PENYAIR SEBAGAI JURU KISAH Oleh: Eko Windarto
PENYAIR SEBAGAI JURU KISAH
Oleh: Eko Windarto
Teeuw (Satoto, 1986: 1-2) mengemukakan bahwa mempelajari sastra itu ibarat memasuki hutan, makin ke dalam makin lebar, makin belantara. Dan, di dalam ketersesatan itu ia akan memperoleh kenikmatannya. Dari pendapat ini, terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang komplek dan dalam. Di dalamnya penuh makna yang harus digali melalui penelitian yang mendalam pula. Itulah sebabnya kehadiran metode penelitian sastra memang perlu, karena selama ini yang telah ada baru apresiasi, studi, kajian, telaah, dan sejenisnya. Padahal penelitian jelas berbada dengan istilah-istilah tersebut. Melalui penelitian, sekurang-kurangnya persyaratan metodologis akan dan harus terpenuhi.
Pendekatan penelitian ada bermacam-macam, tergantung sisi pandang peneliti. Semakin rinci jenis pendekatan yang dipilih, tentu penelitian akan semakin sempit dan detail. Masing-masing pendekatan memiliki arah dan sasaran yang berbeda-beda. Secara garis besar, Tanaka (1976:9) mengenal dua pendekatan yaitu: (1) mikro sastra dan (2) makro sastra. Mikro sastra artinya kajian yang menganggap bahwa memahami karya sastra dapat berdiri sendiri tanpa bantuan aspek lain di sekitarnya. Sebaliknya, makro sastra adalah pemahaman sastra dengan bantuan unsur lain di luar sastra. Dua tawaran pendekatan tersebut, sebenarnya sejajar dengan pendekatan Wellek dan Warren (1989), yaitu pendekatan instrisik dan ekstrinsik. Pendekatan instrinsik adalah penelitian sastra yang bersumber pada teks sastra itu sendiri secara otonom. Sedang pendekatan ekstrinsik adalah penelitian unsur-unsur luar karya sastra. Yakni pengkajian konteks karya sastra di luar teks.
Oleh sebab itu saya mencoba mengkaji atau menelaah puisi Prof. Wahyudi Siswanto lewat bahasa alam. Karena puisi-puisinya banyak bicara tentang alam di sekitarnya. Mari kita telusuri puisi di bawah ini.
Parade Rayap
Oleh: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto
lihatlah parade berjuta rayap
membangun istana raksasa
bagi tubuh mungil mereka
bangunan dipenuhi lorong-lorong sempit
bilik khusus yang rumit
gudang-gudang penyimpan bahan makan
lubang pengatur sinar matahari dan kodisi udara
areal peetanian bercocok tanam
dalam sarang yang sama
jangan bertanya tentang kenyamanan di sana
sebab sirkulasi dan kelembaban udara begitu sempurna
apakah engkau tidak bertanya
bagaimana berjuta rayap dalam satu sarang melakukan kerjasama sempurna
bila mereka nyata-nyata buta
: coba siapa bisa menjawabnya
****
Dengan tegas Al Qur'an mengatakan seluruh penghuni langit dan bumi keseluruhannya bisa bertasbih dan bicara. " Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka." ( Qs Al-isra (17):44)
Mereka semua bisa berbicara dan berkomunikasi dengan semua manusia sebagai ditegaskan dalam ayat innahu lahaqqu mitsla ma antum tanthiqum. Bahkan, partikel dan organisme terkecil pun bisa berbicara.
Demikian juga penyair, bisa menyatu dan bicara pada alam sekelilingnya lewat puisinya yang menyatu dalam diri alam itu akan menghasilkan bahasa alam yang terasa liris, yang mengingatkan kita pada puisi ekologi, yang sementara ini sering diabaikan sebagian penyair kita. Padahal melalui PUISI Ekologi bisa membawa kita dalam kesadaran menjaga dan melestarikan alam yang sekarang mengalami kerusakan sangat parah.
Dengan demikian, seorang PENYAIR tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari kondisi kehidupan alam sekitarnya, termasuk juga keadaan alam tempat PENYAIR itu berada. Benda-benda dan suasana di sekelilingnya sering kali dipergunakan PENYAIR untuk mengekpresikan perasaan atau pun pikiran-pikirannya. Seperti halnya dengan puisi berjudul PARADE RAYAP yang menarik untuk kita kaji. Yang mana sang penyairnya sangat peka melihat sesuatu di sekelilingnya. Terbukti ia mampu melihat dengan mata batinnya untuk mengungkapkan parade rayap seperti pada bait pertama ini / lihatlah parade berjuta rayap/ membangun istana raksasa/ bagi tubuh mungilnya/. Dari situlah aku lirik menggambarkan berjuta rayap bisa membangun istananya sendiri tanpa bantuan manusia yang punya akal dan pikiran. Dari situ kita sebagai manusia yang berakal pikiran kok banyak yang tidak mampu membangun istananya sendiri? Kenapa negeri yang gema ripah loh jinawi kok belum bisa berdiri di kakinya sendiri? Padahal kemerdekaan telah diraih berpuluh tahun yang lalu. Kenapa? Entahlah.
Pada bait dua, kita disuguhi penggambaran yang begitu gamblang / bangunan dipenuhi lorong-lorong sempit/ bilik khusus yang rumit/. Nah, dalam lorong-lorong sempit dan rumitan, rayap-rayap tidak pernah mengeluh untuk membuat istananya. Coba kita bandingkan dengan manusia yang kaya mau pun yang miskin masih banyak mengeluh bila dirundung sedikit kerumitan hidup. Penggambaran ini mestinya menjadi cermin bagi manusia yang berakal.
Rayap-rayap juga masih bisa hidup di bawah genting, di kayu-kayu lapuk, di dalam tanah, dan dimana saja. Itu terbukti pada bait ini, / gudang-gudang penyimpanan bahan makanan/ lubang pengatur sinar matahari/ dan kondisi udara areal pertanian bercocok tanam/ daly sarang yang sama/. Betul-betul penggambaran yang runut dan menampar wajah manusia yang selalu mengeluh dan minta lebih. Ya, memang manusia itu banyak yang serakah dari pada yang menerima apa adanya. Padahal kita tahu, bahwa kehidupan dan rejeki manusia telah dicatat sebelum atau semenjak dia dilahirkan.
Pada bait empat ini kita serasa diajak membicarakan imajinasi-imajinasi aku lirik, yang mana ia mencoba mengajak kita melihat hukum alam yang tak perlu dipertanyakan lagi karena sudah menjadi sunahtullah, seperti yang ia lukiskan lewat diksi dan metafora yang menarik untuk disimak, / jangan bertanya tentang kenyamanan di sana/. Suatu penggambaran aku lirik untuk membantu para pembaca mengerti artinya. / sebab sirkulasi dan kelembaban udara begitu sempurna/. Memang, jika kita mengandaikan diri terperosok masuk ke lubang kecil maka napas akan sesak dan tersengal-sengal. Oleh karena itu jangan bertanya lagi karena itulah sesungguhnya hidup di dunia ini. Penuh rintangan dan jalan yang sempit dan harus bisa dilalui dengan sempurna.
Lagi-lagi pada bait lima kita dihadapkan pada aku lirik sang juru kisah untuk bertanya kepada berjuta rayap untuk membangun elemen-elemen sebuah cerita yang tersaji lewat mata batinnya. / apakah engkau tidak bertanya/ bagaimana berjuta rayap dalam satu sarang/ melakukan kerjasama sempurna/ bila merek nyata-nyata buta/. Kalau dibaca dan dirasakan, maka.posisi juru kisah memberi ruang dan menambah dramatiknya cerita, juga ikut membentuk irama dalam cerita puisi ini. Pada bait lima ini aku lirik berdiri di luar cerita dan mengisahkan langsung sebuah tanya kepada pendengar atau pembacanya. Pada bagian ini aku lirik mencoba menjadi orang buta dalam artian yang luas untuk memberi gambaran pada orang-orang yang sehat dan sempurnya. Sungguh, satir yang teramat halus dan mengena.
Di bait terakhir aku lirik menghujamkan pertanyaan begitu pedas dan tajam bagi manusia yang bertubuh utuh dan sempurna. Saya hanya bisa geleng kepala cara aku lirik meminjamkan mulut dan mata batinnya untuk berbicara dalam penuturan yang begitu menghentakkan. COBA SIAPA BISA MENJAWAB.
sekarputih, 1542019
Label: esai


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda