurkan sistem pangan berkelanjutan bagi kelompok yang membutuhkan, pun kelompok rentan.
jika saja 271 triliun dibagi rata,maka 53 juta pelajar Indonesia penuh dengan gizi yang nyata, empat sehat lima sempurna bukan bayang- bayang saja, seperti kulacino di meja-meja, lalu mengembun, dalam perut yang tambun.
Kemlagi, 22 Januari 2024
Khalid Alrasyid seorang Serdadu Laut kelahiran Pamekasan Madura, menetap di Bumi Mojopahit Mojokerto. Founder Komunitas Kopi & Diksi, Karya-karyanya bisa dilihat di berbagai antologi puisi seperti : Whispers of The Heart, Thoughts in Words (Bhutan), Kitab Putiba Indonesia "Takziah Bulan Tujuh." Segugus sajak "Suara-suara Gagak." Biji-Biji Waktu, 8 Penjuru Mata angin, Neng Ning Nung Nang, 76 Penyair Membaca Indonesia, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Resital Musim, Angkatan Milineal, Puisi dari Tanah Cahaya, Kumpulan Haiku Under The Moon, , Pare-Pare Kota Cinta, Nama-Nama yang Dipahat di Batu Karang, Menjadi Indonesia, Kreasi SEMARIS, Bayi-bayi Puisi di Era Digital, Menolak Puisi Korupsi 8 & 9, Wasiat Botinglangi’ Kebaya Bordir Untuk Umayah, Sekuntum Puisi Untuk Petani, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Meraba Sayap-sayap IKN, Ibu Aku Anakmu dll lebih dari 80 Antologi bersama.
(042)
DARI MEJA SEKOLAH ADA CERITA,
Dyah Nkusuma
Ronis tersenyum meringis
Melihat ikan dan sayur buncis
Duh, aku tak suka makanan ini
Ditatapnya lekat-lekat tak sampai nangis
Pisang dan air mineral saja dinikmatinya
Mamanya pengusaha katering ternama
Dihitung-hitungnya keseluruhan harga: "aha ... sepuluh ribu kira-kira"
Dullah anak Wak Romlah
Putra ketiga dari janda beranak lima
Dia berucap Alhamdulillah Wasyukurillah
Makan gratis setiap hari sekolah adalah berkah
Lahap-lahap dia mengunyah, menelan tanpa susah payah
Perutnya yang kosong tak lagi berdendang tembang keroncong
Teman-temannya terkesima dan bengong
Sonya, gadis cantik anak pengusaha
Diam terpaku menatap suguhan menunya
Pelan-pelan mengeluarkan bekal dari dalam tasnya
Makan bergizi gratis tak menyentuh seleranya
Tetaplah utuh tergeletak di atas meja
Menunggu nasib baik di bawa pulang petugas kebersihan
Atau terbiar percuma, sia-sia basi dan muspra
Ibu kantin manggut-manggut, ngelangut
Kue-kue yang tertata dirubung semut
Jajanan ringan kering mendekati kadaluarsa
Mata sayu mengelap debu pada minuman kemasannya
Biaya sewa sudah terbayar penuh enam bulan
Pendapatan minus tak seiring jalan, memikirkan beralih ke usaha apa
Sedang makan bergizi gratis ibu-ibu PKK yang kelola
*Sampit, 22/01/2025*
Dyah Nkusuma, *penyuka puisi sejak usia dini, domisili di kota Sampit, Kotim, Kalteng. Mengelola Sudut Baca Kin dan Rumah Jahit Kin. Aktif menulis di laman gawai sejak Oktober 2019. Hingga Desember 2024 telah turut 80 buku antologi bersama, 4 buku tunggal, satu buah Tandem. Terakhir masuk dalam leksikom; Apa dan Siapa Perempuan Penulis/Pengarang Indonesia (KKK 2023).
Saat ini aktif sebagai admin di Grup Sastra TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia), NHI (NewHaiku Indonesia), dan owner Grup Sastra PuSeRik.
Dari 2020 hingga 2024 didapuk menjuri untuk Dinas kebudayaan dan pariwisata baik lomba puisi, bercerita, deklamasi, presenter & guide museum, tingkat SD SLTP & SLTA, Juri lomba dongeng/cerita edukasi anak GOW (2022), Juri teaterikal puisi tingkat SLTP & SLTA Dinas Pemberdayaan Ibu dan Anak (2022): Kab Kotim. Juri lomba deklamasi tingkat SLTA, milad SMANDA Sampit (2023).
(043)
Tidak Amanah,
Mata Atma
**Makan**
Beberapa suapan
Mantap tiada tandingan
Bersyukur atas nikmat tuhan
Tanpa diminta dia telah berikan
Tanpa sepeser uang yang harus dikeluarkan
Tulus ikhlas tanpa harus meminta belas kasihan
Tapi tidak semua insan merasakan kebijakan itu
Sebab penerapan belum menyebar ke penjuru
Tidak semua bergizi seperti katamu
Sebab korupsi lembar biru
Tiada amanah, semu
Ada penipu
Bisu
*Ponorogo,22 Januari 2025*
**Meta Atma**, *Seorang ibu rumah tangga yang suka merangkai kata-kata dan suka belajar agar lebih baik lagi
*
(044)
SEORANG BOCAH DAN MAKAN SIANG,
Sulistyo
mata bocah kecil menerawang
akankah makan siang dari tuan yang budiman ini terus bertahan?
seminggu ini perutnya kenyang
tanpa harus mengeluarkan uang jajan
yang hanya ada dalam angan-angan
hingga kelas lima sekolah dasar
mustahil berbekal selembar lima ribuan
"emak hanya buruh cuci baju harian" katanya kepada seorang teman yang pernah mentraktirnya makan
ayam rica-rica
irisan buah naga
yang kemarin hanya ada dalam cerita
hari ini menjadi nyata
dikunyah dengan suka cita
dan diam-diam
dengan tetesan air mata
apakah ini aku terus ada?
batinnya nelangsa
*Mulya Asri, 22 Januari 2025*
Sulistyo, Lahir dan besar di Kudus. Pensiunan Disc Jockey yang suka menulis puisi. Beberapa puisinya diterbitkan dalam antologi bersama dan antologi tunggal.*
(045)
Mimpi Makan Siang Gratis,
Rahayu Budiman
Mimpi Makan Siang Gratis Nama Rahayu Budiman Makan siang gratis, baginya sebuah...
**BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA
Riska Widiana**
Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan
Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan
Bagi orang-orang tak memiliki lengan
Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah
Meski, di sebuah piring
Satu jeruk keriput tersenyum
Tumis sayur dingin sedang manyun
Daging ayam seruas jahe terlihat datar
Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana
Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu
Dipenuhi tawa dan buah segar
Nuansa ceria secerah musim semi
Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai
Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung
Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja
Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran
Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk
Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan
Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan
Jangan berkata-kata, kau cukup diam
Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja
Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis
Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan
Entah kau hendak berterima kasih atau tidak
Diam saja, kita hanya cukup bersyukur
Setiap jalan yang telah diukur
Jangan mengeluh, duh
Bagimu adalah hanya
Bagi mereka adalah luar biasa
Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa
Di meja mana mereka terhidang
Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur
Riau,26/1/ 2025
Rahayu Budiman
(046)
Omong Kosong,
Rudi H.
Ada yang bilang gratis
Tapi nyatanya miris
Janji manis
Amis
Makanan
Hanya ucapan
Tanpa adanya penerapan
Semua hanya menjadi omongan
Ada yang sudah berharap
Makan dengan lahap
Siap menyantap
Bertiarap
Bergizi
Atau bergengsi
Semua hanya imaji
Agar insan saling memuji
*Kota Reog, 22-01-2025*
**Rudi H**, *Pria kelahiran Ponorogo,10 September 1996 , tinggal di desa baosan lor kecamatan Ngrayun,*
Published by Literanesia — 23 Jan 2025
(047)
Untuk Tuan dan Puan,
Elvayanti Tammelle
Di bilik bambu yang mulai rapuh
Di bawah atap yang tak lagi utuh
Anak-anak berpakaian lusuh
Menulis pesan di buku tulis
Untuk Tuan dan Puan
Kami anak-anak kuli
Tak begitu peduli
Juga tak memahami nilai gizi
Perut terisi dengan nasi
Bagi kami adalah rezeki
Apalagi ditambah ikan teri sambal terasi
Tuan dan Puan
Di tengah nyanyian perut semakin menghajar
Kami ingin tetap belajar
Semoga dengan izin Tuhan
Mata hati Tuan dan Puan
Sampai diantara lembah dan hutan
Di sini kami butuh makan untuk bertahan
Parigi Moutong, 23 Januari 2025
Elvayanti Tammelle.Kelahiran Bone, 29 September 1988 Sulawesi Selatan. Berdomisili di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Alumnus Pendidikan Matematika, Universitas Tadulako. Puisinya pernah dimuat di media online www.riausastra.com dan www.ranahriau.com. Memiliki beberapa buku Antologi Puisi dan satu buah Antologi Artikel. Salah satu artikelnya juga pernah dimuat di Majalah Suara Guru. Pernah juara III dan Harapan III cipta puisi yang diselenggarakan oleh Asqa Imagination School (AIS). Pernah terpilih sebagai salah satu penulis puisi nasional kategori guru yang diselenggarakan oleh Nyalanesia. Dapat disapa via Ig:@elvatammelle
(048)
PESAN IBUKU :MAKAN GRATIS KENYANG
Eryanto Kamis
Anakku
Jangan kau nista makan tersedia
Duduk tenang menerima
Makan bergizi gratis belum tentu ada
Jika pimpinan hanya pandai mengolah kata
Anakku
Jika ada makanan tak layak
Percaya saja bukan dikehendak
Pengelola perlu menyesuaikan
Waktu sempit jadi pelajaran
"Kuncinya, jangan kau makan,"
Anakku
Jangan sia - siakan makanan yang kau dapatkan
Tegakkan kepalamu kedepan
Disana menanti sebuah harapan
Anak - anak negeri cinta keadilan
Bukan hanya pandai hujatan
"Makan gratis dan kenyang,"
Anakku
Berterimakasihlah kepada orang berbuat baik
Karena yang tidak suka
Belum tentu bisa berbuat lebih mulia
Mereka mengadalkan bicara, padahal tidak bisa apa - apa
Anakku
Jika engkau mau makan berdoalah
Bersyukur negara ini bisa memberimu makan
Berterima kasih ada pemimpin perhatikan rakyatnya
Doakan agar damai sejahtera menaunggi negara kita
Anakku
Ketika zaman gatal - gatal dan korengan di lututku
Makan gratis itu pulang sekolah ketemu orang hajatan
Kita mampir modal salaman numpang makan
"Sekedar untuk perbaikan gizi saja," begitu kata teman
Bekasi, 2025
ERYANTHO KAMIS, lahir di Sepang Simin, Kalimantan Tengah. Separuh usianya sebagai Jurnalis di Kalteng. Kini menetap di Bekasi. Anggota PWI seumur hidup sejak akhir tahun 2024. Menulis puisi sudah sejak 80-an, terjun sebagai jurnalis 89 -an. Pernah mengelola rubik sastra di Harian Kalteng Pos, mingguan Dinamika Pembangunan, dan di Radio Cakrawala Borneo Nusantara FM. Merasa belum siap menerbitkan buku puisi tunggal. Hanya ikut antologi puisi bersama rekan- rekan lainnya. Pendidikan terakhir S2 MSDM STIE Pancasetia Surabaya.*
(049)
MAKAN SIANG DALAM CELOTEHAN DI NEGERI AMAN DAN TENTERAM,
Mimi Marvill
Tak perlu gusar
ketika puluhan anak keracunan
usai makanan bergizi dibagikan
toh itu hanya secuil persen
dari total angka keseluruhan
Tanamkan pikiran positif pada atasan
yang mereka beri amat spesial
keracunan ialah reaksi efek
menjadikan anak-anak pintar
Kritik ialah sebuah kebodohan
tak tahu syukur atas pemberian
sedang kemiskinan merupakan ladang
yang mesti ditanam dan panen setiap saat
Tak perlu bertanya-tanya
mengapa anggaran dipangkas di mana-mana
santap saja apa yang ada
tak usah mencari susu segala
barangkali sapi-sapi telah menua, menopouse adanya
jika menu tak sempurna
masih banyak janji yang bisa disantap sepuasnya
Ingat saja kata nenek moyang dahulu
selagi tanah air dikuasai serdadu (Jepang dan Belanda)
makan yang penting ada
tak perlu bertanya empat sehat lima sempurna
sebab kesempurnaan hanya milik yang Mahakuasa
**Temanggung, 24 Januari 2025**
Mimi Marvill, *lahir dan menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Puisinya terangkum dalam sebuah antologi tunggal dan beberapa antologi bersama, serta media online.
(050)
INTERPRETASI GIZI,
Cinta
Sepiring nasi
Adalah cinta pendiri negara ini
Dalam kitab undang-undang
Yang lama dikotori
Seperti puisi
Selalu banyak interpretasi
Menjadi kalimat bersayap
Berkoloni seperti rayap
Sepiring nasi
Dananya lebih bergizi
Yang siap dikorupsi
Mata mata api
*Surabaya, 2025*
Cinta, Perempuan kelahiran Kota Pahlawan, pernah tinggal di Bandung, Jakarta & Padang, saat ini menetap di Gresik, menyukai sastra setelah menetap di Kota kelahirannya, namun tidak pernah berani mengikuti antologi. Komunitas Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia adalah antologi ketiga yang diikutinya.
*
(051)
MENU DITENTUKAN
Suyitno Ethex
menu ditentukan
begitu juga anggaran
tukang masak kerepotan
cari bahan sesuai anggaran
mau beli susu
mau beli daging
pusing
beli saja bahan makan
yang penting tak menyimpang
bergizi bila dimakan
di kota besar
menu jadi beban besar
di desa kecamatan
menu gampang ditemukan
menu ditentukan
anggaran ditentukan
tukang masak kebingungan
2025
Suyitno Ethex
(052)
JANJI BERGIZI MAKAN BERGIZI: GRATIS,
Gurit Asmara Ruci
tanah merdeka indonesia
negeri elok amat kucinta
tanah tumpah janji-janji bergizi
yang diundi lima tahun sekali
kata makan dan gratis,
adalah mantra mistis paling magis
menghipnotis nasib yang tak kunjung manis
lidah-lidah pun rela menjulur - mengais
maka terjadilah serta-merta
di atas meja belajar telah tercitra
nampan-nampan berisi potongan janji
mencerdaskan isi kepala dengan presisi
makan, makanlah nak dengan segera
ini bukan waktunya memanjakan selera
yang utama isi kepalamu mesti menyala
kelak kau akan mengerti apa arti berguna
di pos-pos anggaran mereka bersiasat
mengingat tabiat, doakan agar tak tersesat
semoga susu yang diberikan
bukan kambing hitam yang biasa diributkan
makan, makanlah nak bak bulldozer
seakan kau hendak ditabok ekor buzzer
selalu bersyukur jaga ingatanmu
MBG ini adalah taruhan masa depanmu
2024
Gurit Asmara Ruci, *lahir dan berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur. Puisinya dimuat di beberapa media cetak dan media online serta beberapa antologi.
(053)
Rapat Rahasia di Dalam Perut,
Batari Parfum
Di meja makan sekolah, piring-piring
berdiri tegak seperti peserta sidang.
Nasi di tengahnya adalah saksi bisu,
ditanya berkali-kali oleh mulut anak-anak,
tapi jawabannya tercecer di lembar anggaran.
Sendok bergesekan pelan,
seperti tangan yang sedang mencuri.
Sop sayur berubah jadi protokol.
Daging ayam menghilang,
digantikan laporan resmi yang tak pernah dimakan.
Di belakang pintu dapur,
garpu menggantung dengan luka di lehernya.
Lemari es berdenting seperti kotak suara,
menyimpan semua janji basi:
lauk impor, protein kadaluarsa,
gizi yang dikarantina di ruang rapat hotel.
“Anak-anak hanya butuh kenyang,” kata mereka,
sambil menandatangani bon makan malam.
Anak-anak sekolah duduk di kursinya,
mengunyah udara dengan suara pelan.
Di dalam perut mereka, negara sibuk berdiskusi.
Tulang ikan bercampur kertas tender,
kolesterol tumbuh dari janji subsidi.
“Besok kita makan apa?” tanya seorang anak.
“Besok kita makan mimpi,” jawab nasi dingin.
Di pojok ruangan,
jam dinding berhenti berdetak.
Di lantainya, minyak goreng tumpah,
licin seperti politik.
Semua orang berjalan di atasnya,
tanpa takut terjatuh.
Di luar, korupsi bersiul pelan,
memanggil tikus-tikus pulang.
Mereka membawa potongan piring,
untuk membangun istana kecil
di perut anak-anak yang sudah lama kosong.
*Banyumas , 25 Januari 2025*
Batari Parfum
(054)
Makan Gratis Bergizi Mimpi atau Nyata,
Hafney Maulana
Makan gratis bergizi, mimpi atau nyata? Di negeri ini, kelaparan masih nyata
Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan. Gizi buruk merajalela, potensi bangsa terancam
Perut keroncongan, mimpi jadi santapan. Di negeri makmur, gizi buruk merajalela.
Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan.[1]
Program digulirkan, janji manis diumbar. Tapi, apakah cukup hanya dengan program?[2] Struktur sistem yang rapuh, akar masalah tak terpecahkan. Korupsi merajalela, anggaran lenyap sia-sia.[3]
Bukan hanya soal kenyang
Tapi juga rasa sayang
Berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan
Dalam setiap suapan
Makan gratis bergizi, solusi atau tambal sulam?
Kita perlu lebih dari sekadar program makan siang. Pendidikan gizi, penting untuk jangka panjang. Agar masyarakat sadar, betapa pentingnya gizi seimbang.[4]
Pertanian lokal digalakkan, produksi pangan meningkat. Distribusi merata, harga terjangkau. Koperasi petani tumbuh subur, kesejahteraan merata. Ini baru disebut kedaulatan pangan sejati.[5]
Makan gratis bergizi, mimpi yang harus kita wujudkan. Bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk semua. Dengan kerja sama, gotong royong, dan inovasi. Kita bisa wujudkan Indonesia yang bebas dari kelaparan.
Mari berbagi, mari peduli
Bukan hanya memberi makan gratis hari ini
Tapi juga memberi solusi
Agar semua bisa makan tidak sekedar ilusi
*2025*
*Catatan Kaki:
[1] Data WHO menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia masih tinggi, padahal merupakan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.
[2] Banyak program pemerintah yang gagal mencapai target karena kurangnya evaluasi dan tindak lanjut yang serius.
[3] Kasus korupsi dalam proyek-proyek sosial seringkali terjadi dan merugikan masyarakat banyak.
[4] Tingkat kesadaran masyarakat tentang gizi masih rendah, sehingga perlu upaya edukasi yang lebih intensif.
[5] Kedaulatan pangan penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Kab. Indragiri Hilir, Riau. Karya puisinya telah dimuat diberbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi antara lain: Antologi Puisi Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI dan Angkasa Bandung, 1997), Amsal sebuah Patung (Yayasan Gunungan, Yogyakarta, 1997). Puisi-puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Seri Sastra Tembi.net: Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019) dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020), Para Penuai Makna (Dapur Sastra Jakarta, 2021), Seribu Tahun Lagi (Masyarakat Literasi Jember, 2021) dan puluhan antologi puisi lainnya.
(055)
BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA,
Riska Widiana
Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan
Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan
Bagi orang-orang tak memiliki lengan
Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah
Meski, di sebuah piring
Satu jeruk keriput tersenyum
Tumis sayur dingin sedang manyun
Daging ayam seruas jahe terlihat datar
Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana
Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu
Dipenuhi tawa dan buah segar
Nuansa ceria secerah musim semi
Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai
Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung
Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja
___Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran
Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk
__Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan
Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan
Jangan berkata-kata, kau cukup diam
Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja
Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis
Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan
Entah kau hendak berterima kasih atau tidak
Diam saja, kita hanya cukup bersyukur
Setiap jalan yang telah diukur
Jangan mengeluh, duh
Bagimu adalah hanya
Bagi mereka adalah luar biasa
Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa
Di meja mana mereka terhidang
Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur
Riau,26/1/ 2025
(056)
Salah Asuhan,
Ibrahim Ibrahim
Bumi pertiwi ini subur dan hijau
Terhampar sawah luas dan rimbun
Namun kita hanya memanen embun
Dari hujan yang selalu murung
Kita seperti burung, memiliki sayap
Tapi tidak tahu bagaimana terbang tinggi
Kita memiliki tanah subur dan hijau
Tapi tak mampu dikelola dengan bijak
Hutan kita gundul, sungai kita tercemar
Tanah kita tandus, dan kekayaan kita hangus
Kita seperti kapal, yang tidak memiliki kemudi
Tidak tahu arah, dan tidak tahu tujuan
Seharusnya makan bergizi gratis
Jauh sejak dahulu
Kalau saja pelaku korupsi
Tidak dibiarkan berkompromi
Lalu melarikan diri
Dari negeri ini
Sidoarjo, 2025
Ibrahim Ibrahim, pecinta sastra yang tinggal di Sidoarjo-Jawa Timur. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi bersama (cerpen/puisi) saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan puisinya
(057)
MBG, ADAKAH STRATEGI POLITIS?
Imron Bintang
menatap rakyat jelata,
yang telah mufakat mendaulatnya,
menduduki tahta selanjutnya,
begitu rentan kesejahteraan
ia pun mencanangkan program andalan
: makan bergizi gratis bagi anak bangsa
apa yang bisa diharapkan
dari generasi yang terabaikan
pangan dan kesehatan?
tidak siap menjadi pelaku perubahan
bagi indonesia berkemajuan
maka sebagai penunjang pendidikan
asupan gizi nasional harus ditingkatkan
orang-orang berperang pandangan
tentang 71 T yang siap dianggarkan
bagi 82,9 juta penerima
seharusnya 420 T bisa merata sempurna
pada setiap tahunnya
di tengah derita beban hutang negara
ribuan trilyun ketat melilit istana
dana swasta dan apbd pun siap dikucurkan
sampai pun uang zakat diusul alihkan
apakah makan bergizi gratis
adalah strategi politis
untuk mendulang simpati rakyat
yang tengah terengah-engah
terpijak roda modernisasi di segala arah?
duaratus juta kepala mengangguk iya
sambil kasak-kusuk mencari celah cela
dua puluh lima juta kepala lebih
kaum jelata yang hidup letih
mempercayai program ini
bisa meringankan beban dapur pagi hari
**Kendal, 23 Januari 2025
Imron Bintang,* Kendal 14 Nopember 1969, adalah seorang pedagang keliling yang *sejak remaja merasa gatal tangannya untuk selalu menulis ( puisi ). Di antara karyanya tergabung dalam antologi bersama: Ketika Dalam Keheningan, Puisi Religi 1 dan 2, Under The Moon, Upacara Tanah Puisi, Raja Kelana 2, Ketika Jakarta Bukan Lagi Ibu Kota, Lampion Merah Dadu*
Published by Literanesia — 27 Jan 2025
(058)
MAKAN BERGIZI GRATIS, CAHAYA HARAPAN,
Suriar Amazi
Di atas piring kosong, tertanam mimpi yang berkibar
Makan bergizi gratis, laksana embun pagi yang menyegarkan
Program ini menari di antara kabut kemiskinan
Mengusir bayang-bayang gizi buruk yang melilit jiwa.
Seperti mentari pagi, hangat menyapa tanpa pilih kasih
Anak-anak melompat, bagaikan kupu-kupu yang riang menari
Makanan bergizi tersaji, menjadi pelangi di hati mereka
Senyum orang tua adalah doa yang terbang ke langit.
Makan bergizi gratis, bukan sekadar menu di meja
Ia adalah simfoni kehidupan, nada-nada masa depan
Mengokohkan pondasi, melahirkan generasi tangguh
Yang kelak menjadi penjaga bumi pertiwi yang bijak.
Dalam setiap gigitan, terselip cita-cita yang menyala
Bagaikan bara api kecil yang menghangatkan kegelapan
Program ini adalah jembatan, menghubungkan jurang harapan
Merajut Indonesia yang setara, penuh harmoni dan keadilan.
Makan bergizi gratis, adalah cermin kasih yang tanpa batas
Ia melukis masa depan dengan warna yang cerah
Menumbuhkan tunas-tunas bangsa yang menjulang tinggi
Menjadi cahaya harapan bagi Indonesia yang makmur dan abadi.
*Semangat Dalam, Alalak-Barito Kuala
Jum'at, 17 Januari 2025/17 Rajab 1446*
SURIAR AMAZI, *(Barito Kuala-Marabahan) pencinta, penikmat dan suka menulis puisi. Lahir di kota Banjarmasin. Berdomisili di Kel. Semangat Dalam, Kec. Alalak, Kab. Barito Kuala, Prov. Kalimantan Selatan. Karya tulis puisi tersebar di berbagai Komunitas Sastra FB dengan berjenis genre puisi. Bergabung dalam puluhan antologi menulis bersama penyair lain yang sudah diterbitkan. Menulis puisi sejak berseragam putihabu, Buletin Obor Tarbiyah (semasa masih kuliah) dan Facebook sejak tahun 2013. Dapat ditemui pada akun fb: https://www.facebook.com/suriar.amazi dan email: akhbirnysa60@gmail.com*
Published by Literanesia — 27 Jan 2025
(059)
SOLUSI MAKAN BERGIZI GRATIS,
Sunawi
Program yang menggelitik di tengah ekonomi ada yang terasa sulit
Yang merasa terpenuhi kebutuhannya hal biasa
Yang merasa kurang terpenuhi adanya makan bergizi gratis merasa suka
Niat luhur yang bisa membawa budipekerti luhur
Apabila yang merasa lebih menyumbangkan untuk negara
Makan bergizi gratis atas nama negara
Dengan tulus ikhlas menyumbangkan darma baktinya untuk negeri ini
Apa hendak dikata keadaan masalalu sawah tegalan sebagian menghilang
Tergerusnya masadepan terkikis sudah yang jadi tumpuan pangan
Potong kompas demi mengikuti arus yang semakin modern
Tak kuat pabila tertinggal jauh dengan lainnya
Mau tidak mau yang merasa kurang kuat ingin mengikuti arusnya
Lepaslah masadepan yang jadi tumpuan
Hari ini untuk hari ini sampai nanti
Ingat masalalu dalam senja menerawang
Yang masih lumayan pangan
Masa panen sebagian untuk dirinya
Sebagian lagi untuk dijualnya
Menjadikan longgar pangan ada kelebihan
Kelebihan pangan berguna pada dirinya dan sesama
Meskipun imbalan menyertainya
Waktu dulu tidak ada program makan gratis
Padahal andai ada tentu saja berikan kemudahan
Karena kuat yang jadi tinggalan
Memang program dulu dan kini berbeda
Demikian juga merambah aturan nya
Makan bergizi kalau sesuai dengan penghasilan bagus saja
Andai tidak sesuai nantinya apa tidak berat belakangan
Sehingga kebutuhan itu tidak mampu dipaksakannya
Makan bergizi gratis bisa terlaksana tanpa hutang
Asalkan semua yang berlebih menyumbangkan darma baktinya
Sehingga programnya bisa terlaksana
Sunawi
*Yogyakarta. 27 Januari 2025*
(060)
Drama Babak Pertama,
Chie Setiawati
Angin berkabar
Perayaan kemenangan pemimpin negeri segera di gelar
Euforia di tiap sudut sekolah
Makan gratis konon bergizi
Tapi budget terkebiri
Angan berkibar
Ribuan anak berekspektasi makan enak
Wajah-wajah sumringah
Asap daging panas beraroma rempah mengelitik angan
Sayur mayur tak lupa buah dan susu ikut menari dalam khayal
Ingin berkisah
Hidangan tersaji tak melulu sesuai nilai gizi
Hidangan dalam baki alakadar sekedar memenuhi pesanan
Ada anak lahap menyantap dengan nikmat
Tak peduli rasa dan rupa
Tak peduli menu yang ada
Sebab lapar membuatnya berselera
Sebab uang jajan tak membuatnya kenyang
Sebab bersyukur baginya lebih penting
Beberapa anak memaki
Mengkritik hidangan yang tersaji
Tersebab menu makan di rumah lebih lezat dari makan gratisan di sekolah
Nasib makanan berakhir dalam tong sampah
Lalu...
Polemik terjadi
Lalu...
Media mencari celah mengkritik pemerintah
Lalu
Lalu...
Kemudian...
Selanjutnya...
Hanya Tuhan yang tahu episode selanjutnya seperti apa.
Chie Setiawati. Bergabung dengan komunitas Penyair Perempuan Indonesia. Karyanya telah di muat di beberapa surat kabar online dan cetak. Masuk dalam antologi Rainy Day Banjarbaru 2018, Almuni Munsi 2018, Pertemuan Sastrawan Nusantara 2022, Jambore Sastra Asia Tenggara 2024. Dan banyak lagi.*
(061)
Jangkrik,
Ahmad Irfan Fauzan
anak-anak menikmati makan siang
dengan jangkrik dan sayur kacang
katanya: bergizi dan menghemat uang
orangtua mulai bingung
pemerintah menjadi gemblung
program yang terlalu dipaksakan
menjadikan anak-anak sekolah sebagai bahan percobaan
dari kampanye pemilihan
katanya: dari rakyat untuk rakyat
dari rakyat sampai sekarat
Serang 2025
Ahmad Irfan Fauzan lahir di Brebes 20 Desember 92 menyukai buku dan karya sastra
(062)
MENGGAPAI MASA DEPAN CERAH,
Iis Yuhartini
Teruskanlah program makan siang bergizi, Pak Presiden
aku masih ingin merasakan lezat ayam goreng, juga lauk pauk lainnya
segarnya potongan buah, sekotak susu menambah nikmat rejeki Allah yang kuasa
pergi sekolah makin semangat merenda asa
Asupan gizi sangat penting untuk tumbuh kembangku
di rumah hanya nasi berteman garam menjadi menu ibu
ayah hanya pekerja serabutan, tidak dapat memenuhi semua kebutuhan
beruntung sekolah negeri gratis tanpa bayaran
Biarkan saja orang kaya meremehkan program ini
uang mereka banyak dapat membeli segala yang di sukai
aku bersyukur ada makan gratis bergizi di sekolah
anak Indonesia sehat akan kuat melangkah menggapai masa depan cerah
Bekasi, 25 Januari 2025
Iis Yuhartini
(063)
Harapan untuk Anak-Anak Masa Depan,
Puisi Akhmad Sekhu
Jangan berdebat, Saudaraku, dukunglah
Dengan program makan bergizi gratis ini
Pemerintah sedang baik hati mau berbagi
Pendapatan dari pajak yang kita bayarkan
Simpanlah uang untuk beli makanan anak-anak
Mungkin nanti bisa digunakan kebutuhan lain
Atau ditabung yang sewaktu-waktu menolong kita
Dari kebutuhan tiba-tiba yang sangat mendadak
Kita memang harus kritis jika pemerintah apatis
Tapi ini pemerintah sedang sangat peduli
Dengan program makan bergizi gratis
Peduli gizi makanan untuk anak-anak kita
Simpanlah tenaga kita yang berlebih
Jangan untuk berdebat tapi kita mengawal
Pemerintah dalam jalankan pembangunan
Kalau ada kesalahan atau korupsi, tegurlah!
Rakyat dan pemerintah hanya beda kedudukan
Sebagai sesama manusia, kita harus mendukung
Makan bergizi gratis sebagai program kemanusiaan
Demi harapan untuk anak-anak masa depan
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2025
Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah.
Menulis berbagai tulisan, berupa puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film, telaah tentang televisi di berbagai media massa. Puisi-puisinya masuk sekitar 70 buku antologi komunal (1994-2024). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (2022), Indonesia Negeri Paling Puitis di Dunia (manuskrip). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).
(064)
Bukan Makan Gratis
Acep Syahril**
bukan makan gratis
yang kami butuhkan
dulu kami pernah bawa jerigen antri minyak tanah beras murah dan bubur kacang ijo dari pagi sampai matahari berdiri
pernah juga ketika harga harga barang naik tapi kami dikasih kaos gratis berlogo partai kalender gratis poster gratis dan berbaris
di bawah matahari gratis
sekarang kami hidup berdampingan dengan para pencuri rebutan rizki dengan koruptor maling tapi anak-anak kami dikasih makan gratis ini jelas jelas pelecehan
sejak dulu kami saudara handai tolan cukup makan dengan ikan tempe dan tahu tapi masih bisa berpikir cerdas mengatasi kepelikan hidup ini sebaliknya kalian para penguasa yang
ketakutan dengan kepintaran kami
sekarang anak-anak kami kalian beri makan gratis dengan
dalih meningkatan gizi agar mereka sehat pintar dan berani sementara kalian sudah mempersiapkan bedil barisan
tameng jaga negeri serta siap menghantamkan sepatu besi pada mereka yang nantinya akan mempersoalkan demokrasi
anak-anak di negeri ini tidak membutuhkan makan gratis tapi pemimpin yang jujur para pejabat amanah aparatur hukum
tafakur yang benar-benar memikirkan nasib rakyat
yang hak-haknya dihargai sebagai manusia yang juga layak
hidup di negeri ini
yang paling utama anak-anak ini benar-benar dipaksa belajar
agar cerdas dan pintar untuk mengatasi persoalan hidup
di negeri yang kaya raya ini bukan dipaksa sekolah atau kuliah
lalu dapat gelar berjibun tapi malah guoblog dan pongah
merasa paling hebat sendiri dan paling pintar sendiri lalu melanjutkan tradisi maling dan mencuri karena mereka
bukan belajar melainkan sekolah dan kuliah
jadi bukan makan gratis dan literasi tipu-tipu yang dibutuhkan anak-anak kami tapi paksa mereka belajar dan siapkan untuk menjadi anak-anak kreatif tampil paling depan dengan
segala kreativitas menantang untuk siap berkompetisi dengan
modrenisasi dan segala teknologi siapkan kuhp yang benar
siapkan bedil sepatu dan tameng kalian untuk menjaga
mereka yang kelak mengharumkan dan mengangkat
derajat bangsa ini dimata dunia
*indramayu 2025*
(065)
Semoga Bukan Sesaat,
Fie Asyura
Hari ini
Pagi terindah
Senyum terukir di wajahku
Ada janji yang diwujudkan
Serasa mimpi di siang bolong
Di hadapanku tersaji kotak makanan bergizi
Gratis
Cacing di perutku berontak
Rasa tak sabar
Berdoa
Untuk pemimpin kami
Untuk guru-guru kami
Untuk negeri ini
Semoga
Subur makmur
Gemah ripah
Loh jinawi
Emak, saat kubuka kotak makanan
Airmataku turun
Mataku menatap tak percaya
Setumpuk nasi putih
Lengkap dengan lauk pauknya
Ada ayam goreng, telur, cah kangkung, pergedel jagung
Serasa mimpi
Terbayang emak dan bapak
Duduk mencangkung dengan segelas kopi tanpa gula
Ubi rebus dengan parutan kelapa
Masih terdengar emak berkata lirih
Kepada bapak yang duduk termenung
'hari ini beras habis'
Bapak terdiam
Di hatinya mungkin berkata
Dapatkah aku mengumpulkan rongsokan
Untuk membeli beras
Pura-pura tak mendengar
Kudekati emak dan bapak
Kucium takzim tangan keriput
Aku pergi bapak, emak
Emak tersenyum
Sinar matanya begitu teduh
Hati-hati di jalan, le
Jangan lupa berdoa
Bapak tersenyum sambil mengusap kepalaku
Belajar yang baik, anakku
Supaya cerah masa depanmu
Aku mengangguk
Berjanji
Pagi ini di hadapanku
Makanan bergizi gratis
Kumakan sedikit
Kuambil pakai sendok
Cukup sesuap
Nanti sepulang sekolah
Akan kuberikan emak dan bapak
Agar mereka ikut menikmati makanan bergizi gratis
Senyum mereka adalah bahagiaku
Terima kasih pemimpin kami
Saat pertama duduk sebagai pengayom rakyat
Makanan bergizi gratis
Prioritas pertama
Langsung menyentuh
Perut-perut lapar
Makanan bergizi gratis
Semoga tidak sesaat
Bravo pemimpin kami
Bengkayang, 30 Januari 2025
(066)
MEMBAYAR JANJI,
Winar Ramelan
Saya aminkan!
Saat janji janji ditepati
Bukan sekedar omon omon kosong
Agar tak menjadi hutang yang dibawa mati
Empat sehat lima sempurna
Itulah mulanya yang dibidik dari istana
Mengisi lambung anak negeri ini
Dengan asupan bergizi
Sudah bersinergikah
Petani yang menanam
Peternak memerah susu
Juru masak mengolah makanan
Untuk dibagikan
Agar bocah bocah tenang
Dalam menimba ilmu di sekolahan
Aku aminkan
Ketika ditepatinya sebuah janji
Bukan hanya bualan
Untuk sekedar meraih kemenangan
Agar duduk tenang di kursi kepemimpinan
Tetapi, bolehkah aku bertanya?
Ini untuk berapa lama
Agar jangan hanya seperti angin surga
Yang hinggap sejenak, lalu lewat begitu saja
Aku berharap
Jika anak negeri ini
Bukan semata untuk dijadikan kelinci percobaan
Apalagi menjadi media korupsi besar besaran
Atas program program yang dicanangkan
Karena mereka generasi penyangga negeri ini
Yang akan menjadi pilar atas tegaknya bangsa ini
Mereka yang kelak akan menjaga keutuhan atas keberagaman yang ada
Maka, berilah asupan untuk jiwa raganya
Moral, etika dan ilmu yang mumpuni
Juga makanan bergizi
Aku aminkan
Untuk pemimpin negeri ini
Yang mampu menjadi tauladan atas kebaikan
Dan bisa dicontoh oleh generasi mendatang
Denpasar. Januari2025
Winar Ramelan lahir di Malang 05 juni dan kini tinggal di Denpasar Bali. Puisinya terangkum dalam antologi tunggal Narasi Sepasang Kaos Kaki(2017), Mengening(2020), Dongeng Latisha(2023) dan lebih dari 60 antologi bersama al antologi dwi bahasa, Indonesia - Bolivia, antologi sembilan negara, Puisi Di Tanah Cahaya (hpi 2022) Raja Kelana, antologi puisi 12 DNP, dlsb. Dimuat di berbagai media cetak daerah maupun nasional dan media online, al Harian Pikiran Rakyat, Banjarmasin Post, Dinamikanews, Bali Pos, Harian Nusa Bali, Suara NTB, Radar Malang, Suara Sarawak Malaysia, Majalah Humagi Internasional, dlsb, Kontributor di Majalah wartam, masuk lima besar Anugerah Sastra Apajake, menulis cerpen, cernak juga artikel.
(067)
Jamuan Negeri,
Indri Kartika Putri
Di meja kecil ini cerita negeri ditulis, tak ada jiwa yang dilupakan
sebuah piring tersaji penuh kehidupan,
dalam setiap suapan harapan tumbuh, mimpi melangkah
menghapus dahaga impian yang tak pernah surut
Tiada harga untuk secuil kebahagiaan, saat anak bangsa tersenyum lega,
karena makan bergizi adalah hak,
anugerah penghapus penantian
bukan sekadar janji yang memudar jejak
Rasa kenyang bukan sekadar nikmat,
namun penopang langkah menuju harapan
Hidangan bukan sekadar santapan,
namun lambang bukti cinta dari para pemimpin emas
menguatkan rakyat menyalakan asa, mewujudkan mimpi yang pernah terpintal angin.
Magelang, 31 Januari 2025
Indri Kartika Putri yang akrab disapa Indy, berdomisili di Magelang merupakan salah satu Finalis Duta Wisata Kabupaten Magelang 2011 dan pernah meraih Juara 3 Lomba Cipta dan Baca Puisi, Juara 2 Lomba Karikatur, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) ESFRA di Unissula Semarang pada tahun 2017, dan Juara 3 Lomba Geguritan.
(068)
Makan Bergizi Gratis,
Noor Laila Amin
Program Pemerintah Baru yang sangat ideal...
Disaat rakyat memang sedang kekurangan gizi, perlu peningkatan kesejahteraan demi memperbaiki Generasi Emas yang sedang dipersiapkan...
Seperti semua program yang ada selalu saja menimbulkan pro dan kontra...
Tak apa-apa asal terbukti adanya semua juga akan menerima...
Karena dalam program ini ternyata juga bisa melibatkan semua pihak untuk menjadi stakeholder nya. Petani, nelayan, pedagang, ibu-ibu rumah tangga semua bisa terlibat dan ketiban rejeki nya...
UMKM juga bisa ikut dilibatkan, supaya uang dari rakyat kembali ke rakyat...
Alangkah indahnya jika program ini bisa terlaksana dengan benar, baik dan penuh tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat...
Kekhawatiran tentang kelemahan dan kekurangan disana sini tentu ada, dan perlu pengawasan yang ketat dari semua pihak. Terutama di awal pelaksanaannya, jika ada kelemahan segera benahi.
Karena di negeri ini banyak pemimpin atau pelaksana proyeknya yang selalu mencari celah untuk korupsi...
Makan Bergizi Gratis adalah proyek yang harus kita dukung sepenuh hati, jangan belum apa² sudah kita nyinyiri.
Setidaknya biarkan berjalan setahun dulu, kita lihat apakah akan menjebol APBN atau tidak?...
Presiden Prabowo Subianto kan ingin mengakhiri hidupnya dengan Husnul khatimah, mengabdikan sisa usianya untuk kepentingan negeri...
Tak ada yang sia² dari setiap pengabdian...
Semoga cita² mengantarkan anak bangsa menjadi Generasi Emas menjadi kenyataan di tahun 2045 yad...
#bilikprivasi31012025#
(069)
JANJI DALAM SEKOTAK NASI,
A.Rahim Eltara
Embun pagi itu
telah direguk matahari
Anak-anak gelisah menunggu
berharap janji tidak menjadi basi.
Di atas meja,
tersaji janji dalam sekotak nasi.
Bergizi dan gratis, katanya. Sepotong
empal daging, tumis buncis,
pisang raja, dan susu, dikemas dengan
cinta tanpa cemas.
Bapak dan ibu guru pun
ikut berpartisipasi. Menghidangkan
sepiring senyum, tanpa
basa-basi dan orasi.
Sekotak nasi,
yang dihajatkan tuan dari atas
podium. Mereka membayangkan
masakan ibu, yang disaji dengan
cinta yang matang.
Lalu anak-anak menyantap
dengan lahap. Tidak ada yang menyontek
daftar menu. Karena dari sekotak nasi,
mereka lebih menikmati sedapnya janji
dan lezatnya rasa syukur.
Sumbawa, 30Januari 2025
A.RAHIM ELTARA, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Antologi tunggalnya Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024) dan puluhan antologi bersama. Kini berdomisili di Sumbawa Nusa Tenggara Barat.
(070)
GRATISAN BORONGAN
Hadi Lempe
Cerita masa lalu adalah keindahan kenangan
Meski terseok payah krisis gizi wajah anak-anak masih bersemangat menghapus duka orang tua
Kala itu perjuangan kelaparan, tak ada kata gratis untuk antri sebungkus nasi selain kata iklas berbagi.
Kini jaman berjalan semakin maju menjadi modern bagi kaum oportunis.
Berpura - pura merancang kemanisan, menciptakan kepahitan nyatanya.
Berjuta - juta makanan gratis yang di kemas dalam bungkus plastik
Sungguh sangat fantastis menggiring opini modernisasi.
Menyasar anak - anak negeri hanya untuk mengelabuhi korupsi
Lalu apa di pertanyakan
Paket gratis, hemat, bergizi
Empat sehat
Lima sempurna
Tahu
Tempe
Sayur
Sambal
Plus susu bantal
Harga murah
Basi karena tak terjangkau
Modal mengendap menjadi bancakan para spikulan
Makelar meraja rela
Memasak korupsi menjadi tren gratisan borongan.
Pekalongan 30/1/2025.
Hadi Lempe
(071)
KATANYA GRATIS
Dedi Wahyudi
Program pemerintah bagus
Sebuah rencana mencerdaskan anak bangsa
Dari makan makanan yang bergizi
Setiap langkah pasti ada onak duri menghampiri
Sebuah janji kampanye yang harus ditepati
Agar tak dibilang mungkir atau khianat diri
Tetapi banyak yang sinis dibandingkan dengan simpati
Makanan kurang bergizi dan malahan orang tua disuruh menyumbang
Pemerintah harus bijak di sana dan di sini
Rakyat susah jangan dibuat lebih susah
Mengisi kampung tengah saat ini sungguh miris
Penggangguran dan lapangan pekerjaan mengalami melonjak drastis
Hutang negara tak terhitung lagi
Mimpi generasi emas apakah hanya isapan jempol belaka
Atau negeri zamrud khatulistiwa hanya tinggal nama
Karimun, 31 Januari 2025
Dedi Wahyudi lahir di Teluk Air Karimun pada tanggal 12 Januari 1975. Telah menerbitkan buku puisi solo seperti Filosofi Sandal Jepit (2017), Secawan Kopi dan Sebungkus Roti ( 2017), Menulis Tanpa Batas (2018) Gurusiana Yang Membahana (2018) Kutemukan Cinta di Sagusabu (2018), Warna Warni Puisi Sonian (2019)Cappucino (2020), Berkibarlah Celanaku (2021). Bertempat tinggal di Batu Lipai RT 2 RW 1 Kelurahan Baran Timur Kecamatan Meral Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau.
(077)
SEMBAB
Yohanes Moeljadi Pranata
SEMBAB
Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.
Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.
Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.
Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.
YMP
Sarinah, 2 Februari 2025
(072)
JANGAN KIRA KAMI
Putri Bungsu
Jangan kira kami,Tuan !
Orang tua tak memberi makan bergizi pada anaknya
Sebelum progran nasional diterapkan
Anak kami sudah makan bergizi bahkan sejak dalam kandungan
Kalau boleh kami sarankan
Berikan saja pada yang membutuhkan
Program mercusuar menyisakan carut-marut tak karuan
Ajang bancakan tikus- tikus berdasi
Monopoli pengadaan oleh petinggi yang menjalin relasi
UMKM sempit berkontribusi
Bila diberi peluang pun harus bermitra dengan vendor
Yang telah ditunjuk dan terkoordinasi
Makan bergizi gratis hadirkan korupsi sistematis
Tuan,tidak bisakah mekanisme desentralistik
Libatkan kantin sekolah hingga wali siswa
Setidaknya bisa menekan angka korupsi
Dari dua setengah persen saja
Akan terakumulasi satu koma tujuh Trilliun
Setelah berhitung bersimulasi begitu berat dana harus diberi
Muncul berbagai spekulasi
Mulai minta dana bazis hingga alternatif pengganti
Ulat,belalang,jangkrik,aneka serangga
Duh,BGN bagaimana dengan yang alergi
Bukankah lebih bijaksana dengan memotong gaji petinggi?
*Karanganyar,1 Februari 2025*
Putri Bungsu, lahir di Kulon Progo,26 Sept.1964.Berzodiak Libra,gemar menulis dan avontur.Telah menerbitkan 5 buku puisi tunggal dan lebih 200 buku antologi bersama baik nasional maupun internasional.
*
(073)
Sebuah Kotak Istimewa
Agus Sukamto**
Di ujung kampung
Di sebuah sekolah yang hampir punah
Gedungnya penuh retakan
Atapnya penuh ganjalan
Anak-anak masih setia
Menunggu cerita dari kota
Sebuah kotak istimewa
Makan bergizi gratis katanya
Hingga masa itu tiba
Kotak istimewa untuk mereka
Disantap bersama-sama
Begitu nikmat terasa
Terlihat seorang anak terdiam
Tak menyentuh kotaknya
Bukan tak suka
Untuk Emak katanya
*Pati, 01/02/2025*
Agus Sukamto**. *Lahir di Pati, tanggal 17 Agustus. Tinggal di Pati Jawa tengah. Kesehariannya sebagai guru Sekolah Dasar di Kabupaten Pati. Memiliki kumpulan puisi tunggal yang berjudul “Pensilku” (2020). Sajaknya juga termaktub dalam antologi bersama “Suara Hati Guru di Masa Pandemi” (2020), “Percakapan Hari Libur” (2020), “Kebaya Bordir untuk Umayah” (2021), “Jejak Puisi Digital” (100 Puisi terpilih lomba cipta puisi HPI 2021) WA: 082352657656.*
(074)
Makan Siang Gratis: Sebuah Renungan
Prawiro Sudirjo**
Di meja-meja sekolah negeri
Nasi terhidang, sayur tersaji.
Namun, di balik piring-piring ini
Ada konsep yang perlu diuji.
Anggaran triliunan digelontorkan
Untuk perut anak bangsa kenyang.
Tapi, apakah semua merasakan?
Atau hanya sebagian yang terpegang?
Di pelosok negeri yang jauh di mata
Distribusi tersendat, kualitas terlupa
Lauk mentah, sayur tak bercita rasa
Apakah ini yang disebut bergizi sempurna?
Dana pribadi dicampur urusan negara,
Batasan kabur, konflik kepentingan menganga
.Akuntabilitas jadi tanda tanya
Apakah transparansi masih dijaga?
Investasi besar demi masa depan anak cerah
Namun, apakah fiskal kita siap menampah?
Utang menumpuk, pasar gelisah
Apakah ini jalan menuju sejahtera?
Makan siang gratis, niatmu mulia
Namun pelaksanaan perlu waspada
Agar program tak sekadar wacana
Tapi benar membawa manfaat nyata
*Bekasi, 1 Februari 2025*
PRAWIRO SUDIRJO, Penulis lahir di Cirebon tahun 1978. Kini guru tinggal di Bekasi. Aktif sebagai penasehat Kafe Sastra Nusantara dan ketua Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB). Buku yang pernah ditulis antara lain : Guru Medsos Masuk TV (2017), Kumpulan Puisi Jalan Hidup dan Cinta (2018), dan Kumpulan Cerita Misteri Yang Tak Terjelaskan (2021) memenangkan nominasi Scarlet Pen Award 2022 kategori cerita misteri, bukunya yang terbaru berupa kumpulan puisi berjudul “Pena Patah (2023). Selain itu karyanya dimuat dalam antologi puisi : Minyak Goreng Memanggil (2022), Antologi Puisi Pantun Pemilu (2023). Penyair dapat dihubungi email: dwiero@gmail.com, nomor WA: 081398989282*
(075)
MEMBACA INGIN
Hadijah Karim
Pecahlah,
anak-anak berlarian mengejar gelembung-gelembung mimpi
Pagi sekali Ipung melangkah dengan tergesa-gesa
semalaman tak dapat tidur
ayam goreng empal tahu dan tempe bacem
pun sayur buncis dan sebutir telur menari-nari
di pelupuk matanya
ayam goreng yang tak pernah dinikmatinya
terbawa mimpi semalam
ayam goreng ipin upin lezat
lezat sampai igauannya terjaga
Pagi Ipung berpesan pada emaknya
tak usah menyiapkan makan hari ini
ia akan bawakan emaknya bekal
nasi gratis dari sekolah nanti
di sekolah waktu keluar main tiba nasi pun dibagi
cacing di perut Ipung makin bergelinjang
ia tak ingin membuka kotak nasinya
aroma lezat cukup meneduhkan perut mungilnya
Ipung ingat emaknya yang sendiri
bekerja sebagai pemulung
ia ingin emaknya membuka kotak nasi itu
dan mereka menikmatinya dengan doa
Ipung ingin suapan cinta emak
tak pernah lepas darinya
Nasi gratis
adakah yang menolak
di bilik sana ada yang menginginkanku
menjadi anak cerdas pandai
bisa sekolah tinggi gratis lagi
dengan kepadaianku
kelak aku menjadi orang sukses
emakku tak jadi pemulung lagi
Emakku tak kerja berat lagi
Ipung berlarian pulang bagai kilat
Pintu rumah menganga lebar
tunggu kepulangannya
*Sumbawa, 01022025*
Hadijah Karim , kelahiran Sumbawa Besar NTB dengan nama pena HadijahKarim, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 3 Sumbawa Besar. Menulis 3 buku tunggal puisi dan beberapa antologi baik puisi, cerpen, Pantun,Syair, Karmina,bersama penyair Nusantara maupun Asean. Baginya, menulis adalah rumah hati, mencari yang kekal dan memaknai yang sementara.*
(076)
JANJI UNTUK SEPIRING BERGIZI
Juhri Al Banjary**
Di meja-meja rakyat kecil
Tersaji sepiring harapan yang masih menunggu adil
Makan bergizi setahun sekali
Menunggu hari raya bagi-bagi danging mengantri disana sini
Namun, negeri ini tak hanya soal pangan bergizi
Kami butuh pemimpin yang tak ingkar janji
Jangan beri kami pidato manis di panggung penuh intrik
Sementara hukum masih menang bagi yang licik
Kami ingin negeri bersih dari dusta
Tanpa korupsi yang merampas asa
Tanpa kolusi yang menutup jalan
Tanpa nepotisme yang tumpulkan keadilan
Asal engkau tahu duhai pemimpin negeri
Hari ini negeri tak baik baik saja
Tanah dan kekayaannya dikuasai segelintir elit yang memelihara para bandit
Laut di pagar, sawah dan tambak dipaksa dijual
Negara pura pura tuli, karena sudah tak bernyali
Pemimpin pura pura buta karena tak berkuasa
Yang kaya bebas memberi harta pada penguasa
Agar mudah membungkam rakyat jelata
Duhan Pemimpin negeri, kami ingin bekerja tanpa suap
Tanpa koneksi, tanpa takut dijerat
Kami ingin hukum tegak berdiri
Bukan tunduk pada mereka yang berkuasa sendiri
Sepiring gizi bukanlah belas kasih
Melainkan hak yang tak boleh letih
Namun lebih dari itu, kami menanti
Negeri yang jujur, pemimpin berhati
Bukan hanya kenyang yang kami damba
Tapi keadilan yang nyata terasa
Agar esok tak lagi berharap gratis pada alam semesta
Hidup di negeri yang ramah adil makmur sentosa
*Barru, 01 Februari 2025*
**Juhri Al Banjary** *Buah pasangan Matnawi dan Umriani, anak ke dua dari tiga bersaudara, Sekarang aktif sebagai seorang Pendidik di Pondok Pesantren Al Ikhlash Addary DDI Takkalasi di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Hobi menulis dan membaca puisi. Saat ini sudah menulis lebih dari 40 Buku Antologi bersama dan 3 buku tunggal. Email: juhribanjarmasin@gmail.com. No WA. 081241117019*
(077)
SEMBAB
Yohanes Moeljadi Pranata
Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.
Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.
Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.
Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.
YMP
Sarinah, 2 Februari 2025
Yohanes Moeljadi Pranata
(078)
SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH
A. Zainuddin Kr**
Sepuluh ribu rupiah itu apa?
seekor jangkrik aduan Jalitheng, Jalibrang pun tiada terbeli. Apalagi jika ia sudah menang kontes berkali-kali.
Tetapi kita, orang-orang negri konoha, uang segitu masih cukup besar nilainya. Sepuluh ribu saja masih dapat di sunat beberapa, di tengah riuhnya pesta makan bersama para siswa.
:Nasi putih, tumis kangkung, buah pisang, dan sayap ayam negri.
"Ini makanan bergizi. Empat sehat. Gua tabok lu, biar lebih sempurna".
Bang Dedy sedemikian geramnya. Pak menteri menggeleng-nggelengkan kepala.
"Jangkrik!". Timpal pak menteri yang selayaknya di timpal.
Sepuluh ribu rupiah itu apa?
Meski segitu tetap hanya masih bisa beberapa. Beberapa tempat dan kota saja.
Ini pun dari kocek pribadi dan sementara meminjam APBD.
Ya,
tetapi tenanglah. Proyek ini pasti akan merata.
Walau tak seberapa, di kali saja akan sekian banyak jumlahnya.
***
*Pekalongan, 030225.*
Zaenuddin KR
(079)
SEPIRING HARAPAN
Siti Suci WInarni
Di meja-meja kecil tersaji piring-piring harapan
Setiap sendok adalah janji memberi rasa lezat Selezat rempah yang menggoda selera
Laksana embun pagi menyentuh pucuk-pucuk asa
Mengundang tawa kecil di wajah anak negeri
Di balik aroma hangat sup cita-cita
Terpintal benang-benang harapan yang halus
Menjadi lembaran sutra indah
Mereka yang mengukir nasib mencari setitik cahaya terang
Di antara bayang-bayang janji yang terkadang semu
Namun sajian makan sudah terhampar di pangkuan generasi emas dengan senyum mengulum indah
Ada rasa puas terkadang cemas dan was-was
Tak mampu mengadu saat mengunyah menu
Rasa di lidah tak pas
Apakah ini sekadar tinta tinta sekilas melukis janji
Kemudian mengering di kertas waktu
Ataukah benih bergizi tumbuh subur di ladang ibu pertiwi
Mengakar dalam dada, mekar dalam senyuman anak negeri seindah pelangi
Karena tak ada lagi rasa lapar dan perut bernyanyi
Dalam setiap gigitan tersirat bisikan alam
Mengisahkan perjalanan jauh dari keraguan
Sebuah simfoni rasa menebar kepercayaan
Apakah masa depan akan terurai dalam benang-benang nutrisi
Atau sekadar seindah alunan puisi kemudian berhenti
Mari kita menikmati piring-piring harapan itu
penuh suka cita
Sambil menatap mata langit yang merona
Mencari makna di balik setiap sendok yang terhidang
Memenuhi janji demi masa depan generasi bergizi, berintelijensi, serta berdedikasi tinggi
Buah impian menjadi kenyataan
Atas segala karunia-Nya
*4 Februari 2025*
Siti Suci Winarni
Nama Panggilan : Win/Suci
Nama pena : SSW/ Chi Wien
Lahir :: 30 Oktober di Ponorogo Jatim
Karya : pernah menulis 13 buku tunggal ber ISBN dan 80 buku antologi.
(080)
TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN, Rissa Churria
Di warteg
Ada sisa-sisa janji yang tak pernah diselesaikan
Di dapur api tak pernah padam
Menggenggam harapan yang cepat padam
Jika tak diberi makan
Tak ada kata yang terucap
Hanya suara sendok yang jatuh
Hanya aroma datang
Mengingatkan kita pada yang terlupa
Kenyataan yang kerap ditunda
Setiap piring adalah utang
Setiap lauk adalah permintaan yang belum terjawab
Anak-anak itu memandang sepiring nasi
Seperti mereka menunggu keputusan terlambat
Seperti mereka menanti janji yang tak pernah datang
Di meja makan kita semua ikut bertanggung jawab
Atas semua yang belum selesai
Atas yang masih hilang dalam hitungan angka
Dalam perhitungan waktu yang dibuang sia-sia
Mereka lapar kita pun lapar
Tapi bukan hanya perut yang kosong
Ada ruang besar yang menunggu diisi oleh sesuatu
Yang lebih dari sekadar janji
Yang tergesa untuk segera masturbasi
*Bekasi, 02.02.2025*
**Rissa Churria** *asal Banyuwangi Jawa Timur, menetap dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Menerbitkan 11 Buku Puisi Tunggal, 1 Puisi Kontemplasi, 1 buku Pedoman Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, dan 100 lebih kumpulan antologi bersama baik dalam dan luar negeri.*
(081)
SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS
Ais Octadiga
Alur drama kembali mengikis
Menyajikan pendekatan magis
Menutup horor bertopeng manis
Melakon Pahlawan wacana makan gratis.
Ah,
Ini sumbang ditelinga dan mata
Uforia yang teranggap najis
Kebaikan pada rakyat dari Negara
Masih kau sindir dan melankolis.
Ah,
Adakah bagi pengemis masih gratis ?
Adakah untuk para pemagar laut juga gratis ?
Atau alibi menutup kasus ?
Dan,
Ayah Bunda tak pernah meminta bayaran
Apa lagi melabeli gratis
Ini hanya lelucon yang tidak lucu
Untuk cerita bagi anak cucu.
Dewantara, 05 Februari 2025**
Ais Octadiga** *berasal dari Aceh, berdomisili di Aceh Utara, kelahiran Oktober 1987.
Mulai menulis puisi semenjak Sekolah Menengah Atas, hingga sampai saat ini telah lebih dari seratus karya Puisi yang ditulis.
*
(082)
JANJIMU DALAM MIMPIKU ADA
Dona Lesmana**
Kulirik pintu disamping ku
Oh, ternyata hentakan jantung guru yang datang
Tersenyum kecut menerka alam pikiran kami
“sudahku bilang jangan menunggu”,beliau berucap
Kulirik lagi pintu disampingku
Menyentuh perut berbunyi saat matahari diatap kelas
Nyeri sekali menambah hitungan angka depanku
Dengan waktu pasir berbisik hening.
Kulirik lirik pintu disampinku lagi dan lagi
Teringat suara bisikan bunda mendengung dengung “nanti pilihanmu kirim makanan gratis”
Dengan santai mengibaskan dasternya berkipas manja
Tempat bontotku tersusun rapi di kumpulan piring piring
Kuliri sambil berdiri menggapai janjimu yang tadi malam muncul
Berharap siang ini sebelum ke pangkuan bunda
ayam goreng sudah ku telan
susu sudah kuhisap
buah sudah ku habiskan
beras petanipun sudah ku unyah.
Dona Lesmana, asal dari Lampung . Menetepa dan tinggal di Lampung Tengah
Baru belajar menulis puisi*
(083)
REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR
Uleceny
Sajian impian dalam hidup bergizi.
Menguar aroma kajian makan gratis
Dan harumnya Stella di segala penjuru, berikan nutrisi jiwa pada akar negeri ini.
Hingga sempurnakan segala ingin.
Dalam harap, generasi emas tumbuh kyushoku sepadan.
Bukalah jendela pikir sejenak:
Sajian istimewa di kotak nasi sekolahan.
Menguar aroma sayuran,
pisang emas mungil, lauk, dan nasi berpadu padan.
Dan sebotol kecil, susu rasa pandan.
Berbayar seharga sepuluh ribuan.
Ibu katering hilang mantra.
Lihatlah:
Ada wajah polos anak-anak negeri berbalut senyum bunga.
Dibagikan bekal oleh bapak ibu guru.
Hati setenang telaga, melahap yang tersaji.
Anak- anak berumah langit pun riang
meski ia tahu. Ayah, ibu,
terik ini perutnya setipis irisan semangka.
Namun:
Anak-anak bersendok emas, perutnya menolak berdamai dengan hidangan itu.
Tidak semua paham bukan?
pada yang terhidang di meja pikir.
Kadang, puisi pun berprasangka.
*Sumbawa, 020224*
*Sulastri Saguni,* *dengan nama pena Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli, suka membaca dan menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul " Rindu Perempuan Rumah Panggung" dan " Cinta Sebening Madu. " Serta " Perempuan penjaga Tradisi. "dan cerpen tunggal ' Merindang Rindu ( Hyang Pustaka 2024)
Pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA, Ketua Wanita Penulis Indonesia wilayah NTB.*
(084) JANJI TERBUKTI
GUNAWAN DM
Baru rencana kontroversi terjadi
Kali ini makan gratis tahap percobaan
Pagi pagi tim gizi para koki menanak nasi
Menjelang siang diatas meja rumah belajar
Kotak tersusun rapi siap saji menu bergizi
Murid bersyukur makan gratis
Dalam kotak ada nasi, lauk, ikan telur dadar, pisang dan susu empat sehat lima sempurna
Demikian janji suci Presiden telah terbukti
Di satu sisi banyak orang tidak setuju
Bila makan gratis terus berlanjut
rumah makan gulung tikar
Harga ikan sayur mayur dan telur membumbung
Sebuah alternatif
Ada suara sumbang mungkinkah akan terjadi ?
" Ulat kepompong jadikan menu bergizi tinggi "
Betapa teganya mereka kalau ini benar
Aku tak setuju walau ini katanya halal namun jijik
Biarlah perut keroncongan
Kalau memang niat sejahterakan rakyat berilah mereka yang yang terbaik
*Sumbawa, 06-02-2025*
*NAMA : GUNAWAN DM
PEJERJAAN : PENSIUNAN PNS
ALAMAT : RT.012 RW. 06 DUSUN MAKMUR DESA SEMAMUNG KEC. MOYOHULU KAB. SUMBAWA PROP. NTB.
HOBY : MEMBACA DAN MENULIS*
(085)
Cerita Pagi Di Piring Nasi
Syarifah Laila Hayati
Di awali sebuah janji
Sepaket nasi
Mengawali orası jika menjadi
Saat itu tiada lagi
Semua sudah dijuali
Mimpi itu telah menjadi bukti
Anak-anak meneriaki
Paket gratis sarapan pagi
Serasa basi
Tersisip buah cukup sebiji
Supaya tiap petak terisi
Namun cerita pagi
Terindikasi
Dicurangi
Sarapan yang katanya bergizi
Ada secuil cerita tak sedap lagi
Bukan itu tuan yang kami cari
Wahai pemberi janji
Buku sekolah jangan lagi ayah kami beli
Sekolah gratis lebih mumpuni
Sarapan pagi cukup ibu kami beri
Ayah pejuang masa depan putra-putri
Kami bocah generasi
Tak perlu gratis sarapan pagi
Bangku sekolah tempat kami duduki
Tak layak lagi
Itu benahi
kelak kami berkata tuan paling mengerti
Sebagai generasi negeri ini
Riau, 070225
(086)
BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU
Rosidah Resyad RosieR
Berikan aku sepiring nasi
agar serunaiku bersuara
berikan aku secuil gizi
agar suaraku bergema
aku lelah berbaring
mendengar irama perutku
dalam rimba kelaparan
Jangan pucat
Aku membawa sepiring nasi
untuk perutmu yang bernyanyi
terdengar suara dari sarang laba-laba
setelah itu aku mendengar orang-orang bertengkar
aku tak tahu mengapa bersengketa
aku terus melumat serpihan lauk pauk
agar redah laparku
sebab di rumah aku tak lagi mengenalinya
telah kering kerongkongan
dalam pestanya yang mewah
makan bergizi mengenalkanku
pada ayam goreng sayur lodeh udang tepung lahapku hari ini sejenak lupakan lapar hari esok.
biarlah lauk pauk memberi kesan dalam nadiku dalam keharuman makan bergizi
walau aku melihat seakan orang-orang tak mengerti.
hari ini aku melihat sinaran tajam lampu baru
tak lagi menyeret keronconganku
aku telah berada dalam catatan di buku kecilnya
dan disetiap sudut mereka berseru
dari gizi tanah Indonesia
membangun negeri emas dan jangan lupa
kenalilah aku baik baik
buat meredahkan lapar baru.
Sumbawa,7 Februari 20025
Rosidah Resyad RosieR
Lahir dan domisili di Sumbawa NTB
Hobby menyanyi dan menulis
(087)MAkAN GRATIS DI JALANAN
Riani Pemulung
Bocah dekil rambut kusut dengan mata yang sayu bertanya pada ibunya
Mak,aku mendengar anak anak sekolah mendapatkan makan siang gratis
adakah untuk kita Mak ?
emakpun tersenyum sembari asyik mengorek ngorek tong sampah di depan nya
bocah dekil kembali bertanya
mengapa tersenyum Mak ?
bukankah aku juga anak ibu Pertiwi?
bocah dekil memicingkan matanya
emakpun menghela nafas
Nak,tak usah kau banyak bertanya
nikmati saja hidup kita hari ini
bersyukur masih banyak sisa makanan di tong tong sampah yang bisa kita kais
bersyukur juga sampah sampah masih bisa kita tukar dengan rupiah
Mari kita berdoa saja
semoga setiap hari smakin banyak para relawan yang berbagi nasi bungkus di jalanan
hingga kita bisa setiap saat makan makanan yang layak
bukan dari sisa tikus tikus
Tegal 7 Februari 2025
Riani lahir dan tinggal di kota Tegal Jateng
25 Mei 2974
aktivitas sehari hari Pemulung sampah
yang sudah dijalani sejak tahun 2005
hingga sekarang
pendidikan tamat SMP
hobi menulis dan membaca puisi dari SD
memiliki empat putra
hobi menulisnya tertuang dalam buku Antologi tunggal yang berjudul Mengais Memulung Dalam Kehidupan
dan mengikuti beberapa Antologi puisi bersama
untuk terus belajar berkarya
(088)
DOA MAKAN BERGIZI GRATIS
Ence Sumirat
Ya Tuhan, semoga hidangan yang tersaji berasal dari tangan lembut ketulusan, bukan dari ambisi kasar kekuasaan apalagi pamer unjuk kebesaran yang mencengkeram indah kehidupan
Biar lapar kemanusiaan berhenti disuapi kerinduan, biar ratap kenyerian ditutupi lagu kebahagiaan
Ya Tuhan, mudah-mudahan makan gratis ini adalah muhasabahnya pemimpin kami kembali membaca kitab suci, setelah lama telantarkan bersama pongah dan keserakahan di setiap meja perjamuan juga di haus jiwa yang senantiasa menjulangkan doa menjerit hingga menggedor langit
Kabulkanlah Tuhan
Aamiin!
Cianjur 8 Februari 2025
Ence Sumirat lahir di Cianjur.Belajar menulis puisi secara otodidak.Karyanya banyak dimuat majalah cetak juga online.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Juga kurang lebih lima puluh puisinya termuat dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bekerja sebagai seorang pemulung
(089)
BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI
Sugeng Joko Utomo
Makan siang bergizi
Penuh variasi
Sayur oseng dan sekepal nasi
Sepotong daging menemani
Dimasak di dapur umum desa
Sekali masak untuk duaribu siswa
Diolah oleh ibu-ibu PeKaKa
Tanpa cheff apalagi ahli pramubujana
Yang penting semua anak sekolah
Sukaria menerima jatah
Soal rasa itu hanya selera lidah
Tak pernah ada protes keluh kesah
Tentang nominal harga tak sesuai janji
Itu urusan para pemangku negeri
Yang penting perut kenyang terisi
Gratis sehari sekali
Masalah sebagian dana dikorupsi
Ah, masa bodoh tak ambil perduli
Tapi tidak dengan para orang tua
Inginnya sekolah gratis tanpa biaya
Kalau untuk sekedar makan cukuplah ada
Tapi terasa berat untuk iuran SPP dan lain sebagainya
Hai para orng bijak
Adakah solusi yang berpihak
Pada masyarakat desa di pelosok
Yang ekonominya tumbuh terseok-seok
Panen sawah tiada pasti
Pupuk mahal tak terbeli
Kerja ke kota tak mengandung janji
Bertahan di desa pun bisa mati berdiri
Ah, sedih tak terperi
Mengingat sistem di negara ini
Tasikmalaya, 9 Februari 2025
(090)
MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN
Yoffie Cahya
Program makan bergizi gratis
Kau penuhi sesuai janji
Bukti cintamu pada anak- anak bangsa
Hatimu memang sangat mulia
Program makan bergizi gratis
Di sisi lain membuatku miris
Terkesan kemiskinan bangsa ini
Tak mampu membeli makanan bergizi
Program makan bergizi gratis
Memang hanya suatu permulaan
Kinerja dari sebuah pemerintahan
Menepati janji sewaktu kontestasi
Harapanku padamu, Bapak Presiden
Prioritaskan kesejahteraan rakyat jelata
Keadilan dan kemakmuran yang dirasakan bersama
Rakyat bisa membeli sendiri makanan bergizi
Teruslah berjuang demi kemajuan bangsa
Sebab hidup bukan makan semata
Kadipaten, 6 Februari 2025
Yoffie Cahya, lahir di Kadipaten Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Oktober. Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel di media cetak dan daring. Menulis buku kumpulan puisi, cerpen, esai secara pribadi dan bersama penyair- penyair lain (antologi ).
Tahun 2023 bersama esais dan penyair Hikmat Gumelar mendapat penghargaan dari Pemda Majalengka sebagai sastrawan yang berasal dari Majalengka.
(091)
Mungkin Karena Tidak Sarapan
Kasdi Kelanis
waktu itu aku kelas tiga awal sebuah SMP di kota lereng Merbabu
seperti biasa aku harus jalan kaki
11 km pulang dan pergi
sarapan pagi ala kadarnya yang penting ada nasi
selalu kakekku bangun lebih pagi
menyiapkan sarapan pagi
dengan tungku batu diisi kayu bakar
biasanya nasi jagung masih tersedia setiap pagi
kakek tinggal membuat sayur
sederhana dari tempe dengan
kuah melimpah
itulah rutinitas pagi anak lereng
Merbabu yang menimba ilmu
dari desa ke kota yang berjarak 11 km
pada suatu hari
terpaksa perut tidak terbekali nasi
namun kakekku sangat cepat
membaca situasi
bergegas menyambar tangga bambu menaiki pogo mengambil
beberapa kentang lalu direbus
untuk sarapan cucu pertamanya
tidak ada uang jajan SPP pun
sudah biasa nunggak
sekolah tanpa sepatu lumrah
pada waktu itu
namun keakraban dan kesetiakawanan terjaga dan
adab pada guru adalah utama
singkat cerita setelah tidak sarapan nasi itu aku jatuh sakit
berkepanjangan dan keluar dari sekolah
di usia tua ketika mengenang
semua itu ada program makan
bergizi gratis untuk siswa
tentu aku tidak menikmati
aku mengerti pemerintah peduli
sekalipun banyak yang kurang empati
masih banyak saudara kita yang
belum beruntung
untuk kebutuhan makan saja
masih harus kerja keras mengumpulkan rupiah
aku jadi ingat kisah di buku
suci
ketika Sang Juru Selamat memberi makan lima ribu orang lebih dengan dua roti dan lima
ekor ikan yang diberkati
moga program makan bergizi
gratis ke depan makin bergengsi
tidak menjadi bahan ejekan keji
Sragen, 10 Februari 2025
Kasdi Kelanis penulis puisi di fesbuk. Sejak September
2020 telah membukukan puisi-
puisi tersebut dalam 10 judul antologi tunggal dan tentu saja
ikut aktif kegiatan menulis antologi bersama dan kegiatan sastra di berbagai kota. Antologi
Bisik-Bisik Daun Padi (Prabu 21, Batu Malang 2021) dan Hari-Hari Purna-Bhakti (Kosa Kata Kita, Jakarta 2022) telah mendapat apresiasi Lumbung Puisi Penyair Indonesia di bawah
komandan RgBagus Warsono, masuk Sastra Nagari-kesetiaan
bersastra 30 tahun dan Sastratama
bersama teman-teman sastrawan
lainnya, serta Antologi Hari-Hari
Purna-Bhakti masuk nominasi pemilihan antologi puisi 2024.
(092)
SUAPAN BERPENGHIBURAN
JUWAINI (Cak Ju)
Karenanya hanya meyenangkan perasaan
Bukan solusi jalan menyelesaikan persoalan – bagi yang membutuhkan –
karena rata semua mendapatkan yang kenyang semakin kenyang disaat negara dalam kesulitan
Inilah suapan hanya sepintasan sesaat ada
yang melenakan dari tujuan kepentingan dukungan jalan kekuasaan bukan pendidikan siyasah memberi pelayanan anak anak bangsa dalam madrasah panjangnya yang akan melahirkan bagaimana cara membuat kail dan jala untuk menangkap ikan
Ini juga bukan gratisan jika di ambil dari pajak apalagi dari pinjaman anak anak kelak yang akan mengembalikan
Inilah era bangsaku bapak bapak yang tak bepikir panjang yang bapak bapak tau siyasah penghiburan itu jalan untuk meraih kemenangan kekuasaan berkelanjutan
Kediri 2025
Juwaini (Cak Ju) Lahir di Kediri - Jawa Timur 31 – 01 – 1969. Alumni Fak Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. Menulis sastra dan ber teater sejak menjadi mahasiswa. Puisi nya sebagian di antologi kan dalam 15 buku bersama penyair di berbagai kota. Pengurus Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab Kediri – Jawa Timur komite (bahasa, sastra dan tradisi lisan) periode (2022 – 2025) dan sebagai humas ormas ABI (ahlulbait indonesia) wilayah Kediri dan Nganjuk. Email : juwaini.3@gmail.com
(093)
Mengeja Nasi Dalam Pikirmu
Riki Utomi
Satangkup saja, menjalar debar kami menatap. Ruap apakah di dalam itu? Kau genap menatap nasi bisu itu. Gugup menyela lauk sejumput itu. Tiba-tiba tanganmu gemetar maraih sebuku kecil tempe dan tahu.
Berdengung telingamu akan harapan. Semacam rasa menuntaskan gizi. Nun jauh harap itu, disini kau gemuruh risau dari bentuknya saji.
Pejam matamu dalam ke kunang hitam. Perut berkata lain pada sebuah hakikat hidup. Meski harapan jauh untuk melunas impian. Pikirmu tersimpan rapuh pada sajian.
Setangkup saja atau raihlah sendokmu meski tangan gemetar. Cukuplah rumit perutmu bergetar untuk menuntaskan remuk gamang itu.
Selatpanjang, 3 Februari 2025
Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Buku cerpennya Mata Empat (2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2017). Buku esainya Menuju ke Arus Sastra (2017). Puisi-puisinya tersiar di media massa lokal dan nasional. Bekerja sebagai pendidik dan bermukim di Selatpanjang, Riau.
(094)
Menguak Asa di Gerbang Pagi
Juliati
Dini hari ini aku sudah siaga
Menjingjing tas berisi tiga buku tulis tipis dan dua kresek kecil
Dengan seragam lapuk yang terus kupakai untuk menuntut ilmu
Dan hanya sesekali terisi rupiah ada di saku
Memakai sepatu baru pemberian Bu Guru dan kasut hitam yang sudah berlubang di area jempol kaki
Tak sedikitpun mengurangi semangatku untuk segera beranjak dari gubug kecil menuju pondok ilmu
Aku tetap melangkah tegap meninggalkan tatapan iba dan cemooh yang sering kudapat
Lirih kudengar suara merajuk
Minta Aaaaaaa
Sejenak aku menoleh ke belakang
Lambaian tangan kecil memohon dengan tatapan kosong
Tekad ku makin menggebu
Bertarung menggapai asa yang entah kapan tergapai
Tak sabar kudapat bagian itu
Kulihat banyak yang sudah di tangan
Sementara aku masih menunggu giliran
Bergetar tangan kala kudapat nampan berisi empat sehat lima sempurna
Kulihat daging ayam yang begitu menggoda
tahu tempe yang tak kalah merayu tuk segera ku makan
Sementara wortel , dan sawi putih yang tak luput dari pantauan
Nasi putih teronggok di samping susu kotak serta seiris besar pepaya merah
Nanar kulihat semua , hampir aku kalap untuk segera kulahap
Namun teringat suara lirih dan lambaian harapan
Aku segera berlari meraih plastik kresek
Ku bungkus nasi dan lauknya
Segera kusimpan dalam tas usangku
Yakin ku begitu membara
Jika kuhadiahkan pada adik tercinta
Ada bayangkan senyum simpul gadis kecil
Berharap ada asupan untuk tubuh linglainya
Ayah , bunda , kupenuhi tanggung jawab ini agar kalian tenang di sana
Indramayu , 11 Pebruari 2025
Juliati
(95)
Merawati May
MAKAN GRATIS
Kata-kata tak sekadar ucapan. sebab muara dari laut persoalan adalah mulut
Setelah melewati rangkaian uji coba sepanjang biaya di atas rel kereta api, program makan bergizi gratis pun tiba ke mulut anak-anak
Adakah nasi-nasi itu menyasar ke anak-anak di atas timbunan sampah kemiskinan di bantargebang?
Memang,
perut, mulut, dan kemiskinan mengakses kelaparan dan kehidupan anak-anak dibelenggu kemiskinan
Adakah kelaparan itu datang lagi setelah mulut-mulut pengunyah kemiskinan terkulai
tatkala janji-janji terhenti atas pergantian kekuasaan nanti?
Bengkulu, 12 Februari 2025
Merawati May, lahir di Mukomuko, 12 Mei 1978. Karyanya tergabung dalam berbagai antologi al. Dan memiliki lima buku tunggal. Perjalananku (2016); Nasihat Ibu (2021); Kidung Hati Amreta (2022). Aku Milik Siapa (2023). Dari Awal sebelum akhir kenangan (2024). Karyanya tersebar di berbagai media masa baik media masa daerah, nasional dan Asean. Serta digital. Pernah masuk di jurnal puisi
cinta, majalah Homagi magazin, Media sastra dan budaya, majalah semesta seni, koran
PosBali, koran NusaBali, Bali politika, majalah Jurdik.id, majalah elipsis, Majalah Redaksi
apakjake, majalah Pemuisi malasiya dan blok pekerja seni Riau. Fb: Merawati SE, Ig: Merawati May, Email: mutiarakasihbkl@gmail.com, No Hp. 085381277268.
Buku tunggalnya dua kali lolos di ajang FSIGB Gunung Bintan tahun 2023 dan 2024
(096)
Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.
Rust Gaok
Saat ku tulis ini, perjalanan baru dimulai. sepuluh hari adalah bayi baru lahir belum bisa berbuat apa-apa. Namun cerita miring terjadi di mana - mana . Menu menampar wajah . Ayam berlari kulitnya tersayat. Keras. Anak- anak berlari ketakutan. Ada yang pasang badan. Membunuh demokrasi. Kejujuran yang demokrasi rupanya menjadi beban. Menjadi rintangan.
Anak+ anak sesungguhnya adalah simbol kejujuran. Mereka hanya menjawab pertanyaan . Belalang dan serangga beterbangan di antara sayur dan nasi . Anak- anak berlari menangis ketakutan. Cerita berhamburan di media sosial. Tantang perubahan harga. Tentang ayam yang rasanya aneh . Tentang susu rasa daun kelor. Tantang anak- anak yang tidak mau makan. Tentang cerita di negri dongeng. Bulan madu yang menawarkan harmonisasi, tiba-tiba menjadi senja yang gelap. Sayur tumpah di antara nasi yang sedikit basi . Senja makin gelap menjadikan langkah makin sulit. Kerikil mempersulit langkah.
Dan anak- anak mengeluh, membiarkan perut lapar demi masakan di rumah. Ada yang diam menatap tajam. Ada yang bingung melihat nasi yang basi. Ada yang muntah bau racun. Tak ada yang terpaksa
Semoga!
Pemalang, 6 Feb 2025
Rustono ( Rust Gaok) , Tenp.tgl lhr: Pemalang,6 Desember 1963
Pendidikan terakhir: IKIP MUHAMADIYAH YOGYAKARTA
LULUS 1990
Pekerjaan : Guru di SMA N 1 BANTARBOLANG PEMALANG Samapi sekarang.
Menjadi pengelola SMK PGRI 3 RANDUDONGAKAL dari 2003 s.d. 2008
Organisasi :DKD KABUPATEN PEMALANG sebagai penasat
Karya: Keranda di Kurusetra ( kumpulan puisi )
097)
Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris
Asti Musman
Ayah, mengapa ayah di rumah?
Tidaklah upah akan sirna jika kerja tiada?
Ibu, mengapa ibu termanggu kelu?
Bukankah jatah makan bergizi gratis telah masuk perutku?
Aku tak mengerti mengapa ini terjadi
Makan bergizi gratis mendulang miris
Ayah tertimpa PHK
Atas nama efisiensi dana agar kami bisa makan bergizi gratis
Ibu, pandanglah aku anakmu
Bergegas pulang ingin bercerita padamu
Tentang nasi, sayur, dan ikan yang aku makan
Mana masakamu ibu? Aku Rindu!
Penguasa, ayahku dan ayah-ayah mereka
Tersungkur tanpa daya
Pikirkan ulang benarkah makanan bergizi gratis maslahat untuk semua?
Ataukah penting bagi kami dan bagi segelitir bangsa?
Penguasa, jika keputusanmu salah, bukan berarti kau kalah
Tak ada manusia luput dari salah
Mari kita telaah, bagaimana harus berbenah
Berikan kami kail, agar kami mampu menjaring udang galah
Bukan makanan gratis yang membuat semua jadi resah
Madiun, 13 Februari 2025
Asti Musman** *adalah nama pena Estiningdyah, SP. Penulis yang lahir di Tuban, Jawa Timur tahun 1968 . Pernah bekerja sebagai announcer dan reporter di radio Global FM Bali, Penanggung Jawab Radio Global FM Jogja, dan eksekutif produser program feature Jogja TV. Pernah menulis di Koran Bali Post, Nusa Tenggara, Swadesi, dan Simphoni. Ia merupakan penulis otodidak yang telah banyak menulis puisi, cerita pendek berbahasa Jawa serta menulis lebih dari 40 buku dengan tema sejarah, budaya Jawa, dan psikologi popular. Karya terbarunya : Seksualitas dalam Budaya Jawa (Gerbang Media, 2025), Amazing Leaders (Anak hebat Indonesia, 2025) dan Kumpulan Geguritan Kinanthi Gurit Pawestri (Interlude, 2025). Penulis merupakan bagian dari penggagas Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya). Saat ini penulis berdomisili di Madiun.
(098)
SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG TERSEDU
Puisi Abror Y Prabowo
Adakah yang lebih haru ketimbang cahaya
yang terselip di antara sendok dan garpu?
Mata redup menghirup semangkuk sup.
Kanak-kanak melonjak:
Nasi telah berpulang ke piring-piring kita.
Tak perlu cemas mengaduk udara,
memungut remah doa dan nestapa
di dasar periuk yang hampa.
Ibu tersedu.
: Biarlah wortel, ikan, telur dan segelas susu
menuntun langkahmu tanpa lapar yang dulu
kerap mengintai dari balik pintu,
menjelma orkestra di kebun-kebun ayah
yang tak kunjung berbuah.
Tak usah lagi menyeduh angin,
meneguk embun dari cangkir yang retak.
Kanak-kanak kian bertepuk, merayakan
setiap suapan, seperti menyambut bulan
jatuh ke pangkuan.
"Inilah negeri para dewa,
perut kenyang cuma-cuma
sebab mereka telah menebus janji
demi suara yang diarak di musim pesta."
Maka janganlah terlambat
mencecap Allahuma baarik laana—
agar daging, telur dan sayur mayur
tenang bersemayam dan tak berontak
di perut kanak-kanak. Agar harapan
kian mekar di lidah mereka,
tanpa harus berkali meronta
karena lelah ditipu cahaya.
Yogyakarta, 2025
Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menempuh Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Karya cerpen dan puisinya telah dipublikasikan di berbagai media. Karya puisinya terangkum dalam antologi “Lagu Tembang Nyanyian”. Buku kumpulan cerpennya "Anjing dengan Luka di Tengkuk”, dan “Maaf Aku Membaca Diary Ungumu”. Selain itu juga menulis naskah drama dan menyutradarinya, di antaranya, “Sih”, “Lolong”, dan “Gincu” yang dipentaskan di Yogyakarta bersama Teater KSP Indonesia. Ketiga naskah dramanya tersebut rencananya juga akan diterbitkan dalam buku antologi di tahun ini oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat sebagai bagian dari program advokasi terhadap kekerasan perempuan. Saat ini berprofesi sebagai praktisi digital marketing di perusahaan yang didirikannya bersama beberapa rekan, PT. Nuera Global Internasional yang fokus menangani digital advertising & business consultant. Bersama istri dan keempat anaknya, tinggal di Perumahan Taman Arum Sari Blok M, Cokro Konteng, Sidoarum, Godean, Sleman, DI Yogyakarta, 55264.
(099) Piring Harapan di Meja Negeri
Irawati
Fajar menyapa dengan lembut
hidangan tersaji menggugah selera
Beras putih bak butiran permata
mengisi perut dengan kehangatan cinta
Sayuran hijau bagai zamrud bersinar
memberi kesegaran bagi raga
Ikan melompat dalam rasa nikmat
menyuburkan jiwa dengan cahaya
Susu mengalir bagaikan sungai emas
menguatkan tubuh penuh semangat
Buah berwarna seperti pelangi
menjalin sehat dalam harmoni
Tak ada lagi mendung kesedihan
kelaparan pergi, senyum merekah
Di meja makan, kasih mengalir
makanan sehat membawa harapan
Piring-piring penuh keceriaan
menghapus duka, memberi kekuatan
Setiap suapan sinar penerang
membimbing langkah menuju masa depan
Di dapur cinta, tangan saling membantu
menjalin impian tanpa batas
Makanan sehat adalah hak semua
mewujudkan negeri yang peduli sesama
Irawati
Kepala SDN 04 Sikabu Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam
Hobi traveling dan menulis
(100)
Tidak Ada Makan Gratis
Ujang Saepudin
Berapa harga yang akan kau makan
Untuk menghapus suara perut teman-temanmu
Yang terdengar di kelas-kelas jauh
Tentu, sekarang dan nanti
Kau akan membayarnya
Sesudah dunia mereka kenyang purna lepas.
Kau akan menghitungnya sesudah beberapa soal terjawab oleh laparmu.
Tanpa semua itu, kau masih tetap mengunyah bukan. Yang perlu kau lakukan adalah mengisi lambung teman-temanmu dengan nilaimu.
Kau tak perlu bertanya kapan makan gratisan itu tiba lalu mengunci mulutmu. Sebab, telah aku ajarkan cara memberi dengan tangan bersih & telah aku beritahu jawabannya
untuk kau presentasikan di depan negara.
Cianjur, 2025
Ujang Saepudin lahir di Cianjur, aktifitasnya sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur, beberapa puisinya tersiar di media nasional dan digital.
(101)
NARASI TERKOYAK
Manaek Maruhum Siburian
Di ruang siaran yang dulu riuh,
mikrofon kini berdebu diam.
Gelombang suara yang mengudara,
tiba-tiba terputus tanpa salam.
Di balik layar yang dulu terang,
gambar menghilang, sinyal meredup.
TVRI dan RRI tenang,
ditinggal mereka yang setia hidup.
Dulu mereka membaca berita,
menyampaikan suara rakyat jelata.
Kini nama mereka tertulis dingin,
di surat PHK tanpa kata.
Semua bermula dari sepiring nasi,
makan bergizi tanpa beban.
Tak perlu bayar, tak perlu cemas,
jalinlah kebersamaan dalam pangan.
Namun entah dari mana datangnya,
angin buruk bertiup kencang.
Katanya gratis adalah beban,
menggerus untung, meruntuh ruang.
Rapat-rapat di meja tinggi,
tak ada suara dari bawah.
Keputusan turun seperti petir,
memutus ratusan langkah pasrah.
Mereka yang dulu mengabdi setia,
menginformasikan negeri dengan jujur.
Kini berdiri di depan gerbang,
menggenggam kertas yang getir.
Di studio yang mereka bangun,
tinggal gema langkah terakhir.
Tak ada perpisahan yang bermakna,
hanya keheningan yang menyindir.
Di luar gedung, langit kelabu,
angin membawa bisik keresahan.
Mereka bertanya dalam hati,
"Apakah ini harga keadilan?"
Makan bergizi tanpa bayar,
mereka menganggapnya salah.
Namun siapa yang bisa menjawab,
mengapa kemanusiaan membuang sampah dengan mudah?
Narasi ini terkoyak kasar,
dengan keputusan tanpa rasa.
RRI dan TVRI masih berdiri,
tapi jiwa telah binasa.
Manaek Maruhum Siburian, Lahir di Tanjung Morawa, Deliserdang sumatera utara.belajar menulis artikel selama 3 tahun yang sudah dibukukan bersama teman-teman penulis artikel dan belajar puisi sederhana satu tahun, seorang guru di Merauke Provinsi Papua Selatan kurang lebih 20 tahun.sudah berkeluarga memiliki 2 anak laki-laki.sekian terima kasih salam kenal
(102) Dilanjut Besok
Mang Zaenal
Aku bingung karena pandir
kala senja digilir ribuan bulir
air hujan jatuh ke bumi bergulir
sepanjang zikir petang tanpa anulir
kupikir mentari tertutup mendung
kunaksir pada guntur meraung
meski kupaksa azam kian menggunung
rehat adalah perihal sedia payung
sudahkah kita mensyukuri hari?
di mana gas semakin sulit dicari
sudahkah kita menekuri hati?
di mana konten semakin tak diminati
aku bingung karena tak juga sadar
kala senja digigiri ribuan kalam onar
meski kupaksa tekad kian berbinar
makan adalah perihal belaja tak berbayar
Cirebon, 18 Februari 2025
Mang Zaenal
(103) Semangat Matahari Pagi
AM. Haryadi Salim
Dengan berbekal buku dalam tas ransel
Anak-anak menyambut semangat matahari pagi menuju gudang ilmu
Menggali ilmu, memeras pikiran bersama udara segar
Menciptakan cakrawala luas dalam menggapai harapan cemerlang
Membangun pilar-pilar kehidupan yang kuat tanpa keluh
Tak ada yang harus diragukan atau bahkan disangsikan
Selama pengetahuan menjadi jendela dunia mengalir mengikuti arus tanpa berlawanan
Berjalan pada garis pikiran tanpa membengkokkan ilmu
Tanpa mengandung wabah kecemasan pada orang-orang tua
Gudang ilmu menjadi tempat mencetak tunas-tunas baru dengan cakrawala yang mengharumkan bumi pertiwi
Di gudang ilmu
Anak-anak suntuk memeras pikiran
Tanpa tiupan udara dingin
Suntuk dan gerah berpacu dengan pikiran saling mengalahkan
Nasi gratis membangkitkan gairah perut kosong yang lama tertahan di antara buku-buku
Meski hidangan tak jauh beda dengan menu masakan simbok
Dengan kelezatan yang dihidangkan
Makan gratis bergizi selalu dihidangkan di meja makan keluarga yang tak pernah mengurangi gizi
Tempe dan tahu tak asing dalam tenggorokan hingga rasa melekat
Di gudang ilmu anak-anak dijejali tempe dan tahu
Menjadi generasi tempe-tahu
Semarang, 2025
(104)
ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG
Door Deo
ada khabar, bukan khabar burung
khabar pemenuhan janji
makan gratis dan bergizi
: buat anak sekolah
secepat burung terbang
khabarpun tersebar
: menyenangkan
( terbayang bagaimana
emak-emak
bapak-bapak
para orang tua wali murid
menyambut gembira khabar yang tersiar
bukan khabar yang dijatuhkan burung )
dan
ada cerita disebuah sekolah
sesuai info bapak ibu guru
murid di kelas ada empat puluh orang,
tukang rangsum bertanya pada murid
kalian semua ada empat puluh orang
jadi,
harus berapa kotak makanan dibagikan
seketika suasana kelas terasa sepi
bapak ibu guru pendamping merasa kikuk
bayangkan
empat puluh mulut ada delapan jawaban
: berbeda
sunguh tak masuk akal
( jadi perenungan kita
murid terasa kehilangan ilmu)
empat puluh bungkus dibagikan
tiga puluh enam mulut bergoyang
menikmat makanan gratis
makanan bergizi
enak sekali
: katanya
empat mulut menganga
melihat menu makanan gratis
tak juga memakan
: keheranan
kenapa nak, tanya bapak ibu guru
- buat emak bu
+ buat orang tua pak, jawab yang lain
:duh Gusti
ada apa dengan anak-anak kiita
( makan gratis dan bergizi
memang membuat sehat dan kuat
semoga giat bersekolah
untuk menimba ilmu
bukan untuk mengejar gratisan makanan )
semoga kasih dan bijak
terbalut kotak ramsum
mengabulkan segala harapan
: sang pemimpin
semoga kasih dan bijak
di menu makanan gratis
semakin mendidik murid
semakin menyehatkan murid
tetanggaku bilang
ada-ada saja
berapa tahan lama
makanan gratis bergizi ini
aku pilih sekolah gratis selamanya
: betul juga gumanku
rumah bluesku
200225
Door Deo, pecinta dan pelaku seni, terus menjelajah mencari kebeningan dan keheningan hingga kelegaan batin
(105)
Makan Gratis di Bawah Senja
Agus Yuwantoro
Ribuan cahaya senja bersinar remang remang
Dibawah pangkalan gas elpiji tambah mahal
Bahkan bisa terbang bebas diangkasa
Bisa sembunyi di balik seragam rakyat
Entah rakyat bawah atau rakyat siluman
Ribuan cahaya senja
Menari sambil bernyanyi lagu mars kesunyian
Padi padi tidak menguning lagi
Gabuk bahkan hancur tergilas harga pupuk tinggi
Barisan petani berjalan pringas pringis
Dibawah pohon ketela palengka
Diubah menjadi nasi
Kertas pajak melambung tinggi
Hampir menyentuh cahaya matahari
Panas membakar hati
Barisan petani diam membisu diri
Tidak bisa tersenyum melihat mendengar
Uang pajak hilang tiada arti
Ribuan cahaya senja mulai menangis
Melihat butiran nasi berterbangan
Bebas di plataran bumi
Menembus sekolahan
Pesantren
Yayasan lansia
Pantai asuhan
Bahkan komplek pelacuran
Sampai Pendidikan Anak Usia Dini
Butiran nasi menari nari
Dengan gaya bebas bersama lagu lagu birokrasi
Bocah bocah pringas pringis
Melihat butiran nasi bisa menari nari
Dengan gaya tarian curi timah, emas, batu bara, minyak gas dan semua isi bumi
Cahaya senja mulai gelap
Banyak manusia bumi gelap mata
Maling teriak maling
Korupsi teriak kurupsi
Ribuan cahaya senja merasa malu
Menyinari jutaan langkah kaki
Penuh lukisan kaki para korupsi
Butiran nasi mulai menari lagi
Dibawah cahaya matahari
Entah kemana lagi
Dibalik tembok tinggi
Bocah bocah pinggiran menatap langit
Telanjang dada sambil gigit jari
Menunggu butiran nasi berhenti menari
Ribuan cahaya senja
Mulai membisu
Disana ya disana
Harusnya butiran nasi
Menari nari bersama bocah bocah
Terkapar dibalik gelapnya birokrasi
Butiran nasi mencakar bumi
Membisu diri
Tidak tahan melihat anak negri
Napsu korupsi semakin tinggi
Melebi ganasnya panasnya matahari
Wonosobo, 27 Peb 2025
Gelandangan Sastra Agus Yuwantoro
Agus Yuwantoro
Sangat suka belajar sastra
Sudah menerbitkan 59 buku antologi, 4 Kuncer 3 antologi puisi. Menulis novel pertama Gadis Bermata Biru.Novel ke 2 Cinta Bersama Senja. Novel ke 3 Pelukis dan Parfum Novel ke 4 Pelangi Cinta.
(106)
Narasi Tak Berkoda
Muhamad Yusuf
Program makan gratis itu
akan mengusir lapar
mengikis kebodohan
mencerdaskan anak-anak sekolah
di tengah permainan masa yang sering tak berpihak
Nasi putih dan sepotong lauk berminyak
adalah harapan
Sayur dan sebiji buahnya membawa warna kebahagiaan
segelas air putih menawarkan kesuksesan
semuanya melompat gembira
Saatnya bersantap
di antara tawa, terdengar isak tangis haru
Bukan karena tak suka tempe atau rasa pedas
namun jatah makannya akan dibawa pulang
dinikmati bersama ibu dan saudara.
Terkuaklah kenyataan
jalan ini bukan hanya soal gizi,
tapi juga menunjukkan jurang curam
kemiskinan dan perbedaan yang teramat dalam
Berserakan kabar
dananya tak jelas alurnya
warga sekolah didera bimbang
jika selalu disuguhi janji yang tawar
Narasi tak berkoda
berhamburan di dinding-dinding maya
justru menjadi santapan setiap pagi
menggali keniscayaan tamsil:
gizi cukup, anak cerdas, masa depan bangsa cemerlang?
Muhamad Yusuf
Muhamad Yusuf, S.Pd (54 tahun) merupakan ASN Guru Bahasa Indonesia yang bertugas di SMAN 1 Banjarmasin. Menyukai membaca dan menulis. Karya-karya penerbitan berupa 2 buku antologi cerpen, 2 buku non fiksi, 1 buku cerita anak. Beberapa kali menjuarai penulisan seperti naskah pembelajaran, cerpen, pantun, dan esai/artikel. Cerpen dan opininya juga menghiasi lembar harian lokal. Cukup sering mengikuti program penulisan bersama, baik yang dimentori pegiat sastra nasional.
(107)
TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN
Thomas Sutasman
Teriak Heinlein menyambar:
Tidak ada makan siang gratis, kawan.
Anak bangsa berpesta dengan sepotong ayam, saban hari.
Di bawah himpitan pajak yang meninggi.
Diguyur importir yang menutup kreatif warga bangsa sendiri.
Dijejal barang konsumsi yang berakhir terhanyut menjadi sampah di kali.
Dibayangi betapa miskin masyarakat, makan pun ditanggung negara
Digerogoti uang negara, hilang percuma, tanpa pemberdayaan.
Tidak ada makan siang gratis, kawan
Teriak Heinlein meninggi
Yang didengar sambil lalu.
(Dari kejauhan terdengar sayup-sayup
Rentetan suara oke gas, oke gas, oke gas
Tak terkendali tanpa pegas,
Dan mungkin sedang antri gas)
Thomas Sutasman, Lahir di Kulon Progo, 6 Maret 1974, tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika SMP Pius Cilacap. Aktif dalam MGMP Matematika Kabupaten Cilacap. Tulisannya pernah dimuat di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Satelit Post, Hidup, Educare, Utusan, dan Cur Unum Keuskupan Purwokerto. Anggota Warga Episthoholik Indonesia, dan Komunitas Tjilatjap History. Beberapa tulisan dimuat dalam beberapa buku, terakhir Pernik-Pernik Sejarah Cilacap (2024). Menulis buku pendidikan, sejarah, dan matematika. Antologi puisinya: Nak, Ku Kirim Puisi Untukmu (2023) dan Ketika Tiba di Rumah (2024). Puisinya dimuat di berbagai antologi puisi, terakhir Putiba Latar Yogya (2024). Selain itu, tulisannya juga masuk dalam antologi esai, parikan, dan cerita pendek. surel: thomassutasman1@gmail.com. FB: Thomas Sutasman. IG: thomassutasman.
(108)
DIALOG DALAM HATI
Bambang Widiatmoko
Bukan sekadar menu bergizi diberikan untuk menjadi asupan
Namun dari setiap buliran nasi menumbuhkan kepentingan
Pada setiap perubahan politik dan kebijakan
Berapa trilliun yang telah digelontorkan
Dan berapa miliar pula yang merembes dan meresap
Dalam senyuman yang tampak disembunyikan.
Ada jutaan anak-anak senang makan gratis telah dicukupkan
Untuk menggantikan bekal yang dibawanya dari rumah
Ada anak-anak yang membagi makan gratisnya untuk dibawa pulang
Sebab keluarganya hidup dalam keterbatasan
Ada anak-anak yang mulutnya ternganga sebab melihat makanan
Sangat berbeda dengan makanan cepat saji yang biasa disantapnya.
Lihatlah mata anak-anak yang polos apa mampu menengarai
Kebocoran anggaran yang rentan pengawasan dan memperbesar utang negara?
“Makanlah dengan lahap anak-anak agar tumbuh sehat dan cerdas
Sebab di setiap yang engkau makan ada keringat para petani. Ada keringat
para peternak ayam dan sapi. Ada keringat para nelayan bercampur gelombang.
Ada kekayaan alam yang sejatinya untuk kesejahteraan kita bersama”.
Bekasi, Maret 2025
Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Gedor Depok (2024), Jauhari(2024), Ijen Purba (2024), Negeri Bencana (2024). Ikut menulis esai di buku al. Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
(109)
SUARA PERUT RAKYAT
Widjanarko
71 Triliun ( seharusnya )
Siswa kenyang, Ibunda kenyang
Bayi dan balita kenyang, Janin kenyang
Vendor kenyang
Sekolah kenyang
Dinas dan Instansi kenyang
Toko agen distributor kenyang
Dan semuaaa yang sudah dikenyangkan....
71 Triliun
Kurang persiapan, ya maaf-lah
Kurang koordinasi, di perbaiki masih bisa-lah
Bosan sama menu, ga jadi masa-lah
Agak basi katamu, maklum-lah
Ga ada menu susu, dana segitu wajar-lah
Gak cukup menu ideal, atur-atur-lah
71 Triliun
Untuk perut generasi dan induknya
Bukan untuk perut rakusmu!
Awas kau!
Kuseret Retret seumur hidup ke kutub utara
Bareng beruang bunting,
Pinguin wasting,
dan Anjing laut stunting
Semarang, 7 Maret 2025
Penulis tinggal di Semarang. Gemar menulis Sastra khususnya Puisi dan Cerpen
Tidak banyak karyanya yang terbukukan