Kamis, 23 April 2026

Dongeng: Mantan Presiden Kunyuk Reuni

 Dongeng: 

Mantan Presiden Kunyuk Reuni 

Oleh Rg Bagus Warsono 

Suatu hari di negeri Belantara terjadi pergantian presiden dikarenakan peraturan negeri Belantara mengamanatkan presiden menjalankan tugas hanya 5 tahun. Kini Presiden Kunyuk telah menjadi Mantan Presiden Belantara. 

Anggota Rembug Nusantara yang telah dipilih barusan melantik Mbah Maung (macan loreng) menjadi presiden negeri Belantara. 

Bagaimana nasib Mantan Presiden Kunyuk kini sudah kembali bersama komunitas rakyat negeri Belantara yakni komunitas khewan kunyuk di Tawangmangu. Di sana mantan Presiden kunyuk dihormati dan di segani warga Tawangmangu.

Kesibukan sehari hari mantan presiden kunyuk kini  kembali seperti dulu yakni mengumpulkan sono keling untuk diproses menjadi perabot warga. Karena mantan maka semua dikerjakan sendiri. Demikian sehari-hari mantan presiden kunyuk mengisi hari tuanya di kampung halaman bersama warga. Hingga suatu ketika ia teringat teman-temannya waktu masih muda dulu, waktu sekolah. Ia mencoba mengingat ingat siapa siapa teman temannya tapi tak kunjung juga nama teman terlintas dibenaknya.

Suatu hari Mantan Presiden Kunyuk pergi ke kota untuk berbelanja. Di perjalanan ia melihat spanduk pengumuman akan adanya reuni sebuah sekolah menengah. Ternyata sekolah itu adalah sekolah yang dulu ia belajar. Di spanduk itu tertulis bagi lulusan tahun 1983. Ia mencoba mengingat-ingat. Memang sekolah ini tempat ia sekolah dulu. Tetapi Mantan Presiden Kunyuk tak memiliki bukti ijazah SMA. "Macam-macam", berkata dalam hati Mantan Presiden Kunyuk. "Belum bayar SPP, harus membantu orang tua berjualan, aku memang bodoh dan tidak tahu naik kelas tiga atau tidak", demikian Presiden Kunyuk Mengenang masa mudanya.

Ketika Presiden kunyuk berdiri di depan gedung pertemuan itu seseorang menyamanya. "Mul, kau disini? Ayo masuk ada reuni!" Mantan Presiden Kunyuk tergagap. Mengingat ingat siapa yang memanggilnya. Setelah beberapa saat Presiden kunyuk teringat, " Oh kamu Joko! 

Keduanya saling memperhatikan, Joko hampir semua rambutnya memutih, sedang Mantan Presiden Kunyuk masih terlihat rambutnya yang dibethel dengan wajah yang khas. 

(Bersambung). 

Indramayu, 20 Oktober 2024

rg bagus warsono

Label:

Kisah Presiden Tidak Punya Program. Kok bisa?

 Kisah Presiden Tidak Punya Program. Kok bisa? 

Suatu ketika presiden tak sengaja lewat di perkampungan dilihatnya ada rumah beratap genteng ada juga yang beratap seng. Yang beratap seng tampak kumuh karena karatan. "Kenapa rumah itu beratap seng?" , tanya Presiden pada ajudannya. "Mereka tidak mampu beli genteng, Pak", jawab ajudannya. Kening Presiden berkerut memikirkan sesuatu, kemudian tertawa,  harus pakai genteng katanya. Sopir mobil yang sejak tadi hanya mendengarkan kemudian nyeletuk, "gentengisasi". Presiden yang duduk di sebelahnya menyahut sambil berkata ya tepat "Gentengisasi."  Kemudian presiden menatap si sopir kemudian menepuk pundak sopir sambil berkata  "Pinter kamu Mad, kamu naik pangkat! Catat ajudan!

(Rg Bagus Warsono)

Label:

Board of Peace (BoP) (Bobrok Pamer)

 Board of Peace (BoP) (Bobrok Pamer) 

16,9 triliun tentu bukan sedikit, brntuk milyarnya ada 16.900 M , bentuk jutanya 16.900.000 jt , bentuk rupiahnya Rp16.900.000.000.000,- 

Uang sebesar itu diperuntukkan bagi keanggotaan BoP yang belum tentu berhasil dalam menjaga perdamaian Israel Palestina.

Indonesia memang negara terbesar dunia dalam hal jumlah penduduk, bidang lain ekonomi, pendidikan, kesehatan,  apalagi teknologi persenjataan, kita masih jauh. Apalagi kita adalah negara termiskin ke 4 menurut world Bank berdasarkan standar garis kemiskinan angka kemiskinan mencapai 60,3% dari total populasi. 

Artinya negeri yang seharusnya mengurangi angka kemiskinan malah nambah utang.

Lalu apa maksydnya Indonesia maksain daftar jadi anggota BoP ? 

Kita belum waktunya untuk terlibat begituan  karena zaman ini bukan zaman Soekarno hidup. Soekarno bukan jago kandang, konferensi Asia Afrika saja mampu berpengaruh dalam mempercepat kemerdekaan bangsa-bangsa Afrika dan indonesus kala itu bukan anggota yang bayar iuran tetapi pemimpin dslam KAA itu.

Berapa konpensasi Indonesia nenjadi anggota Dewan Perdamaian Dunia? 

Bergabung dengan Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang diinisiasi oleh Amerika Serikat (terkait resolusi konflik di Gaza/Palestina) melibatkan kompensasi berupa iuran keanggotaan/kontribusi sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun hingga Rp16,9 triliun. 

Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Dunia adalah sebuah badan internasional baru yang diluncurkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengawal proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi di Gaza pascakonflik. 

Berikut adalah poin-poin utama mengenai Board of Peace:

Tujuan Utama: Mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, menjaga stabilitas keamanan, serta memastikan pemulihan tata kelola sipil dan rekonstruksi di Gaza berjalan sesuai hukum internasional.

Latar Belakang: Pembentukannya merupakan bagian dari Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict (20-Point Roadmap) dan didukung oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 2803 (2025).

Peresmian: Diresmikan pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss, melalui penandatanganan piagam oleh sejumlah pemimpin dunia.

Keterlibatan Indonesia: Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menandatangani piagam tersebut dan menyatakan Indonesia bergabung sebagai upaya konkret untuk mendorong kemerdekaan Palestina serta solusi dua negara (two-state solution).

Keanggotaan: Selain Amerika Serikat dan Indonesia, negara-negara lain yang bergabung antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turkiye, Pakistan, dan Mesir.

Kontroversi: Inisiatif ini memicu perdebatan; beberapa pihak seperti MUI mengkhawatirkan adanya potensi neokolonialisme, sementara sejumlah negara Eropa (seperti Prancis dan Swedia) masih menahan diri untuk bergabung karena alasan konstitusional dan norma .

(Rg Bagus Warsono)

Label:

Efisiensi, Iuran BOP dan Garapan Kerja Dalam Negeri

 Efisiensi, Iuran BOP dan Garapan Kerja Dalam Negeri

Membantu Palestina untuk merdeka diakui didunia dan menjadi negara yang bebas dalam pergaulan dunia adalah amanat UUD yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu turut serta dalam ketertiban dunia. 

Pemerintah RI siapa pun presidennya boleh mengambil tindakan sikap negara sesuai dengan amanat UUD itu. Yaitu berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Amanat konstitusi ini dapar dilaksanakan jika dalam Indonesia yang stabil. 

Memasuki tahun ke-3 Pemerintahan Prabowo Indonesia yang belum pulih dari tindihan hutang yang menggunung, Angka kemiskinan yang tinggi, melonjaknya penhangguran, bencana di berbagai daerah seerta masih terdapat gangguan dari apa yang di sebut KKB adalah garapan dalam negeri yang seharusnya diprioritaskan terlebih dahulu. 

Rakyat Indonesia menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Prabowo untuk dapat menyelesaikan garapan tersebut. Sebagaimana diketahui janji-janji saat kampanye baru sebaguan kecil terealisasi. Sedang yang lain menjadi harapan rakyat Indonesia di 3 tahun pemerintahan Prabowo kedepan. 

Penulis tidak mengevaluasi hasil kerja tetapi melihat kebihakan yang diambil sebetulnya menjadi perhatian masyarakat dan bahkan banyak yang memuji tetapi kebijakan itu banyak yang bertolak belakang dengan praktik yang dilakukan. Sebagai contoh kebijakan Efisiensi APBN adalah kebijakan yang bagus dan rakyat menaruh hormat, tetapi manakala Presiden menandatangani 

781,87 T hutang baru ini jelan bertolak belakang dengan progran efisiensi itu 

(Rg Bagus Warsono)

Label:

Mengapa Perang Menyembunyikan Korban dan Saling Claim kemenangan

 Mengapa Perang Menyembunyikan Korban dan Saling Claim kemenangan.

  

Mengikuti berita perang modern antara Amerika-Israel vs Iran di era informasi digital agaknya kita perlu mencari berbagai sumber penberitaan dari berita yang sama untuk dapat yakin sebuah penberitaan itu dapat dipercaya. 


Meski Indonesia hanya sebagai ɓɓ, obrolan warung kopi pun perlu untuk dikuatkan dengan berita-berita independen yang dapat dipercaya. Sumber pemberitaan penting arinya untuk dapat menilai sebuah pemberitaan yang dapat dipercaya.


Marilah kita lihat sebuah pemberitaan Pemimpin besar Iran Ayatullah Kumaney  tewas setelah rudal AS menjatuhi Teheran yg merupakan serangan awal . Media AS Barita  menyatakan tewasnya pemimpin bersar Iran itu begitu santer. Sedangkan media Iran dalam beberapa hari belum memberkitakan dan bahkan menlu Iran membantah berita itu. 


( Rg bagus Warsono)


Label:

Yang Lucu di Perang AS-Israel

 Ada yg lucu di Perang AS-Israel vs Iran yaitu Kapal Induk Abraham Lincoln yg katanya terbesar di dunia, canggih dengan bisa menampung 40 pesawat tempur dan 5000 pasukan, eh bisa lari kocar kacir menjauhi teluk dikejar drone Iran yang murahan. 

Kini di laut merah menyusul kapal Induk kedua Gerald R Fort kapal Induk yang panjangnya 337 atau kalau kita berjalan kaki telah melewati 7 tiang listrik baru tahu panjang buritan ke haluan kapal. 

Lalu apa kata Irak? Jawabnya: itu logistik kapal dan penumpangnya dari mana? Kapal dan Tentara AS bisa  mati kelaparan karena titik-titik suplay di Teluk  telah separuh hancur dan yang masih akan menjadi sasaran nuklir karena negara2 mitranya di teluk terjakau nuklir iran. Tentu saja alasan ini ditertawakan AS karena persiapannya pun bisa untuk 9 bulan. Padahal ini pancingan agar ada negara teluk yg mau nenjadi dermaga  kapal induk Gerald R Fort  berlabuh. 

Dan jika ada yang mau maka negara teluk akan terlibat perang dan Iran akan mengirim nuklirnya. Karena seluruh kekuatan militer negara2 di teluk hanya Iran yang memiliki teknologi nuklir yg tanpa dibatasi/ diatur AS. Kemudian mereka kebanyakan menghindari perang karena kaya raya.

Label:

India Contoh Negara yg menjunjung Amanat Pendiri Bangsanya.

 India Contoh Negara yg menjunjung Amanat Pendiri Bangsanya. 

Apa dikata untuk melihat Indonesia sekarang ini. Apalagi melihat teman-teman 'sepemberangkatan merdeka di pertengahan abad 19 telah melaju jauh di depan dan nyaris tak kelihatan asapnya. Contohnya dibanding dengan India ( merdeka 1947) telah begitu pesat kemajuannya. Kenapa bisa demikian? Salah satunya adalah menjadikan rakyatnya sebagau bangsa  memiliki nasionalisme yaang kuat. 

Ada banyak tokoh India yang berpengarug. Dua yang paling dijenal okeh orang Indonesia adalah Mahatna  Gandhi dan Nehru. Dua tokoh inilah yang menjadi inspirasi bangsa India. 

Mahatna,Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis dari India yang menggunakan perlawanan tanpa kekerasan.Sebagai tokoh terkemuka dalam kemerdekaan gerakan kemerdekaan India, Sedangkan Nehru sering disebut sebagai Guru atau Panditji . NEhru  terpilih oleh Partai Kongres untuk memangku jabatan Perdana Menteri independen India yang pertama, dan terpilih kembali saat Partai Kongres memenangkan pemilihan umum pertama India pada tahun 1952. 

Nehru sebagai salah satu pendiri Gerakan Nonblok bersama Ir Soekarno, dia juga seorang tokoh penting dalam politik internasional pada era pasca-perang. 

Bagainana membawa negeri dengan penduduk lebih 1 milyar dengan keadaan alamnya tentu bukan perkara mudah apalagi bekas jajahan Inggris. 

(Rg Bagus Warsono)


Label:

Senin, 23 Maret 2026

Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation

 I. Origins and Foundations


Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation initiative founded in 2013 by Rg. Bagus Warsono through the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM, Society of Reading Enthusiasts) in Indramayu, West Java. From the outset, the project was intended to bring literature closer to everyday life through periodic anthologies featuring poets from across the archipelago. The name “lumbung” was chosen as a distinctly agrarian metaphor: just as a rice granary collects harvests from surrounding fields into a single store, the project was conceived as a shared repository for documenting poetry systematically and continuously. Its animating spirit was explicitly noncommercial and grounded in mutual cooperation, as Rg. Bagus Warsono himself declared: “This is a nonprofit activity, built on the spirit of gotong royong for fellow poets who are willing to advance Indonesian literature together.” In keeping with that spirit, Lumbung Puisi positioned itself from the beginning as an inclusive space unaffiliated with any particular community, faction, or literary generation, making it a living archive of Indonesian literature that embraces poets of every background and region.


On both the institutional and practical levels, Lumbung Puisi’s presence is reflected in its physical publications, including those issued by Sibuku Yogyakarta, as well as in the participation of dozens of national poets throughout its development. Figures involved include Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, Dyah Setyawati, Sofyan RH Zaid, and Ali Arsy. In the physical sphere, Lumbung Puisi maintains Sanggar Lumbung Puisi in Indramayu as a creative space and a venue for in-person gatherings among poets. In the digital realm, Literanesia.com serves as the main hub of its activities and documentation, actively publishing works by poets such as Budiyanah, Rg. Bagus Warsono, and Hasanuddin, including Bagus Warsono’s poem Helm Hijau di Tepi Jalan, while also presenting an extensive bibliography of anthologies and current activities through 2026, including Memories of the 80s Poet Reunion 2025.


Volume I and Volume II, published in 2013 and 2014, marked the pioneering phase of the project. Volume III appeared in 2015 through Sibuku Media, Yogyakarta, gathering works by 74 poets from across Indonesia, with a foreword by Sosiawan Leak. Volume IV was published in 2016 with a wildlife theme, again by Sibuku Media, Yogyakarta. Volume V appeared in 2017 under the title Rasa Sejati. Volume VI was published in 2018 under the theme Indonesia Lucu through Penebar Media Pustaka. In 2019, the anthology Mblekethek was published by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta. In 2020, Lumbung Puisi released a thematic anthology addressing the COVID-19 pandemic as a collective response by Indonesian poets to the outbreak. In 2021, two anthologies were published: T, containing works by 124 poets and released by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta, catalogued in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library under call number 811.08 PEN t; and Gembok (Volume IX), which appeared in the same year. In 2022, Lumbung Puisi published the anthology 100 Chairil Anwar Masa Kini. Volume XI was published in 2023. In 2024, Lumbung Puisi ran the 2024 Poetry Book Nomination program, evaluating 59 national poetry books to select the five best and 25 editors’ choice titles of the year.


I.1. Contributions to Indonesian Literature


Lumbung Puisi’s greatest service lies in its role as a decentralized hub for modern literary documentation. It bridges the gap between poets in peripheral regions beyond the reach of major urban publishers and the national literary audience. Through its multi-author anthologies, published consistently year after year, Lumbung Puisi documents the vitality of Indonesian poets in a living, continuous record, something no government literary institution does on a regular basis. Out of this process has grown a distinct library known as the “Kepustakaan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia,” which encompasses not only the archive of these multi-author anthologies but also the individual poetry collections of the poets involved. The inclusion of the 2021 anthology T in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library constitutes institutional recognition of the documentary value of the works Lumbung Puisi has gathered within Indonesia’s national literary archive.


Lumbung Puisi’s contribution does not end with publication and archiving. In 2019, the institution expanded its scope through the Literasi Sastra Masuk Sekolah (Literary Literacy Enters Schools) program. Together with 15 national poets, Rg. Bagus Warsono brought literary activities directly into elementary schools, including SDN 02 Brondong, Pasekan District, Indramayu, on August 31, 2019, where they taught students and teachers how poetry is written and read. This initiative reveals that Lumbung Puisi operates not only as a space for documentation but also as a means of bringing literature into primary education.


Since 2023, Lumbung Puisi has also conferred the Anugerah Sastrawan Utama, or Sastratama award, upon poets judged to have made tangible contributions to the development of Indonesian literature. In 2025, Lumbung Puisi continued to expand its activities by organizing the 2025 National Poetry Writing Competition on the theme Makan Bergizi Gratis (Free Nutritious Meals), with the winners announced alongside the 2025 Poetry Reading Competition at Sanggar Lumbung Puisi, Indramayu, on April 19 and 20, 2025. Lumbung Puisi’s role, therefore, goes well beyond gathering, documenting, and publishing works. It actively cultivates recognition, mentorship, and continuity for Indonesian literature from local communities to the national stage.


II. Profile of Rg. Bagus Warsono


Rg. Bagus Warsono, whose full name is Ronggo Bagus Warsono and who is also known as Agus Warsono, S.Pd., M.Si., was born in Tegal, Central Java, on August 29, 1965. He descends from the Ronggo Kastuba lineage; his father, Rg. Yoesoef Soegiono, was a teacher. He was an avid reader from childhood and had reportedly finished S.H. Mintardja’s novel Api di Bukit Menoreh by the age of ten.


II.1. Educational and Professional Background


His formal education took him through SDN Sindang II Indramayu, SMP III Indramayu, and SPGN Indramayu, followed by a D2 diploma at UT UPBBJJ Bandung (completed 1998), a bachelor’s degree at STAI Salahuddin Jakarta, and a master’s degree at STIA Yappan Jakarta (completed 2011). After completing teacher training, he worked as an elementary school teacher, was appointed principal in 2004, and in 2015 took up the position of school supervisor. Beginning in 1992, he worked as a correspondent for Majalah Gentra Pramuka, Mingguan Pelajar, and Rakyat Post. In 1999, he also joined Majalah Hamdalah and became a registered member of the West Java branch of the Indonesian Journalists Association (PWI). He is also known as a painter active at the Sanggar Sastra dan Lukis Meronte Jaring in Indramayu.


II.2. Literary Career


His writing career began during his school years with the publication of poetry in the Cirebon edition of Pikiran Rakyat, and since 1985 he has continued to write poetry, short stories, children’s fiction, and articles for a wide range of media outlets, including Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Guru, Bhinneka Karya Winaya, Binakop, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, and Suara Daerah. In 1999 he founded the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) in Indramayu, and in 2011 he established the Sanggar Sastra Meronte Jaring as a space for nurturing the next generation in literary arts.


Get Liauw Pauw Phing’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.


Enter your email

Subscribe


Remember me for faster sign in


His most significant contribution to the Indonesian literary landscape has been the conception of the Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia anthology series in 2013, a documentation project of contemporary poets from across Indonesia involving figures such as Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, and Ali Arsy. In this project he serves simultaneously as its originator, curator, and editor. Earlier, in 2012, he conceived and edited Saksi Ibu Melihat Reformasi, an anthology of distinct historical and social value. His work also appears in several national multi-author anthologies, among them Puisi Menolak Korupsi PMK II (2013), Tifa Nusantara I (2013), and Ensiklopedia Koruptor Puisi Menolak Korupsi (2014).


II.3. Works


His individual poetry collections include Bunyikan Aksara Hatimu (manuscript 1992; Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Jangan Jadi Sastrawan (Indhi Publishing, Jakarta, 2014), Jakarta Tak Mau Pindah (Indhie Publishing, Jakarta, 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta, 2014), Surau Kampung Gelatik (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Satu Keranjang Ikan (Sibuku Media, Yogyakarta, 2016), Mencari Ikan sampai Papua (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2017), and Kemeja Putih Lengan Panjang (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018). In the field of literary essays, he published Bincang-bincang Penyair (Penebar Pustaka, 2018) and Geliat Penyair Indonesia (Penebar Pustaka, 2018). His output also includes children’s fiction: Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (1992), Kopral Dali (Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Meriam Beroda (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Pertempuran Heroik di Ciwatu (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2016), and Kacung Ikut Gerilya (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018); as well as several illustrated storybooks, including Laskar Wiradesa, Pertempuran Selawe, Si Jagur, Panglima Indrajaya, and Endang Dharma.


III. Profile of Wardjito Soeharso


Drs. Wardjito Soeharso, M.Sc., was born on January 19, 1958, in Semarang Regency, Central Java. He is a literary figure, a widyaiswara (civil service training lecturer), a university lecturer, and a prolific poet, known for publishing poetry and essays in various media since his poetic debut in 1983.


III.1. Educational and Professional Background


He received his early education in a rural village, then went on to junior high school in Salatiga and senior high school in Yogyakarta before completing his undergraduate degree in English Literature at the Faculty of Letters, Diponegoro University, Semarang. During his university years, he was active in the campus theater group, an experience that further sharpened his writing talent. He received a scholarship from his institution to pursue postgraduate study in International Communication at Boston University, Massachusetts, where he earned his M.Sc. He then pursued a civil service career at the Regional Office of the Department of Information of Central Java Province, subsequently serving as a widyaiswara at the Central Java Provincial Training Agency.


III.2. Literary Career


His interest in literature took root during his junior high school years, when he began submitting his work to youth magazines and displaying it on school bulletin boards. He made his official poetic debut in 1983, and since then his work has appeared consistently in a wide range of media. He has been actively involved in the national Puisi Menolak Korupsi movement alongside poets from across the country, and has contributed to the Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia anthology series since Volume II in 2014.


Several of his works are listed in the Leiden University Libraries catalogue in the Netherlands: Membaca Pahlawan, Kontemplasi: Reaksi Spontan Atas Berbagai Berita dan Peristiwa, Bukan Fatamorgana: 113 The Telling Poems, Yatim Piatu, Ketapel, Di Balik Bayang-Bayang Kasih Sayang, Melepas Bayang, and Menebar Bayang.[1]


III.3. Works


His books span several genres. His poetry titles include Mendung di Atas Kota Semarang (1983), Phantasy Poetica (2010), Kumpulan Puisi: Sakkarepmu! (HMGM Indramayu, 2015), Bukan Fatamorgana: 113 The Telling Poems (Griya Media, Salatiga, 2023), as well as other works listed in academic catalogues and shared anthologies. His writing guides and essay collections include Penerbitan Pers di Indonesia: Dari Undang-Undang Sampai Kode Etik (Aneka Ilmu, Semarang, 1993), Antologi Puisi Penulismuda (2007), Yuk, Nulis Puisi (2008), Yuk, Nulis Artikel (2009), Ide, Kritik, Kontemplasi (2010), and Kontemplasi: Reaksi Spontan atas Berbagai Berita dan Peristiwa (Rua Aksara, Bantul, 2025).


In fiction, he wrote the trilogy Di Balik Bayang-Bayang Kasih Sayang (Rua Aksara, Sleman, 2019), Melepas Bayang (2020), and Menebar Bayang (2021); the first novel was also serialized on opinijateng.com. His subsequent novels are Ketapel (Rua Aksara, Bantul, 2022) and Yatim Piatu (Rua Aksara, Bantul, 2024). In multi-author anthologies, Wardjito contributed to Puisi Menolak Korupsi 1 and 2 (Forum Sastra Surakarta, 2014), Memo Untuk Presiden (2014), Pengantin Langit (BNPT and Komunitas Sastra Indonesia, 2014), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (HMGM, 2014), Antologi Puisi T (Lumbung Puisi, 2021), 76 Penyair Membaca Indonesia (TISI, 2021), 93 Penyair Membaca Ibu (TISI, 2021), Antologi Dwi Bahasa: Bahasa Ibu Bahasa Darahku (TISI, 2021), and Cinta Penyair Kampus (2026).



Liauw Pauw Phing is a writer and literary critic featured in the book Memories of the 80s Poet Reunion as part of the 1980s generation of writers. Several of his works have been published in Literanesia, Majalah TIM, and other publications. He has also received the Anugerah Sastratama from Literanesia in the category of poetry criticism. He currently serves as a judge, curator, and reviewer for the 2026 National Exhibition of the Sastrawan Indonesia Poetry Anthology, which is scheduled to take place in June 2026.

Jumat, 05 Desember 2025

Bencana Pemimpin Amplop bagi Warga Amplop, Eko Windarto

 Bencana Pemimpin Amplop bagi Warga Amplop

Di tanah negeri yang lapang dan subur

Berkeliaran bayang-bayang pemimpin berbalut amplop

Janji terbungkus kertas, namun hati terbungkuk nafsu

Menjanjikan surga, tapi menciptakan jurang berduri

Pemimpin amplop, sang penguasa saku

Membagi-bagikan simalakama dalam kemasan manis

Warga amplop, menerima amplop

Mereka terjebak dalam lingkaran demokrasi amplop

Amplop, simbol kecil bertampang tak bersalah

Namun barangkali lebih racun daripada racun itu sendiri

Mengkotori ruang kejujuran dengan noda korupsi,

Menggantikan cita dengan batu kerikil pengkhianatan

Warga amplop, mereka menari dalam irama yang dipaksa

Mengganti martabat dengan potong-potong keberpihakan

Menyambut derai janji di balik kertas tipis

Padahal yang dicari sejatinya bukanlah amplop, tapi keadilan

Bencana ini bukan gempa yang mengguncang bumi

Bukan pula banjir yang menenggelamkan desa

Namun bencana yang meracuni jiwa, menenggelamkan asa

Menjadikan bangsa seolah kabur dari cermin dirinya sendiri

Apa arti pemimpin bila hatinya terkunci oleh amplop?

Apa nilai warga bila suara hanya diperdagangkan?

Ketika kepercayaan berubah jadi komoditas murahan

Kala harapan sirna, dan masa depan semakin suram

Namun, di tengah gulita, ada cahaya yang menunggu

Warga amplop yang sadar dan ingin lebih dari janji kosong

Pemimpin yang memilih tegak dengan nurani, bukan amplop

Membangun negeri dengan tangan bersih dan hati tulus

Mari bangun kesadaran dalam setiap genggaman tangan

Tinggalkan amplop sebagai simbol yang usang dan hina

Karena sejatinya, kekuatan sebuah bangsa besar

Bermula dari pemimpin dan warga yang jujur dan berintegritas

Bencana pemimpin amplop hanyalah bab kelam

Jika kita berani buka lembaran baru yang terang

Bersama kita ciptakan negeri tanpa amplop

Di mana keadilan dan harapan tumbuh tanpa batas.

Batu, 5122025

Label:

Jumat, 04 April 2025

Mengenal rg Bagus Warsono


rg bagus warsono

indramayu

Bio: menginginkan kehidupan demokratis, jujur, dan keadilan Setamat SPG melanjutkan ke UTPGSD , kemudian ke STAI Salahudin di Jakarta, dan Mengambil Magister STIA Yappan Jakarta. Sambil menjadi Guru , dia menggeluti profesi sebagai jurnalis sejak tahun (1992), reporter Majalah Gentra Pramuka dan Hamdalah (1999), kegiatan reportasi di bawah organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesi (PWI) Cabang jawa Barat dan pengamat sinetron. Kini, Rg Bagus Warsono adalah pengasuh sanggar sastra Meronte Jarring di Indramayu yang didirikan 2011 dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM) sejak tahun 1992 yang berpusat di Indramayu. Sejak tahun 2014 dia adalah penggagas antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dikelolanya sejak 2013 untuk mendokumentasikan karya-karya penyair terkini dari seluruh Indonesi, kini telah menerbitkan jilid III yang diterbitkan oleh penerbit Sibuku Media, yogyakarta, tokoh lainnya dalam lumbung puisi adalah Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Tomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri, BSC, Dyah Styawati, Ahmad RH zaid, dan Ali Arsy. Aktif sebagai penggagas, kurator, editor, sekaligus ikut membidani terbitnya buku Saksi Ibu Melihat Reformasi (2012). Rg Bagus Warsono tercatat kerap menyelenggarakan berbagai lomba baca/cipata puisi dan mengasuh remaja belajar sastra di sanggar Meronte Jaring. BibliografiBunyikan Aksara Hatimu Jangan Jadi sastrawan Jakarta Tak Mau Pindah Si Bung Mas Karebet Karya bersamaPuisi Menolak Korupsi Memo untuk Presiden Tifa Nusantara 1 PenghargaanPenulis Cerita Anak Depdikbud 2004 Judul : Jakarta Tak Mau Pindah No. ISBN : 978-602-281-077-3 Penyusun : Rg. Bagus Warsono Tahun terbit : April 2014 http://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/#sthash.qoFh7Q1N.dpufhttp://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/ Judul : Jangan Jadi Sastrawan No. ISBN : 978-602-281-069-8 Penulis : Rg. Bagus Warsono Tahun terbit : Februari 2014 http://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/page/2/#sthash.26rM2drZ.dpufhttp://www.indie-publishing.com/http://www. http://www.leutikaprio.com/produk/11028/kumpulan_puisi/1403974/si_bung/14025891/rg_bagus_warsono Penulis: Rg. Bagus Warsono, Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-225-819-3 leutikaprio.com/penulis/14025891/rg_bagus_warsono http://gerakanpuisimenolakkorupsi.blogspot.com/2014/06/puisi-menolak-korupsi-pmk-antolog-puisi.html