Sabtu, 08 Maret 2025

Makan Bergizi Gratis (Antologi Bersama) Puisi-puisi Lomba Citpa Puisi Penyair Indonesia 2025

 Puisi-puisi Lomba Penyair Cipta Puisi 2025

Lumbung Puisi sastrawan Indonesia

Bertema Makan Bergizi Gratis



















Konduktor : Rg Bagus Warsono














Penyair 

Antologi Bersama Makan Bergizi Gratis


(001) Heru Patria, Blitar 

(002) Biolen Fernando Sinaga, Dairi

(003) Dody Yan Masfa, Surabaya

(004) Raju, Aceh

(005) Andi Irwan, Sorong

(006) Khodijah, Cirebon 

(007) Mohammad Saroni, Mojokerto

(008) Chanchan Parase, Batam

(009) Theo Kiik, Malaka

(010) Raden Mas Sudarmono, Sleman

(011)  Abi Chairil Anwar, Malang

(012) Osratus, Sorong

(013) Romö Jatí , Tanjungpinang

(014) Ahmad Maliki Mashar, Indragiri Hilir

(015) Dahta Gautama, Lampung

(016) Iqbal Kurniawan, Lampung Tengah

(017) Tarni Kasanpawiro, Bekasi

(018) Puspasari, Depok

(019)  IZ Anwar, Jakarta

(020) Diana Rustam, makasar

(021) Annisa, Sulawesi Barat

(022) Gunadi Yusuf Soenhadji, Kudus

(023) S. Ratman Suras, Medan

(024) Metaria, Kebanga Sulawesi Barat

(025) Kakashi Nurullah, Sumenep

(026) Eko Tunas, Semarang

(027) Wardjito Soeharso, Semarang

(028) Arya Setra, Jakarta

(029) Moel Soenarko, Bandung

(030) Maya Ofifa Kristianti, Semarang

(031)  Mustiar Ar

(032) Drajat Adi Cahyono, Salatiga

(033) IGN Oka Putra, Malang

(034) Edi Ustama Saragih, Dumai

(035) Fath WS

(036) Agil Teguh S, Sidoarjo

(037) BH. Riyanto, Pamekasan

(038) Mustofakhilmi

(039) Rodiyatun

(040) Rosyidi Aryadi, Palangkaraya

(041)  Khalid Alrasyid, Surabaya

(042) Dyah Nkusuma, Sampit

(043) Mata Atma, Ponorogo

(044) Sulistyo, Jakarta

(045) Rahayu Budiman, Riau

(046) Rudi H. Ponorogo

(047) Elvayanti Tammelle , Parigi Moutong

(048)Eryanto Kamis, Bekasi

(049) Mimi Marvill, Temanggung

(050) Cinta, Bandung

(051) Suyitno Ethex, Mojokerto

(052) Asmara Ruci, Tulungagung

(053) Batari Parfum, Banyumas

(054) Hafney Maulana, Jakarta

(055) Riska Widiana, Riau

(056) Ibrahim Ibrahim, Sidoarjo

(057) Imron Bintang, Kendal

(058) Suriar Amazi, Barito Kuala

(059) Sunawi, Jogyakarta

(060) Chie Setiawati

(061) Ahmad Irfan Fauzan, Serang

(062) Iis Yuhartini, Bekasi

(063) Akhmad Sekhu, Jakarta

(064) Acep Syahril, Indramayu

(065) Fie Asyura , Bengkayang (Kalbar)

(066) Winar Ramelan, Denpasar

(067) Indri Kartika Putri, Magelang

(068) Noor Laila Amin

(069) A.Rahim Eltara, Sumbawa

(070) Hadi Lempe, Pekalongan 

(071) Dedi Wahyudi, Karimun

(072) Putri Bungsu, Solo

(073) Agus Sukamto, Pati

(074) Prawiro Sudirjo, Bekasi

(075) Hadijah Karim, Sumbawa

(076) Al Banjary, Barru Sulawesi Selatan

(077)  Yohanes Moeljadi Pranata, Jakarta

(078) A. Zainuddin Kr, Pemalang

(079) Siti Suci WInarni, Ponorogo

(080) Rissa Churria, Bekasi

(081) Ais Octadiga, Aceh Utara

(082) Dona  Lesmana, Lampung Tengah

(083) Uleceny, Sumbawa

(084) Gunawan DM, Sumbawa

(085) Syarifah Laila Hayati, Riau

(086) Rosidah Resyad RosieR, Sumbawa

(087) Riani Pemulung, Tegal 

(088) Ence Sumirat, Cianjur

(089) Sugeng Joko Utomo, Tasikmalaya

(090) Yoffie Cahya, Majalengka

(091) Kasdi Kelanis, Sragen 

(092) Juwaini (Cak Ju), Kediri

(093) Riki Utomi, SElat Panjang Riau

(094) Juliati, Indramayu

(095) Merawati May, Bengkulu

(096) Rust Gaok, Pemalang

(097) Asti Musman, Madiun

(098) Abror Y Prabowo, Sleman

(099) Irawati, Agam

(100) Ujang Saepudin, Cianjur

(101 ) Manaek Maruhum Siburian,  Merauke

(102) Mang Zaenal, Cirebpn

(103) AM. Haryadi Salim, Semarang

(104) Door Deo

(105) Agus Yuwantoro, Wonosob0

(106) Muhamad Yusuf, Banjarmasin

(107) Thomas Sutasman, Cilacap

(108) Bambang Widiatmoko, Joyakarta

(109)  Widjanarko, Semarang
































Puisi-puisi Lomba Penyair Cipta Puisi 2025

Lumbung Puisi sastrawan Indonesia

Bertema Makan Bergizi Gratis


(001) BERTANYA CACING KEPADA LALAT, 

            Heru Patria

(002) Wacana Makan, Biolen Fernando Sinaga

(003) INFLASI, Dody Yan Masfa

(004)Perbaikan Gizi Anak Negeri, Raju

(005) Jamuan Tanpa Harga, Andi Irwan

(006) Santapan Kasih, Khodijah

(007) TIDAK PERLU MAHAL Mohammad Saroni

(008) GLOBALISASI AI, Chanchan Parase

(009) Surat Dari Pak Tani, Theo Kiik

(010) KABAR MAKAN TIDAK KABUR, 

            Raden Mas Sudarmono

(011) HARAPAN KINI DAN NANTI, Abi Chairil Anwar

(012) PROTES SEKONYONG-KONYONG, 

            SEPUTAR SUSU DAN GELAS KOSONG 

            Osratus

(013) MERDEKA TIGA KALI SEHARI, Romö Jatí

(014) CATATAN KECIL NEGERI TERPENCIL, 

            Ahmad Maliki Mashar

(015) AMBISI DIBAYAR MAKAN, Dahta Gautama

(016) MENUNGGU WAKTU Iqbal Kurniawan

(017) MAKAN GRATIS, Tarni Kasanpawiro

(018) LEZATNYA MASAKAN EMAK, Puspasari

(019) ANAK BANGSA SEHAT NEGARA PUN KUAT,

            IZ Anwar

(020) Dari Tanah Kami ke Perut Anak-anak Kami, 

            Diana Rustam

(021) Jeritan tangis : anak pelosok terpencil, Annisa

(022) BERBUTIR NASI MENANGIS Oleh : 

           Gunadi Yusuf Soenhadji

(023) JANTURAN PINGGIR KALI, S. Ratman Suras

(024) Syukur akan nikmatnya, Metaria

(025) Dapurku, Kakashi Nurullah

(026) MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN,

           Eko Tunas

(027) Utopia Si Jelata, Wardjito Soeharso

(028) MENS SANA IN CORPORE SANO Arya Setra

(029) MENYALAKAN SOLIDARITAS, Moel Soenarko

(030) Jangan Nak, jangan, Maya Ofifa Kristianti

(031) MAKAN GRATIS NIKMAT SEKEJAP, Mustiar Ar

(032) DI BALIK PIRING SEBUAH REALITA, 

           Drajat Adi Cahyono

(033) Sebutir Harapan, IGN Oka Putra

(034) Batalkan Saja, Edi Ustama Saragih

(035) BISINGNYA MBG, Fath WS

(036) SAYA LAPAR JENDRAL, Agil Teguh S

(037) TENTANG MAKAN SIANG BERGIZI, 

            LAGI GRATIS ITU, 

            BH. Riyanto

(038) LAHAP, Mustofakhilmi

(039) MAKAN SIANG DI SEKOLAH, Rodiyatun

(040) Apa Kabar Makan Siang Gratis, Rosyidi Aryadi

(041) KEHIDUPAN DAN KESERAKAHAN, 

           Khalid Alrasyid

(042) DARI MEJA SEKOLAH ADA CERITA, 

           Dyah Nkusuma

(043) Tidak Amanah, Mata Atma

(044) SEORANG BOCAH DAN MAKAN SIANG,

            Sulistyo

(045) Mimpi Makan Siang Gratis, 

           Rahayu Budiman

(046) Omong Kosong, Rudi H.

(047) Untuk Tuan dan Puan, Elvayanti Tammelle

 (048) PESAN IBUKU :MAKAN GRATIS KENYANG

            Eryanto Kamis

(049) MAKAN SIANG DALAM CELOTEHAN DI 

           NEGERI AMAN DAN TENTERAM, 

           Mimi Marvill

(050) NTERPRETASI GIZI, Cinta

(051) MENU DITENTUKAN Suyitno Ethex

(052) JANJI BERGIZI MAKAN BERGIZI: GRATIS, 

           Gurit Asmara Ruci

(053)Rapat Rahasia di Dalam Perut, Batari Parfum

(054) Makan Gratis Bergizi Mimpi atau Nyata, 

           Hafney Maulana

 (055) BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA,

            Riska Widiana

 (056) Salah Asuhan, Ibrahim Ibrahim

(057) MBG, ADAKAH STRATEGI POLITIS? 

           Imron Bintang

(058) MAKAN BERGIZI GRATIS, CAHAYA HARAPAN,

           Suriar Amazi

(059) SOLUSI MAKAN BERGIZI GRATIS, Sunawi

 (060) Drama Babak Pertama, Chie Setiawati

(061) Jangkrik, Ahmad Irfan Fauzan

(062) MENGGAPAI MASA DEPAN CERAH, 

            Iis Yuhartini

(063) Harapan untuk Anak-Anak Masa Depan, 

           Akhmad Sekhu

(064) Bukan Makan Gratis, Acep Syahril

(065) Semoga Bukan Sesaat, Fie Asyura

(066) MEMBAYAR JANJI, Winar Ramelan

(067) Jamuan Negeri, Indri Kartika Putri

(068) Makan Bergizi Gratis, Noor Laila Amin

(069) JANJI DALAM SEKOTAK NASI, A.Rahim Eltara

(070) GRATISAN BORONGAN Hadi Lempe

(071) KATANYA GRATIS Dedi Wahyudi

(072) JANGAN KIRA KAMI, Putri Bungsu

(073) Sebuah Kotak Istimewa, Agus Sukamto

(074) Makan Siang Gratis: 

           Sebuah Renungan Prawiro Sudirjo

 (075) MEMBACA INGIN, Hadijah Karim

 (076) JANJI UNTUK SEPIRING BERGIZI, 

            Juhri Al Banjary

(077) SEMBAB, Yohanes Moeljadi Pranata

(078) SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH, 

            A. Zainuddin Kr

(079) SEPIRING HARAPAN, Siti Suci WInarni

(080) TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN, 

            Rissa Churria

(081) SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS, 

            Ais Octadiga

(082) JANJIMU DALAM MIMPIKU ADA 

           Dona  Lesmana

(083) REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR, Uleceny

(084) JANJI TERBUKTI, GUNAWAN DM

(085) Cerita Pagi Di Piring Nasi, Syarifah Laila Hayati

(086) BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU,

            Rosidah Resyad RosieR

(087) MAkAN GRATIS DI JALANAN 

           Riani Pemulung

(088) DOA MAKAN BERGIZI GRATI, Ence Sumirat

(089) BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI

            Sugeng Joko Utomo

 (090) MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN

             Yoffie Cahya

(091) Mungkin Karena Tidak Sarapan

            Kasdi Kelanis

(092) SUAPAN BERPENGHIBURAN

           JUWAINI (Cak Ju)

(093) Mengeja Nasi Dalam Pikirmu

            Riki Utomi

(094) Menguak Asa di Gerbang Pagi

            Juliati

(095)  MAKAN GRATIS,  Merawati May

(096)  Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.

             Rust Gaok

 (097) Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris

            Asti Musman

(098) SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG 

            TERSEDU, Puisi Abror Y Prabowo

(099) Piring Harapan di Meja Negeri, Irawati

(100) Tidak Ada Makan Gratis, Ujang Saepudin

(101 ) NARASI TERKOYAK Manaek Maruhum Siburian

(102) Dilanjut Besok, Mang Zaenal

(103) Semangat Matahari Pagi. AM. Haryadi Salim

(104) ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG

           Door Deo

(105) Makan Gratis di Bawah Senja

           Agus Yuwantoro

(106) Narasi Tak Berkoda, Muhamad Yusuf

(107) TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN  

           Thomas Sutasman

(108) DIALOG DALAM HATI, Bambang Widiatmoko

(109)  SUARA PERUT RAKYAT, Widjanarko






















BELAJAR DARI WARTEG

Rg Bagus Warsono


Rakyat Indonesia awal tahun 2025  disuguhi berita  Makan Siang Gratis yang kemudian berganti Makan Bergizi Gratis. Sebuah program pemerintah Prabowo Subiato yang disambut gembira oleh rakyat di pelosok negeri. 

Kegembiraan rakyat itu karena Makan Bergizi Gratis bukan implementasi pengamalan amanat UUD 1945 Fakir miskin dipelihara Negar tetapi   karena progran ini tidak hanya fakir miskin yang diberi makan tetapi semua anak sekolah dan tidak membedakan status sosial orang tua mereka. 

Kegembiraan rakyat itu maklum adanya, karena telah bersifat umum di masyarakat di daerah seperti yang terjadi pada Bantuan Langsung Tunai (BLT),  Pembagian Sembako atau  Beras yang juga penerimanya tak hanya fakir miskin tetapi mereka yang memenuhi persyaratan administrasi. 

Dan pada  Makan Bergizi Gratis ini anak-anak yang bukan fakir miskin pun mendapat makan karena sasaran pemberiannya anak sekolah. 

Penulis tidak faham apakah program hebat ini akan berjalan seterusnya hingga 5 tahun atau hanya untuk memenuhi janji kampanye presiden terpilih pada Pemilu Presiden lalu. Yang jelas Indonesia akan mencatat prestasi gemilang telah memberi makan anak seluruh Indonesia dari jumlah penduduk sekitar 275 juta lebih ini.

Ada satu hal yaitu pertanyaan penting dalam Makan Bergizi Gratis yaitu 'dapurnya bagaimana? Mengingat jumlah penerima Makan Bergizi Gratis begitu banyak. Nah pada pertanyaan ini mungkin sudah dipikirkan sebelumnya oleh penerintah. Yang jelas dapur memasak harus memiliki perbandingan ideal antara dapur dengan orang yang makan. Contoh di sebuah keluarga saja dapur besar dan kecil tergantung berapa orang yang makan.  Tentu untuk memberi makan siswa dari beratus-ratus sekolah di setiap kabupaten diperlukan dapur ukuran besar yang banyak baik segi peruntukan berapa target yang makan dan produksi, jumlah juru masak dan pelayan yang mengantar makanan maupun segi peralatan dapur yang canggih serta tidak lupa dimana dapur harus belanja sayuran dan ikan ayam sekala besar.  Ini baru di Sebuah Kabupaten 


























Enak Nasi Goreng Ibu dan Makan Bergizi Gratis di Sekolah

Kebiasaan keluarga di Indonesia pagi hari menyiapkan nasi goreng untuk sarapan anak-anaknya dan juga Bapak yang mau berangkat kerja sudah terbiasa sejak zaman dulu. 

Sampai sekarang pun masih dilakukan ibu-ibu Indonesia. Mengapa? Ada beberapa manfaat nasi goreng pagi yang pasti kesehatan agar anak-anak memiliki tenaga bergerak. Yang kedua tentu saja faktor  hemat. Dengan nasi goreng ibu, anak-anak tak perlu lagi sarapan di warung atau kantin sekolah. Dan yang ketiga ada "selera" keluarga dan ibu yang oaling tahu. Pendek kata nasi goreng ibu itu lebih nikmat dan higines. 

Beberapa sahabat bercerita bahwa ia bisa cerdas berkat nasi goreng ibu. Katanya banyak pelajaran yang dipetik dari makan pagi atau sarapan pagi itu. Dan nasi goreng buatan ibu memang istimewa.

Sahabat lain bercerita bahwa campuran nasi boreng buatan ibu di tanggal muda lebih enak karena bercampur telor dadar yang dirajang  tipis-tipis sehingga terasa telornya. Selang beberapa hari kemudian telor satu di aduk dengan nasi sepenggorengan . 

Sambil mesem Kakak yang kini sudah kuliah ngomong bahwa jika tak ada telor ibu menggoreng  nasi tampa telor dan bahkan tanpa bumbu hanya garam . Tetapi tetap saja enak ! 

Demikian nasi goreng ibu memberi semangat buat anak Indonesia. Dan mungkin di beberapa daerah ada juga yang sarapan pagi buatan ibu bukan nasi goreng tetapi yang lain . Semuanya demi anak-anak Indobesia agar cerdas.

Kini Makan bergizi gratis diberikan oleh pemerintah untuk anak sekolah. Tidak tahu itu makan sarapan pagi atau makan siang yang pasti tak tentu datangnya. Yang dekat dapur MBG mungkin pagi sudah datang tetapi yang jauh dari dapur MBG untuk makan siang. Namun makanan tak lagi hangat dan apalagi jika hari hujan. Makan Bergizi Gratis tak lagi dinanti oleh anak-anak karena sudah dingin dan tak menarik lagi. 































Penjelasan Kegiatan Lumbung Puisi


Kegiatan Lumbung Puisi bertujuan untuk memelihara dan meneruskan sastra Indonesia untuk berkembang dan berjalan mengiringi kehidupan di republik ini. Sastra disadari terlahir dari bangsa ini dari penulis yang berasal dari pelosok negeri yang tak membedakan geografis.

Sastra itu juga terlahir dari penulis yang tak membedakan status sosial. 

Sastra juga terlahir dari penulis yang tidak membedakan derajat popularitas.

Sastra juga terlahir tidak membedakan dari yang tertulis di buku luxs dengan penerbitan penerbit ternama dan diluncurkan bukunya digedung representatif, tetapi juga terlahir dari yang tertulis di kertas atau bahkan media alam seadanya. 

Sastra juga terlahir dengan tidak membedakan sastra itu dibaca dimana di gedung megah dengan  ribuan penonton dengan pembaca ternama, di youtube dengan jutaan pemirsa tetapi juga terdengar dari gembala di tengah padang seorang diri yang didengar dan dihafal dari pecinta sastra yang kemudian dituturkan temannya. 

Demikian penjelasan Lumbung Puisi bahwa Lumbung Puisi bertugas disuruh oleh hatinya sendiri dan hati teman-teman seirama seperjuangan untuk mendokumentasikan karya-karya sastra terbaik putra bangsa baik melalui buku, menulis di antologi bersama, termasuk lomba cipta, dari tampilan digital dari situs apa pun oleh siapa pun, sampai menjaring dimana-mana  untuk ditampilkan di grup dan website milik lumbung puisi. Tiada lain agar sastra itu tersambung sampai generasi selanjutnya entah sampai kapan tak terbatas.


Ketentuan: Lomba Penyair Cipta Puisi 2025

Lumbung Puisi sastrawan Indonesia

Bertema Makan Bergizi Gratis


**A. SYARAT :**

1. Peserta adalah Penyair Indonesia

2. Masuk grup fb Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

3. Mengirimkan 1 (satu) buah puisi karya sendiri yang belum pernah dipublikasikan di media online maupun cetak dengan tema puisi " MAKAN BERGIZI GRATIS" 

4. Puisi dikirim ke grup Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia ini dengan diberi tag

#makanbergizigratis  dan diberi biodata penulis singkat mulai tangga 11 Januari 2025 dan berakhir/deadlinne pada 31 Maret 2025

5. Peserta hanya boleh mengirim 1 kali pengiriman yang berisi 1 puisi lomba.

6. Tidak diperbolehkan mengganti puisi yang telah dikirim. Apabila kedapatan peserta telah mengirim lebih dari 1 X maka kiriman pertama adalah yang masuk lomba.

7. Peserta yang mengirimkan puisi berulang-ulang akan dihapus sebagai peserta. 

8. Puisi yang masuk secara bertahap akan diumumkan sebagai peserta dengan nomor urut untuk dinilai juri secara bertahap dan seluruhnya hingga selesai. 

9. Puisi yang masuk sebagai peserta diterbitkan dalam Antologi Bersama Puisi-Puisi Lomba Cipta 2025 dengan judul PUISI-PUISI PENYAIR 2025. 

10. Diharapkan peserta memiliki buku  Antologi Bersama Puisi'puisi Lomba Cipta dengan mengganti ongkos cetak ( bersifat anjuran tidak harus) untuk penyebaran dan publikasi buku secara langsung . 


** B. HADIAH:**

1. Sertifikat untuk semua peserta apabila diminta. 

2. Peringkat 1 hingga 15 mendapat hadiah Kaos Khas Lumbung Puisi Terbaru 2025 .

3. Peringkat 1 hingga 5 mendapat hadiah T 

    (Tas bersulam lumbung puisi yang disulam khusus oleh penyair Denting Kemuning) 

4. Peringkat ke 16 dan seterusnya mendapat hadiah cindera mata yang bentuk hadiah dan bentuk lainnya serta batas peringkat penerima hadiah  tergantung banyaknya pemberian dari donatur yang masuk panitia.


**C. JURI LOMBA **

Juri lomba bekerja secara online masing memberikan penilaian untuk kemudian berunding memutuskan secara demokratis.

Juri ditunjuk Lumbung Puisi tanpa honorarium tetapi diberi cindera mata alakadarnya. Nama-nama Juri tidak ditulis dalam ketentuan tetapi diumumkan di grup karena bersifat sukarela. 


**D.PENGUMUNAN **

Pengumuman pemenang akan diumumkan pada 19 April 2025 di grup ini  berbarengan dengan pelaksanaan Lomba Penyair Baca Puisi 2025 Lumbung Puisi di Sanggar Lumbung Puisi , Indramayu.

Demikian ketentuan lomba 


*Panitia

Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia

Rg Bagus Warsono 

(Kurator Utama)*







 (001) 

BERTANYA CACING KEPADA LALAT,

Heru Patria


bertanya cacing cacing dalam perut bocah sekolah 

tentang makan bergizi gratis yang katanya program wah

apakah semua ini bukan sekadar program pamer wajah 

agar kepemimpinan dianggap syah 

agar kedudukan tak goyah 

padahal bagimana bisa dengan anggaran sepuluh ribu

memberi makanan bergizi lengkap dengan susu

sedang harga harga terus melambung sepanjang waktu 

juga pajak dinaikkan seenak jidatmu

atau bisa jadi makan bergizi gratis cuma program ambigu

lalat angkuh menjawab dengan teguh 

bahwa makan bergizi gratis program yang rapuh 

akan membuat situasi makin keruh

kaum jelata dipastikan kian mengeluh

sebab mereka harus memeras peluh 

penuhi pajak tinggi yang ditetapkan kaum angkuh

lalat bersilat lidah sembunyikan kebenaran 

makan bergizi gratis hanyalah program pencitraan

sebab di republik ini kemiskinan sengaja dipelihara

dijadikan lumbung suara saat pemilu tiba 

ini tidak ada bedanya dengan bansos rutin

mendidik masyarakat bermental miskin 

cacing cacing terdiam tanpa kata 

apa yang disampaikan para lalat benar adanya 

sungguh kasihan anak usia sekolah di Indonesia 

mendapat makan bergizi dengan menu ala kadarnya

apakah mereka lupa kalau negeri ini kaya 

cerita tentang lumbung padi pernah berjaya pada masanya

dalam pelukan dewi sri ketahanan pangan itu nyata 

tapi 

ketika lalat lalat duduk di kursi kuasa

urusan perut dijadikan topeng propaganda

cacing dalam perut dijejali janji semata 

tanpa ada realita 

untuk apa ada program makan bergizi gratis 

jika di sudut negeri masih banyak jelata menangis 

tangan tangan ringkih dekati tong sampah tuk mengais 

berharap dapat rejeki di sela tangis 

kini cacing tak mau lagi bertanya pada lalat 

setelah sadar makan bergizi gratis sekadar alat 

tipu muslihat dari para pejabat

tipu daya dari para birokrat

ladang empuk bagi kaum penjilat 

bara neraka bagi masyarakat 

cacing cacing tahu

rendahnya pendidikan di sini bukan karena menu

tapi karena adanya sistem tak menentu 

ganti kurikulum setiap ada menteri baru 

juga adanya intervensi pada wewenang guru 

namun cacing cacing tak bisa berbuat apa apa 

kokoh kaki tangan lalat lawan tak sebanding bagi mereka 

di akhir semua ini para cacing hanya bisa berdoa 

semoga lalat segera turun dari singgasana

sebab generasi bangsa tak hanya butuh makan bergizi

tapi lebih butuh perubahan sistem di segala lini

agar pancasila dan uud 1945 berjalan secara murni

agar semangat reformasi tak setengah hati 

makan bergizi gratis hanyalah kedok 

tutupi sistem yang terlanjur bobrok 

Blitar, 13 Januari 2025






Heru Patria, adalah novelis dari Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya telah banyak dimuat di berbagai media masa baik cetak maupun online. Peraih anugerah Sutasoma 2024 ini juga menulis sastra Jawa berupa gurit, wacan bocah, dan crita cekak.  Pendiri komunitas Swara Sastra Jawa ini telah menerbitkan buku antologi puisi, yaitu : Berita Dari Kolong Tol (Intishar, 2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2022), Orasi Anak Negeri (LovRinz, 2023), Rapsodi Dua Hati (IA Publisher, 2024)

 

















 (002) 

Wacana Makan,

Biolen Fernando Sinaga

.

Terbertik sudah

Wacana makan

Makan makanan bergizi 

Makan makanan gratis

Makan makanan bergizi gratis

Makan makanan gratis bergizi

Tolong jangan langsung interupsi

Apakah makanannya bayar, gizinya gratis

Apakah makanannya bergizi banyak atau sedikit

Apakah gratis bukan termasuk gratifikasi?

.

Kritis itu perlu

Tapi kita lebih fokus mengatasi krisis gizi

Karena itu membuat generasi muda kritis

Maksudku, eh maksud kami, kondisinya jadi kritis dan perlu ditangani segera

Dari itu sifat kritis harus terukur

Seperti menu dalam makanan gratis itu

Dari lima kotak di wadah itu

Sebaiknya kelimanya berisi

(Lima kan Pancasila)

Kalau tak bisa, setidaknya empat kotak berisi

Tapi jangan pula gampang menuduh satu kotak dikorupsi

Beritikadlah baik

Baiklah beritikad

Beritikad baiklah

Soal sapi diimpor dari luar negri untuk  hal itu, cobalah jangan langsung suuzon

Diimpor kan karena sapi lokal belum cukup

Jangan sampai gara gara makanan bergizi gratis

Jadi menghalangi makanan bergizi berbayar

Saling menghargailah

Dan kalau ada negara lain yang berniat kucurkan dana

Belum tentu kita langsung setujui

Bisa saja kita minta jangan dengan cara dikucurkan

Atau kita bilang, kan kami mau membantu, masa malah dibantu?

.

Nah begitulah

Mari berprasangka baik

Kita bukan hanya ingin membangun fisik

Tetapi juga mental generasi bangsa

Sehat jasmani

Sehat rohani

Jadi sambutlah program

Makan makanan bergizi gratis

Makan makanan gratis bergizi

Dan program ini independen

Tidak bekerja sama dengan produk berslogan

Minum makanan bergizi

Apa apaan itu

Minum kok makanan

Makan kok minuman

Oh, maaf

Kita harus saling menghargai setiap wacana

Demikian disampaikan, terimakasih perhatiannya.

.

Dairi, Jan 2025










Biolen Fernando Sinaga



































(003) 

INFLASI,

Dody Yan Masfa


Di tengah kota orang-orang  berisik

Makan bergizi gratis, hanya angan

Kebun dalam diri terbakar

Sisa-sisa vitamin, limba-limba mineral

Inflasi menghantui, harga melonjak

Makanan bergizi, simbol kapital

Tapi siapa majikannya?

Kebun dalam diri dibakar perompak

Oh, makan bergizi gratis, impian tak tercapai

Tapi kita tetap berharap, makanan seimbang

Untuk kesehatan tubuh dan jiwa

Di tengah krisis, warga teriak

Makan bergizi gratis, untuk siapa?

Di pelosok desa, jari-jari gurita korup

Taman hati terlupakan

Kebun dalam diri meledak

Dody Yan Masfa

2025















Dody Djunaedy

Nama Populer : Dody Yan Masfa

Lahir di Surabaya, 15 Juni 1965. Aktif berkesenian sejak tahun 1987. Fokus pada seni teater dan sastra. Karya antologi puisi yang sudah terbitkan :

- Episode Gadis Zuha ( 2013 )

- Perayaan Pertikaian Dalam Rumah Puisi ( 2021 )

Kontak person : email : dodyyanmasfa@gmail.com

Published by Literanesia — 14 Jan 2025


 









 










(004)

Perbaikan Gizi Anak Negeri,

Raju


Makan bergizi gratis, karya cipta pemerintah

Terhidang dalam kotak-kotak nasi

Demi perbaikan gizi anak negeri

Walau tanpa menu ikan melengkapi 

Negeri kita, negeri maritim

Nenek moyang kita, pelaut tangguh

Menaklukkan gelombang, derasnya badai

Mencerdaskan generasi, demi martabat gizi anak negerinya

Pun demikian..

Anak-anak sekolahan, bercoloteh gembira

"Besok ada enggak sajian susunya?"

Melengkapi empat sehat lima sempurna

Pikiran polos mewarnai benaknya

Tentang masa depan

Masih dalam perabaannya.

*Kutaradja. 14.01.2025

Aceh-Indonesia*















Rajuddin

Nama Kecil : Raju

Penulis lahir di Desa Nibong Wakheuh. Pada tanggal 20 juni 1973. Kecamatan Tanah Luas. Kabupaten Aceh Utara

Menamatkan pendidikan terakhir

Di Universitas Abulyatama (1992-1996)

Fakultas Peternakan

Jirusan Produksi Ternak Besar.

Buku antologi bersama yang sedang digarap, "Gempita Suara Nusantara"

Menulis merupakan tempat menyalurkan sebuah hobbi, dengan menulis dapat mencurahkan segala ide dan perasaan di antara kata-kata yang tidak dapat terucap.*


















 (005) 

Jamuan Tanpa Harga,

Andi Irwan


Dalam piring emas tersaji alam,

Kehangatan nasi seakan sinar surya,

Sayur hijau, daun zamrud nan dalam,

Daging lembut bagai awan di maya.

Aroma rempah menari di udara,

Mengiring langkah sang perut lapar,

Sebening embun, kuah cinta mengembara,

Menembus jiwa, rasa syukur tersebar.

Lidah berdendang dalam harmoni rasa,

Serupa simfoni sang malam sunyi,

Tiada terikat bayang rupiah durjana,

Ini pesta hati, makan gratis bergizi.

Roti renyah seperti pasir pantai,

Susu putih mengalir bagai salju,

Buah segar, manik surga, kupintai,

Semuanya anugerah, sungguh syahdu.

Di bawah langit tak bertepi,

Kita berbagi, memecah rasa perih,

Makan ini, pelipur diri,

Berkah semesta, menjelma kasih.

*Sorong, 14.01.2025*












Andi Irwan

Nama Pena : Pena Lingga

Penulis lahir di Desa Kendari pada tanggal 09 April 1997. Sulawesi tenggara 

Menamatkan pendidikan terakhir di SMA Negeri 02 Pinrang, Sulawesi Selatan.

Pekerjaan: Penulis dan Pegiat seni sastra

Karya yang sementara di garab;

1. Buku Novel: 30 Hari Mengajariku untuk Melepasmu

2. Novel: Dunia Terlalu Berisik

3.Buku Antologi bersama " Bengkel sastra "

Aktivitas:

Anggota komunitas Rumah Literasi dan Bengkel sastra,tempat berbagi ilmu dan inspirasi tentang dunia literasi.

Minat:

Sastra

Cerita horor dan misteri

Budaya lokal Sulawesi

Gaya Menulis:

Mengangkat tema-tema emosional dan reflektif, sering kali menyentuh sisi kemanusiaan, budaya, dan pengalaman hidup sehari-hari.*









 (006)

Santapan Kasih,

Khodijah


Di sudut senja kota

Di punggung desa prasaja, terlihat senyum sumringa bocah menyendok nasi bahagia.

"Ada ayam, susu dan buah," cletuk wajah polos tanpa dosa

Makanan tersaji di atas meja sekolah

Mengejar mimpi mengusir lara

Tak ada harga di papan tulis itu,

Selain hati yang tulus bapak dan ibu guru dalam memberi ilmu

Makanan tersaji dari yang peka akan rasa

Atas dasar cinta, memberi harapan pada  putra-putri bangsa

Menu gizi gratis, bukan sekadar makanan

Tapi semangat hidup yang dijalankan insan

Dalam setiap sendok yang disantap,

Ada doa tulus hingga ibu pertiwi berbesar hati 

Mereka yang datang membagi bukan sekadar tamu,

Melainkan jiwa-jiwa yang ingin bertemu.

Bertukar cerita, membangun asa,

Menghapus kesenjangan dengan cinta.

Di balik meja itu ada 

Yang percaya bahwa berbagi adalah jalan nyata.

Tak peduli seberapa kecil yang diberi,

Hati mereka kaya dan tak sunyi.

Menu gizi gratis, lebih dari sekadar kenyang,

Ia adalah harapan yang terus berkembang.

Menyapa jiwa, membangun insani,

Semoga semua yang menghuni negri  ini hidup bermartabat dan terpuji

Cirebon 14 Januari 2025

Khodijah S,Pd, M,Pd  seorang guru, pernah mengajar di STIE Tunas Nusantara Cawang. Jakarta. Telah menulis 20 judul buku Fiksi & Nonfiksi yang diantaranya:

Membangun Pola Pikir, Komunikasi Transenden dalam Pembentukan Jati Diri, Logika Komunikasi, Berahirnya sebuah Kekosongan, Sukma (fiksi), Kuncup Berkembang (fiksi), Jalan Eshma (fiksi) Atas nama Cinta dan lainnya. Saat ini dalam proses penulisan Sensasi Rasa sebua seni dalam melakukan pengolahan.

 

















(007) 

TIDAK PERLU MAHAL

Mohammad Saroni


Makanan bergizi adalah harapan

makanan sehat apa lagi

sebab semua orang ingin sehat

sebab semua orang ingin alfiat

Makanan bergizi adalah kebutuhan

makanan sehat adalah tuntutan

untuk pemerintah yang pro rakyat

bukan hanya slogan apalagi sekedar lips kampanye

Negeri ini kaya sumber daya

tak akan habis tujuh turunan

tetapi semua akan sia-sia semata

ketika sumber daya manusia diabaikan

Maju mundurnya bangsa di tangan manusianya

dan generasi muda adalah harapan utama

tetapi harap hanya tinggal harap semata

ketika mereka tidak mampu apa-apa

Makanan menjadi pengharapan

untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuannya

dan, pemerintah harus mengkondisikan

tidak perlu mahal yang penting bergizi dan sehat

Tidak peduli duit darimana

sebab negeri ini negeri yang kaya

tanah surga yang diberikan-Nya

bukan untuk sebagian orang saja

melainkan untuk semua anak bangsa

Tidak perlu mahal

cukup yang sehat dan bergizi

untuk membangun fisik dan psikis

agar menjadi bangsa dan negara yang kuat

Dapatkah??

Gembongan, 15 Januari 2025

Mohammad Saroni, tinggal di Mojokerto. Menulis sebagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam hati atas suatu kondisi di luar diri.

Menulis untuk genre nonfiksi maupun fiksi.




























 (008) 

GLOBALISASI AI,

Chanchan Parase


.

Ini Globalisasi AI

Di mana setiap usia

Menanam jemari

Di Smarphone

Beberapa anak

Penyandang relatif kecewa

Dapat tekanan pendidikan 

Mereka di D.O paksa

Gagal Spp, sebagian

Gagal menggoda gurunya

Untuk pelunasan 

Lalu memintas bunuh diri, solusi

Desa yang masih purba

Berita Negara yang luar biasa

Makan bergizi gratis yang dipopulerkan

Tak semerata  gembira Indonesia

Sebenarnya pelayanan negeri

Kepada rakyatnya ini, kelayakan 

Separoh hati, di mana mata uang

Adalah penghianat nomor satu

Ketidakpuasan

.

Batam, 15 Januari 2025









Chanchan Parase

Nama dari Ibu    :Candra

Lahir                    :Medan 11 Juli 1975

Pendidikan final : SMK

Alamat Batam Kepulauan Riau

Koleksi Antologi bersama +20x

Catatan terakhir baru calon PPPK

(P3K)





























(009)

Surat Dari Pak Tani ; Harus Adil dan Merata

Theo Kiik


Jari-jemari ku sudah kaku

tetapi mata ku tak lelah membaca koran-koran baru

tentang lahan sawah yang digusur

dan harapan para petani yang  dipaksa kubur.

tentang pengusaha yang semakin makmur

petani yang kehilangan tanah subur

tentang korupsi yang menjamur

dan hakim agung suka manipulator.

Hari ini, aku menulis lagi, tentang makan bergizi gratis untuk anak-anak negeri

Teruntuk tuan dan puan, yang disana

; diatas istana negara

terlampau stunting kah kita

ataukah terlalu hina kedudukan rakyat di mata pejabat? jika ia, 

mengapa harus ada pajak rakyat untuk membiayai urusan negara?

Makan bergizi gratis untuk anak-anak bangsa.

Akankah  semua anak diperlakukan sama?

: Dari anak-anak abdi negara,

 semampai anak-anak pengusaha dan anak-anak jelata.

semua diberi menu makan yang sama?

Lantas bagaimanakah dengan pengemis yang hidup di persimpangan jalan sana?

apakah mereka boleh mendapat jua?

siapakah yang berbicara derita mereka?

Ini negara Pancasila,

bunyi sila kelima,

keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

dan pengemis juga rakyat Indonesia.

Sebelum kita lupa

mereka tanggung jawab siapa

mereka juga anak-anak bangsa

harusnya kita adil dan merata.

Malaka, 15 Januari 2025










Theo Kiik, lahir di Anametan. Sebuah kampung yang sangat dekat dengan pusat kota kabupaten Malaka. Pernah menulis satu buku antologi di yang diselenggarakan oleh lumbung puisi dengan judul "Puisi-puisi Melihat Indonesia.

 Published by Literanesia — 16 Jan 2025













(010) 

KABAR MAKAN TIDAK KABUR,

Raden Mas Sudarmono


Hanya berkabar makan bergizi gratis

apakah rakyat sudah makmur sentosa

seperti nyanyian dalam lagu kebangsaan

ternyata tidak sedemikian akurat

negeri kita sedang tidak baik baik saja

Mari kita saling memberitahu

banyak petinggi negeri ambigu

terbiasa mengumbar janji

omong omong ternyata kosong

berita stunting anak anak dan ibu hamil

menjadi trend proyek negeri terkini

cobalah bertumpu pada sila kelima

telah disebutkan dalam lambang negara

keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

marilah berselancar di media sosial

program unggulan makan bergizi gratis

menelan biaya sebesar 71 triliyun

hanya menyihir menjadi berita mutakhir

keberlanjutan pemerintahan semu

agar korporasi tidak berbau korupsi

Hanya udar rasa bukan mengharap

ayolah ayo kita segerakan program nya

termasuk yang rentan karena kesehatan nya

beramai ramai makan bergizi gratis

kata undang undang benar dijalankan

sebab fakir miskin dipelihara oleh negara

dan disana sini masih banyak pengemis 

kehidupannya selalu diliputi rasa pesimis

semangat tentunya hindarkan rasa ngeri dan miris. 

*Magelang, 14 Januari 2025*



SUDARMONO lahir Bantul Yogyakarta 1963 pendidikan terakhir  S1 Fak Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta, Penulis dan penyuka sastra juga kebudayaan sekarang mengelola Taman Bacaan Masyarakat TBM Ruang Jiwa di Muntilan Magelang tulisan puisi nya banyak diterbitkan oleh Komunitas Sastra di Indonesia pada umumnya diantaranya Gambang Semarang, Kaffein Ruang dan Kreativitas, Jakarta dan Betawi 3 Titimangsa Lahirnya Peradaban Bangsa, Wasiat Botinglangi, Angkatan Milenial, Plengkung Yogyakarta dalam Sajak, Majalah Sastra Semesta, Elipsis, Apajake, Magelang Ekspres, Cakra Bangsa, Tabloid Alinea Baru dan sebagainya. Alamat Gataklamat No 63 RT 04/RW 01 Desa Pucungrejo Muntilan Magelang Jawa Tengah Kode Pos 56414 WA 085226095700 email sudarmonosatrrajiwa@gmail.com*












(011)

HARAPAN KINI DAN NANTI,

Abi Chairil Anwar

wajah-wajah lugu itu

duduk rapi siku dilipat diatas bangku

menunggu masa depan

piring saji cekung lima menyulam asa

menu penuh gizi 

tegar menyongsong masa

raut muka mereka suka cita

kala hidangan tiba

upacara diawali dengan lantunan doa

namun disudut sana

satu siswa menyeka air mata

diam, tak mampu mengawali makannya

menerawang jauh ingat rumahnya

emak makan apa ?

seketika disisihkanlah separuh jatahnya

sebagai bukti cinta

seketika itu juga aku tersentak

bukanya ada siswa 

nun jauh disana

diantara nusa

yang harus berenang

yang bergelantungan

yang berjalan jauh menembus hutan

untuk menuju sekolah 

yang beratap alang-alang

berdinding bambu dianyam

beralaskan tikar daun lontar

namun semangat mencari ilmu tak pernah padam

mereka juga anak bangsa

patut menuntut bukti cinta dari negara

meski harus menunggu lama

namun harapan mesti ada

Malang, 15 Januari 2025

Ayyub Ruddy Prayitno ,SE

Nama Pena : Abi Chairil Anwar [Abi_kh@n]

Tempat/tanggal lahir : Jember/14 Juni 1961

Aktif menulis puisi sejak tahun 1981

dan baru tahun 2011 karya puisi dipublikasikan lewat media sosial utamanya Facebook.

Selain menulis puisi, sejak awal pensiun aktivitas mengisi waktu adalah melukis.

 



















(012) 

PROTES SEKONYONG-KONYONG, SEPUTAR SUSU DAN GELAS KOSONG

Osratus


"Susu, ditunggu

 Gelas, menanggung rindu

 Susu, tak mau tau

 Gelas, dirundung pilu

 Nasi, menampakkan  diri

 Serundeng, menggandeng ayam goreng

 Sayur buncis, berikan pedasnya

 tipis-tipis

 Semangka, bikin air liur mengucur

 Nasi kotak tersaji silakan dinikmati

 sambil menunggu susu 

 dan gelas bertemu 

 tapi bukan untukmu, diriku

 Kalau nasi kotak

 telah disikat dengan telak 

 sedangkan susu dan gelas

 membenamkan diri di lipatan waktu,

 tidak berarti mereka tidak 

 sayang kita, bukan?

 Tapi bukan kau yang diberi 

 makan bergizi gratis itu

 melainkan para anak didikku

 Susu gratis tetap kita tunggu 

 dengan rasa gembira yang menyertai kita

 Makan bergizi gratis, hiduplah!

 Tapi andai kelak makan bergizi gratis 

 tinggal nama, lapang dada

 telah dipersiapkan dari sekarang, bukan?

 Susu, gelas setia menunggumu

 Susu, buah hati kami susuilah!"

**Sorong, 15 Januari 2025**

 Osratus , adalah nama pena dari Sutarso nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 59 tahun lalu. Sekarang, tinggal di Kabupaten Sorong (Papua Barat Daya). Menulis puisi adalah  hobinya.*


























(013)

MERDEKA TIGA KALI SEHARI,

Romö Jatí


anakku yang lima sekokah semua

dari paud sampai es em a

mereka sedang mengejar cita cita

ada satu yang masih balita

dan satu lagi masih di perut ibunya

kini rasa syukurku padaNya

mereka makannya ditanggung negara

meski sehari dapat sekali saja

itu pun tak mengapa

sudah mengurangi uang belanja

aku yang bekerja

hanya sebagai penyusun batu bata

gaji yang kudapat tak seberapa

setiap harinya harus berlomba

dengan kenaikkan harga

semoga anak anakku nanti 

semua bisa jadi menteri

yang tidak doyan korupsi

agar negara bisa memberi makan bergizi

untuk anak anak negeri tiga kali sehari

Kepri

Tanjungpinang











 (014)

CATATAN KECIL NEGERI TERPENCIL,

Ahmad Maliki Mashar



Selamat pagi orang-orang penting

Dari tepi hutan di semak ranting-ranting

Kami menahan licin dengan ban gundul

Jalan tanah kuning yang tersiram gerimis

Apak berlumpur amis

Selamat pagi orang-orang penting

Makanan bergizi kami hanya nasi kuning

Sedikit campuran bihun goreng

Di warung samping sekolah yang lantainya tanah kuning

Tiap pagi kami rebutan bagi yang punya uang jajan

Takut ketinggalan tak dapat sarapan

Segelas susu selalu hanya khayalan

Sebab kami terbiasa dengan air putih dari galon lima ribuan

Selamat pagi orang-orang penting

Negeri ini begitu luas, mulai Sabang sampai Merauke

Dari Miangas hingga Pulau Rote

Seakan tanpa batas, berlaut deras dan berimba rebas

Masih ada orang-orang culas.

Sekara, 15 Januari 2025.











AHMAD MALIKI MASHAR. Lahir 1971. Suka puisi sejak masih sekolah, menulis puisi untuk koran kampus dan surat kabar daerah. Sekarang mencoba menulis puisi untuk antologi bersama. Alamat : RT 01/RW 01 Desa Sekara, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Kode pos 29276. HP/WA 08526520047

 





















 (015)

AMBISI DIBAYAR MAKAN,

Dahta Gautama


Apakah hanya dengan makan, manusia sanggup hentikan lapar?

Makan gratis di sekolah, tak pernah membentuk manusia sehat secara akal.

Makan hanya sarana kunyah fana,

masuk ke mulut, melewati tenggorokan, terhenti di lambung. 

Menjadi ampas dan berakhir di jamban.

Mengapa ada makan gratis di sekolah?

Apakah tak ada sarapan gratis di rumah, yang ditanak ibu atau nenek?

Ah, janji kampanye harus tuntas,

Makan gratis harus ada. 

Angka-angka dibikin, dari harga telur

hingga kangkung.

Siapa yang diuntungkan? Perut atau 

katering?

Padahal, untuk menghentikan lapar, 

manusia mesti digerakkan.

Pikiran dijernihkan dari janji, dan otot

diberi alat untuk menggerakkan mesin.

Industri pertanian mesti dipacu,

produksi pangan wajib swasembada.

Pabrik-pabrik tidak digencet oleh 

pajak yang selangit. Dan para buruh

menerima upah yang setimpal.

Makan gizi gratis.

Berada ditengah-tengah: ambisius, janji dan merendahkan marwah manusia.

               Taman Gunter, 15 Januari 2025



DAHTA GAUTAMA. Lahir di Hajimena, Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Menekuni sastra sejak tahun 1990. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal dan nasional, antaranya: Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Koran Tempo, Lampung Post, Sumatera Post, Lampung Ekspres, dll.

Buku puisi tunggalnya: Ular Kuning (2011) dan Manusia Lain (2013). Puisi-puisinya tergabung sedikitnya dalam 42 buku Antologi Bersama. 

Puisinya yang berjudul: Khimaci di Showa Kinen, masuk dalam 100 Puisi Terbaik 2008 versi Pena Kencana Award (Gramedia Pustaka) dan menerima Anugerah Sastra Pena Kencana Award 2008 peringkat 2.

Kini bekerja sebagai advokat di Kantor Hukum DG&Partners. Pernah menjabat Pemimpin Redaksi Dinamika News (2006 - 2012), Direktur NGO Badan Logistik Informasi (2008 - 2018), Redaktur Pelaksana Majalah Demokratis (2002 - 2006) dan Reporter Antv (1995 - 1998).








(016)

MENUNGGU WAKTU

Iqbal Kurniawan


Ketika pikuranku mulai riuh dengan gaung suara dan tingkah lakumu. 

Jangankan makanan bergizi, bahkan hidangan sederhana tak lagi bisa ku santap saat pagi hari.

Waktu kian berlalu, kalimat dan janji yang kau lontarkan layaknya nada. 

Kini tak seperti melodi ataupun majas di sebuah aksara.

Tetapi apakah bibir itu menepati janjimu? 

Layaknya sebuah angan di langit senja, atau ribuan bintang di tengah malam. 

Dimana cinta saat duniaku terasa hampa?.

Kata-katamu, menari di dalam metafora yang indah. 

Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu?

Perihal langit renjana, membumi cinta, dan angkara.

Aku bertanya pada angin, dan daun-daun gugur di musim tak menentu. 

Apakah kau masih ingin melihat tulisan tanganku?.

Disela puing-puing mimpi, aku merenungi, tentang cinta tak sekedar kata. 

wahai tanah yang ku pijak, aku disini menunggu. 

Menunggu waktu yang menumbuhkan harap.

Bahkan tak pernah aku ingin menyerah pada delusi. 

Sebab ada angan yang ingin kita jadikan nyata.

lampung, 15 Januari 2025









Iqbal Kurniawan, Lahir: 14 September 2000

Penulis lahir di desa bandar agung, kecamatan terusan nunyai, pada taun 14 September 2000, lampung tengah

Pekerjaan: Penulis dan host di room puisi, di beberapa aplikasi live voice

Aktivitas : aktif di room live voice puisi dan sedang merambah di dunia literasi, aktif juga di rumah literasi






























(017)

MAKAN GRATIS,

Tarni Kasanpawiro



Memang terdengar manis

Tapi bikin orangtua meringis 

Yang tahu kesukaan anaknya hanya ibu

Meskipun ceplok telor dan kangkung ditumis

Asal ibunya yang masak akan disikat habis 

Mending dikaji ulang hindari kecurangan 

Dari pada program yang terlihat cemerlang

Dijadikan ajang mencari keuntungan 

Hanya menguntungkan segelintir orang

Menciptakan banyak kemungkinan

Bekasi, 16 Januari 2024









 


Tarni Kasanpawiro


















 




(018)

LEZATNYA MASAKAN EMAK,

Puspasari



Pagi ini ada rasa yang berbeda ketika emak membangunkan ku 

Aku beranjak ke kamar mandi membawa handukku yang sudah sedikit usang 

Dengan bersenandung kecil , aku mandi dan menggosok gigi 

Selepas solat subuh , aku sarapan nasi  dengan lauk ikan dan sayur kangkung 

Makanan sederhana di desaku yang disediakan emak untuk kami sarapan 

Lantas aku melangkah ke sekolah bersama teman-teman 

Kami berbincang dengan riang " kawan ini hari pertama kita akan mendapatkan makan siang gratis "

Terbayang lezatnya makan gratis yang bergizi di sekolah nanti 

Oh....betapa kami ingin menikmati makan lezat bergizi seperti orang-orang kaya di kota 

Yang sering kami lihat di televisi .

Waktu belajar terasa sangat lambat , namun akhirnya jam makan siang pun tiba 

Ibu guru dengan senyuman yang sangat cantik membagikan kotak- kotak yang berisi makanan 

Aku menatap makanan yang diberikan ibu guru

Ada nasi , sepotong tahu , telur rebus, sayur buncis , dan buah pisang , juga susu kotak 

Aku tersenyum , inikah yang disebut makanan bergizi 

Ah....aku tidak suka sayur buncis 

Aku tersenyum,  emakku lebih pandai memasak sayur kangkung 

Emak juga sering memasak tahu dan juga menggoreng telur ayam peliharaan bapak 

Atau terkadang memasak ikan dari Empang di belakang rumah 

Buah pisang yang ditanam bapak juga lebih ranum 

Makanan bergizi yang kulihat di televisi seketika buyar dari bayangan ku 

Ketika aku kembali menatap makanan gratisku siang ini 

Aku berdiri dan hanya mengambil susu kotak lalu keluar dari ruang kelas 

Tanpa memperdulikan tatapan teman- temanku 

Ah...aku ingin cepat pulang dan menikmati lezatnya makanan yang dibikin emak   

Sawangan Depok, 16 Januari 2025 























Puspasari adalah nama pena dari Ita Puspasari, SE 

Lahir dan besar di Semarang tgl 15 juli 

Menyelesaikan pendidikan di kota lumpia 

Menulis adalah hobby yang dilakukan sejak SMP.

Tulisan nya mengisi Mading dan beberapa media lokal 

Kini disela kesibukan sebagai seorang wirausaha mengisi waktu luang dengan menulis , bergabung dengan beberapa grup sastra.

Membukukan karya nya dalam , buku tunggal , kumpul cerpen, antologi bersama, antologi tandem dan antologi kolaborasi.

Tinggal di Semarang . Menulis bagi Puspasari adalah salah satu terapi untuk melawan alzheimer

 














(019) 

ANAK BANGSA SEHAT NEGARA PUN KUAT,

IZ Anwar


Geliat negeriku seumpama orang baru bangun tidur

Gerakannya gemulai patah-patah 

Meliuk sambil tengok kanan kiri

Inilah masa kepemimpinan baru

Bebenah dari masa lalu

Gebrakan pertama mulai dijalankan

Di tengah terpuruknya ekonomi rakyat jelata

Tenggelam dalam pajak menghimpit

Daya beli tak bisa didongkrak

Agar tetap sejahtera

Makan bergizi gratis bergulir

Meski belum merata ke seluruh wilayah

Tak pandang bulu kamu siapa

Kaulah anak bangsa 

Menjadi sasaran utama

Berharap anak-anak merdeka

Tumbuh kembang tanpa kendala

Yang di sana mencemooh

Sebab menu tak sesuai ekspektasi 

Ada yang salah?

Apakah tangan kotor koruptor

Turut memangkas anggaran

Hingga menu makan terkesan apa adanya 

Tak mengundang selera

Jangan begitu

Jika benar akibat ulah koruptor

Dia hanya oknum

Mencari kesempatan di dalam kesempitan 

Menuai untung tanpa berpikir keberkahan 

Jadi, biarkan saja

Dia akan memetik hasilnya kelak

Banyak anak-anak 

Harus diselamatkan gizinya

Jika program makan bergizi gratis 

Berjalan sesuai aturannya 

Tentu harapan itu semakin mekar

Anak-anak negeri bersyukur tak terperi

Bagai secercah cahaya 

Terbit dari timur

Memberi kehangatan 

Harapan bagi rakyat jelata

Selalu ada senyum

Menghias wajah berseri

Tak perlu debat dan nyinyir

Suara-suara bersipongang

Membelah kota dan desa

Bermacam menu viral di jagat maya

Sesuatu yang baik harus kita dukung

Percayalah 

Program makan bergizi gratis

Adalah upaya

Membangun sumber daya manusia Indonesia

Anak bangsa sehat

Negara kuat

*Selatan Jakarta 15 Januari 2025*














IZ Anwar , adalah nama pena dari Sunaenah Anwar, salah seorang pengurus Yayasan Bina perempuan Mulia. Cirebon tempat dia dilahirkan pada tahun 1961, tetapi tumbuh besar di Jakarta yang menjadi domisilinya hingga sekarang. Menulis adalah hobi dan mulai serius pada dunia literasi sejak 2019. Ada karya solo yang sudah diterbitkan yaitu 3 buku novelet yang berjudul "Selalu Ada Jalan", "Hanya Ada Rindu" dan "Terminal Terakhir". Aktif juga pada event nulis bareng berupa antologi puisi dan cerpen, dan sudah mencapai 30 buku*.



















 (020) 

Dari Tanah Kami ke Perut Anak-anak Kami,

Diana Rustam


Di tanah kami tumbuh padi yang benihnya disemai pak tani

Setiap masa tiba malainya menguning merunduk laksana si bijak tua

Bulir-bulirnya penuh berisi. putih. dan ditanak menjadi nasi

Buahbuah ranum bertengger di tangkaitangkai pohon setiap jengkal kebun dalam bedengbedeng yang panjang

Di tanah kami musim tidak pernah khianat: panas hujan panen tetap ada silih berganti dari penjurupenjuru pulau

Di laut kami ikanikan berenang bercengkerama di terumbu karang

Pak nelayan turun pagipagi dan ikanikan terjera pukat. dipikul dalam keranjangkeranjang bambu sepanjang pasir pantai 

Digoreng dipanggang di atas api tungku para ibu

Ayam bebek sapi kambing berkawan di kandang peternak

Turun dua tumbuh empat. turun empat tumbuh delapan. turun delapan tumbuh enam belas

Susu murni yang segar rasanya mengalir dari perut sapi. daging empuk gemuk dipupuk rumputrumput hijau liar tepi hutan di pekarangan di pinggir jalan

Telur-telur hangat dierami induk yang khusyuk duduk menganggukangguk setengah mengantuk

Oo, alangkah membanggakannya apabila dari tanah kami yang hidup yang tumbuh yang dirawat ditimangtimang rakyat sendiri masuk dalam piringpiring sarapan pagi anakanak negeri

Oo, alangkah membahagiakannya andai jerih payah itu dari bulir keringat yang menetes di tanah kami. bukan tanah asing yang jauh di sana

Oo, betapa melegakannya di mejameja sekolah tidak ada tagihan untuk bapak ibu di rumah

**Makassar, 16 Januari 2025.**






Diana Rustam tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerita pendek dan puisinya telah dimuat di media-media online.*



















 (021) 

Jeritan tangis : anak pelosok terpencil,

Annisa


 Teruntuk puan dan tuan yang duduk di sana  di atas kursi empuk engkau bersandar ! 

 Apakah engkau mendengar jeritan kami 

 Anak pelosok dan terpencil di sudut negeri indonesia ini 

Yang telah di janjikan makanan bergizi yang katanya gratis yang tak kunjung ada tanda-tanda akan menampakkan dirinya 

Lantas bagaimana dengan kami yang terpencil yang hidup di tanah kuning , jalan tidak rata dan berlumpur ini 

Apaka kami boleh mendapatkannya juga? 

Siapa kah yang akan bercerita tentang derita kami? 

Teruntuk puan dan puan di sana

Apakah kami  jga berhak mendapatkannya 

Dimanakah janji manis yang pernah ada? 

Dimanakah hak kami? 

Dimanakah keadilan bagi kami? 

Kami juga anak bangsa , anak negeri indonesia

Tapi mengapa makanan bergizi itu belum 

Kunjung dan menampakkan diri

Mengapa hanya angan angan semata

Janji kampanye harus tuntas

Makanan gratis yang katanya ada kerap tak kunjung juga 

Padahal kami juga berhak mendapatkannya 

Kami juga berhak menerima makanan  itu yang katanya gratis 

Hufffff .......... 

Janji kampanye yang tidak pernah jadi kenyataan 

Berantas KORUPSI hanyalah sebatas slogan semata


ANNISA 

SULAWESI BARAT*


 

































(022) 

BERBUTIR NASI MENANGIS Oleh :

Gunadi Yusuf Soenhadji

Berbutir nasi

menunggu pagi

kecemasan tampak dari ronanya

semalam ia merenung sendiri

Esok sepertinya aku banyak yang terbuang sia-sia...gumannya,

teronggok dan membusuk di tong sampah

Aku sangat faham, anak-anak sekarang berbeda selera makan

masakan ibu menjadi pilihan nomor satu

dan jenis lauk-pauk amat menentukan tentang lahapnya

Ya....slogannya sich, sangat manis

makan siang bergizi gratis

tapi apa daya anggaran masih menipis

tinggal aku ditemani lauk seadanya ditambah pisang dan sayur tumis

Berbutir nasi akhirnya menangis

benar dugaanku...rintihnya,

aku banyak tersisa 

entah sampai hari, bulan dan tahun yang ke berapa

Makan siang bergizi gratis

proyek masal diawali dari

subsidi sana subsidi sini

bantuan perusahaan anu dan dari sianu

seremonialnya gegap gempita

aparat dan polisi pun datang mengawasi

yang tengah makan diwawancarai karena akan tayang di telivisi

Makan siang bergizi gratis

ternyata bikin banyak orang menangis

pemilik dan karyawan kantin tinggal meringis

jajanan dan aneka makanan tak kunjung habis

*Kudus, 16 Januari 2025*

Gunadi Yusuf Soenhadji Asal kota : Kudus, Jawa tengah  Domisili : Jl.KH. Noorhadi 43 Kudus Jateng

Kontak WA : 081325696697 Menempuh Jalur pendidikan IKIP Negeri Semarang dan Pasca Sarjana Manajemen SDM Kegiatan sehari-hari mengelola galeri karya seni Kayu dan barang-barang antik, Instruktur Achievement Motivation Training di lingkungan Pemda Kab Kudus

Aktivitas kepenulisan dilakukan karena hobi tentang sastra, dan aktif di kajian tasawuf. Karya puisi lebih banyak bersifat pribadi dan  ada beverapa yang memenuhi di beranda facebook

Beberapa antologi bersama yang pernah diikuti Antologi puisi religi II Sang Musafir, Antologi Puisi Religi III Mata hati, antologi bersama pusai 2023,  100 tahun Penyair Choiril Anwar, antologi panjat pinang akhirnya aku pun bisa,  antologi kumpulan puisi penyair Indonesia  Melihat Indonesia masa kini, antologi bersama Democrazy, antologi bersama Merdeka Puisi*










(023) 

JANTURAN PINGGIR KALI,

S. Ratman Suras


hung,  kala sungsang meradang

ubun-ubun terbakar siang yang garang

matahari sepenuh lingkaran

pecah dicucuk gagak rimang

terjadi wolak-walik zaman

anak-anak lapar main petak umpet

wajah layu daun lumbu

nabuh kecrekan nadah recehan

di simpang empat metro yang sumuk

digaruk satu pleton petugas gabungan

 tamu negara akan lewat mau ngasih utang

hung, aku lapar. teriak mereka

gizi buruk, kali busuk, cermin terkutuk

tak bisa lagi bernyanyi husale kriuk-kriuk

seperti anak-anak robicon

lahir dari ledakan mercon

laparku lapar beneran

segenggam nasi uduk sambel teri

rajangan  kangkung sedikit zat besi

masuk perut jadi otak untuk saling membenci

hung, kau telah kenyang 

aku tak bisa makan bangku sekolah 

tak usah ditakar-takar makin parah

kau di langit penuh fantasi 

aku di bumi pinggir kali basi

sungsang pada comberan kelam

bersama tikus kota yang gemuk dan kotor

sedang dirimu anak penggede 

yang bisa mainkan angka-angka gaple

di laci meja kaum birokrat culas

dari luar nampak alim pake lobe 

hung, aku lapar kau kenyang

laparku burung kulik terbang mendelik

melihat kali dan laut selalu berdarah

kali digaruk, laut dikeruk

semua serba misterius bagai badut

sembunyi dibalik topeng-topeng lucu

lihatlah, teman-teman senasibku

teronggok terduduk di lantai kelas

hanya karena nunggak spp tiga bulan

tak boleh duduk di kursi sekolah

semua kelas cuma ngejar rupiah

bocah gerobak yang pernah gempar

mengurus ayahnya yang tepar

sambil memunguti sampah-sampah

kota yang makin serakah

hung, di mana raja diraja yang bijaksana

tak hanya dagelan konyol

kartu-kartu gratis bagai mimis

untuk membidik agar jidat-jidat tetap klimis

setiap agenda buat bancakan

aku dan kawan-kawan senasib tak kebagian

hung, dari tepian kali yang busuk

aku tak bisa lagi bercermin

gunung, kali, ular dan lapar

gunung merindukan hujan

kali melingkari ular

ular meliuk memagar laut

laparku grojogan sewu

laparmu laut yang kehilangan rasa

hantu dimakan setan brekasan

wajahku belepotan dan hilang

wajahmu gentayangan jadi cenayang

hung, wautha laparku lapar bayang-bayang 

cuma hidup di negeri wayang

usai puisi ini, ke mana singgah

cerita sang dalang?

Tanjung Anom, 170125

S. Ratman Suras,  kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 08-10-1965. Mengeluti dunia puisi belajar ala otodidak. Gugur-Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) antologi puisi tunggalnya. Kini tinggsl di Jl. Sosial No. 659 Dsn III, Tanjung Anom, Deliserdang, Sumatra-Utara.*

 Published by Literanesia — 18 Jan 2025























(024) 

Syukur akan nikmatnya,

Metaria


Tetes tetes air mata

Menyambut sebutir nasi 

Dan lauknya 

Ada rasa terharu,dan bahagia

Ingin berteriak sejauh mungkin

Meneriakkan rasa syukur

Syukur kepadamu sang pemberi nikmat

Dan terimahkasih kepadamu hamba Allah 

Karenamu uluran tanganmu...

Perut kami yang sering melilit kelaparan 

Kini terisi penuh

Ibu bapa kami tak lagi risau

Memikirkan jajan kami sehari harinya

Adanya uluran tanganmu menjadikan

Kami lebih giat belajar

Terimahkasih.....

Hamba. Allah hadirmu memberi semangat baru....

        Makanan bergizi gratis mu

Membawa kebahagiaan untuk kami 

Kalangan bawah



Nama Metaria, Nama panggilan mom treis

Asal  kebanga sulawesi barat indonesia

Lahir 9 november 2000***








 (025) 

Dapurku,

Kakashi Nurullah


Pada sebilik dapurku yang sunyi

Aku tertegun memandang butir-butir nasi

Melamun dalam ceremai suapan jari-jari 

Pembuka waktu pemimpin yang katanya berdikari

Bapak, makan bergizi gratismu hari ini

Dengan nasi petanimukah atau uluran luar negeri?

Akankah menjadi tenaga kami?

Atau hanya pemanis pahitnya nestapa negeri?

Aku aduk periukku yang telah kelabu

Ku tuangkan harapan dalam setiap lauk paukku

Nasi gratismu yang bergizi dan bermutu

Mengapa lebih nikmat nasi dan terasi di dapurku

Ohhh, Dapurku

Mulai saat ini engkau kutinggalkan

Begitu pun dapur negeriku yang sudah karatan

Mengejar jatah makan gratisan

Mungkin saja jadi penyebab kemakmuran

Mungkin saja,..ya, mungkin saja kan?

*Kangean, 17 Januari 2025*

**

*Kakashi Nurullah,** Lahir di Kangean Sumenep Madura. Sangat mengagumi karya sastra dan terus berusaha mempelajari sastra










(026) 

MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN,

Eko Tunas


Kebersamaan adalah keindahan katamu

Di taman kala resah atau di sekolah saat istirah

Apakah makan bersama adalah bukti keindahan

Anak-anak berseragam nusantara

Juga bapak-ibu guru tercinta

Di bahasa ibu atau negeri -- bahwa kita punya Presiden.

Kebersamaan adalah kebahagiaan katamu

Di ruang bermain atau di kelas belajar 

Adakah makan siang gratis tanda kebahagiaan

Anak-anak berbaris menyanyikan lagu kebangsaan 

Juga bapak-ibu guru yang mulia

Di hari dan bulan berganti -- bahwa kita punya waktu.

Kebersamaan adalah kehormatan katamu

Di tanah air atau di buku-buku pelajaran

Akankah makan siang gratis satu kehormatan

Anak-anak bercita-cita setinggi matahari

Juga bapak-ibu guru pertiwi sejati

Di tahun-tahun yang datang -- bahwa kita punya kehormatan

Kebersamaan

Keindahan

Kebahagiaan

Dan makan bergizi gratis 

Adalah penanda bahwa kita bukan bangsa miskin papa hina dina

Di mata dunia kita punya kehormatan 

Tak tergadaikan -- bahwa kita manusia Indonesia.


Semarang 15 Januari 2025




Eko Tunas (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956; umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang. Ratusan tulisan (puisi, cerpen, novel, dan esai) tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat (John dan Jack Pergi dari Tegal, Joshua Igho, Kompas Cetak, 25 September 2002)

Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.

Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Buku-buku karyanya yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (kumpulan puisi, 2000), Ponsel di Atas Bantal (kumpulan puisi, 2010), dan Tunas (kumpulan cerpen, CresindoPress, 2013).

Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Kota Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Sering kali diundang sebagai juri/pembicara dalam kompetisi/diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa. Karya Karya :

Wayang Kertas (novel, 1990)

Bidadari Sigarasa (cerpen 2002)

Puisi Dolanan (1978)

Yang Terhormat Rakyat (puisi, 2000)

Ponsel di Atas Bantal (puisi, 2010)

Tunas (cerpen, CresindO Press, 2013)


Martoloyo Martopuro

Ronggeng Keramat

Menunggu Tuyul

Gerbong

Sang Koruptor

Langit Berkarat

Rumah Tak Berpintu

Palu Waktu

Surat dari Tanah Kelahiran

Meniti Buih

Pasar Kobar























(027) 

Utopia Si Jelata,

Wardjito Soeharso


Jangan pernah mengikuti naluri maling 

Dialah sumber utama masalah keruwetan hidup Si Jelata.

Seburuk-buruk manusia adalah yang tega mencuri kata-katanya sendiri. 

Di tanah lapang

Ada banyak orang

Beramai-ramai meniup matahari

Dengan mulutnya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanyaku

"Kami ingin mematikan cahaya matahari." Jawab mereka

Aku hanya geleng-geleng kepala

"Siapakah kalian ini?" Tanyaku lagi

"Kami adalah Pecinta Malam!" Jawab mereka

Mereka menggumam

: "Terang adalah ancaman!"

Aku tersenyum

: "Gelap hanyalah ketidak tahuan."

Kulihat mereka terus saja

Meniup matahari dengan mulutnya

Di bawah komando Si Pembenci Terang

Pohon-pohon wajah

Menunggu saatnya berbuah

Benarkah besok panen dengan sumringah?

Aku mendongak!

Matahari meredup tersaput awan

Tiba-tiba saja rasa rindu menyengat ingatan

Menggelitik harapan dan impian masa depan

Bagai aroma tempe hangat sedang terhidang

Menggoda merayu mengusik puncak selera

Terbang melayang terus mengendus 

Mencari sumber bau bawang merah mentah

Yang sempat terlewatkan setelah lima puluh tahun berkelana

Menyeruak kembali menyusun kenangan 

Mesti kembali tertata nyata di meja makan

Utopia Si Jelata?

Jangan mudah terbuai janji

Tak kan pernah ada itu dalam catatan memori

Makan siang gratis kok bernilai lengkap gizi 

Ah, entahlah!


Wardjito Soeharso

























 (028) 

MENS SANA IN CORPORE SANO

Arya Setra


Hiruk pikuk

Riuh gemuruh

Menyambut uluran asupan untuk anak didik seluruh negeri

Test ombak awal tahun

Menimbulkan berbagai macam  opini

Atas situasi yang  terjadi

Sementara kantin kantin sepi

Tukang pikulan menanti harapan

Sepeser uang jajan yang di belanjakan

Semoga semua ini

Bukan sekedar menunaikan

Khotbah Janji 

Saat menarik simpati di panggung konstitusi

Untuk membangun generasi sehat dan bergizi

Mens sana in corpore sano

Jangan sampai programnya kesana

Dana nya lari kesono....


*Arya Setra, Jakarta 18 Januari 2025*


Arya Setra











(029) 

MENYALAKAN SOLIDARITAS,

Moel Soenarko


100 hari dikegelapan penantian 

Di kesenyapan dan kebimbangan

Cahaya harapan menerangi kenyataan Mengenali suara semangat ketulusan kegigihan dan kegigihan

Mengajak, merangkul memulihkan kepercayaan 'tuk pembuktian

Program Makan Bergizi Gratis pada anak

Menghasilkan generasi unggul  anak bangsa bermartabat

Ibarat cahaya mercusuar di kejauhan

Menuntun langkah melawan arus menuju muara pengakuan

Meraih kompas janji  jadi kenyataan

Kelangsungan kehidupan bangsa  sejahtera dan berkeadilan.


















Moel Soenarko 

( nama kecilnya Rr Sri Moeljaningsih ), lahir di Banjarmasin Kal-Sel ) tanggal 29 Maret 1941.

Alamat: Rumah Seni Moel Soenarko

Pondok Hijau Indah, jl Rafflesia No 12

Ciwaruga - Bandung ( 40559 )

Motto : "Dengan Menulis, merawat jalan menuju  sinar kebajikan kehidupan."*

 



















(030) 

Jangan Nak, jangan,

Maya Ofifa Kristianti


Sayur tumis

dan sepotong ikan 

ditambah susu kotak berharga ekonomis 

entah sampai kapan program ini tersampaikan

akankah merata di pelosok nusantara

atau hanya ada di ibukota dan 

di desa masih sekedar wacana

Makan bergizi gratis 

membuat hati miris

juga menangis

banyak nasi dan sayur tak termakan habis 

terbuang 

tak selera 

rasa hambar

enak masakan bunda

Ahhh anak jaman sekarang 

lebih gampang membuang

sayang

Nak, lihatlah

para petinggi negara

sudah berupaya

agar kalian  terjaga 

kesehatan dan gizinya

jangan kau sia siakan 

kebaikannya

jangan

*Kalialang baru 18 Januari 2025*







Maya Ofifa, lahir 46 tahun yang lalu di Semarang. 

senang membaca puisi, juga beberapa kali bergabung di antologi puisi dan gurit bersama kawan kawan. Saat ini menggeluti dunia pranatacara.

*



















 (031) 

MAKAN GRATIS NIKMAT SEKEJAP,

Mustiar Ar


Makan gratis, nikmat tak terhingga,

Tapi siapa bayar, tidak jelas.

Nasi goreng semua gratis

Sambalnya mahal,

Harga demokrasi tak terbayar.

Di kota orang makan di cafe mewah 

Rakyat di suguhi makanan gratis,

Rakyat miskin semakin terjepit 

Program politik digulirkan

Atau kebaikan hati sekejap 

Makanan gratis

Tapi korupsi merajalela.

Makan gratis, bukan senang sementara 

Surutlah ke belakang

Ada yang menderita.

Berbagi itu indah

Tapi jangan salah, makan gratis

Bukanlah solusi


*19 Januari 2025*

 












 (032) 

DI BALIK PIRING SEBUAH REALITA,

Drajat Adi Cahyon0


Sinar mentari pagi menyapa di sekolah

Meja panjang penuh piring warna-warni menggoda

Nasi putih, sayur hijau, sekerat daging yang menggiurkan

Gizi gratis: impian nyata, atau hanya ilusi yang dijual pemerintah?

Anak-anak sekolah berlari dengan riang

Sendok di tangan, dunia dalam gigitan

Mereka mengejar mimpi di balik piring

Di aula yang menjadi hutan magis penuh rahasia

Guru-guru dengan senyum penuh kasih

Mengajarkan kebijaksanaan di setiap suapan

Bahwa makanan ini lebih dari sekadar nutrisi

Adalah tanda cinta langit yang tak terputus

Sementara di luar, masyarakat terpecah belah

Pro dan kontra, debat sengit tak pernah jeda

Ada yang melihat berkah, ada yang mencipta fitnah

Namun jiwa yang tenang tak goyah oleh bisikan

Setiap gigitan adalah langkah menuju kedekatan

Dengan Sang Pencipta dalam rahmat tersembunyi

Menyerap hikmah di balik setiap butir-butir nasi

Mencari makna yang tulus dalam kesederhanaan

Sindiran menyelip dalam obrolan malam

Di media sosial maupun di meja makan

"Makan gratis? Siapa yang bayar?" tanya mereka

Seakan uang turun dari langit tanpa penghabisan

Tapi di hati anak-anak hanya rasa syukur yang ada

Setiap sendok nasi adalah janji masa depan cerah

Pro dan kontra jadi latar belakang yang sunyi

Ketika mereka duduk, makan, dan bermimpi

*Salatiga, 20 Januari 2025*


Drajat Adi Cahyono lahir pada tanggal 17 November di Jakarta. Suka menulis puisi sebagai terapi hati ketika lupa berdzikir dan khilaf mengeja kalam ilahi di umur yang tersisa.

 
























 (033) 

Sebutir Harapan,

IGN Oka Putra


Di saat engkau mengatakan kebijakanmu

Di saat itu pula muncul harapan baru

Kala negara carut marut mengurus keegoisan

Kala senja di atas awan ketidakpastian

Di situ engkau datang bak pahlawan

Dengan gagahnya engkau mengatakan bahwa anak adalah harapan bangsa

Dengan mata yang membara mengisyaratkan kesungguhanmu

Sebagai pemimpin patut ku gugu dan tiru

Kebijakanmu merupakan senyum kebahagian semua murid

Wajah lugu, lucu mereka dengan polos mengisyaratkan ketulusan hati

Senyum itu merupakan balasan atas kebijakan engkau buat yang dimana mereka dapat merasakan nikmat

Semoga engkau sehat selalu

Terimakasih atas pelaksanaan kebijakan yang dulu aku pikir hanya jargonmu

*MALANG, 20 JANUARI 2025*


IGN Oka Putra** lahir  34 tahun silam di Surabaya. Awal tertarik menulis karena ajakan teman hingga akhirnya menjadi salah satu hobi  sekaligus untuk mengekspresikan perasaan dan hati

*

 






(034) 

Batalkan Saja,

Edi ustama Saragih


Sebagian lain menyelesaikan kata

Sementara ada yg terlunta

Mengharap dengan amat sangat

Nun di singgasana sang raja merealisasikan khayalnya

Batalkan saja.... 

Masih uji coba sudah pro kontra

Anank anak yg ingin makanan sehat

Relawan yg menyelam mencari hikmat

Sementara sampah sisa makanan menumpuk stiap hari

Lalu tikus menariknya pelan.... 

Berlahan

Dan  menumpuknya di gorong gorong

Di balik dinding

Dibalik hati yg kering

Batalkan saja..... 

Mengakui dengan bijaksana

Bahwa perjalanan ini tidak sederhana

Sebab waktu tak mau menunggu

Dumai 19012026














Aih Tene Nama asli** Edi ustama Saragih**

Lahir 15 02 70 sekolah SPG tapi gak pernah jadi guru. Bikin puisi amatir*

































 (035) 

BISINGNYA MBG,

Fath WS


Genderang MBG bertalu

sesiapa merapat 

menahan gunggam

solusi atau mimpi

Berjuta mulut komat kamit, menanti ketidakpastian

yang kurus tetap kurus

yang tambun kian ceking

lalu kapan menyesap ilmu tanpa kebayang sekepal nasi yang belum disantap

Hah ribut lagi, 

Mana susu, buah dan daging

dan di sudut sana, beberapa harus melunaskan dengan muntah dan diare

Dan di TV hilir mudik menu menjadi berita utama, 

kesalahan kirim, hitung pun menjadi biasa

sampai kapan?


*Lembah Tidar, 20 Januari 2025*

 Published by Literanesia — 21 Jan 2025

 

Fath WS




















(036) 

SAYA LAPAR JENDRAL,

Agil Teguh S


Wooooe jendral saya lapar

Anak anak saya lapar

Para petani,pekebun,pekerja kasar pun lapar

Kamu hanya petantang petenteng

Sibuk dengan literasimu

Wooooe jendral sudah kau uruskah 

Perut penimba ilmu itu

Komposisi gizi tanpa biaya

Apakah itu benar jendral?

Lihat saudaraku yang dipapua makan dengan lahapnya

Lihat saudaraku yang dijakarta masih ada lauk sisa sia sia

Sungguh jendral,aku sudah muram dengan semua ini

Aku murka, tapi jendral aku lemah.

Aku cinta negeri ini

Tolonglah jendral urus kebijakanmu

Tentang makan

Tentang gizi

Jangan lukai mereka,jangan buat mereka menangis hanya karena embel embel gratis.

*Sidoarjo,21 januari 2025*













 (037) 

TENTANG MAKAN SIANG BERGIZI, LAGI GRATIS ITU, 

BH. Riyanto


Di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.

Murid-murid harus menikmatinya. Tepat di siang hari; yang di mana isi perut mereka mulai dipenuhi angin dan angan semata.

Murid-murid wajib merasakan; bahwa makan siang bergizi itu bukanlah kisah asing dan hoax yang semakin membasi.

Maka murid-murid wajib mengerti seutuhnya; bahwa makan siang bergizi itu adalah mengenyangkan, dan bukan sebatas bisa dibayangkan. Bahwa makan siang bergizi itu adalah menguatkan urat-otot, dan bukan melemahkan syaraf-otak.

Bahwa makan siang bergizi (lagi gratis itu) adalah program serius presiden kini; biar para murid Indonesia lebih tampak terurus dan tidak kurus.

Ya, di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.

Dan sambelnya?

Dan aduhai sambelnya; adalah kombinasi pedasnya semangat perjuangan dan (mungkin ambisi); yang menyala-nyala!

*(Pamekasan, 2025)*


 


BH. Riyanto




















(038) 

LAHAP,

Mustofakhilmi


Dari tetesan hujan 

jatuh ke muka bumi

Nusantara terasa hijau

menyala kehijau subur

tanda tanam siap ditandur

menyemai bibit untuk ditata

teriring doa agar sehat seraya

telah tertanam semakin mapan

bertanam tak berilah macam

dahan tanaman semakin senang

berbuah hasil siap disajikan

menanti panen lama penantian

masak sendiri tak terkirakan

tak tergoda ujaran pecundang

cinta lahan cinta hasil tanaman

sajian mulai tertata di depan

perlahan hati siap santapan

Lahap harap jadi pikiran

Lahap jadi kenyataan

Lahap dalam kemandirian

Lahap nyata adanya


*Gust Must KW Lamatigjur, 090125*


 


Mustofakhilmi



















 (039) 

MAKAN SIANG DI SEKOLAH,

Rodiyatun


Pemimpin baru, kebijakan baru

Wacana di mana-mana

Anak sekolah dapat makan siang gratis

Mungkinkah realita sesuai rencana? 

Terpikir di benakku


Siswa-siswi jumlahnya ribuan

Butuh dapur yang luas, perabotan yang besar

Kerja yang dikejar waktu

Sebab distribusi ke berbagai lokasi

Dengan geografis yang medannya beragam


Mungkinkah sampai di lokasi

Makanan bergizi masih fress, hangat & nikmat untuk dikonsumsi? 

Harapanku, semoga saja

Janganlah sampai di lokasi

Makanan hampir basi


Karena disiapkan sejak dini hari

Ditutup ketika asap masih mengepul

Yang ada, malah timbul masalah lagi

*Pracimantoro, 22 Januari 2025.*


**Rodiyatun** , *guru SD. 

Senang menulis sejak masih sekolah SPG. 

Namun, terkendala peralatan, sekarang, mulai lagi mencoba menulis di berbagai lomba, nulis cerpen maupun puisi di medsos.

*

 


(040) 

Apa Kabar Makan Siang Gratis,

Rosyidi Aryadi



Anggaran membengkak, semua terasa menjadi benar padahal belum tentu suka selera dengan biaya 1 porsi cuma murah meriah maklum di kepala cuma gratis mau makan enak segala.

Inilah gaya hidup para penabuh gerak pematik rasa pada mimpi nyata, jangan paksakan cuma pencitraan memicu perubahan persinggahan 5 tahun cerita anak negeri.

Banyak sekolah tak layak, anak bekerja banting tulang untuk bayar pendidikan yang makin terbang tinggi di cakrawala.

Bergabunglah membaca nyanyian semesta sambil menarikan tarian letih sebatas bulan purnama sambil menabuh genderang keberagaman budaya bangsaku.

Teruslah menabuh keserasian sebab menyeragamkan diri sendiri lebih baik dari pada seragam atasan para pejabat korup.

Tinggalkan budaya malu dalam memerankan karakter seribu wajah luka pada cermin terbelah dua.

Apalah arti sebuah nama kalau memanjakan para pengikut sembari tersenyum malu.











Rosyidi Aryadi kelahiran Banjarmasin, 22 Juli 1956 beberapa kumpulan puisi bersama dalam antologi puisi, penerima Lencana Anugrah 30 Tahun Kesetiaan Setya Sastra Nagari Tahun 2021 dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Penerima Piagam Penghargaan dari LPP RRI Palangka Raya Tahun 2023, Penerima Piagam Penghargaan dari TBM Kalimantan Tengah.

Tinggal di Jl Temenggung Tilung Menteng 17 No 35 RT 02 RW 08 Kel Menteng Kec Jekan Raya, Palangka Raya 73112 Kalimantan Tengah, Wa 081346050064*

 















 (041) 

KEHIDUPAN DAN KESERAKAHAN,

Khalid Alrasyid


Melalui makan bergizi, pemerintah ingin anak-anak berselebrasi, mengurai distraksi juga fluktuasi diri

hari-hari bahagia, kenyangkan perut, sehatkan badan, karena makan bergizi adalah susu ibu yang mengenyangkan jiwa. Namun, di balik layar, korupsi mengintai, menghancurkan harapan, meracuni kepercayaan.

Tangan-tangan kotor, mengambil untuk diri, meninggalkan rakyat, dalam kekurangan, makanan bergizi menjadi komoditas, dengan harga kepentingan pribadi.

Korupsi merajalela, menjadi penyakit kronis, menghancurkan sistem pangan berkelanjutan bagi kelompok yang membutuhkan, pun kelompok rentan.

jika saja 271 triliun dibagi rata,maka 53 juta pelajar Indonesia penuh dengan gizi yang nyata, empat sehat lima sempurna bukan bayang- bayang saja, seperti kulacino di meja-meja, lalu mengembun, dalam perut yang tambun.


Kemlagi, 22 Januari 2024












Khalid Alrasyid seorang Serdadu Laut  kelahiran Pamekasan Madura, menetap di Bumi Mojopahit Mojokerto. Founder Komunitas Kopi & Diksi, Karya-karyanya bisa dilihat di berbagai antologi  puisi seperti : Whispers of The Heart, Thoughts in Words (Bhutan),   Kitab Putiba Indonesia "Takziah Bulan Tujuh." Segugus sajak "Suara-suara Gagak."  Biji-Biji Waktu,  8 Penjuru Mata angin, Neng Ning Nung Nang, 76 Penyair Membaca Indonesia, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Resital Musim,  Angkatan Milineal, Puisi dari Tanah Cahaya, Kumpulan Haiku Under The Moon, , Pare-Pare Kota Cinta,  Nama-Nama yang Dipahat di Batu Karang, Menjadi Indonesia, Kreasi SEMARIS,  Bayi-bayi Puisi di Era Digital, Menolak Puisi Korupsi 8 & 9, Wasiat Botinglangi’ Kebaya Bordir Untuk Umayah, Sekuntum Puisi Untuk Petani, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Meraba Sayap-sayap IKN, Ibu Aku Anakmu dll lebih dari 80 Antologi bersama.











(042) 

DARI MEJA SEKOLAH ADA CERITA,

Dyah Nkusuma


Ronis tersenyum meringis

Melihat ikan dan sayur buncis

Duh, aku tak suka makanan ini

Ditatapnya lekat-lekat tak sampai nangis

Pisang dan air mineral saja dinikmatinya

Mamanya pengusaha katering ternama

Dihitung-hitungnya keseluruhan harga: "aha ... sepuluh ribu kira-kira"

Dullah anak Wak Romlah

Putra ketiga dari janda beranak lima

Dia berucap Alhamdulillah Wasyukurillah

Makan gratis setiap hari sekolah adalah berkah

Lahap-lahap dia mengunyah, menelan tanpa susah payah

Perutnya yang kosong tak lagi berdendang tembang keroncong

Teman-temannya terkesima dan bengong

Sonya, gadis cantik anak pengusaha

Diam terpaku menatap suguhan menunya

Pelan-pelan mengeluarkan bekal dari dalam tasnya

Makan bergizi gratis tak menyentuh seleranya

Tetaplah utuh tergeletak di atas meja

Menunggu nasib baik di bawa pulang petugas kebersihan

Atau terbiar percuma, sia-sia basi dan muspra

Ibu kantin manggut-manggut, ngelangut

Kue-kue yang tertata dirubung semut

Jajanan ringan kering mendekati kadaluarsa

Mata sayu mengelap debu pada minuman kemasannya

Biaya sewa sudah terbayar penuh enam bulan

Pendapatan minus tak seiring jalan, memikirkan beralih ke usaha apa

Sedang makan bergizi gratis ibu-ibu PKK yang kelola

*Sampit, 22/01/2025*

 








Dyah Nkusuma, *penyuka puisi sejak usia dini, domisili di kota Sampit, Kotim, Kalteng. Mengelola Sudut Baca Kin dan Rumah Jahit Kin. Aktif menulis di laman gawai sejak Oktober 2019. Hingga Desember 2024 telah turut 80 buku antologi bersama, 4 buku tunggal, satu buah Tandem. Terakhir  masuk dalam leksikom; Apa dan Siapa Perempuan Penulis/Pengarang Indonesia (KKK 2023). 

Saat ini aktif sebagai admin di Grup Sastra TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia), NHI (NewHaiku Indonesia), dan owner Grup Sastra PuSeRik.

Dari 2020 hingga 2024 didapuk menjuri untuk Dinas kebudayaan dan pariwisata baik lomba puisi, bercerita, deklamasi, presenter & guide museum, tingkat SD SLTP & SLTA, Juri lomba dongeng/cerita edukasi anak GOW (2022), Juri teaterikal puisi tingkat SLTP & SLTA Dinas Pemberdayaan Ibu dan Anak (2022): Kab Kotim. Juri lomba deklamasi tingkat SLTA, milad SMANDA Sampit (2023).


(043) 

Tidak Amanah,

Mata Atma


**Makan**

Beberapa suapan

Mantap tiada tandingan

Bersyukur atas nikmat tuhan

Tanpa diminta dia telah berikan

Tanpa sepeser uang yang harus dikeluarkan

Tulus ikhlas tanpa harus meminta belas kasihan

Tapi tidak semua insan merasakan kebijakan itu

Sebab penerapan belum menyebar ke penjuru

Tidak semua bergizi seperti katamu

Sebab korupsi lembar biru

Tiada amanah, semu

Ada penipu

Bisu

*Ponorogo,22 Januari 2025*


**Meta Atma**, *Seorang ibu rumah tangga yang suka merangkai kata-kata dan suka belajar agar lebih baik lagi

*

 












 (044) 

SEORANG BOCAH DAN MAKAN SIANG,

Sulistyo


mata bocah kecil menerawang 

akankah makan siang dari tuan yang budiman ini terus bertahan?

seminggu ini perutnya kenyang 

tanpa harus mengeluarkan uang jajan 

yang hanya ada dalam angan-angan

hingga kelas lima sekolah dasar 

mustahil berbekal selembar lima ribuan 

"emak hanya buruh cuci baju harian" katanya kepada seorang teman yang pernah mentraktirnya makan 

ayam rica-rica 

irisan buah naga 

yang kemarin hanya ada dalam cerita

hari ini menjadi nyata 

dikunyah dengan suka cita 

dan diam-diam 

  dengan tetesan air mata 

apakah ini aku terus ada?

batinnya nelangsa

*Mulya Asri, 22 Januari 2025*












Sulistyo, Lahir dan besar di Kudus. Pensiunan Disc Jockey yang suka menulis puisi. Beberapa puisinya diterbitkan dalam antologi bersama dan antologi tunggal.*





























 (045) 

Mimpi Makan Siang Gratis,

Rahayu Budiman


Mimpi Makan Siang Gratis Nama Rahayu Budiman Makan siang gratis, baginya sebuah...

**BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA

Riska Widiana**


Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan 

Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan 

Bagi orang-orang tak memiliki lengan 

Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah 

Meski, di sebuah piring

Satu jeruk keriput tersenyum 

Tumis sayur dingin sedang manyun 

Daging ayam seruas jahe terlihat datar

Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana 

Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu

Dipenuhi tawa dan buah segar

Nuansa ceria secerah musim semi

Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai 

Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung 

Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja

Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran 

Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk 

Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan 

Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan 

Jangan berkata-kata, kau cukup diam 

Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja 

Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis 

Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan 

Entah kau hendak berterima kasih atau tidak 

Diam saja, kita hanya cukup bersyukur 

Setiap jalan yang telah diukur 

Jangan mengeluh, duh

Bagimu adalah hanya 

Bagi mereka adalah luar biasa 

Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa 

Di meja mana mereka terhidang 

Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur 


Riau,26/1/ 2025



 

Rahayu Budiman















 (046) 

Omong Kosong,

Rudi H.


         Ada yang bilang gratis

            Tapi nyatanya miris

                  Janji manis

                        Amis

                     Makanan

                 Hanya ucapan

       Tanpa adanya penerapan

Semua hanya menjadi omongan

      Ada yang sudah berharap

          Makan dengan lahap

            Siap menyantap

                   Bertiarap

                    Bergizi

              Atau bergengsi

           Semua hanya imaji

      Agar insan saling memuji

*Kota Reog, 22-01-2025*


**Rudi H**, *Pria kelahiran Ponorogo,10 September 1996 , tinggal di desa baosan lor kecamatan Ngrayun,*

 Published by Literanesia — 23 Jan 2025













(047)

Untuk Tuan dan Puan,

Elvayanti Tammelle


Di bilik bambu yang mulai rapuh

Di bawah atap yang tak lagi utuh

Anak-anak berpakaian lusuh

Menulis pesan di buku tulis

Untuk Tuan dan Puan

Kami anak-anak kuli

Tak begitu peduli

Juga tak memahami nilai gizi

Perut terisi dengan nasi

Bagi kami adalah rezeki

Apalagi ditambah ikan teri sambal terasi

Tuan dan Puan

Di tengah nyanyian perut semakin menghajar

Kami ingin tetap belajar

Semoga dengan izin Tuhan

Mata hati Tuan dan Puan

Sampai diantara lembah dan hutan

Di sini kami butuh makan untuk bertahan


Parigi Moutong, 23 Januari 2025













Elvayanti Tammelle.Kelahiran Bone, 29 September 1988 Sulawesi Selatan. Berdomisili di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Alumnus Pendidikan Matematika, Universitas Tadulako. Puisinya pernah dimuat di media online www.riausastra.com dan www.ranahriau.com. Memiliki beberapa buku Antologi Puisi dan satu buah Antologi Artikel. Salah satu artikelnya juga pernah dimuat di Majalah Suara Guru. Pernah juara III dan Harapan III cipta puisi yang diselenggarakan oleh Asqa Imagination School (AIS). Pernah terpilih sebagai salah satu penulis puisi nasional kategori guru yang diselenggarakan oleh Nyalanesia. Dapat disapa via Ig:@elvatammelle
























 (048) 

PESAN IBUKU :MAKAN GRATIS KENYANG

Eryanto Kamis


Anakku

Jangan kau nista makan tersedia

Duduk tenang menerima

Makan bergizi gratis belum tentu ada

Jika pimpinan hanya pandai mengolah kata 

Anakku

Jika ada makanan tak layak 

Percaya saja bukan dikehendak

Pengelola perlu menyesuaikan 

Waktu sempit jadi pelajaran

"Kuncinya, jangan kau makan,"

Anakku

Jangan sia - siakan makanan yang kau dapatkan

Tegakkan kepalamu  kedepan

Disana menanti sebuah harapan

Anak - anak negeri cinta keadilan

Bukan hanya pandai hujatan

"Makan gratis dan kenyang," 

Anakku

Berterimakasihlah kepada orang berbuat baik

Karena yang tidak suka

Belum tentu bisa berbuat lebih mulia

Mereka  mengadalkan bicara, padahal tidak bisa apa - apa

Anakku

Jika engkau mau makan berdoalah

Bersyukur negara ini bisa memberimu makan

Berterima kasih ada pemimpin perhatikan rakyatnya

Doakan agar damai sejahtera menaunggi negara kita

Anakku 

Ketika zaman gatal - gatal dan korengan di lututku

Makan gratis itu pulang sekolah ketemu orang hajatan

Kita mampir modal salaman numpang makan

"Sekedar untuk perbaikan gizi saja," begitu kata teman

Bekasi, 2025








ERYANTHO KAMIS, lahir di Sepang Simin, Kalimantan Tengah. Separuh usianya sebagai Jurnalis di Kalteng. Kini menetap di Bekasi. Anggota PWI seumur hidup sejak akhir tahun 2024. Menulis puisi sudah sejak 80-an, terjun sebagai jurnalis 89 -an. Pernah mengelola rubik sastra di Harian Kalteng Pos, mingguan Dinamika Pembangunan, dan di Radio Cakrawala Borneo Nusantara FM. Merasa belum siap menerbitkan buku puisi tunggal. Hanya ikut antologi puisi bersama rekan- rekan lainnya. Pendidikan terakhir S2 MSDM STIE Pancasetia Surabaya.*






 (049) 

MAKAN SIANG DALAM CELOTEHAN DI NEGERI AMAN DAN TENTERAM,

Mimi Marvill


Tak perlu gusar

ketika puluhan anak keracunan

usai makanan bergizi dibagikan

toh itu hanya secuil persen

dari total angka keseluruhan

Tanamkan pikiran positif pada atasan

yang mereka beri amat spesial

keracunan ialah reaksi efek

menjadikan anak-anak pintar

Kritik ialah sebuah kebodohan

tak tahu syukur atas pemberian

sedang kemiskinan merupakan ladang

yang mesti ditanam dan panen setiap saat

Tak perlu bertanya-tanya

mengapa anggaran dipangkas di mana-mana

santap saja apa yang ada

tak usah mencari susu segala

barangkali sapi-sapi telah menua, menopouse adanya

jika menu tak sempurna

masih banyak janji yang bisa disantap sepuasnya

Ingat saja kata nenek moyang dahulu

selagi tanah air dikuasai serdadu (Jepang dan Belanda)

makan yang penting ada 

tak perlu bertanya empat sehat lima sempurna

sebab kesempurnaan hanya milik yang Mahakuasa

**Temanggung, 24 Januari 2025**







Mimi Marvill, *lahir dan menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Puisinya terangkum dalam sebuah antologi tunggal dan beberapa antologi bersama, serta media online.



























(050) 

INTERPRETASI GIZI,

Cinta


Sepiring nasi

Adalah cinta pendiri negara ini

Dalam kitab undang-undang

Yang lama dikotori

Seperti puisi

Selalu banyak interpretasi

Menjadi kalimat bersayap

Berkoloni seperti rayap

Sepiring nasi

Dananya lebih bergizi

Yang siap dikorupsi

Mata mata api

*Surabaya, 2025*


Cinta, Perempuan kelahiran  Kota Pahlawan, pernah tinggal di Bandung, Jakarta & Padang, saat ini menetap di  Gresik, menyukai sastra setelah menetap di Kota kelahirannya, namun tidak pernah berani mengikuti antologi. Komunitas Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia adalah antologi ketiga yang diikutinya.

*

 











(051)

MENU DITENTUKAN

Suyitno Ethex


menu ditentukan 

begitu juga anggaran 

tukang masak kerepotan 

cari bahan sesuai anggaran 

mau beli susu 

mau beli daging 

pusing 

beli saja bahan makan 

yang penting tak menyimpang 

bergizi bila dimakan 

di kota besar 

menu jadi beban besar 

di desa kecamatan 

menu gampang ditemukan 

menu ditentukan 

anggaran ditentukan 

tukang masak kebingungan 

2025



 

Suyitno Ethex






















 (052) 

JANJI BERGIZI MAKAN BERGIZI: GRATIS,

Gurit Asmara Ruci



tanah merdeka indonesia

negeri elok amat kucinta

tanah tumpah janji-janji bergizi

yang diundi lima tahun sekali

kata makan dan gratis,

adalah mantra mistis paling magis

menghipnotis nasib yang tak kunjung manis

lidah-lidah pun rela menjulur - mengais

maka terjadilah serta-merta

di atas meja belajar telah tercitra

nampan-nampan berisi potongan janji

mencerdaskan isi kepala dengan presisi

makan, makanlah nak dengan segera

ini bukan waktunya memanjakan selera

yang utama isi kepalamu mesti menyala

kelak kau akan mengerti apa arti berguna

di pos-pos anggaran mereka bersiasat

mengingat tabiat, doakan agar tak tersesat

semoga susu yang diberikan

bukan kambing hitam yang biasa diributkan

makan, makanlah nak bak bulldozer

seakan kau hendak ditabok ekor buzzer

selalu bersyukur jaga ingatanmu

MBG ini adalah taruhan masa depanmu

2024


Gurit Asmara Ruci, *lahir dan berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur. Puisinya dimuat di beberapa media cetak dan media online serta beberapa antologi.



(053)

Rapat Rahasia di Dalam Perut,

Batari Parfum


Di meja makan sekolah, piring-piring

berdiri tegak seperti peserta sidang.

Nasi di tengahnya adalah saksi bisu,

ditanya berkali-kali oleh mulut anak-anak,

tapi jawabannya tercecer di lembar anggaran.

Sendok bergesekan pelan,

seperti tangan yang sedang mencuri.

Sop sayur berubah jadi protokol.

Daging ayam menghilang,

digantikan laporan resmi yang tak pernah dimakan.

Di belakang pintu dapur,

garpu menggantung dengan luka di lehernya.

Lemari es berdenting seperti kotak suara,

menyimpan semua janji basi:

lauk impor, protein kadaluarsa,

gizi yang dikarantina di ruang rapat hotel.

“Anak-anak hanya butuh kenyang,” kata mereka,

sambil menandatangani bon makan malam.

Anak-anak sekolah duduk di kursinya,

mengunyah udara dengan suara pelan.

Di dalam perut mereka, negara sibuk berdiskusi.

Tulang ikan bercampur kertas tender,

kolesterol tumbuh dari janji subsidi.

“Besok kita makan apa?” tanya seorang anak.

“Besok kita makan mimpi,” jawab nasi dingin.

Di pojok ruangan,

jam dinding berhenti berdetak.

Di lantainya, minyak goreng tumpah,

licin seperti politik.

Semua orang berjalan di atasnya,

tanpa takut terjatuh.

Di luar, korupsi bersiul pelan,

memanggil tikus-tikus pulang.

Mereka membawa potongan piring,

untuk membangun istana kecil

di perut anak-anak yang sudah lama kosong.


*Banyumas , 25 Januari 2025*






Batari Parfum

























 (054) 

Makan Gratis Bergizi Mimpi atau Nyata,

Hafney Maulana


Makan gratis bergizi, mimpi atau nyata? Di negeri ini, kelaparan masih nyata

Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan. Gizi buruk merajalela, potensi bangsa terancam

Perut keroncongan, mimpi jadi santapan. Di negeri makmur, gizi buruk merajalela.

Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan.[1]

Program digulirkan, janji manis diumbar. Tapi, apakah cukup hanya dengan program?[2] Struktur sistem yang rapuh, akar masalah tak terpecahkan. Korupsi merajalela, anggaran lenyap sia-sia.[3]

Bukan hanya soal kenyang

Tapi juga rasa sayang

Berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan

Dalam setiap suapan

Makan gratis bergizi, solusi atau tambal sulam?

Kita perlu lebih dari sekadar program makan siang. Pendidikan gizi, penting untuk jangka panjang. Agar masyarakat sadar, betapa pentingnya gizi seimbang.[4]

Pertanian lokal digalakkan, produksi pangan meningkat. Distribusi merata, harga terjangkau. Koperasi petani tumbuh subur, kesejahteraan merata. Ini baru disebut kedaulatan pangan sejati.[5]

Makan gratis bergizi, mimpi yang harus kita wujudkan. Bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk semua. Dengan kerja sama, gotong royong, dan inovasi. Kita bisa wujudkan Indonesia yang bebas dari kelaparan.

Mari berbagi, mari peduli

Bukan hanya memberi makan gratis hari ini

Tapi juga memberi solusi

Agar semua bisa makan tidak sekedar ilusi

*2025*

*Catatan Kaki:

[1] Data WHO menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia masih tinggi, padahal merupakan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.

[2] Banyak program pemerintah yang gagal mencapai target karena kurangnya evaluasi dan tindak lanjut yang serius.

[3] Kasus korupsi dalam proyek-proyek sosial seringkali terjadi dan merugikan masyarakat banyak.

[4] Tingkat kesadaran masyarakat tentang gizi masih rendah, sehingga perlu upaya edukasi yang lebih intensif.

[5] Kedaulatan pangan penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.


Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Kab. Indragiri Hilir, Riau. Karya puisinya telah dimuat diberbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi antara lain: Antologi Puisi Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI dan Angkasa Bandung, 1997), Amsal sebuah Patung (Yayasan Gunungan, Yogyakarta, 1997). Puisi-puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Seri Sastra Tembi.net: Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019) dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020), Para Penuai Makna (Dapur Sastra Jakarta, 2021), Seribu Tahun Lagi (Masyarakat Literasi Jember, 2021) dan puluhan antologi puisi lainnya.


(055) 

BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA,

Riska Widiana


Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan 

Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan 

Bagi orang-orang tak memiliki lengan 

Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah 

Meski, di sebuah piring

Satu jeruk keriput tersenyum 

Tumis sayur dingin sedang manyun 

Daging ayam seruas jahe terlihat datar

Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana 

Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu

Dipenuhi tawa dan buah segar

Nuansa ceria secerah musim semi

Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai 

Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung 

Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja

___Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran 

Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk 

__Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan 

Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan 

Jangan berkata-kata, kau cukup diam 

Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja 

Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis 

Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan 

Entah kau hendak berterima kasih atau tidak 

Diam saja, kita hanya cukup bersyukur 

Setiap jalan yang telah diukur 

Jangan mengeluh, duh

Bagimu adalah hanya 

Bagi mereka adalah luar biasa 

Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa 

Di meja mana mereka terhidang 

Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur 


Riau,26/1/ 2025
































 (056) 

Salah Asuhan,

Ibrahim Ibrahim


Bumi pertiwi ini subur dan hijau

Terhampar sawah luas dan rimbun

Namun kita hanya memanen embun

Dari hujan yang selalu murung

Kita seperti burung, memiliki sayap

Tapi tidak tahu bagaimana terbang tinggi

Kita memiliki tanah subur dan hijau

Tapi tak mampu dikelola dengan bijak

Hutan kita gundul, sungai kita tercemar

Tanah kita tandus, dan kekayaan kita hangus

Kita seperti kapal, yang tidak memiliki kemudi

Tidak tahu arah, dan tidak tahu tujuan

Seharusnya makan bergizi gratis

Jauh sejak dahulu

Kalau saja pelaku korupsi

Tidak dibiarkan berkompromi

Lalu melarikan diri

Dari negeri ini

Sidoarjo, 2025


Ibrahim Ibrahim, pecinta sastra yang tinggal di Sidoarjo-Jawa Timur. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi bersama (cerpen/puisi) saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan puisinya









 (057) 

MBG, ADAKAH STRATEGI POLITIS?

Imron Bintang


menatap rakyat jelata,

yang telah mufakat mendaulatnya,

menduduki tahta selanjutnya,

begitu rentan kesejahteraan

ia pun mencanangkan program andalan

: makan bergizi gratis bagi anak bangsa

apa yang bisa diharapkan

dari generasi yang terabaikan

pangan dan kesehatan?

tidak siap menjadi pelaku perubahan

bagi indonesia berkemajuan

maka sebagai penunjang pendidikan

asupan gizi nasional harus ditingkatkan

orang-orang berperang pandangan

tentang 71 T yang siap dianggarkan

bagi 82,9 juta penerima

seharusnya 420 T bisa merata sempurna

pada setiap tahunnya

di tengah derita beban hutang negara

ribuan trilyun ketat melilit istana

dana swasta dan apbd pun siap dikucurkan

sampai pun uang zakat diusul alihkan

apakah makan bergizi gratis

adalah strategi politis

untuk mendulang simpati rakyat

yang tengah terengah-engah

terpijak roda modernisasi di segala arah?

duaratus juta kepala mengangguk iya

sambil kasak-kusuk mencari celah cela

dua puluh lima juta kepala lebih

kaum jelata yang hidup letih

mempercayai program ini 

bisa meringankan beban dapur pagi hari

**Kendal, 23 Januari 2025











Imron Bintang,* Kendal 14 Nopember 1969, adalah seorang pedagang keliling yang *sejak remaja merasa gatal tangannya untuk selalu menulis ( puisi ). Di antara karyanya tergabung dalam antologi bersama: Ketika Dalam Keheningan, Puisi Religi 1 dan 2, Under The Moon, Upacara Tanah Puisi, Raja Kelana 2, Ketika Jakarta Bukan Lagi Ibu Kota, Lampion Merah Dadu*

 Published by Literanesia — 27 Jan 2025









 (058) 

MAKAN BERGIZI GRATIS, CAHAYA HARAPAN,

Suriar Amazi


Di atas piring kosong, tertanam mimpi yang berkibar

Makan bergizi gratis, laksana embun pagi yang menyegarkan

Program ini menari di antara kabut kemiskinan

Mengusir bayang-bayang gizi buruk yang melilit jiwa.

Seperti mentari pagi, hangat menyapa tanpa pilih kasih

Anak-anak melompat, bagaikan kupu-kupu yang riang menari

Makanan bergizi tersaji, menjadi pelangi di hati mereka

Senyum orang tua adalah doa yang terbang ke langit.

Makan bergizi gratis, bukan sekadar menu di meja

Ia adalah simfoni kehidupan, nada-nada masa depan

Mengokohkan pondasi, melahirkan generasi tangguh

Yang kelak menjadi penjaga bumi pertiwi yang bijak.

Dalam setiap gigitan, terselip cita-cita yang menyala

Bagaikan bara api kecil yang menghangatkan kegelapan

Program ini adalah jembatan, menghubungkan jurang harapan

Merajut Indonesia yang setara, penuh harmoni dan keadilan.

Makan bergizi gratis, adalah cermin kasih yang tanpa batas

Ia melukis masa depan dengan warna yang cerah

Menumbuhkan tunas-tunas bangsa yang menjulang tinggi

Menjadi cahaya harapan bagi Indonesia yang makmur dan abadi.

*Semangat Dalam, Alalak-Barito Kuala

Jum'at, 17 Januari 2025/17 Rajab 1446*





SURIAR AMAZI, *(Barito Kuala-Marabahan) pencinta, penikmat dan suka menulis puisi. Lahir di kota Banjarmasin. Berdomisili di Kel. Semangat Dalam, Kec. Alalak, Kab. Barito Kuala, Prov.  Kalimantan Selatan. Karya tulis puisi tersebar di berbagai Komunitas Sastra FB dengan berjenis genre puisi. Bergabung dalam puluhan antologi menulis bersama penyair lain yang sudah diterbitkan. Menulis puisi sejak berseragam putihabu, Buletin Obor Tarbiyah (semasa masih kuliah) dan Facebook sejak tahun 2013. Dapat ditemui pada akun fb: https://www.facebook.com/suriar.amazi dan email: akhbirnysa60@gmail.com*

 Published by Literanesia — 27 Jan 2025














 (059) 

SOLUSI MAKAN BERGIZI GRATIS,

Sunawi


Program yang menggelitik di tengah ekonomi ada yang terasa sulit

Yang merasa terpenuhi kebutuhannya hal biasa

Yang merasa kurang terpenuhi adanya makan bergizi gratis merasa suka

Niat luhur yang bisa membawa budipekerti luhur

Apabila yang merasa lebih menyumbangkan untuk negara

Makan bergizi gratis atas nama negara

Dengan tulus ikhlas menyumbangkan darma baktinya untuk negeri ini

Apa hendak dikata keadaan masalalu sawah tegalan sebagian menghilang

Tergerusnya masadepan terkikis sudah yang jadi tumpuan pangan

Potong kompas demi mengikuti arus yang semakin modern

Tak kuat pabila tertinggal jauh dengan lainnya

Mau tidak mau yang merasa kurang kuat ingin mengikuti arusnya

Lepaslah masadepan yang jadi tumpuan

Hari ini untuk hari ini sampai nanti 

Ingat masalalu dalam senja menerawang 

Yang masih lumayan pangan

Masa panen sebagian untuk dirinya 

Sebagian lagi untuk dijualnya 

Menjadikan longgar pangan ada kelebihan

Kelebihan pangan berguna pada dirinya dan sesama

Meskipun imbalan menyertainya 

Waktu dulu tidak ada program makan gratis

Padahal andai ada tentu saja berikan kemudahan

Karena kuat yang jadi tinggalan

Memang program dulu dan kini berbeda

Demikian juga merambah aturan  nya

Makan bergizi kalau sesuai dengan penghasilan bagus saja

Andai tidak sesuai nantinya apa tidak berat belakangan

Sehingga kebutuhan itu tidak mampu dipaksakannya

Makan bergizi gratis bisa terlaksana tanpa hutang

Asalkan semua yang berlebih menyumbangkan darma baktinya

Sehingga programnya bisa terlaksana

Sunawi

*Yogyakarta. 27 Januari 2025*

























(060) 

Drama Babak Pertama,

Chie Setiawati



Angin berkabar

Perayaan kemenangan pemimpin negeri segera di gelar

Euforia di tiap sudut sekolah 

Makan gratis konon bergizi

Tapi budget terkebiri 

Angan berkibar

Ribuan anak berekspektasi makan enak

Wajah-wajah sumringah 

Asap daging panas beraroma rempah mengelitik angan

Sayur mayur tak lupa buah dan susu ikut menari dalam khayal

Ingin berkisah

Hidangan tersaji tak melulu sesuai nilai gizi

Hidangan dalam baki alakadar sekedar memenuhi pesanan

Ada anak lahap menyantap dengan nikmat

Tak peduli rasa dan rupa

Tak peduli menu yang ada

Sebab lapar membuatnya berselera

Sebab uang jajan tak membuatnya kenyang

Sebab bersyukur baginya lebih penting

Beberapa anak memaki

Mengkritik hidangan yang tersaji

Tersebab menu makan di rumah lebih lezat dari makan gratisan di sekolah 

Nasib makanan berakhir dalam tong sampah

Lalu...

Polemik terjadi

Lalu...

Media mencari celah mengkritik pemerintah 

Lalu

Lalu...

Kemudian...

Selanjutnya...

Hanya Tuhan yang tahu episode selanjutnya seperti apa.



Chie Setiawati. Bergabung dengan komunitas Penyair Perempuan Indonesia. Karyanya telah di muat di beberapa surat kabar online dan cetak. Masuk dalam antologi Rainy Day Banjarbaru 2018, Almuni Munsi 2018, Pertemuan Sastrawan Nusantara 2022, Jambore Sastra Asia Tenggara 2024. Dan banyak lagi.*
























 (061) 

Jangkrik,

Ahmad Irfan Fauzan


anak-anak menikmati makan siang

dengan jangkrik dan sayur kacang

katanya: bergizi dan menghemat uang

orangtua mulai bingung

pemerintah menjadi gemblung 

program yang terlalu dipaksakan 

menjadikan anak-anak sekolah sebagai bahan percobaan 

dari kampanye pemilihan 

katanya: dari rakyat untuk rakyat 

dari rakyat sampai sekarat

Serang 2025


Ahmad Irfan Fauzan lahir di Brebes 20 Desember 92 menyukai buku dan karya sastra

 


















 (062) 

MENGGAPAI MASA DEPAN CERAH,

Iis Yuhartini


Teruskanlah program makan siang bergizi, Pak Presiden

aku masih ingin merasakan lezat ayam goreng, juga lauk pauk lainnya

segarnya potongan buah, sekotak susu menambah nikmat rejeki Allah yang kuasa 

pergi sekolah makin semangat merenda asa

Asupan gizi sangat penting untuk tumbuh kembangku

di rumah hanya nasi berteman garam menjadi menu ibu

ayah hanya pekerja  serabutan, tidak dapat memenuhi semua kebutuhan

beruntung sekolah negeri gratis tanpa bayaran

Biarkan saja orang kaya meremehkan program ini

uang mereka banyak dapat membeli segala yang di sukai

aku bersyukur ada makan gratis bergizi di sekolah

anak Indonesia sehat akan kuat melangkah menggapai masa depan cerah

Bekasi, 25 Januari 2025







Iis Yuhartini






(063)

Harapan untuk Anak-Anak Masa Depan,

Puisi Akhmad Sekhu


Jangan berdebat, Saudaraku, dukunglah

Dengan program makan bergizi gratis ini

Pemerintah sedang baik hati mau berbagi

Pendapatan dari pajak yang kita bayarkan

Simpanlah uang untuk beli makanan anak-anak

Mungkin nanti bisa digunakan kebutuhan lain

Atau ditabung yang sewaktu-waktu menolong kita

Dari kebutuhan tiba-tiba yang sangat mendadak

Kita memang harus kritis jika pemerintah apatis

Tapi ini pemerintah sedang sangat peduli

Dengan program makan bergizi gratis

Peduli gizi makanan untuk anak-anak kita

Simpanlah tenaga kita yang berlebih

Jangan untuk berdebat tapi kita mengawal

Pemerintah dalam jalankan pembangunan

Kalau ada kesalahan atau korupsi, tegurlah!

Rakyat dan pemerintah hanya beda kedudukan

Sebagai sesama manusia, kita harus mendukung

Makan bergizi gratis sebagai program kemanusiaan

Demi harapan untuk anak-anak masa depan

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2025












Akhmad Sekhu,  lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah.

Menulis berbagai tulisan, berupa puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film, telaah tentang televisi di berbagai media massa. Puisi-puisinya masuk sekitar 70 buku antologi komunal (1994-2024). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (2022), Indonesia Negeri Paling Puitis di Dunia (manuskrip). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).









(064)

Bukan Makan Gratis

Acep Syahril**


bukan makan gratis

yang kami butuhkan

dulu kami pernah bawa jerigen antri minyak tanah beras murah dan bubur kacang ijo dari pagi sampai matahari berdiri

pernah juga ketika harga harga barang naik tapi kami dikasih kaos gratis berlogo partai kalender gratis poster gratis dan berbaris

di bawah matahari gratis

sekarang kami hidup berdampingan dengan para pencuri rebutan rizki dengan koruptor maling tapi anak-anak kami dikasih makan gratis ini jelas jelas pelecehan

sejak dulu kami saudara handai tolan cukup makan dengan ikan tempe dan tahu tapi masih bisa berpikir cerdas mengatasi kepelikan hidup ini sebaliknya kalian para penguasa yang

ketakutan dengan kepintaran kami

sekarang anak-anak kami kalian beri makan gratis dengan

dalih meningkatan gizi agar mereka sehat pintar dan berani sementara kalian sudah mempersiapkan bedil barisan

tameng jaga negeri serta siap menghantamkan sepatu besi pada mereka yang nantinya akan mempersoalkan demokrasi

anak-anak di negeri ini tidak membutuhkan makan gratis tapi pemimpin yang jujur para pejabat amanah aparatur hukum

tafakur yang benar-benar memikirkan nasib rakyat

yang hak-haknya dihargai sebagai manusia yang juga layak

hidup di negeri ini

yang paling utama anak-anak ini benar-benar dipaksa belajar

agar cerdas dan pintar untuk mengatasi persoalan hidup

di negeri yang kaya raya ini bukan dipaksa sekolah atau kuliah

lalu dapat gelar berjibun tapi malah guoblog dan pongah

merasa paling hebat sendiri dan paling pintar sendiri lalu melanjutkan tradisi maling dan mencuri karena mereka

bukan belajar melainkan sekolah dan kuliah

jadi bukan makan gratis dan literasi tipu-tipu yang dibutuhkan anak-anak kami tapi paksa mereka belajar dan siapkan untuk menjadi anak-anak kreatif tampil paling depan dengan

segala kreativitas menantang untuk siap berkompetisi dengan

modrenisasi dan segala teknologi siapkan kuhp yang benar

siapkan bedil sepatu dan tameng kalian untuk menjaga

mereka yang kelak mengharumkan dan mengangkat

derajat bangsa ini dimata dunia


*indramayu 2025*











 (065) 

Semoga Bukan Sesaat,

Fie Asyura



Hari ini

Pagi terindah 

Senyum terukir di wajahku

Ada janji yang diwujudkan

Serasa mimpi di siang bolong

Di hadapanku tersaji kotak makanan bergizi

Gratis

Cacing di perutku berontak

Rasa tak sabar

Berdoa

Untuk pemimpin kami

Untuk guru-guru kami

Untuk negeri ini

Semoga

Subur makmur

Gemah ripah

Loh jinawi

Emak, saat kubuka kotak  makanan

Airmataku turun

Mataku menatap tak percaya

Setumpuk nasi putih

Lengkap dengan lauk pauknya

Ada ayam goreng, telur, cah kangkung, pergedel jagung

Serasa mimpi

Terbayang emak dan bapak

Duduk mencangkung dengan segelas kopi tanpa gula

Ubi rebus dengan parutan kelapa

Masih terdengar emak berkata lirih

Kepada bapak yang duduk termenung

'hari ini beras habis'

Bapak terdiam

Di hatinya mungkin berkata

Dapatkah aku mengumpulkan rongsokan

Untuk membeli beras

Pura-pura tak mendengar

Kudekati emak dan bapak

Kucium takzim tangan keriput

Aku pergi bapak, emak

Emak tersenyum

Sinar matanya begitu teduh

Hati-hati di jalan, le

Jangan lupa berdoa

Bapak tersenyum sambil mengusap kepalaku

Belajar yang baik, anakku

Supaya cerah masa depanmu

Aku mengangguk

Berjanji

Pagi ini di hadapanku

Makanan bergizi gratis

Kumakan sedikit

Kuambil pakai sendok

Cukup sesuap

Nanti sepulang sekolah

Akan kuberikan emak dan bapak

Agar mereka ikut menikmati makanan bergizi gratis

Senyum mereka adalah bahagiaku

Terima kasih pemimpin kami

Saat pertama duduk sebagai pengayom rakyat

Makanan bergizi gratis

Prioritas pertama

Langsung menyentuh

Perut-perut lapar

Makanan bergizi gratis

Semoga tidak sesaat

Bravo pemimpin kami

Bengkayang, 30 Januari 2025


(066) 

MEMBAYAR JANJI,

Winar Ramelan


Saya aminkan! 

Saat janji janji ditepati

Bukan sekedar omon omon kosong

Agar tak menjadi hutang yang dibawa mati

Empat sehat lima sempurna

Itulah mulanya yang dibidik dari istana

Mengisi lambung anak negeri ini

Dengan asupan bergizi

Sudah bersinergikah

Petani yang menanam 

Peternak memerah susu 

Juru masak mengolah makanan

Untuk dibagikan

Agar bocah bocah tenang

Dalam menimba ilmu di sekolahan

Aku aminkan

Ketika ditepatinya sebuah janji

Bukan hanya bualan 

Untuk sekedar meraih kemenangan

Agar duduk tenang di kursi kepemimpinan

Tetapi, bolehkah aku bertanya? 

Ini untuk berapa lama

Agar jangan hanya seperti angin surga 

Yang hinggap sejenak, lalu lewat begitu saja

Aku berharap

Jika anak negeri ini

Bukan semata untuk dijadikan kelinci percobaan

Apalagi menjadi media korupsi besar besaran

Atas program program yang dicanangkan 

Karena mereka generasi penyangga negeri ini

Yang akan menjadi pilar atas tegaknya bangsa ini

Mereka yang kelak akan menjaga keutuhan atas keberagaman yang ada

Maka, berilah asupan untuk jiwa raganya

Moral, etika dan ilmu yang mumpuni

Juga makanan bergizi

Aku aminkan

Untuk pemimpin negeri ini

Yang mampu menjadi tauladan atas kebaikan

Dan bisa dicontoh oleh generasi mendatang

Denpasar. Januari2025



























Winar Ramelan lahir di Malang 05 juni dan kini tinggal di Denpasar Bali. Puisinya  terangkum dalam antologi tunggal  Narasi Sepasang Kaos Kaki(2017), Mengening(2020),  Dongeng Latisha(2023) dan lebih dari 60 antologi bersama al antologi dwi bahasa, Indonesia - Bolivia,  antologi sembilan negara,  Puisi Di Tanah Cahaya (hpi 2022) Raja Kelana, antologi puisi 12 DNP, dlsb. Dimuat di berbagai media cetak daerah maupun nasional dan media online, al Harian Pikiran Rakyat, Banjarmasin Post, Dinamikanews, Bali Pos, Harian Nusa Bali,  Suara NTB, Radar Malang, Suara Sarawak Malaysia, Majalah Humagi Internasional, dlsb,  Kontributor di Majalah wartam,  masuk lima besar Anugerah Sastra Apajake, menulis cerpen, cernak juga artikel.

 














(067) 

Jamuan Negeri,

Indri Kartika Putri


Di meja kecil ini cerita negeri ditulis, tak ada jiwa yang dilupakan

sebuah piring tersaji penuh kehidupan,

dalam setiap suapan harapan tumbuh, mimpi melangkah

menghapus dahaga impian yang tak pernah surut

Tiada harga untuk secuil kebahagiaan, saat anak bangsa tersenyum lega,

karena makan bergizi adalah hak,

anugerah penghapus penantian

bukan sekadar janji yang memudar jejak

Rasa kenyang bukan sekadar nikmat,

namun penopang langkah menuju harapan

Hidangan bukan sekadar santapan,

namun lambang bukti cinta dari para pemimpin emas

menguatkan rakyat menyalakan asa, mewujudkan mimpi yang pernah terpintal angin.

Magelang, 31 Januari 2025















Indri Kartika Putri yang akrab disapa Indy, berdomisili di Magelang merupakan salah satu Finalis Duta Wisata Kabupaten Magelang 2011 dan pernah meraih Juara 3 Lomba Cipta dan Baca Puisi, Juara 2 Lomba Karikatur, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) ESFRA di Unissula Semarang pada tahun 2017, dan Juara 3 Lomba Geguritan.























 (068) 

Makan Bergizi Gratis,

Noor Laila Amin


Program Pemerintah Baru yang sangat ideal...

Disaat rakyat memang sedang kekurangan gizi, perlu peningkatan kesejahteraan demi memperbaiki Generasi Emas yang sedang dipersiapkan...

Seperti semua program yang ada selalu saja menimbulkan pro dan kontra...

Tak apa-apa asal terbukti adanya semua juga akan menerima...

Karena dalam program ini ternyata juga bisa melibatkan semua pihak untuk menjadi stakeholder nya. Petani, nelayan, pedagang, ibu-ibu rumah tangga semua bisa terlibat dan ketiban rejeki nya...

UMKM juga bisa ikut dilibatkan, supaya uang dari rakyat kembali ke rakyat...

Alangkah indahnya jika program ini bisa terlaksana dengan benar, baik dan penuh tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat...

Kekhawatiran tentang kelemahan dan kekurangan disana sini tentu ada, dan perlu pengawasan yang ketat dari semua pihak. Terutama di awal pelaksanaannya, jika ada kelemahan segera benahi. 

Karena di negeri ini banyak pemimpin atau pelaksana proyeknya yang selalu mencari celah untuk korupsi...

Makan Bergizi Gratis adalah proyek yang harus kita dukung sepenuh hati, jangan belum apa² sudah kita nyinyiri.

Setidaknya biarkan berjalan setahun dulu, kita lihat apakah akan menjebol APBN atau tidak?...

Presiden Prabowo Subianto kan ingin mengakhiri hidupnya dengan Husnul khatimah, mengabdikan sisa usianya untuk kepentingan negeri...

Tak ada yang sia² dari setiap pengabdian...

Semoga cita² mengantarkan anak bangsa menjadi Generasi Emas menjadi kenyataan di tahun 2045 yad...

#bilikprivasi31012025#


































 (069) 

JANJI DALAM SEKOTAK NASI,

A.Rahim Eltara


Embun pagi itu

telah direguk matahari

Anak-anak gelisah menunggu

berharap janji tidak menjadi basi.

Di atas meja,

tersaji janji dalam sekotak nasi. 

Bergizi dan gratis, katanya. Sepotong

empal daging, tumis buncis, 

pisang raja, dan susu, dikemas dengan

cinta tanpa cemas.

Bapak dan ibu guru pun 

ikut berpartisipasi. Menghidangkan

sepiring senyum, tanpa

basa-basi dan orasi.

Sekotak nasi,

yang dihajatkan tuan dari atas

podium. Mereka membayangkan

masakan ibu, yang disaji dengan 

cinta yang matang.

Lalu anak-anak menyantap 

dengan lahap. Tidak ada yang menyontek

daftar menu. Karena dari sekotak nasi,

mereka lebih menikmati sedapnya janji 

dan lezatnya rasa syukur.

Sumbawa, 30Januari 2025








A.RAHIM ELTARA, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Antologi tunggalnya Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024) dan puluhan antologi bersama. Kini berdomisili di Sumbawa Nusa Tenggara Barat.























(070) 

GRATISAN BORONGAN

Hadi Lempe


Cerita masa lalu adalah keindahan kenangan

Meski terseok payah krisis gizi wajah anak-anak masih bersemangat menghapus duka orang tua

Kala itu perjuangan kelaparan, tak ada kata gratis untuk antri sebungkus nasi selain kata iklas berbagi.

Kini jaman berjalan semakin maju menjadi modern bagi kaum oportunis.

Berpura - pura merancang kemanisan, menciptakan kepahitan nyatanya.

Berjuta - juta makanan gratis yang di kemas dalam bungkus plastik

Sungguh sangat fantastis menggiring opini modernisasi.

Menyasar anak - anak negeri hanya untuk mengelabuhi korupsi

Lalu apa di pertanyakan

Paket gratis, hemat, bergizi 

Empat sehat 

Lima sempurna

Tahu

Tempe

Sayur

Sambal

Plus susu bantal

Harga murah

Basi karena tak terjangkau

Modal mengendap menjadi bancakan para spikulan

Makelar meraja rela

Memasak korupsi menjadi tren gratisan borongan.

Pekalongan 30/1/2025.

Hadi Lempe



 (071) 

KATANYA GRATIS

Dedi Wahyudi


Program pemerintah bagus

Sebuah rencana mencerdaskan anak bangsa

Dari makan makanan yang bergizi

Setiap langkah pasti ada onak duri menghampiri

Sebuah janji kampanye yang harus ditepati

Agar tak dibilang mungkir atau khianat diri 

Tetapi banyak yang sinis dibandingkan dengan simpati

Makanan kurang bergizi dan malahan orang tua disuruh menyumbang

Pemerintah harus bijak di sana dan di sini

Rakyat susah jangan dibuat lebih susah

Mengisi kampung tengah saat ini sungguh miris

Penggangguran dan lapangan pekerjaan mengalami melonjak drastis

Hutang negara tak terhitung lagi

Mimpi generasi emas apakah hanya isapan jempol belaka

Atau negeri zamrud khatulistiwa hanya tinggal nama

Karimun, 31 Januari 2025














Dedi Wahyudi lahir di Teluk Air Karimun pada tanggal 12 Januari 1975. Telah menerbitkan buku puisi solo seperti Filosofi Sandal Jepit (2017), Secawan Kopi dan Sebungkus Roti ( 2017), Menulis Tanpa Batas (2018) Gurusiana Yang Membahana (2018) Kutemukan Cinta di Sagusabu (2018), Warna Warni Puisi Sonian (2019)Cappucino (2020), Berkibarlah Celanaku (2021). Bertempat tinggal di Batu Lipai RT 2 RW 1 Kelurahan Baran Timur Kecamatan Meral Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau.






















 (077) 

SEMBAB

Yohanes Moeljadi Pranata



SEMBAB

Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.

Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.

Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.

Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.

YMP

Sarinah, 2 Februari 2025












(072) 


JANGAN KIRA KAMI

Putri Bungsu


Jangan kira kami,Tuan !

Orang tua tak memberi makan bergizi pada anaknya

Sebelum progran nasional diterapkan

Anak kami sudah makan bergizi bahkan sejak dalam kandungan

Kalau boleh kami sarankan

Berikan saja pada yang membutuhkan

Program mercusuar menyisakan carut-marut tak karuan

Ajang bancakan tikus- tikus berdasi

Monopoli pengadaan oleh petinggi yang menjalin relasi

UMKM sempit berkontribusi

Bila diberi peluang pun harus bermitra dengan vendor

Yang telah ditunjuk dan terkoordinasi

Makan bergizi gratis hadirkan korupsi sistematis

Tuan,tidak bisakah mekanisme desentralistik

Libatkan kantin sekolah hingga wali siswa

Setidaknya bisa menekan angka korupsi

Dari dua setengah persen saja

Akan terakumulasi satu koma tujuh Trilliun

Setelah berhitung bersimulasi begitu berat dana harus diberi

Muncul berbagai spekulasi

Mulai minta dana bazis hingga alternatif pengganti

Ulat,belalang,jangkrik,aneka serangga

Duh,BGN bagaimana dengan yang alergi

Bukankah lebih bijaksana dengan memotong gaji petinggi?


*Karanganyar,1 Februari 2025*


Putri Bungsu, lahir di Kulon Progo,26 Sept.1964.Berzodiak Libra,gemar menulis dan avontur.Telah menerbitkan 5 buku puisi tunggal dan lebih 200 buku antologi bersama baik nasional maupun internasional.

*


























(073) 


Sebuah Kotak Istimewa

Agus Sukamto**


Di ujung kampung

Di sebuah sekolah yang hampir punah

Gedungnya penuh retakan

Atapnya penuh ganjalan


Anak-anak masih setia

Menunggu cerita dari kota

Sebuah kotak istimewa

Makan bergizi gratis katanya


Hingga masa itu tiba

Kotak istimewa untuk mereka

Disantap bersama-sama

Begitu nikmat terasa


Terlihat seorang anak terdiam

Tak menyentuh kotaknya

Bukan tak suka

Untuk Emak katanya


*Pati, 01/02/2025*











Agus Sukamto**. *Lahir di Pati, tanggal 17 Agustus. Tinggal di Pati Jawa tengah. Kesehariannya sebagai guru Sekolah Dasar di Kabupaten Pati. Memiliki kumpulan puisi tunggal yang berjudul “Pensilku” (2020). Sajaknya juga termaktub dalam antologi bersama “Suara Hati Guru di Masa Pandemi” (2020), “Percakapan Hari Libur” (2020), “Kebaya Bordir untuk Umayah” (2021), “Jejak Puisi Digital” (100 Puisi terpilih lomba cipta puisi HPI 2021) WA: 082352657656.*






















(074) 

Makan Siang Gratis: Sebuah Renungan

Prawiro Sudirjo**

 

Di meja-meja sekolah negeri

 Nasi terhidang, sayur tersaji.

 Namun, di balik piring-piring ini

 Ada konsep yang perlu diuji.

Anggaran triliunan digelontorkan

Untuk perut anak bangsa kenyang.

 Tapi, apakah semua merasakan? 

Atau hanya sebagian yang terpegang?

Di pelosok negeri yang jauh di mata 

Distribusi tersendat, kualitas terlupa

 Lauk mentah, sayur tak bercita rasa

 Apakah ini yang disebut bergizi sempurna?

Dana pribadi dicampur urusan negara, 

Batasan kabur, konflik kepentingan menganga

.Akuntabilitas jadi tanda tanya

 Apakah transparansi masih dijaga?

Investasi besar demi masa depan anak cerah

 Namun, apakah fiskal kita siap menampah? 

Utang menumpuk, pasar gelisah

Apakah ini jalan menuju sejahtera?

Makan siang gratis, niatmu mulia

 Namun pelaksanaan perlu waspada

Agar program tak sekadar wacana

 Tapi benar membawa manfaat nyata

 

*Bekasi, 1 Februari 2025*







PRAWIRO SUDIRJO, Penulis lahir di Cirebon tahun 1978. Kini guru tinggal di Bekasi. Aktif sebagai penasehat Kafe Sastra Nusantara dan ketua Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB). Buku yang pernah ditulis antara lain : Guru Medsos Masuk TV (2017), Kumpulan Puisi Jalan Hidup dan Cinta (2018), dan Kumpulan Cerita Misteri Yang Tak Terjelaskan (2021) memenangkan nominasi Scarlet Pen Award 2022 kategori cerita misteri, bukunya yang terbaru berupa kumpulan puisi berjudul “Pena Patah (2023). Selain itu karyanya dimuat dalam antologi puisi : Minyak Goreng Memanggil (2022), Antologi Puisi Pantun Pemilu  (2023). Penyair dapat dihubungi email: dwiero@gmail.com, nomor WA: 081398989282*














(075) 


MEMBACA INGIN

Hadijah Karim


Pecahlah,

anak-anak berlarian mengejar gelembung-gelembung mimpi

Pagi sekali Ipung melangkah dengan tergesa-gesa

semalaman tak dapat tidur

ayam goreng empal tahu dan tempe bacem 

pun sayur buncis dan sebutir telur menari-nari 

di pelupuk matanya

ayam goreng yang tak pernah dinikmatinya 

terbawa mimpi semalam

ayam goreng ipin upin lezat 

lezat sampai igauannya terjaga

Pagi Ipung berpesan pada emaknya 

tak usah menyiapkan makan hari ini

ia akan bawakan emaknya bekal 

nasi gratis dari sekolah nanti

di sekolah waktu keluar main tiba nasi pun dibagi

cacing di perut Ipung makin bergelinjang

ia tak ingin membuka kotak nasinya

aroma lezat cukup meneduhkan perut mungilnya

Ipung ingat emaknya yang sendiri 

bekerja sebagai  pemulung

ia ingin emaknya membuka kotak nasi itu 

dan mereka menikmatinya dengan doa

Ipung ingin suapan cinta emak 

tak pernah lepas darinya

Nasi gratis

adakah yang menolak

di bilik sana ada yang menginginkanku 

menjadi anak cerdas pandai

bisa sekolah tinggi gratis lagi

dengan kepadaianku 

kelak aku menjadi orang sukses

emakku tak jadi pemulung lagi

Emakku tak kerja berat lagi

Ipung berlarian pulang bagai kilat

Pintu rumah menganga lebar

tunggu kepulangannya


*Sumbawa, 01022025*





Hadijah Karim , kelahiran Sumbawa Besar NTB dengan nama pena HadijahKarim, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 3 Sumbawa Besar. Menulis 3 buku tunggal puisi dan beberapa antologi baik puisi, cerpen, Pantun,Syair, Karmina,bersama penyair Nusantara maupun Asean. Baginya, menulis adalah rumah hati, mencari yang kekal dan memaknai yang sementara.*











 (076)


JANJI  UNTUK SEPIRING BERGIZI 

Juhri Al Banjary**


Di meja-meja rakyat kecil

Tersaji sepiring harapan yang masih menunggu adil

Makan bergizi setahun sekali

Menunggu hari raya bagi-bagi danging mengantri disana sini 

Namun, negeri ini tak hanya soal pangan bergizi

Kami butuh pemimpin yang tak ingkar janji

Jangan beri kami pidato manis di panggung penuh intrik 

Sementara hukum masih menang bagi yang licik

Kami ingin negeri bersih dari dusta

Tanpa korupsi yang merampas asa

Tanpa kolusi yang menutup jalan

Tanpa nepotisme yang tumpulkan keadilan

Asal engkau tahu duhai pemimpin negeri  

Hari ini negeri tak baik baik saja

Tanah dan kekayaannya dikuasai segelintir elit yang memelihara para bandit

Laut di pagar, sawah dan tambak dipaksa dijual 

Negara pura pura tuli, karena sudah tak bernyali

Pemimpin pura pura buta karena tak berkuasa

Yang kaya bebas memberi harta pada penguasa

Agar mudah membungkam rakyat jelata

Duhan Pemimpin negeri, kami ingin bekerja tanpa suap

Tanpa koneksi, tanpa takut dijerat

Kami ingin hukum tegak berdiri

Bukan tunduk pada mereka yang berkuasa sendiri

Sepiring gizi bukanlah belas kasih

Melainkan hak yang tak boleh letih

Namun lebih dari itu, kami menanti

Negeri yang jujur, pemimpin berhati

Bukan hanya kenyang yang kami damba

Tapi keadilan yang nyata terasa

Agar esok tak lagi berharap gratis pada alam semesta

Hidup di negeri yang ramah adil makmur sentosa  


*Barru, 01 Februari 2025*


**Juhri Al Banjary** *Buah pasangan  Matnawi dan Umriani, anak ke dua dari tiga bersaudara, Sekarang aktif sebagai seorang Pendidik di Pondok Pesantren Al Ikhlash Addary DDI Takkalasi di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Hobi menulis dan membaca puisi. Saat ini sudah menulis lebih dari 40 Buku Antologi bersama dan 3 buku tunggal. Email: juhribanjarmasin@gmail.com. No WA. 081241117019*





















 (077) 


SEMBAB

Yohanes Moeljadi Pranata


Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.

Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.

Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.

Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.

YMP

Sarinah, 2 Februari 2025


 

Yohanes Moeljadi Pranata










 














(078) 

SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH

A. Zainuddin Kr**


Sepuluh ribu rupiah itu apa?

seekor jangkrik aduan Jalitheng, Jalibrang pun tiada terbeli. Apalagi jika ia sudah menang kontes berkali-kali.

Tetapi kita, orang-orang negri konoha, uang segitu masih cukup besar nilainya. Sepuluh ribu saja masih dapat di sunat beberapa, di tengah riuhnya pesta makan bersama para siswa.

:Nasi putih, tumis kangkung, buah pisang, dan sayap ayam negri.

"Ini makanan bergizi. Empat sehat. Gua tabok lu, biar lebih sempurna".

Bang Dedy sedemikian geramnya. Pak menteri menggeleng-nggelengkan kepala.

"Jangkrik!". Timpal pak menteri yang selayaknya di timpal.

Sepuluh ribu rupiah itu apa?

Meski segitu tetap hanya masih bisa beberapa. Beberapa tempat dan kota saja.

Ini pun dari kocek pribadi dan sementara meminjam APBD.

Ya,

tetapi tenanglah. Proyek ini pasti akan merata.

Walau tak seberapa, di kali saja akan sekian banyak jumlahnya.

***

*Pekalongan, 030225.*

 Zaenuddin KR



























(079) 

SEPIRING HARAPAN

Siti Suci WInarni


Di meja-meja kecil tersaji piring-piring harapan

Setiap sendok adalah janji memberi rasa lezat Selezat rempah yang menggoda selera

Laksana embun pagi menyentuh pucuk-pucuk asa

Mengundang tawa kecil di wajah anak negeri

Di balik aroma hangat sup cita-cita

Terpintal benang-benang harapan yang halus

Menjadi lembaran sutra indah

Mereka yang mengukir nasib mencari setitik cahaya terang

Di antara bayang-bayang janji yang terkadang semu

Namun  sajian makan sudah terhampar di pangkuan generasi emas dengan senyum mengulum indah

Ada rasa puas terkadang cemas dan was-was

Tak mampu mengadu saat mengunyah menu

Rasa di lidah tak pas 

Apakah ini sekadar tinta tinta sekilas melukis janji

Kemudian mengering di kertas waktu

Ataukah benih bergizi tumbuh subur di ladang ibu pertiwi

Mengakar dalam dada, mekar dalam  senyuman anak negeri seindah pelangi

Karena tak ada lagi rasa lapar dan perut bernyanyi

Dalam setiap gigitan tersirat bisikan alam

Mengisahkan perjalanan jauh dari keraguan

Sebuah simfoni rasa menebar kepercayaan

Apakah masa depan akan terurai dalam benang-benang nutrisi

Atau sekadar seindah alunan puisi kemudian berhenti

Mari kita menikmati piring-piring harapan itu

penuh suka cita

Sambil menatap mata langit yang merona

Mencari makna di balik setiap sendok yang terhidang

Memenuhi janji demi masa depan generasi  bergizi, berintelijensi, serta  berdedikasi tinggi

Buah impian menjadi kenyataan 

Atas segala karunia-Nya 

*4 Februari 2025*







Siti Suci Winarni

Nama Panggilan : Win/Suci

Nama pena  : SSW/ Chi Wien

Lahir :: 30 Oktober di  Ponorogo Jatim

Karya : pernah menulis 13 buku tunggal ber ISBN dan 80 buku antologi.

















 (080) 

TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN, Rissa Churria


Di warteg

Ada sisa-sisa janji yang tak pernah diselesaikan

Di dapur api tak pernah padam

Menggenggam harapan yang cepat padam 

Jika tak diberi makan

Tak ada kata yang terucap

Hanya suara sendok yang jatuh

Hanya aroma datang

Mengingatkan kita pada yang terlupa 

Kenyataan yang kerap ditunda

Setiap piring adalah utang

Setiap lauk adalah permintaan yang belum terjawab

Anak-anak itu memandang sepiring nasi

Seperti mereka menunggu keputusan  terlambat

Seperti mereka menanti janji yang tak pernah datang

Di meja makan kita semua ikut bertanggung jawab

Atas semua yang belum selesai

Atas yang masih hilang dalam hitungan angka

Dalam perhitungan waktu yang dibuang sia-sia

Mereka lapar kita pun lapar

Tapi bukan hanya perut yang kosong

Ada ruang besar yang menunggu diisi oleh sesuatu

Yang lebih dari sekadar janji

Yang tergesa untuk segera masturbasi


*Bekasi, 02.02.2025*







**Rissa Churria** *asal Banyuwangi Jawa Timur, menetap dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Menerbitkan 11 Buku Puisi Tunggal, 1 Puisi Kontemplasi, 1 buku Pedoman Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, dan 100 lebih kumpulan antologi bersama baik dalam dan luar negeri.*































 (081) 

SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS

Ais Octadiga


Alur drama kembali mengikis

Menyajikan pendekatan magis

Menutup horor bertopeng manis

Melakon Pahlawan wacana makan gratis.

Ah,

Ini sumbang ditelinga dan mata

Uforia yang teranggap najis

Kebaikan pada rakyat dari Negara

Masih kau sindir dan melankolis.

Ah,

Adakah bagi pengemis masih gratis ?

Adakah untuk para pemagar laut juga gratis ?

Atau alibi menutup kasus ?

Dan,

Ayah Bunda tak pernah meminta bayaran

Apa lagi melabeli gratis

Ini hanya lelucon yang tidak lucu

Untuk cerita bagi anak cucu.


Dewantara, 05 Februari 2025**















Ais Octadiga** *berasal dari Aceh, berdomisili di Aceh Utara, kelahiran Oktober 1987.

     Mulai menulis puisi semenjak Sekolah Menengah Atas, hingga sampai saat ini telah lebih dari seratus karya Puisi yang ditulis.

*
























(082)

JANJIMU DALAM MIMPIKU  ADA

Dona Lesmana**


Kulirik pintu disamping ku

Oh, ternyata  hentakan jantung guru yang datang

Tersenyum kecut menerka alam pikiran kami

“sudahku bilang jangan menunggu”,beliau berucap

Kulirik lagi pintu disampingku

Menyentuh perut berbunyi saat matahari diatap kelas

Nyeri sekali menambah hitungan angka depanku

Dengan waktu pasir berbisik hening.

Kulirik lirik pintu disampinku lagi dan lagi

Teringat suara bisikan bunda mendengung dengung  “nanti pilihanmu kirim makanan  gratis”

Dengan santai mengibaskan dasternya berkipas manja

Tempat bontotku tersusun rapi di kumpulan piring piring

Kuliri sambil berdiri menggapai janjimu yang tadi malam muncul

Berharap siang ini sebelum ke pangkuan bunda 

ayam goreng sudah ku telan 

susu sudah kuhisap

buah sudah ku habiskan 

beras petanipun sudah ku unyah.


Dona Lesmana, asal dari Lampung . Menetepa dan tinggal di Lampung Tengah

Baru belajar menulis puisi*









(083) 

REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR

Uleceny


Sajian impian dalam hidup bergizi.

Menguar aroma kajian makan gratis

Dan harumnya Stella di segala penjuru, berikan nutrisi jiwa pada akar negeri ini. 

Hingga sempurnakan segala ingin. 

Dalam harap, generasi emas tumbuh kyushoku sepadan.

Bukalah jendela pikir sejenak:

Sajian istimewa di kotak nasi sekolahan. 

Menguar aroma sayuran,

pisang emas mungil, lauk, dan nasi berpadu padan. 

Dan sebotol kecil, susu rasa pandan. 

Berbayar seharga sepuluh ribuan. 

Ibu katering hilang mantra. 

Lihatlah:

Ada wajah polos anak-anak negeri berbalut senyum bunga. 

Dibagikan bekal oleh bapak ibu guru. 

Hati setenang telaga, melahap yang tersaji. 

Anak- anak berumah langit pun riang

meski ia tahu. Ayah, ibu,

terik ini perutnya setipis irisan semangka.

Namun:

Anak-anak bersendok emas, perutnya menolak berdamai dengan hidangan itu. 

Tidak semua paham bukan? 

pada yang terhidang di meja pikir. 

Kadang, puisi pun berprasangka. 

*Sumbawa, 020224*







*Sulastri Saguni,* *dengan nama pena Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli,   suka membaca dan menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul " Rindu Perempuan Rumah Panggung" dan " Cinta Sebening Madu. " Serta " Perempuan penjaga Tradisi. "dan cerpen tunggal ' Merindang Rindu ( Hyang Pustaka 2024) 

 Pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA, Ketua Wanita Penulis Indonesia   wilayah NTB.*






















(084) JANJI TERBUKTI

GUNAWAN DM


Baru rencana kontroversi terjadi

Kali ini makan gratis tahap percobaan

Pagi pagi tim gizi para koki  menanak nasi

Menjelang siang diatas meja rumah belajar 

Kotak tersusun rapi siap saji menu bergizi

Murid bersyukur makan gratis

Dalam kotak ada nasi, lauk, ikan telur dadar, pisang dan susu empat sehat lima sempurna

Demikian janji suci Presiden telah terbukti

Di satu sisi banyak orang tidak setuju

Bila makan gratis terus berlanjut

rumah makan gulung tikar

Harga ikan sayur mayur dan telur membumbung 

Sebuah alternatif 

Ada suara sumbang mungkinkah akan terjadi ?

" Ulat kepompong jadikan menu bergizi tinggi "

Betapa teganya mereka kalau ini benar 

Aku tak setuju walau ini katanya halal namun jijik

Biarlah perut keroncongan 

Kalau memang niat sejahterakan rakyat berilah mereka yang yang terbaik


*Sumbawa, 06-02-2025*







*NAMA : GUNAWAN DM

PEJERJAAN : PENSIUNAN PNS

ALAMAT : RT.012 RW. 06 DUSUN MAKMUR DESA SEMAMUNG KEC. MOYOHULU KAB. SUMBAWA PROP. NTB.

HOBY : MEMBACA DAN MENULIS*

































 (085) 

Cerita Pagi Di Piring Nasi

Syarifah Laila Hayati


Di awali sebuah janji

Sepaket nasi

Mengawali orası jika menjadi

Saat itu tiada lagi 

Semua sudah dijuali

Mimpi itu telah menjadi bukti 

Anak-anak meneriaki

Paket gratis sarapan pagi 

Serasa basi

Tersisip buah cukup sebiji

Supaya tiap petak terisi

Namun cerita pagi

Terindikasi 

Dicurangi

Sarapan yang katanya bergizi

Ada secuil cerita tak sedap lagi

Bukan itu tuan yang kami cari

Wahai pemberi janji

Buku sekolah jangan lagi ayah kami beli

Sekolah gratis lebih mumpuni 

Sarapan pagi cukup ibu kami beri

Ayah pejuang masa depan putra-putri 

Kami bocah generasi 

Tak perlu gratis sarapan pagi 

Bangku sekolah tempat kami duduki

Tak layak lagi

Itu benahi

kelak kami berkata tuan paling mengerti 

Sebagai generasi negeri ini


Riau, 070225


 (086) 

BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU

Rosidah Resyad RosieR


Berikan aku sepiring nasi

agar serunaiku bersuara

berikan aku secuil gizi

agar suaraku bergema

aku lelah berbaring 

mendengar irama perutku

dalam rimba kelaparan 

Jangan pucat

Aku membawa sepiring nasi

untuk perutmu yang bernyanyi

terdengar suara dari sarang laba-laba

setelah itu aku mendengar orang-orang bertengkar

aku tak  tahu mengapa bersengketa

aku terus melumat serpihan lauk pauk

agar redah laparku

sebab di rumah aku tak lagi mengenalinya

telah kering kerongkongan

dalam pestanya yang mewah

makan bergizi mengenalkanku

pada ayam goreng sayur lodeh udang tepung lahapku hari ini sejenak lupakan lapar hari esok.

biarlah lauk pauk memberi kesan dalam nadiku dalam keharuman makan bergizi

walau aku melihat seakan orang-orang tak mengerti.

hari ini aku melihat sinaran tajam lampu baru

tak lagi menyeret keronconganku

aku telah berada dalam catatan di buku kecilnya

dan disetiap sudut mereka berseru

dari gizi tanah Indonesia

membangun negeri emas dan jangan lupa

kenalilah aku baik baik

buat meredahkan lapar baru.

Sumbawa,7 Februari 20025

 


Rosidah Resyad RosieR

Lahir dan domisili di Sumbawa NTB

Hobby menyanyi dan menulis




















 (087)MAkAN GRATIS DI JALANAN 

Riani Pemulung


Bocah dekil rambut kusut dengan mata yang sayu bertanya pada ibunya 

Mak,aku mendengar anak anak sekolah mendapatkan makan siang gratis 

adakah untuk kita Mak ?

emakpun tersenyum sembari asyik mengorek ngorek tong sampah di depan nya

bocah dekil kembali bertanya 

mengapa tersenyum Mak ?

bukankah aku juga anak ibu Pertiwi?

bocah dekil memicingkan matanya 

emakpun menghela nafas 

Nak,tak usah kau banyak bertanya 

nikmati saja hidup kita hari ini 

bersyukur masih banyak sisa makanan di tong tong sampah yang bisa kita kais 

bersyukur juga sampah sampah masih bisa kita tukar dengan rupiah 

Mari kita berdoa saja 

semoga setiap hari smakin banyak para relawan yang berbagi nasi bungkus di jalanan 

hingga kita bisa setiap saat makan makanan yang layak

bukan dari sisa tikus tikus 

Tegal 7 Februari 2025










Riani lahir dan tinggal di kota Tegal Jateng 

25 Mei 2974

aktivitas sehari hari Pemulung sampah 

yang sudah dijalani sejak tahun 2005

hingga sekarang 

pendidikan tamat SMP 

hobi menulis dan membaca puisi dari SD 

memiliki empat putra 

hobi menulisnya tertuang dalam buku Antologi tunggal yang berjudul Mengais Memulung Dalam Kehidupan 

dan mengikuti beberapa Antologi puisi bersama 

untuk terus belajar berkarya
























 (088) 

DOA MAKAN BERGIZI GRATIS

Ence Sumirat


Ya Tuhan, semoga hidangan yang tersaji berasal dari tangan lembut ketulusan, bukan dari ambisi kasar kekuasaan apalagi pamer unjuk kebesaran yang mencengkeram indah kehidupan

Biar lapar kemanusiaan berhenti disuapi kerinduan, biar ratap kenyerian ditutupi lagu kebahagiaan

Ya Tuhan, mudah-mudahan makan gratis ini adalah muhasabahnya pemimpin kami kembali membaca kitab suci, setelah lama telantarkan bersama pongah dan keserakahan di setiap meja perjamuan juga di haus jiwa yang senantiasa menjulangkan doa menjerit hingga menggedor langit

Kabulkanlah Tuhan

Aamiin!


Cianjur 8 Februari 2025


















Ence Sumirat lahir di Cianjur.Belajar menulis puisi secara otodidak.Karyanya banyak dimuat majalah cetak juga online.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Juga kurang lebih lima puluh puisinya termuat dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bekerja sebagai seorang pemulung





























(089)

BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI

Sugeng Joko Utomo

Makan siang bergizi

Penuh variasi

Sayur oseng dan sekepal nasi

Sepotong daging menemani

Dimasak di dapur umum desa

Sekali masak untuk duaribu siswa

Diolah oleh ibu-ibu PeKaKa

Tanpa cheff apalagi ahli pramubujana

Yang penting semua anak sekolah

Sukaria menerima jatah

Soal rasa itu hanya selera lidah 

Tak pernah ada protes keluh kesah

Tentang nominal harga tak sesuai janji

Itu urusan para pemangku negeri

Yang penting perut kenyang terisi

Gratis sehari sekali 

Masalah sebagian dana dikorupsi

Ah, masa bodoh tak ambil perduli

Tapi tidak dengan para orang tua

Inginnya sekolah gratis tanpa biaya

Kalau untuk sekedar makan cukuplah ada

Tapi terasa berat untuk iuran SPP dan lain sebagainya 

Hai para orng bijak

Adakah solusi yang berpihak 

Pada masyarakat desa di pelosok 

Yang ekonominya tumbuh terseok-seok

Panen sawah tiada pasti

Pupuk mahal tak terbeli

Kerja ke kota tak mengandung janji

Bertahan di desa pun bisa mati berdiri 

Ah, sedih tak terperi

Mengingat sistem di negara ini

Tasikmalaya, 9 Februari 2025

(090) 

MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN

Yoffie Cahya


Program makan bergizi gratis

Kau penuhi sesuai janji

Bukti cintamu pada anak- anak bangsa

Hatimu memang sangat mulia 

Program makan bergizi gratis

Di sisi lain membuatku miris

Terkesan kemiskinan bangsa ini

Tak mampu membeli makanan bergizi 

Program makan bergizi gratis 

Memang hanya suatu permulaan

Kinerja dari sebuah pemerintahan 

Menepati janji sewaktu kontestasi

Harapanku padamu, Bapak Presiden

Prioritaskan kesejahteraan rakyat jelata

Keadilan dan kemakmuran yang dirasakan bersama 

Rakyat bisa membeli sendiri makanan bergizi

Teruslah berjuang demi kemajuan bangsa

Sebab hidup bukan makan semata

                                        Kadipaten, 6 Februari 2025













Yoffie Cahya, lahir di Kadipaten Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Oktober.  Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel di media cetak dan daring. Menulis buku kumpulan puisi, cerpen, esai secara pribadi dan bersama penyair- penyair lain  (antologi ).

Tahun 2023 bersama esais dan penyair Hikmat Gumelar mendapat penghargaan dari Pemda Majalengka sebagai sastrawan yang berasal dari Majalengka.




























(091) 

Mungkin Karena Tidak Sarapan

Kasdi Kelanis


waktu itu aku kelas tiga awal sebuah SMP di kota lereng  Merbabu

seperti biasa aku harus jalan kaki

11 km pulang dan pergi

sarapan pagi ala kadarnya yang penting ada nasi

selalu kakekku bangun lebih pagi

menyiapkan sarapan pagi

dengan tungku batu diisi kayu bakar

biasanya nasi jagung masih tersedia setiap pagi

kakek tinggal membuat sayur

sederhana dari tempe dengan

kuah melimpah

itulah rutinitas pagi anak lereng

Merbabu yang menimba ilmu

dari desa ke kota yang berjarak 11 km

pada suatu hari

terpaksa perut tidak terbekali nasi

namun kakekku sangat cepat

membaca situasi

bergegas menyambar tangga bambu menaiki pogo mengambil

beberapa kentang lalu direbus

untuk sarapan cucu pertamanya

tidak ada uang jajan SPP pun

sudah biasa nunggak

sekolah tanpa sepatu lumrah

pada waktu itu

namun keakraban dan kesetiakawanan terjaga dan

adab pada guru adalah utama

singkat cerita setelah tidak sarapan nasi itu aku jatuh sakit

berkepanjangan dan keluar dari sekolah

di usia tua ketika mengenang

semua itu ada program makan

bergizi gratis untuk siswa

tentu aku tidak menikmati

aku mengerti pemerintah peduli

sekalipun banyak yang kurang empati

masih banyak saudara kita yang

belum beruntung

untuk kebutuhan makan saja

masih harus kerja keras mengumpulkan rupiah

aku jadi ingat kisah di buku

suci

ketika Sang Juru Selamat memberi makan lima ribu orang lebih dengan dua roti dan lima

ekor ikan yang diberkati

moga program makan bergizi

gratis ke depan makin bergengsi

tidak menjadi bahan ejekan keji

Sragen, 10 Februari 2025


















Kasdi Kelanis  penulis puisi di fesbuk. Sejak September

2020 telah membukukan puisi-

puisi tersebut dalam 10 judul antologi tunggal dan tentu saja

ikut aktif kegiatan menulis antologi bersama dan kegiatan sastra di berbagai kota. Antologi

Bisik-Bisik Daun Padi (Prabu 21, Batu Malang 2021) dan Hari-Hari Purna-Bhakti (Kosa Kata Kita, Jakarta 2022) telah mendapat apresiasi Lumbung Puisi Penyair Indonesia di bawah

komandan RgBagus Warsono, masuk Sastra Nagari-kesetiaan

bersastra 30 tahun dan Sastratama

bersama teman-teman sastrawan

lainnya, serta Antologi Hari-Hari

Purna-Bhakti masuk nominasi pemilihan antologi puisi 2024.



















(092) 

SUAPAN BERPENGHIBURAN

JUWAINI (Cak Ju)



Karenanya hanya meyenangkan perasaan

Bukan solusi jalan menyelesaikan persoalan – bagi yang membutuhkan –

karena rata semua mendapatkan yang kenyang semakin kenyang disaat negara dalam kesulitan 

Inilah suapan hanya sepintasan sesaat ada

yang melenakan dari tujuan kepentingan dukungan jalan kekuasaan bukan pendidikan siyasah memberi pelayanan anak anak bangsa dalam madrasah panjangnya yang akan melahirkan bagaimana cara membuat kail dan jala untuk menangkap ikan 

Ini juga bukan gratisan jika di ambil dari pajak apalagi dari pinjaman anak anak kelak yang akan mengembalikan 

Inilah era bangsaku bapak bapak yang tak bepikir panjang yang bapak bapak tau siyasah penghiburan itu jalan untuk meraih kemenangan kekuasaan berkelanjutan

        Kediri 2025













Juwaini (Cak Ju) Lahir di Kediri - Jawa Timur 31 – 01 – 1969. Alumni Fak Pertanian Universitas Muhammadiyah  Malang. Menulis sastra dan ber teater sejak menjadi mahasiswa. Puisi nya sebagian  di antologi kan dalam 15 buku bersama penyair di berbagai kota. Pengurus  Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab Kediri – Jawa Timur komite (bahasa, sastra dan tradisi lisan) periode (2022 – 2025) dan sebagai humas ormas ABI (ahlulbait indonesia)  wilayah Kediri dan Nganjuk. Email : juwaini.3@gmail.com  


























(093) 

Mengeja Nasi Dalam Pikirmu

Riki Utomi


Satangkup saja, menjalar debar kami menatap. Ruap apakah di dalam itu? Kau genap menatap nasi bisu itu. Gugup menyela lauk sejumput itu.  Tiba-tiba tanganmu gemetar maraih sebuku kecil tempe dan tahu. 

Berdengung telingamu akan harapan. Semacam rasa menuntaskan gizi. Nun jauh harap itu, disini kau gemuruh risau dari bentuknya saji. 

Pejam matamu dalam ke kunang hitam. Perut berkata lain pada sebuah hakikat hidup. Meski harapan jauh untuk melunas impian. Pikirmu tersimpan rapuh pada sajian. 

Setangkup saja atau raihlah sendokmu meski tangan gemetar. Cukuplah rumit perutmu bergetar untuk menuntaskan remuk gamang itu. 

Selatpanjang, 3 Februari 2025


Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Buku cerpennya Mata Empat (2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2017). Buku esainya Menuju ke Arus Sastra (2017). Puisi-puisinya tersiar di media massa lokal dan nasional. Bekerja sebagai pendidik dan bermukim di Selatpanjang, Riau.










 (094)

Menguak Asa di Gerbang Pagi

Juliati


Dini hari ini aku sudah siaga

Menjingjing tas berisi tiga buku tulis tipis dan dua kresek kecil

Dengan seragam lapuk yang terus kupakai untuk menuntut ilmu

Dan hanya sesekali terisi rupiah ada di saku

Memakai sepatu baru pemberian Bu Guru dan kasut hitam yang sudah berlubang di area jempol kaki

Tak sedikitpun mengurangi semangatku untuk segera beranjak dari gubug kecil menuju pondok ilmu

Aku tetap melangkah tegap meninggalkan tatapan iba dan cemooh yang sering kudapat 

Lirih kudengar suara merajuk

Minta Aaaaaaa 

Sejenak aku menoleh ke belakang 

Lambaian tangan kecil memohon dengan tatapan kosong

Tekad ku makin menggebu 

Bertarung menggapai asa yang entah kapan tergapai

Tak sabar kudapat bagian itu 

Kulihat banyak yang sudah di tangan 

Sementara aku masih menunggu giliran 

Bergetar tangan kala kudapat nampan berisi empat sehat lima sempurna 

Kulihat daging ayam yang begitu menggoda

tahu tempe yang tak kalah merayu tuk segera ku makan 

Sementara wortel , dan sawi putih yang tak luput dari pantauan 

Nasi putih teronggok di samping susu kotak serta seiris besar pepaya merah

Nanar kulihat semua , hampir aku kalap untuk segera kulahap

Namun teringat suara lirih dan lambaian harapan 

Aku segera berlari meraih plastik kresek 

Ku bungkus nasi dan lauknya 

Segera kusimpan dalam tas usangku

Yakin ku begitu membara 

Jika kuhadiahkan pada adik tercinta

Ada bayangkan senyum simpul gadis kecil

Berharap ada asupan untuk tubuh linglainya 

Ayah , bunda , kupenuhi tanggung jawab ini agar kalian tenang di sana 

Indramayu , 11 Pebruari 2025




 


Juliati




 (95)

Merawati May

MAKAN GRATIS

Kata-kata tak sekadar ucapan. sebab muara dari laut persoalan adalah mulut

Setelah melewati rangkaian uji coba sepanjang biaya di atas rel kereta api, program makan bergizi gratis pun tiba ke mulut anak-anak 

Adakah nasi-nasi itu menyasar ke anak-anak di atas timbunan sampah kemiskinan di bantargebang?

Memang, 

perut, mulut, dan kemiskinan mengakses kelaparan dan kehidupan anak-anak dibelenggu kemiskinan  

Adakah kelaparan itu datang lagi setelah mulut-mulut pengunyah kemiskinan terkulai

tatkala janji-janji terhenti atas pergantian kekuasaan nanti?


Bengkulu, 12 Februari 2025


















Merawati May, lahir di Mukomuko, 12 Mei 1978. Karyanya tergabung dalam berbagai antologi al. Dan memiliki lima buku tunggal. Perjalananku (2016); Nasihat Ibu (2021); Kidung Hati Amreta (2022). Aku Milik Siapa (2023). Dari Awal sebelum akhir kenangan (2024).  Karyanya tersebar di berbagai media masa baik media masa daerah, nasional dan Asean. Serta digital. Pernah masuk di jurnal puisi

cinta, majalah Homagi magazin, Media sastra dan budaya, majalah semesta seni, koran

PosBali, koran NusaBali, Bali politika, majalah Jurdik.id, majalah elipsis, Majalah Redaksi

apakjake, majalah Pemuisi malasiya dan blok pekerja seni Riau. Fb: Merawati SE, Ig: Merawati May, Email: mutiarakasihbkl@gmail.com, No Hp. 085381277268.

Buku tunggalnya dua kali lolos di ajang FSIGB Gunung Bintan tahun 2023 dan 2024















(096) 

Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.

Rust Gaok


Saat ku tulis ini, perjalanan baru dimulai. sepuluh hari adalah bayi baru lahir belum bisa berbuat apa-apa. Namun cerita  miring terjadi di mana - mana . Menu menampar wajah . Ayam berlari kulitnya tersayat. Keras. Anak- anak berlari ketakutan. Ada yang pasang badan. Membunuh demokrasi. Kejujuran yang demokrasi rupanya menjadi beban. Menjadi rintangan.

Anak+ anak sesungguhnya adalah simbol kejujuran. Mereka hanya menjawab pertanyaan . Belalang dan serangga beterbangan di antara sayur dan nasi . Anak- anak berlari menangis ketakutan. Cerita berhamburan di media sosial. Tantang perubahan harga. Tentang ayam yang rasanya aneh . Tentang  susu rasa daun kelor. Tantang anak- anak yang tidak mau makan. Tentang cerita di negri dongeng. Bulan madu yang menawarkan harmonisasi, tiba-tiba  menjadi senja yang gelap. Sayur tumpah di antara nasi yang sedikit basi . Senja makin gelap menjadikan langkah makin sulit. Kerikil mempersulit langkah.

Dan anak- anak mengeluh, membiarkan perut lapar demi masakan di rumah. Ada yang diam menatap tajam. Ada yang bingung melihat nasi yang basi. Ada yang muntah bau racun. Tak ada yang terpaksa

Semoga!

                           Pemalang, 6 Feb 2025








Rustono ( Rust Gaok) , Tenp.tgl lhr: Pemalang,6 Desember 1963

Pendidikan terakhir: IKIP MUHAMADIYAH YOGYAKARTA

LULUS 1990

Pekerjaan : Guru di SMA N 1 BANTARBOLANG PEMALANG Samapi sekarang. 

Menjadi pengelola SMK PGRI 3 RANDUDONGAKAL dari 2003 s.d. 2008

Organisasi :DKD KABUPATEN PEMALANG sebagai  penasat 

Karya: Keranda di Kurusetra ( kumpulan puisi )

























097) 

Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris

Asti Musman


Ayah, mengapa ayah di rumah?

Tidaklah upah akan sirna jika kerja tiada?

Ibu, mengapa ibu termanggu kelu?

Bukankah jatah makan bergizi gratis telah masuk perutku?

Aku tak mengerti mengapa ini terjadi

Makan bergizi gratis mendulang miris

Ayah  tertimpa  PHK

Atas nama efisiensi dana agar kami bisa makan bergizi gratis

Ibu, pandanglah aku anakmu

Bergegas pulang ingin bercerita padamu

Tentang nasi, sayur, dan ikan yang aku makan

Mana masakamu ibu? Aku Rindu!

Penguasa, ayahku dan ayah-ayah mereka

Tersungkur tanpa daya

Pikirkan ulang benarkah makanan bergizi gratis maslahat untuk semua?

Ataukah penting bagi kami dan bagi segelitir bangsa?

Penguasa, jika keputusanmu salah, bukan berarti kau kalah

Tak ada manusia luput dari salah

Mari kita telaah, bagaimana harus berbenah

Berikan kami kail, agar kami mampu menjaring udang galah

Bukan makanan gratis yang membuat semua jadi resah


Madiun, 13 Februari 2025


Asti Musman** *adalah nama pena Estiningdyah, SP. Penulis  yang lahir di Tuban, Jawa Timur tahun 1968 .  Pernah bekerja sebagai  announcer dan reporter di radio Global FM Bali, Penanggung Jawab  Radio Global FM Jogja, dan eksekutif produser program feature Jogja TV.  Pernah menulis di Koran Bali Post, Nusa Tenggara, Swadesi, dan Simphoni. Ia merupakan penulis otodidak yang telah banyak menulis puisi, cerita pendek berbahasa Jawa serta menulis  lebih dari 40 buku dengan tema sejarah, budaya Jawa, dan psikologi popular.  Karya terbarunya : Seksualitas dalam Budaya Jawa  (Gerbang Media, 2025),  Amazing Leaders (Anak hebat Indonesia, 2025) dan  Kumpulan Geguritan Kinanthi Gurit Pawestri (Interlude, 2025). Penulis  merupakan bagian dari penggagas Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya). Saat ini penulis berdomisili di Madiun.












 (098) 

SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG TERSEDU

Puisi Abror Y Prabowo

Adakah yang lebih haru ketimbang cahaya

yang terselip di antara sendok dan garpu?

Mata redup menghirup semangkuk sup.

Kanak-kanak melonjak:

Nasi telah berpulang ke piring-piring kita.

Tak perlu cemas mengaduk udara,

memungut remah doa dan nestapa

di dasar periuk yang hampa.

Ibu tersedu.

: Biarlah wortel, ikan, telur dan segelas susu

menuntun langkahmu tanpa lapar yang dulu

kerap mengintai dari balik pintu,

menjelma orkestra di kebun-kebun ayah

yang tak kunjung berbuah.

Tak usah lagi menyeduh angin,

meneguk embun dari cangkir yang retak.

Kanak-kanak kian bertepuk, merayakan

setiap suapan, seperti menyambut bulan

jatuh ke pangkuan.

"Inilah negeri para dewa,

perut kenyang cuma-cuma

sebab mereka telah menebus janji

demi suara yang diarak di musim pesta."

Maka janganlah terlambat

mencecap Allahuma baarik laana—

agar daging, telur dan sayur mayur

tenang bersemayam dan tak berontak

di perut kanak-kanak. Agar harapan

kian mekar di lidah mereka,

tanpa harus berkali meronta

karena lelah ditipu cahaya.

Yogyakarta, 2025


Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menempuh Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Karya cerpen dan puisinya telah dipublikasikan di berbagai media. Karya puisinya terangkum dalam antologi “Lagu Tembang Nyanyian”. Buku kumpulan cerpennya "Anjing dengan Luka di Tengkuk”, dan “Maaf Aku Membaca Diary Ungumu”. Selain itu juga menulis naskah drama dan menyutradarinya, di antaranya, “Sih”, “Lolong”, dan “Gincu” yang dipentaskan di Yogyakarta bersama Teater KSP Indonesia. Ketiga naskah dramanya tersebut rencananya juga akan diterbitkan dalam buku antologi di tahun ini oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat sebagai bagian dari program advokasi terhadap kekerasan perempuan. Saat ini berprofesi sebagai praktisi digital marketing di perusahaan yang didirikannya bersama beberapa rekan, PT. Nuera Global Internasional yang fokus menangani digital advertising & business consultant. Bersama istri dan keempat anaknya, tinggal di Perumahan Taman Arum Sari Blok M, Cokro Konteng, Sidoarum, Godean, Sleman, DI Yogyakarta, 55264. 







(099) Piring Harapan di Meja Negeri

Irawati


Fajar menyapa dengan lembut 

hidangan tersaji menggugah selera 

Beras putih bak butiran permata

mengisi perut dengan kehangatan cinta

Sayuran hijau bagai zamrud bersinar  

memberi kesegaran bagi raga 

Ikan melompat dalam rasa nikmat

menyuburkan jiwa dengan cahaya

Susu mengalir bagaikan sungai emas

menguatkan tubuh penuh semangat 

Buah berwarna seperti pelangi

menjalin sehat dalam harmoni

Tak ada lagi mendung kesedihan

kelaparan pergi, senyum merekah

Di meja makan, kasih mengalir

makanan sehat membawa harapan

Piring-piring penuh keceriaan

menghapus duka, memberi kekuatan

Setiap suapan sinar penerang

membimbing langkah menuju masa depan

Di dapur cinta, tangan saling membantu

menjalin impian tanpa batas

Makanan sehat adalah hak semua

mewujudkan negeri yang peduli sesama










Irawati

Kepala SDN 04 Sikabu Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam

Hobi traveling dan menulis






























(100) 

Tidak Ada Makan Gratis

Ujang Saepudin


Berapa harga yang akan kau makan

Untuk menghapus suara perut teman-temanmu

Yang terdengar di kelas-kelas jauh

Tentu, sekarang dan nanti 

Kau akan membayarnya

Sesudah dunia mereka kenyang purna lepas.

Kau akan menghitungnya sesudah beberapa soal terjawab oleh laparmu.

Tanpa semua itu, kau masih tetap mengunyah bukan. Yang perlu kau lakukan adalah mengisi lambung teman-temanmu dengan nilaimu.

Kau tak perlu bertanya kapan makan gratisan itu tiba lalu mengunci mulutmu. Sebab, telah aku ajarkan cara memberi dengan tangan bersih & telah aku beritahu jawabannya 

untuk kau presentasikan di depan negara.


Cianjur, 2025















Ujang Saepudin lahir di Cianjur, aktifitasnya sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur, beberapa puisinya tersiar di media nasional dan digital.






























(101)

NARASI TERKOYAK

Manaek Maruhum Siburian


Di ruang siaran yang dulu riuh,

mikrofon kini berdebu diam.

Gelombang suara yang mengudara,

tiba-tiba terputus tanpa salam.

Di balik layar yang dulu terang,

gambar menghilang, sinyal meredup.

TVRI dan RRI tenang,

ditinggal mereka yang setia hidup.

Dulu mereka membaca berita,

menyampaikan suara rakyat jelata.

Kini nama mereka tertulis dingin,

di surat PHK tanpa kata.

Semua bermula dari sepiring nasi,

makan bergizi tanpa beban.

Tak perlu bayar, tak perlu cemas,

jalinlah kebersamaan dalam pangan.

Namun entah dari mana datangnya,

angin buruk bertiup kencang.

Katanya gratis adalah beban,

menggerus untung, meruntuh ruang.

Rapat-rapat di meja tinggi,

tak ada suara dari bawah.

Keputusan turun seperti petir,

memutus ratusan langkah pasrah.

Mereka yang dulu mengabdi setia,

menginformasikan negeri dengan jujur.

Kini berdiri di depan gerbang,

menggenggam kertas yang getir.

Di studio yang mereka bangun,

tinggal gema langkah terakhir.

Tak ada perpisahan yang bermakna,

hanya keheningan yang menyindir.

Di luar gedung, langit kelabu,

angin membawa bisik keresahan.

Mereka bertanya dalam hati,

"Apakah ini harga keadilan?"

Makan bergizi tanpa bayar,

mereka menganggapnya salah.

Namun siapa yang bisa menjawab,

mengapa kemanusiaan membuang sampah dengan mudah?

Narasi ini terkoyak kasar,

dengan keputusan tanpa rasa.

RRI dan TVRI masih berdiri,

tapi jiwa telah binasa.
























Manaek Maruhum Siburian, Lahir di Tanjung Morawa, Deliserdang sumatera utara.belajar menulis artikel selama 3 tahun yang sudah dibukukan bersama teman-teman penulis artikel dan belajar puisi sederhana satu tahun, seorang guru di Merauke Provinsi Papua Selatan kurang lebih 20 tahun.sudah berkeluarga memiliki 2 anak laki-laki.sekian terima kasih salam kenal





























(102) Dilanjut Besok

Mang Zaenal


Aku bingung karena pandir

kala senja digilir ribuan bulir

air hujan jatuh ke bumi bergulir

sepanjang zikir petang tanpa anulir

kupikir mentari tertutup mendung

kunaksir pada guntur meraung

meski kupaksa azam kian menggunung

rehat adalah perihal sedia payung

sudahkah kita mensyukuri hari?

di mana gas semakin sulit dicari

sudahkah kita menekuri hati?

di mana konten semakin tak diminati

aku bingung karena tak juga sadar

kala senja digigiri ribuan kalam onar

meski kupaksa tekad kian berbinar

makan adalah perihal belaja tak berbayar

Cirebon, 18 Februari 2025

Mang Zaenal
















 (103) Semangat Matahari Pagi

AM. Haryadi Salim


Dengan berbekal buku dalam tas ransel

Anak-anak menyambut semangat matahari pagi menuju gudang ilmu


Menggali ilmu, memeras pikiran bersama udara segar

Menciptakan cakrawala luas dalam menggapai harapan cemerlang


Membangun pilar-pilar kehidupan yang kuat tanpa keluh


Tak ada yang harus diragukan atau bahkan disangsikan

Selama pengetahuan menjadi jendela dunia mengalir mengikuti arus tanpa berlawanan

Berjalan pada garis pikiran tanpa membengkokkan ilmu

Tanpa mengandung wabah kecemasan pada orang-orang tua


Gudang ilmu menjadi tempat mencetak tunas-tunas baru dengan cakrawala yang mengharumkan bumi pertiwi

Di gudang ilmu

Anak-anak suntuk memeras pikiran

Tanpa tiupan udara dingin

Suntuk dan gerah berpacu dengan pikiran saling mengalahkan


Nasi gratis membangkitkan gairah perut kosong yang lama tertahan di antara buku-buku

Meski hidangan tak jauh beda dengan menu masakan simbok

Dengan kelezatan yang dihidangkan

Makan gratis bergizi selalu dihidangkan di meja makan keluarga yang tak pernah mengurangi gizi

Tempe dan tahu tak asing dalam tenggorokan hingga rasa melekat

Di gudang ilmu anak-anak dijejali tempe dan tahu

Menjadi generasi tempe-tahu

Semarang, 2025






























 (104) 


ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG

Door Deo


ada khabar, bukan khabar burung

khabar pemenuhan janji

makan gratis dan bergizi

: buat anak sekolah

secepat burung terbang

khabarpun tersebar

: menyenangkan

( terbayang bagaimana 

 emak-emak

bapak-bapak

para orang tua wali murid

 menyambut gembira khabar yang tersiar

bukan khabar yang dijatuhkan burung )

dan

ada cerita disebuah sekolah

sesuai info bapak ibu guru 

murid di kelas ada empat puluh orang,

tukang rangsum bertanya pada murid

kalian semua ada empat puluh orang

jadi, 

harus berapa kotak makanan dibagikan

seketika suasana kelas terasa sepi

bapak ibu guru pendamping merasa kikuk

bayangkan

empat puluh mulut ada delapan jawaban

: berbeda

sunguh tak masuk akal

( jadi perenungan kita

murid terasa kehilangan ilmu)

empat puluh bungkus dibagikan

tiga puluh enam mulut bergoyang

menikmat makanan gratis

makanan bergizi 

enak sekali

: katanya

empat mulut menganga

melihat menu makanan gratis

tak juga memakan

: keheranan

kenapa nak, tanya bapak ibu guru

- buat emak bu

+ buat orang tua pak, jawab yang lain

:duh Gusti

ada apa dengan anak-anak kiita 

( makan gratis dan bergizi

memang membuat sehat dan kuat

semoga giat bersekolah

untuk menimba ilmu

bukan untuk mengejar gratisan makanan )

semoga kasih dan bijak

terbalut kotak ramsum

mengabulkan segala harapan

: sang pemimpin

semoga kasih dan bijak

di menu makanan gratis

semakin mendidik murid

semakin menyehatkan murid

tetanggaku bilang

ada-ada saja

berapa tahan lama 

makanan gratis bergizi ini

aku pilih sekolah gratis selamanya

: betul juga gumanku

rumah bluesku

200225

Door Deo, pecinta dan pelaku seni, terus menjelajah mencari kebeningan dan keheningan hingga kelegaan batin































 (105)

Makan Gratis di Bawah Senja

Agus Yuwantoro


Ribuan cahaya senja bersinar remang remang

Dibawah pangkalan gas elpiji tambah mahal

Bahkan bisa terbang bebas diangkasa

Bisa sembunyi di balik seragam rakyat

Entah rakyat bawah atau rakyat siluman

Ribuan cahaya senja

Menari sambil bernyanyi lagu mars kesunyian

Padi padi tidak menguning lagi

Gabuk bahkan hancur tergilas harga pupuk tinggi

Barisan petani berjalan pringas pringis

Dibawah pohon ketela palengka 

Diubah menjadi nasi

Kertas pajak melambung tinggi

Hampir menyentuh cahaya matahari

Panas membakar hati

Barisan petani diam membisu diri

Tidak bisa tersenyum melihat mendengar

Uang pajak hilang tiada arti

Ribuan cahaya senja mulai menangis

Melihat butiran nasi berterbangan

Bebas di plataran bumi

Menembus sekolahan

Pesantren

Yayasan lansia

Pantai asuhan

Bahkan komplek pelacuran

Sampai Pendidikan Anak Usia Dini

Butiran nasi menari nari

Dengan gaya bebas bersama lagu lagu birokrasi

Bocah bocah pringas pringis

Melihat butiran nasi bisa menari nari

Dengan gaya tarian curi timah, emas, batu bara, minyak gas dan semua isi bumi

Cahaya senja mulai gelap

Banyak manusia bumi gelap mata

Maling teriak maling

Korupsi teriak kurupsi

Ribuan cahaya senja merasa malu

Menyinari jutaan langkah kaki

Penuh lukisan kaki para korupsi

Butiran nasi mulai menari lagi

Dibawah cahaya matahari

Entah kemana lagi

Dibalik tembok tinggi

Bocah bocah pinggiran menatap langit

Telanjang dada sambil gigit jari

Menunggu butiran nasi berhenti menari

Ribuan cahaya senja 

Mulai membisu

Disana ya disana

Harusnya butiran nasi 

Menari nari bersama bocah bocah 

Terkapar dibalik gelapnya birokrasi

Butiran nasi mencakar bumi

Membisu diri

Tidak tahan melihat anak negri

Napsu korupsi semakin tinggi

Melebi ganasnya panasnya matahari


Wonosobo, 27 Peb 2025

Gelandangan Sastra Agus Yuwantoro








Agus Yuwantoro

Sangat suka belajar sastra 

Sudah menerbitkan 59 buku antologi, 4 Kuncer 3 antologi puisi. Menulis novel pertama Gadis Bermata Biru.Novel ke 2 Cinta Bersama Senja. Novel ke 3 Pelukis dan Parfum Novel ke 4 Pelangi Cinta.


























 (106) 

Narasi Tak Berkoda

Muhamad Yusuf


Program makan gratis itu

akan mengusir lapar

mengikis kebodohan

mencerdaskan anak-anak sekolah

di tengah permainan masa yang sering tak berpihak

Nasi putih dan sepotong lauk berminyak

adalah harapan

Sayur dan sebiji buahnya membawa warna kebahagiaan

segelas air putih menawarkan kesuksesan

semuanya melompat gembira

Saatnya bersantap

di antara tawa, terdengar isak tangis haru

Bukan karena tak suka tempe atau rasa pedas

namun jatah makannya akan dibawa pulang

dinikmati bersama ibu dan saudara.

Terkuaklah kenyataan

jalan ini bukan hanya soal gizi,

tapi juga menunjukkan jurang curam

kemiskinan dan perbedaan yang teramat dalam

Berserakan kabar 

dananya tak jelas alurnya

warga sekolah didera bimbang

jika selalu disuguhi janji yang tawar

Narasi tak berkoda

berhamburan di dinding-dinding maya

justru menjadi santapan setiap pagi

menggali keniscayaan tamsil:

gizi cukup, anak cerdas, masa depan bangsa cemerlang?

                       Muhamad Yusuf



Muhamad Yusuf, S.Pd (54 tahun) merupakan ASN Guru Bahasa Indonesia yang bertugas di SMAN 1 Banjarmasin. Menyukai membaca dan menulis. Karya-karya penerbitan berupa 2 buku antologi cerpen, 2 buku non fiksi, 1 buku cerita anak. Beberapa kali menjuarai penulisan seperti naskah pembelajaran, cerpen, pantun, dan esai/artikel. Cerpen dan opininya juga  menghiasi lembar harian lokal. Cukup sering mengikuti program penulisan bersama, baik yang dimentori pegiat sastra nasional.



























(107)

TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN

Thomas Sutasman


Teriak Heinlein menyambar:

Tidak ada makan siang gratis, kawan.

Anak bangsa berpesta dengan sepotong ayam, saban hari.

Di bawah himpitan pajak yang meninggi.

Diguyur importir yang menutup kreatif warga bangsa sendiri.

Dijejal barang konsumsi yang berakhir terhanyut menjadi sampah di kali.

Dibayangi betapa miskin masyarakat, makan pun ditanggung negara

Digerogoti uang negara, hilang percuma, tanpa pemberdayaan.

Tidak ada makan siang gratis, kawan

Teriak Heinlein meninggi

Yang didengar sambil lalu.

(Dari kejauhan terdengar sayup-sayup

Rentetan suara oke gas, oke gas, oke gas

Tak terkendali tanpa pegas,

Dan mungkin sedang antri gas)













Thomas Sutasman, Lahir di Kulon Progo, 6 Maret 1974, tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika SMP Pius Cilacap. Aktif dalam MGMP Matematika Kabupaten Cilacap. Tulisannya pernah dimuat di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Satelit Post, Hidup, Educare, Utusan, dan Cur Unum Keuskupan Purwokerto. Anggota Warga Episthoholik Indonesia, dan Komunitas Tjilatjap History. Beberapa tulisan dimuat dalam beberapa buku, terakhir Pernik-Pernik Sejarah Cilacap (2024). Menulis buku pendidikan, sejarah, dan matematika. Antologi puisinya: Nak, Ku Kirim Puisi Untukmu (2023) dan Ketika Tiba di Rumah (2024). Puisinya dimuat di berbagai antologi puisi, terakhir Putiba Latar Yogya (2024). Selain itu, tulisannya juga masuk dalam antologi esai, parikan, dan cerita pendek. surel: thomassutasman1@gmail.com. FB: Thomas Sutasman. IG: thomassutasman.



















(108)

DIALOG DALAM HATI

Bambang Widiatmoko


Bukan sekadar menu bergizi diberikan untuk menjadi asupan

Namun dari setiap buliran nasi menumbuhkan kepentingan

Pada setiap perubahan politik dan kebijakan

Berapa trilliun yang telah digelontorkan

Dan berapa miliar pula yang merembes dan meresap

Dalam senyuman yang tampak disembunyikan.

Ada jutaan anak-anak senang makan gratis telah dicukupkan

Untuk menggantikan bekal yang dibawanya dari rumah

Ada anak-anak yang membagi makan gratisnya untuk dibawa pulang

Sebab keluarganya hidup dalam keterbatasan

Ada anak-anak yang mulutnya ternganga sebab melihat makanan

Sangat berbeda dengan makanan cepat saji yang biasa disantapnya.

Lihatlah mata anak-anak yang polos apa mampu menengarai

Kebocoran anggaran yang rentan pengawasan dan memperbesar utang negara?

“Makanlah dengan lahap anak-anak agar tumbuh sehat dan cerdas

Sebab di setiap yang engkau makan ada keringat para petani. Ada keringat

para peternak ayam dan sapi. Ada keringat para nelayan bercampur gelombang.

Ada kekayaan alam yang sejatinya untuk kesejahteraan kita bersama”.

Bekasi, Maret 2025


Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Gedor Depok (2024), Jauhari(2024), Ijen Purba (2024), Negeri Bencana (2024). Ikut menulis esai di buku al. Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).





















(109) 

SUARA PERUT RAKYAT

Widjanarko


71 Triliun ( seharusnya )

Siswa kenyang, Ibunda kenyang

Bayi dan balita kenyang, Janin kenyang

Vendor kenyang

Sekolah kenyang

Dinas dan Instansi kenyang

Toko agen distributor kenyang

Dan semuaaa yang sudah dikenyangkan....

71 Triliun

Kurang persiapan, ya maaf-lah

Kurang koordinasi, di perbaiki masih bisa-lah

Bosan sama menu, ga jadi masa-lah 

Agak basi katamu, maklum-lah

Ga ada menu susu, dana segitu wajar-lah 

Gak cukup menu ideal, atur-atur-lah 

71 Triliun

Untuk perut generasi dan induknya

Bukan untuk perut rakusmu!

Awas kau!

Kuseret Retret seumur hidup ke kutub utara

Bareng beruang bunting, 

Pinguin wasting,

dan Anjing laut stunting

Semarang, 7 Maret 2025


Penulis tinggal di Semarang. Gemar menulis Sastra khususnya Puisi dan Cerpen

Tidak banyak karyanya yang terbukukan













0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda