Rabu, 02 April 2025

Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi

Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi



 (101)

NARASI TERKOYAK

Manaek Maruhum Siburian


Di ruang siaran yang dulu riuh,

mikrofon kini berdebu diam.

Gelombang suara yang mengudara,

tiba-tiba terputus tanpa salam.

Di balik layar yang dulu terang,

gambar menghilang, sinyal meredup.

TVRI dan RRI tenang,

ditinggal mereka yang setia hidup.

Dulu mereka membaca berita,

menyampaikan suara rakyat jelata.

Kini nama mereka tertulis dingin,

di surat PHK tanpa kata.

Semua bermula dari sepiring nasi,

makan bergizi tanpa beban.

Tak perlu bayar, tak perlu cemas,

jalinlah kebersamaan dalam pangan.

Namun entah dari mana datangnya,

angin buruk bertiup kencang.

Katanya gratis adalah beban,

menggerus untung, meruntuh ruang.

Rapat-rapat di meja tinggi,

tak ada suara dari bawah.

Keputusan turun seperti petir,

memutus ratusan langkah pasrah.

Mereka yang dulu mengabdi setia,

menginformasikan negeri dengan jujur.

Kini berdiri di depan gerbang,

menggenggam kertas yang getir.

Di studio yang mereka bangun,

tinggal gema langkah terakhir.

Tak ada perpisahan yang bermakna,

hanya keheningan yang menyindir.

Di luar gedung, langit kelabu,

angin membawa bisik keresahan.

Mereka bertanya dalam hati,

"Apakah ini harga keadilan?"

Makan bergizi tanpa bayar,

mereka menganggapnya salah.

Namun siapa yang bisa menjawab,

mengapa kemanusiaan membuang sampah dengan mudah?

Narasi ini terkoyak kasar,

dengan keputusan tanpa rasa.

RRI dan TVRI masih berdiri,

tapi jiwa telah binasa.
























Manaek Maruhum Siburian, Lahir di Tanjung Morawa, Deliserdang sumatera utara.belajar menulis artikel selama 3 tahun yang sudah dibukukan bersama teman-teman penulis artikel dan belajar puisi sederhana satu tahun, seorang guru di Merauke Provinsi Papua Selatan kurang lebih 20 tahun.sudah berkeluarga memiliki 2 anak laki-laki.sekian terima kasih salam kenal





























(102) Dilanjut Besok

Mang Zaenal


Aku bingung karena pandir

kala senja digilir ribuan bulir

air hujan jatuh ke bumi bergulir

sepanjang zikir petang tanpa anulir

kupikir mentari tertutup mendung

kunaksir pada guntur meraung

meski kupaksa azam kian menggunung

rehat adalah perihal sedia payung

sudahkah kita mensyukuri hari?

di mana gas semakin sulit dicari

sudahkah kita menekuri hati?

di mana konten semakin tak diminati

aku bingung karena tak juga sadar

kala senja digigiri ribuan kalam onar

meski kupaksa tekad kian berbinar

makan adalah perihal belaja tak berbayar

Cirebon, 18 Februari 2025

Mang Zaenal
















 (103) Semangat Matahari Pagi

AM. Haryadi Salim


Dengan berbekal buku dalam tas ransel

Anak-anak menyambut semangat matahari pagi menuju gudang ilmu


Menggali ilmu, memeras pikiran bersama udara segar

Menciptakan cakrawala luas dalam menggapai harapan cemerlang


Membangun pilar-pilar kehidupan yang kuat tanpa keluh


Tak ada yang harus diragukan atau bahkan disangsikan

Selama pengetahuan menjadi jendela dunia mengalir mengikuti arus tanpa berlawanan

Berjalan pada garis pikiran tanpa membengkokkan ilmu

Tanpa mengandung wabah kecemasan pada orang-orang tua


Gudang ilmu menjadi tempat mencetak tunas-tunas baru dengan cakrawala yang mengharumkan bumi pertiwi

Di gudang ilmu

Anak-anak suntuk memeras pikiran

Tanpa tiupan udara dingin

Suntuk dan gerah berpacu dengan pikiran saling mengalahkan


Nasi gratis membangkitkan gairah perut kosong yang lama tertahan di antara buku-buku

Meski hidangan tak jauh beda dengan menu masakan simbok

Dengan kelezatan yang dihidangkan

Makan gratis bergizi selalu dihidangkan di meja makan keluarga yang tak pernah mengurangi gizi

Tempe dan tahu tak asing dalam tenggorokan hingga rasa melekat

Di gudang ilmu anak-anak dijejali tempe dan tahu

Menjadi generasi tempe-tahu

Semarang, 2025






























 (104) 


ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG

Door Deo


ada khabar, bukan khabar burung

khabar pemenuhan janji

makan gratis dan bergizi

: buat anak sekolah

secepat burung terbang

khabarpun tersebar

: menyenangkan

( terbayang bagaimana 

 emak-emak

bapak-bapak

para orang tua wali murid

 menyambut gembira khabar yang tersiar

bukan khabar yang dijatuhkan burung )

dan

ada cerita disebuah sekolah

sesuai info bapak ibu guru 

murid di kelas ada empat puluh orang,

tukang rangsum bertanya pada murid

kalian semua ada empat puluh orang

jadi, 

harus berapa kotak makanan dibagikan

seketika suasana kelas terasa sepi

bapak ibu guru pendamping merasa kikuk

bayangkan

empat puluh mulut ada delapan jawaban

: berbeda

sunguh tak masuk akal

( jadi perenungan kita

murid terasa kehilangan ilmu)

empat puluh bungkus dibagikan

tiga puluh enam mulut bergoyang

menikmat makanan gratis

makanan bergizi 

enak sekali

: katanya

empat mulut menganga

melihat menu makanan gratis

tak juga memakan

: keheranan

kenapa nak, tanya bapak ibu guru

- buat emak bu

+ buat orang tua pak, jawab yang lain

:duh Gusti

ada apa dengan anak-anak kiita 

( makan gratis dan bergizi

memang membuat sehat dan kuat

semoga giat bersekolah

untuk menimba ilmu

bukan untuk mengejar gratisan makanan )

semoga kasih dan bijak

terbalut kotak ramsum

mengabulkan segala harapan

: sang pemimpin

semoga kasih dan bijak

di menu makanan gratis

semakin mendidik murid

semakin menyehatkan murid

tetanggaku bilang

ada-ada saja

berapa tahan lama 

makanan gratis bergizi ini

aku pilih sekolah gratis selamanya

: betul juga gumanku

rumah bluesku

200225

Door Deo, pecinta dan pelaku seni, terus menjelajah mencari kebeningan dan keheningan hingga kelegaan batin































 (105)

Makan Gratis di Bawah Senja

Agus Yuwantoro


Ribuan cahaya senja bersinar remang remang

Dibawah pangkalan gas elpiji tambah mahal

Bahkan bisa terbang bebas diangkasa

Bisa sembunyi di balik seragam rakyat

Entah rakyat bawah atau rakyat siluman

Ribuan cahaya senja

Menari sambil bernyanyi lagu mars kesunyian

Padi padi tidak menguning lagi

Gabuk bahkan hancur tergilas harga pupuk tinggi

Barisan petani berjalan pringas pringis

Dibawah pohon ketela palengka 

Diubah menjadi nasi

Kertas pajak melambung tinggi

Hampir menyentuh cahaya matahari

Panas membakar hati

Barisan petani diam membisu diri

Tidak bisa tersenyum melihat mendengar

Uang pajak hilang tiada arti

Ribuan cahaya senja mulai menangis

Melihat butiran nasi berterbangan

Bebas di plataran bumi

Menembus sekolahan

Pesantren

Yayasan lansia

Pantai asuhan

Bahkan komplek pelacuran

Sampai Pendidikan Anak Usia Dini

Butiran nasi menari nari

Dengan gaya bebas bersama lagu lagu birokrasi

Bocah bocah pringas pringis

Melihat butiran nasi bisa menari nari

Dengan gaya tarian curi timah, emas, batu bara, minyak gas dan semua isi bumi

Cahaya senja mulai gelap

Banyak manusia bumi gelap mata

Maling teriak maling

Korupsi teriak kurupsi

Ribuan cahaya senja merasa malu

Menyinari jutaan langkah kaki

Penuh lukisan kaki para korupsi

Butiran nasi mulai menari lagi

Dibawah cahaya matahari

Entah kemana lagi

Dibalik tembok tinggi

Bocah bocah pinggiran menatap langit

Telanjang dada sambil gigit jari

Menunggu butiran nasi berhenti menari

Ribuan cahaya senja 

Mulai membisu

Disana ya disana

Harusnya butiran nasi 

Menari nari bersama bocah bocah 

Terkapar dibalik gelapnya birokrasi

Butiran nasi mencakar bumi

Membisu diri

Tidak tahan melihat anak negri

Napsu korupsi semakin tinggi

Melebi ganasnya panasnya matahari


Wonosobo, 27 Peb 2025

Gelandangan Sastra Agus Yuwantoro







Agus Yuwantoro

Sangat suka belajar sastra 

Sudah menerbitkan 59 buku antologi, 4 Kuncer 3 antologi puisi. Menulis novel pertama Gadis Bermata Biru.Novel ke 2 Cinta Bersama Senja. Novel ke 3 Pelukis dan Parfum Novel ke 4 Pelangi Cinta.


























 (106) 

Narasi Tak Berkoda

Muhamad Yusuf


Program makan gratis itu

akan mengusir lapar

mengikis kebodohan

mencerdaskan anak-anak sekolah

di tengah permainan masa yang sering tak berpihak

Nasi putih dan sepotong lauk berminyak

adalah harapan

Sayur dan sebiji buahnya membawa warna kebahagiaan

segelas air putih menawarkan kesuksesan

semuanya melompat gembira

Saatnya bersantap

di antara tawa, terdengar isak tangis haru

Bukan karena tak suka tempe atau rasa pedas

namun jatah makannya akan dibawa pulang

dinikmati bersama ibu dan saudara.

Terkuaklah kenyataan

jalan ini bukan hanya soal gizi,

tapi juga menunjukkan jurang curam

kemiskinan dan perbedaan yang teramat dalam

Berserakan kabar 

dananya tak jelas alurnya

warga sekolah didera bimbang

jika selalu disuguhi janji yang tawar

Narasi tak berkoda

berhamburan di dinding-dinding maya

justru menjadi santapan setiap pagi

menggali keniscayaan tamsil:

gizi cukup, anak cerdas, masa depan bangsa cemerlang?

                       Muhamad Yusuf




Muhamad Yusuf, S.Pd (54 tahun) merupakan ASN Guru Bahasa Indonesia yang bertugas di SMAN 1 Banjarmasin. Menyukai membaca dan menulis. Karya-karya penerbitan berupa 2 buku antologi cerpen, 2 buku non fiksi, 1 buku cerita anak. Beberapa kali menjuarai penulisan seperti naskah pembelajaran, cerpen, pantun, dan esai/artikel. Cerpen dan opininya juga  menghiasi lembar harian lokal. Cukup sering mengikuti program penulisan bersama, baik yang dimentori pegiat sastra nasional.



















 (107)

TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN

Thomas Sutasman


Teriak Heinlein menyambar:

Tidak ada makan siang gratis, kawan.

Anak bangsa berpesta dengan sepotong ayam, saban hari.

Di bawah himpitan pajak yang meninggi.

Diguyur importir yang menutup kreatif warga bangsa sendiri.

Dijejal barang konsumsi yang berakhir terhanyut menjadi sampah di kali.

Dibayangi betapa miskin masyarakat, makan pun ditanggung negara

Digerogoti uang negara, hilang percuma, tanpa pemberdayaan.

Tidak ada makan siang gratis, kawan

Teriak Heinlein meninggi

Yang didengar sambil lalu.

(Dari kejauhan terdengar sayup-sayup

Rentetan suara oke gas, oke gas, oke gas

Tak terkendali tanpa pegas,

Dan mungkin sedang antri gas)













Thomas Sutasman, Lahir di Kulon Progo, 6 Maret 1974, tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika SMP Pius Cilacap. Aktif dalam MGMP Matematika Kabupaten Cilacap. Tulisannya pernah dimuat di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Satelit Post, Hidup, Educare, Utusan, dan Cur Unum Keuskupan Purwokerto. Anggota Warga Episthoholik Indonesia, dan Komunitas Tjilatjap History. Beberapa tulisan dimuat dalam beberapa buku, terakhir Pernik-Pernik Sejarah Cilacap (2024). Menulis buku pendidikan, sejarah, dan matematika. Antologi puisinya: Nak, Ku Kirim Puisi Untukmu (2023) dan Ketika Tiba di Rumah (2024). Puisinya dimuat di berbagai antologi puisi, terakhir Putiba Latar Yogya (2024). Selain itu, tulisannya juga masuk dalam antologi esai, parikan, dan cerita pendek. surel: thomassutasman1@gmail.com. FB: Thomas Sutasman. IG: thomassutasman.



















(108)

DIALOG DALAM HATI

Bambang Widiatmoko


Bukan sekadar menu bergizi diberikan untuk menjadi asupan

Namun dari setiap buliran nasi menumbuhkan kepentingan

Pada setiap perubahan politik dan kebijakan

Berapa trilliun yang telah digelontorkan

Dan berapa miliar pula yang merembes dan meresap

Dalam senyuman yang tampak disembunyikan.

Ada jutaan anak-anak senang makan gratis telah dicukupkan

Untuk menggantikan bekal yang dibawanya dari rumah

Ada anak-anak yang membagi makan gratisnya untuk dibawa pulang

Sebab keluarganya hidup dalam keterbatasan

Ada anak-anak yang mulutnya ternganga sebab melihat makanan

Sangat berbeda dengan makanan cepat saji yang biasa disantapnya.

Lihatlah mata anak-anak yang polos apa mampu menengarai

Kebocoran anggaran yang rentan pengawasan dan memperbesar utang negara?

“Makanlah dengan lahap anak-anak agar tumbuh sehat dan cerdas

Sebab di setiap yang engkau makan ada keringat para petani. Ada keringat

para peternak ayam dan sapi. Ada keringat para nelayan bercampur gelombang.

Ada kekayaan alam yang sejatinya untuk kesejahteraan kita bersama”.

Bekasi, Maret 2025


Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Gedor Depok (2024), Jauhari(2024), Ijen Purba (2024), Negeri Bencana (2024). Ikut menulis esai di buku al. Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).





















(109) 

SUARA PERUT RAKYAT

Widjanarko


71 Triliun ( seharusnya )

Siswa kenyang, Ibunda kenyang

Bayi dan balita kenyang, Janin kenyang

Vendor kenyang

Sekolah kenyang

Dinas dan Instansi kenyang

Toko agen distributor kenyang

Dan semuaaa yang sudah dikenyangkan....

71 Triliun

Kurang persiapan, ya maaf-lah

Kurang koordinasi, di perbaiki masih bisa-lah

Bosan sama menu, ga jadi masa-lah 

Agak basi katamu, maklum-lah

Ga ada menu susu, dana segitu wajar-lah 

Gak cukup menu ideal, atur-atur-lah 

71 Triliun

Untuk perut generasi dan induknya

Bukan untuk perut rakusmu!

Awas kau!

Kuseret Retret seumur hidup ke kutub utara

Bareng beruang bunting, 

Pinguin wasting,

dan Anjing laut stunting

Semarang, 7 Maret 2025


Widjanarko ,  tinggal di Semarang. Gemar menulis Sastra khususnya Puisi dan Cerpen

Tidak banyak karyanya yang terbukukan





(110)

PAK, BUKANKAH AKU JUGA

ANAK BAPAK

Rosmita

Namaku , Imran peserta didik kelas 6

Aku putus sekolah sejak bapak ku 

Pekerja pabrik di PHK 

Dari sudut sekolah, aku menatap keceriaan anak-anak menyambut pagi

Mereka semua sudah siap untuk mengikuti sajian mata pelajaran 

dari guru mereka

Wajah sumringah 

Bertopi dan berdasi rapi, baju mereka semua bersih dan harum

Anak-anak terlahir bernasib baik

Bisa mengecap pendidikan dengan sempurna, ujarku dalam hati 

Batinku mulai ngilu

Melihat pemandangan itu

Betapa tidak, aku ingin sekali bersekolah 

Mereka membawa bekal dari rumah 

Masing,-masing bekal terletak 

di tempat kotak makan yang indah 

dan mahal, sengaja di beli oleh 

orang tuanya

Siang nya saat jam istirahat para guru mulai memberikan satu kotak nasi gratis

Yang dinilai sepuluh ribu rupiah 

Seperti nya anak-anak itu enggan menerima makanan dari gurunya

Sebab bekal mereka memang 

jauh lebih mewah

Makanan tergelar di meja masing-masing

Ada yang menghabiskan dengan lahap 

Ada pula yang hanya menatap seadanya 

Menurut ku makanan itu teramat mewah jika sampai ke perut ku 

Ah,  

Andai saja aku bisa sekolah seperti dulu tentunya aku bisa mencicipi makanan gratis ini, yang memang sukar 

Buat aku rasakan 

Sedangkan mereka hanya mengabaikan 

Pak, apakah karena aku putus sekolah ? Aku tidak bisa merasakan makan gratis 

Bukankah aku anakmu juga pak !

Solo 02 Maret 2025



Rosmita , Kelahiran Banda Aceh 

Guru SD di Muaro Jambi, mendapat tugas tambahan sebagai Kepala satuan pendidikan di Muaro Jambi 

Akan Purna tugas di bulan April 

Suka membaca puisi, dan menyukai puisi sejak di bangku sekolah dasar












 (111) 

"Renungan Malam"

Tiwan Herniawan Karno


Janji politis

Makan bergizi gratis

Sehat dan cerdas

Miris keritis

Gelar nada terhantar

Opini publik

Harapan bangsa

Wujud program terbukti

Berbagai daaliih

Lentera tua

Bagai pandangan mata

Terkesan semu

Tertunduk malu

Dengan berbagai menu

Laen selera

KOTRESTA

Tasikmalaya, 09 Maret 2025

#byWans5965















Tiwan Herniawan Karno , Lansia tua usia senja (65th) lebih, jelang 66 bentar lagi! he he he ...

Kakek bercucu dua (2) putra dan putri masih usia dini (balita) harapan bangsa juga negara.

Hobby : dengerin musik Jazz & Bluess, radio luar ataupun dalam negeri dsb.

Pernah ikutan Antologi bersama HaikuKu Indonesia (Covid-19), Antologi PUSERIK mulai volume l~ll & lll dan lainnya.

Cukup segitu aja deh, sikon nuansa bulan Ramadhan 1446 H hari ke 9 suasananya laen dari biasanya.❤️🙏

Alamat : 

Jln. Moch Hatta 222 Cibogor (Blk PT. Jasa Raharja) RT.006/RW.014 Tasikmaĺaya 46131 West Java.😍🙏


















 (112)

MAKAN BERGIZI GRATIS DI TENGAH KRITIS

Wanto Tirta

bermula omon-omon muncul ide makan bergizi gratis

rakyat senang dininabobokan slogan janji

demi raih kekuasaan diucapkan berulangkali

di mimbar kampanye maupun televisi

dengan lantang dan bangga diserukan menyihir rakyat menjantur pikiran

di tengah stunting anak kurang gizi seolah menjadi solusi

tongkat komando diayunkan terbit intruksi

dari atas ke bawah dilakukan kordinasi

kedok bisnis dilabeli koperasi terlihat rapi tanpa koneksi

ujungnya muara hijau pegang kendali seperti bangkitkan lagi dwi fungsi

melihat gejala itu rasanya uluhatiku nyeri bangunkan mimpi masa lalu bangkit lagi

makan bergizi gratis berkumandang tak habis-habis

apakah nyata atau retorika di panggung autopis

masih diuji waktu karena situasi ekonomi kritis

kekayaan negara hilang dijarah pejabat serakah dan keji

anak-anak sekolah menjadi ladang program

bagi yang menolak dianggap menantang

meski baru di beberapa sekolah dilaksanakan

kekurangan muncul di permukaan mejadi bahan guyonan

dari seberang rumah oposisi tungku api menyala mengepul asap  tercium kurang sedap banyak akal lakukan tender di antara rekan

ada yang menerawang bisa menjadi tangan panjang kebocoran

menyuburkan ladang korupsi di sana-sini

di lidah tipis makan bergizi gratis tersasa amis

10012025

Wanto Tirta




































(113)

DI RUMAH PETANI

MAKAN BERGIZI YANG TAK PERNAH DINAMAI

Riswo Mulyadi


"Untuk rakyat sepenuh hati,

Makan bergizi, gratis setiap hari."

Tepuk tangan gemuruh entah dari mana

Sorak sorai entah dari siapa,

“Kami tak sedang kelaparan”, ada suara ragu tertahan.

Makan bergizi, di rumah-rumah petani tak pernah dinamai

Gizi itu makanan dari alam sehari-hari

Sawah ditanami padi

Pematang penuh sayur dan ubi

Ikan-ikan berkeliaran di kali

Ayam bertelor setiap hari

Sayur kelor bukan makanan istimewa lagi

Di piring kami, lauk tak selalu penuh,

Kadang hanya nasi, kuah dan sayur daun waluh

Lalap pete, sambal terasi dan ikan teri

Apakah terlalu jauh dari standar gizi?

Tidak semua perut anak bangsa ini lapar

Ada jiwa yang lebih lapar akan rasa nyaman

Di tengah ketidakpastian

Harga-harga

Biaya-biaya

Harga kebutuhan pokok meroket

Bermanuver di langit kekuasaan

Biaya sekolah melangit

Menghujani batu-batu di atas kepala

Dada berdarah menahan derita

Rakyat di segala penjuru negeri

Ingin anak-anak dan generasinya berpendidikan tinggi

Pak tani ingin anaknya jadi menteri

Pak sayur ingin anaknya jadi petinggi

Pak sopir ingin anaknya secerdas Habibie

Jika biaya pendidikan tinggi, setinggi langit negeri ini

Siapa yang akan jadi menteri?

Siapa yang akan jadi petinggi?

10032025


Riswo Mulyadi,  lahir dan besar di Karanganjog desa Cihonje, Gumelar, Banyumas. Aktif menulis cerkak, puisi dan guritan banyumasan. Jugga aktif di Komunitas Litersi Blakdhen Gumelar, Jaringan Sastra Pinggir Kali (Jaspinka), Satra Pinggiran, dan LESBUMI PCNU Banyumas.
























(114) 

AKU TAK HAUS DAN LAPAR MAMA

Silivester Kiik


Mama, di dapur tua masih membisu tungku dan tumpukan kayu kering

bara api dan gumpalan asapnya mengurai sejumlah kisah

yang tak sempat dituliskan embusan kepada setiap mata yang melihat

untuk mengurainya menjadi sebuah perjalanan yang tak hilang dihadapan waktu.

Mama, lihatlah sulur-sulur cemara, mereka tak pernah haus dan lapar

sebab yang didoakan dari mereka adalah bagaimana jika mereka diberi pengetahuan

untuk tumbuh dan tak ditindas oleh lembaran-lembaran yang tertulis

dari mereka yang suka menciptakan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.

Mama, aku ingin seperti cemara-cemara itu

melambaikan pelita pengetahuan dan kedamaian

sebab aku tak haus dan lapar; air di sungai masih mengairi darah mimpiku; singkong, jagung, tuak, ubi hutan, sagu masih menghidupi nyawaku.

Mama, aku ingin seperti Albert Einstein yang ditempel di dinding sekolah itu

dan ingin terbang tinggi untuk bermimpi menjadikan air matamu

tak lagi jatuh di tanah yang kering ini

tetapi apakah aku bisa menggapainya?

sedangkan banyak hasil tenunan mama terjual

untuk membayar uang pendidikanku.


Mama, “apakah gaji hasil penjualan puluhan ekor sapi yang di gembala oleh bapak milik Bapak Desa adalah untuk aku bercita-cita?”

Unu si sulung telah putus pendidikannya

Muti yang sedikit pandai pun demikian hasilnya

dan mereka memilih menjadi budak di negeri setumpuk uang

dan aku, “apakah mati menjadi batu di tanah leluhur keramat ini?”


Mama, seruling sunyi yang merdu dikala senja itu

telah kuikat di sobekan baju ini

biarlah menjadi jawaban doaku dari kisah Adam dan Hawa

yang terus terasing di tengah telaga

dan menjerit bersama duri-duri yang menikam telapak kaki ini.


Ya Tuhanku, “aku tak ingin makan dan minum dari tubuh-tubuh yang sombong

seperti di negeriku ini bara apinya lebih panas dengan kebohongan, keangkuhan, kerakusan

dan aku adalah sebatang kayu kering yang mati di dalam pembakaran

dengan menanggung berat kesunyian doa mama

dan pahala pada sebuah diam yang didirikan oleh bapakku.


Tuhan, jika aku terlalu silau memandang rembulan

maka bacalah deritaku di antara putihnya tulang-tulang

jejak-jejak kaki terhitung bersama nyanyian jantung dan rentap

dengan tebaran awan gemawan yang senyap membirukan langit dukaku.


Atambua-Timor-NTT, 10 Maret 2025

Silivester Kiik, adalah seorang guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan penggiat literasi perbatasan. Karyanya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca Oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan.

Puisi lainnya mengisi buku antologi bersama nasional dan regional.

Karya-karya berupa opini, jurnal ilmiah, puisi, artikel, dan lainnya juga hadir melalui media cetak maupun online. Pada tahun 2020 terpilih dalam kegiatan Magang Pegiat Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Tahun 2023 terpilih dalam Peserta Program Guru Inspirator Tingkat Nasional dari berbagai propinsi.

Saat ini tinggal di Kota Perbatasan RI-RDTL (Atambua-Timor-NTT)..





(115) 

MAKAN BERGIZI GRATIS DAN PENDIDIKAN

A. MACHYOEDIN HAMAMSOERI


Ada program pemerintah 

Yang membuat rakyat senang

Ialah: makan bergizi gratis, yang kini

Telah dilaksanakan di sekolah-sekolah

Walau belum menyentuh

Seluruh lapisan masyarakat

Sebab bagi anak, yang tak bersekolah

Mana bisa memperoleh: "makan bergizi gratis"

Mungkin itu

Yang harus dipikirkan kembali

Sebab banyak orang yang tak mampu

Dan tak bisa menyekolahkan anak-anaknya

Apakah pernah terpikir

Untuk memberikan bantuan

Kepada mereka, hingga anak-anaknya

Juga bisa sekolah, seperti anak-anak lainnya

Bukankah 

Pendidikan itu, suatu hal

Yang penting bagi kehidupan anak kita

Karena siapa tahu, diantara mereka nantinya

Ada yang menjadi Penyair

Atau bahkan mungkin, menjadi

Seorang Pemimpin, yang mempunyai

Sifat "amanah" dan berpihak kepada rakyat

Sri Anggur, 11 Maret 2025








A. Machyoedin Hamamsoeri

Lahir 17 Juli 1952 di Jakarta

Pekerjaan: Pensiunan

Mulai menulis sejak tahun 1970 an

Antara tahun 1970 - 1980 an, sajak2nya

sering dimuat di beberapa Media Massa

Telah menerbitkan beberapa buku puisi tunggal dan sering ikut dalam antologi puisi bersama. Namanya masuk dalam buku: Apa

Dan Siapa Penyair Indonesia ( YHPI - 2017)

Kini bermukim di kota Tangerang - Banten

No. WA yang dapat dihubungi: 085894804520.

























 (116) 

CELOTEH MAKANAN BERGIZI GRATIS

Sartikah


Siang itu sekotak nasi terhidang di meja sekolah

ada senyum bahagia di raut wajah mereka

lalu anak anak mulai mencipta rasa

seperti apa gerangan

ragam ekspresi di wajah mungil mereka

setelah makanan dicoba

Hari pertama berlalu sudah

nasib sepiring nasi berbeda beda

ada yang habis tanpa sisa

ada yang tinggal setengah

bahkan ada yang tak di sentuh

mereka lebih memilih untuk dibawanya pulang

entah untuk siapa

Hari hari berikut anak anak mulai bosan

karena cita rasa makanan berbeda dengan 

racikan bunda di rumah

masakan bunda lebih ramah karena terhidang dengan cinta

Sepiring nasi menjadi cerita di mana mana

menjadi perdebatan dan celotehan setiap kesempatan

guru pun menpunyai kerja tambahan

untuk membagikan dan memastikan semua kebagian

Andai saja makan bergizi terhidang di setiap rumah 

tentulah anak lebih bahagia 

menikmati makan bersama keluarga

tak ada yang bicara adik di rumah makan apa

sedang saya di sekolah makan makanan bergizi

walaupun rasa kurang selera

karena masakan bunda lebih mengoda.

Garut, 10_03_2025



Sartikah 

seorang guru penikmat sastra 

dari Cibiuk Garut
































 

(117)

GRATIS GIZI SENILAI PRAKTIS

Erndra Achaer


Senilai apa

Di tengah efisiensi di semua institusi

Sejumlah anggaran

Digelontorkan tunaikan janji

Dalam perjalanan siapa jadi jaminan

Tak ada spekulan pegang kendali,

Pialang turut bertualang

Tangan-tangan di dapur harus cerdas

Membagi menu terhidang pantas

Pada nampan-nampan harapan

Sesuai nominal kompensasi

Siapa mau merugi, itu pasti

Di satu wilayah dengan wilayah lainnya

Mungkin saja berbeda-beda

Tak ada yang buta angka

Nurani pengelola turut andil juga

Agar semua adil merata

Menu gratis bergizi

Semestinya mengandung cukup nutrisi

Tak terkontaminasi kepentingan

Apalagi penuh berisi titipan

Hingga melenceng dari tujuan

Siapa lunas siapa tandas

Siapa terkuras siapa menguras

Siapa berkelas siapa culas

Siapa tegas siapa buas

Siapa ikhlas siapa minta dibalas

Pada tampilan menu sudah jelas

Harga tak berdusta

Purbalingga, 14 Maret 2025.R



Erndra Achaer (Erni Tujianah), lahir dan besar di bumi Sudirman –Purbalingga. Pernah menjalani kehidupan di Bogor. Kini kembali tinggal kampung halaman, di timur gunung Slamet. Sejumlah karya termuat dalam antologi bersama beberapa komunitas sastra, seperti Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Dapur Sastra Jakarta, Taman Inspirasi Sastra Indonesia, dan lainnya. Aktif pula sebagai admin di beberapa komunitas sastra FB. Antologi tunggal perdana "Nalar Laras Rasa" (Bookies Indonesia, 2024), segera menyusul antologi kedua.


















 (118) 

MERAWAT SENJA ANAK NEGERI

                   H.Shobir Poer


selalu saja kisah pilu,

bersuara di rumahrumah  ringkih,

ada yang belum makan hari ini, kemarin, bahkan untuk esok hari

perutnya lapar, 

setetes airpun belum diteguknya

pedihnya lagi, tak ada orang kaya 

pancarkan hati jadi matahari, 

luluh datang ke pintupintu,

berbagi dan membersamai.

pedih yang panjang,

tak henti dari senja ke senja, 

kurus tubuhmu dengan pakaian lusuh

tetap lewati hidup, 

bahkan berujung tidur panjang

masih ikhlas menerima

di lain kisah, dapati anak negeri

wariwiri ke luar negeri 

menembus senja hedonisme dan indah bermimpi

rasa dalammu hanya belati.

di senja anak negeri,

jutaan masih dalam kemiskinan, 

mulai, rawatlah asupan

makanan bergizi,

tidak tebang pilih

tak boleh dikorupsi,

tak boleh berbau basi,

tak boleh dikurangi,

hak itu harus sampai.

ayo, mulailah

merawat senja anak negeri

dengan makan bergizi,

di waktu ke depan

bebaskan anak negeri dari uang sekolah 

merata sampai ke ujung pelosok,

hingga senyum leungit bibirnya

bisa mengepak bersama Garuda

sanggup terbang mendunia.

                             Tangsel, 15-03-2025






























(119) 

SUARA ANAK PULAU,DOA ANAK NEGERI

Vien Rumailay


Hening menemaniku

Suara itu kembali menggema

Di tengah maraknya makanan Bergisi Gratis

Hadir doa anak negeri 

Mengharapkan kebijaksanaan,keadilan,kemanusiaan

Apakah Indonesia baik - baik saja ?

Makan Bergisi gratis menjadi tanda tanya 

Apakah makan gratis,namun di bayar pajak ?

Ataukah makan Bergisi gratis,tanpa bayar pajak ?

Wahai pemimpin bangsa 

Tiliklah di seberang pulau timur Indonesia

Doa anak negeri 

Harapan anak bangsa 

Jangan ada politik makanan 

Jangan ada kolonialisme penjajahan 

Jangan ada intimidasi 

Jangan ada Diskriminasi di balik layar makan Bergisi gratis 

Indonesia titipan sang ilahi 

Pemimpin titipan sang ilahi 

Rakyat Indonesia ciptaan sang ilahi 

Doa anak negeri semoga Indonesia baik - baik saja 

Nusa Ina Maluku,

15 Maret 2025









(120)

Meja-meja Kecil Perjamuan

Mohamad Iskandar.


di meja-meja

murid-murid sekolah sedang dijamin menu

yang katanya pilihan sehat

untuk menjaga raga kuat, hebat, dan semangat

agar tegak menyambut peradaban

merdeka dikomandoi orang-orang berdasi

yang berlagak suci

memberi harapan-harapan

bahwa setiap anak kecil perlu makan siang

bergizi tinggi (katanya) 

untuk menyambut kegemilangan masa depan

tahun emas 2045 dalam bingkai kemerdekaan

100 tahun perayaan, lepas dari penjajahan

meskipun nyatanya, kita tidak sepenuhnya lepas

masih terikat dengan aturan-aturan

mengedepankan uang, hilang kewarasan

makna merdeka dijadikan slogan

lewat gadget-gadget kita disuguhi

ledakan kasus korupsi dan pemangkasan anggaran

karena

di negara gemah ripah loh jinawi

busung lapar dan gizi buruk menghantui

maka kita musti tegap sedia

memberi jatah kepada anak-anak

calon-calon pemimpin masa depan, dengan... 

makan siang gratis! 

(suara pidato berapi-api di televisi, radio, dan koran)

di meja-meja perjamuan

anak-anak sepakat membentuk

imajinasi tentang kemerdekaannya sendiri

tentang belajar menempuh kehidupan

diluar kemampuan mencerna sebuah program

di meja-meja itu

kotak-kotak makanan seperti rayuan

memenangkan kidung suara-suara

yang riuh di kantong-kantong penguasa

sebab

harus ada yang dikorbankan dalam politik

untuk melanggengkan kekuasaan

pion pion kecil di pusaran kesementaraan

Demak, 15 Maret 2025


Mohamad Iskandar.Lahir dan dibesarkan di Sidomulyo Krasak Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. Belajar puisi secara otodidak dan gemar membaca apa saja. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media cetak dan online diantaranya Nusa Bali, Suara Merdeka, Majalah Elipsis, Ompiompi, Biem.co, Penaterbang.com, Barisan.co, Annairi.co, Pustaka Ekspresi, Elipsis.co,Tirastime, potret online, dan sastramedia.com. Mendirikan Kelas Puisi Alit (KEPUL) dan Ruang Kata. Buku puisi terbarunya berjudul OKIN (2024).
















 (121) 

(Maukah anak-anak kita diberi dongeng yang dapat meninabobokan akalnya?)

Amal Kamaluddin


siang segera merentang, rumus-rumus fisika masih mengepul dalam benak. tiba -tiba bel berbunyi dan terdengar suara dari alat pengeras suara bahwa telah tiba waktu untuk makan siang bersama. seolah mendapat pembebasan, suara riuh mengalahkan segala teori yang memenuhi benak mereka. makanan yang tak lagi mengepul mulai berurai dengan gejolak anak-anak. selera yang sedari pagi bergejolak seakan menemukan tambatan. mungkin lapar, atau mungkin juga harus memaksakan. mungkin selera atau bahkan mungkin harus merasa terpaksa. dibenak mereka hanya tergores kekuasaan nasib di negara beraneka, yang memiliki adat dan kebudayaan yang kaya. apakah ini awal dari nasionalisasi nasi atau candaan politik? tak pernah terbersit, di hadapan mereka hanya seonggok janji kampanye yang dipaksakan. yang sangat berbeda dengan sepiring nasi di meja rumahnya dan tersaji dari perahan keringat dan kerelaan. dan mulailah mereka berdoa: "Tuhan... seandainya saja dapat memilih.... pilihkan kami Rizki yang halal dan baik,... yang diperoleh dengan cara yang baik dan ikhlas... bukan dari perahan pajak dan naiknya harga-harga. "



Amal Kamaluddin







 (122) 

HIDANGAN DI ATAS MEJA KAYU

Naim Emel Prahana


Sejak sore embun menebar kasih sayangnya

membalut setiap bubungan rumah beratap seng

sebelum tidur ibuku berbisik, “pakai selimut ya nak!”

lalu, ia ke luar bilik (a) sambil tersenyum

langkahnya meniti lantai rumah terbuat dari papan

senyap!

Dan, jelang fajar datang bertamu menerpa beranda

ibuku sudah berada di dapur menanak nasi dan sayuran

tangannya cekatan menyusun potongan kayu bakar

diletakkannya di bawah dua beli besi tunggu  

asap pun mulai melayang terbang hangatkan suasana

masakan ibu sudah dihidang di atas meja kayu

ibuku adalah wanita satu dari sekian banyak wanita

takkan gentar dihadang kesulitan agar anaknya cepat besar

dengan sarapan nasi putih lauk pauk sayuran rebus, dan 

sambal terasi selalu pembeda sarapan di kota

Pesta demokrasi dari waktu ke waktu berlalu

ibuku telah melewatinya dari separuh usia, ia kisahkan

bagaimana janji-janji itu tak sampai di kampungnya

sebab segala macam gizi dan protein diperoleh 

dari pinggiran sungai dan kali kecil tumbuh subur

aneka sayuran untuk lauk pauk makanan anaknya

sudah terbiasa!

Rutinitas di rumah kayu beratap seng di kaki pegunungan

jauh beda dengan kebiasan di rumah dekat gedung langit

tak ada protein dan gizi makanan tanpa pembayaran

di kampung, ibuku rajin memetik sayuran pakis, selada

juga banyak kangkung dan pasang bubu ikan hasilnya

telah mengantarkan anaknya ke berbagai ketrampilan

ibuku khawatir anak cucunya jadi malas belajar

karena mimpinya makan bergizi gratis tiap hari, baru sekali

banyak sekali pernyataan petinggi negeri, dan akhirnya suruh

makan ulat pohon sagu dan jangkrik.

Metro, 3 Maret 2025






Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara.Penjelajahan Naim Emel Prahana di dunia seni dan budaya membawa langkahnya mengelilingi berbagai Negara di Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika. Karyanya antara lain 1) Sajak Kaca, antologi bersama empat penyair muda, Yogyakarta, 1984.2) Kasih Tuan, Yogyakarta, 1985. 3) Kembang Malam Kembang Kelam, Metro, 1986.4) Poros, Metro, 1986.Penyair Ini tinggal di Metro Lampung.


 (123) 

Butir - Butir Nasi

Sri Wahyu Wardani



mata bocah itu berbinar indah

menyiratkan rasa yang membuncah

ditatapnya butir butir nasi di depannya

membayang betapa lezat rasanya

ini makanan mewah 

dirumah hanya bubur yang tersaji

beras emak tidak cukup jika dibuat nasi

hanya semangkuk bubur putih untuk sarapan pagi

minum susu dulu  hanya sekelebat bayang

namun kini sudah ada di genggam  tangan

lantas...mengapa mesti menolak

dan katakan makanan ini tidak enak.   

bocah bocah ini tak pernah mengerti

piring- piring yang tersaji hasil kolusi

dari janji- janji yang tersembunyi

dari hati keji bertopeng sepiring nasi

meja- meja sekolah menjadi perjamuan darah

dari tangan - tangan serakah

yang ciptakan noktah di dinding sejarah

tinggalkan riuh pada hati yang gundah

Ungaran , 16 Maret 2025












Sri Wahyu Wardani,lahir 9 Juni  ,tinggal di kota Ungaran pecinta kucing yang jatuh cinta pada puisi ,  memiliki karya beberapa antologi puisi , antologi essai dan cerpen serta 2 buah karya pribadi, kumpulan puisi Merdeka atau Mimpi dan novelet Lembayung.


























(124)

Sepiring Impian Dalam Makan Siang Bergizi Gratis

Dalle Dalminto


Perjamuan makan siang bergizi gratis telah dikumandangkan di sekolah-sekolah. Setiap siswa siap disuapi mimpi-mimpi. Bukan untuk dicuci otaknya tetapi biar mereka tumbuh sehat dan pintar.

Lalu, dikampanyekan makan siang bergizi gratis di sekolah-sekolah. Program baru, janji calon penguasa baru

"Ayo pilih saya, nanti akan ada program makan siang bergizi gratis untuk anak-anak sekolah!" Suara lantang saat berkampanye.

"Pak, besok pilih beliau ya, biar dapat makan siang bergizi gratis di sekolah," bisik anak SD kepada bapaknya ketika sedang menonton tivi.

Makan siang bergizi gratis, menjadi program kampanye yang ampuh, mampu menarik massa. Dengan iming-iming kata gratis, rakyat jelata pun berjubel dan berbondong-bondong memberikan hak suara ketika pemilu tiba.

Dan benar saja, setelah penghitungan suara, beliau menang mutlak dan dinyatakan sebagai juara. Dengan tenang beliau menjelma sesosok dewa, yang menjadi tumpuan harapan rakyat jelata untuk mengubah nasib. Yang selama ini karib di dalam kehampaan. Ada harapan baru, tidak seperti tempo dulu, yang selalu membagi-bagikan kartu, kartu, dan kartu.

Setelah beberapa purnama, progam makan siang bergizi gratis pun benar-benar nyata. Rakyat menyambut dengan suka cita. "Tidak perlu repot-repot menyiapkan bekal untuk anak-anak," bisik seorang ibu-ibu dengan riang.

Di suatu ketika seorang anak SD yang baru saja pulang dari sekolah mengadu kepada ibunya, "Bu, besok aku bawa bekal lagi aja, ya!"

Sang ibu pun kaget mendengar permintaan sang anak, lalu bertanya, "Lho, kenapa?"

"Ternyata, masakan ibu lebih enak. Apa karena dibumbui kasih sayang dan cinta sehingga rasanya lebih nendang?" kata seorang anak SD dengan polos.

Yogyakarta, 17 Maret 2025




Dalle Dalminto,  seorang penikmat dan pengagum puisi yang lahir pada 5 Februari di Bantul. Sekarang menetap di dusun Bongsren, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Aktivitas sehari-hari bekerja sebagai sebagai pegawai kebersihan di Stadion Sultan Agung Bantul. 















(125)

NYANYIAN ANAK BELANTARA

Sukardi Wahyudi


Aku anak belantara

menginginkan hal yang sama dengan anak kota

semua serba ada dan tersedia

kualitas pendidikan setara

bapak ibu guru lengkap bertitel S dua

gedung mewah sering dikunjungi para penguasa.

Aku anak belantara

tak pernah mengaduh apalagi mengeluh

biar program istimewa belum datang

membasahi kerongkongan dada

daging ayam telur susu 4 sehat 5 sempurna

berputur menari di tempurung kepala 

makanan bergizi dalam hayalan

perjalanannya panjang menuju bibir desa

entah tersangkut di tikungan mana.

Aku anak belantara

ingin berteriak tak punya suara

suaraku terlalu mungil untuk didengar

dulu belantaraku  menyediakan hamparan hidangan lezat tak kalah mewah makanan anak kota

rebung umbut daun sengkil dan pucuk paku

undang galah patin haruan dan biawan

menu kearifan nenek mayang hilang

karena kaki hutan sudah rapuh runtuh

sungai tak perawan di telan air limbah.

Aku anak belantara

sering terlupa atau memang di lupakan

di pandang anak nomor sekian

padahal aku dengan setia menjaga etika.

Aku anak belantara

tapi aku anakmu juga.

Kukar, 17032025.

SUKARDI WAHYUDI, sekarang bertempat  tinggal di calon Ibu Kota Negara (Kukar-Kaltim),  telah menghimpun karyanya dalam puluhan buku tunggal : LELAKI ITU (puisi, 2010), ADA GELISAH DI PERTEMUAN WAKTU (cerpen 2011), dan BEGENJOH  (puisi 2024), menerima Anugerah Kesetian 30 Tahun “SETYASASTRA NAGARI” dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, menerima Anugerah SASTRAWAN BERDEDIKAS 2021 Kaltimtara, menerima Anugerah Sastrawan Berjasa 2024  juga tercatat dalam buku : APA DAN SIAPA : PENYAIR INDONESIA (Yayasan HPI, 2017). JEJAK RINDU (puisi 2019) terpilih sebagai Buku Sastra Nasional 2024 Versi LPSI dan karya puisinya telah diterjemahkan dalam bahasa ibu (bahasa Kutai) bahasa Inggeris, bahasa Spanyol  juga termuat dalam ratusan antologi bersama dengan para Penyair Nasional dan Internasional baik berupa Puisi maupun Cerpen.












 (126) 

MENJADI CERITA

Denting  Kemuning


makan bergizi gratis 

didapat dengan praktis 

tanpa perlu mengiris 

ataupun menumis 

ibu-ibu tersenyum manis 

melihat anaknya makan bersama teman-temannya tanpa menangis 

telah tertulis dalam episode baru 

mewujudkan program nyata 

yang mempunyai anggaran besar 

bertujuan  meningkatkan gizi 

Olalah .... 

terkesan manis 

tapi sangat ironis 

penerima makan bergizi gratis tak memikirkan itu 

mereka menerima dengan  senang gembira 

dapat makan bersama teman dengan menu yang sama 

makan bergizi gratis membuat generasi penerus bangsa bisa kuat dan sehat 

Surabaya, 18 Maret 2025 













Denting  Kemuning nama pena dari Kanti Prawindasih. Lahir di Surabaya, 10 April. Telah menerbitkan buku antologi tunggal berjudul TREMBESI DI SUDUT KOTA. Karyanya ada dalam beberapa komunitas sastra dan penyair Nusantara.


























(127) 

LAPAR

Abede Mujib


(1)

Sepiring nasi berlauk tempe tahu 

Tak berbumbu 

Yang disajikan di depanku

Jauh lebih berharga bagiku

Daripada menu terenak dan tersehat 

Yang hanya ada di dalam otak

Karena lauk yang terlezat

Adalah lapar yang sangat

Tuan puan sekalian

Nasi sisa pun yang kalian berikan

Akan kami makan

Asal tak basi dan memabukkan

Sungguh, memberi makan

Pada kami yang lapar 

Dan membutuhkan 

Duhai

Betapa mulia 

Neraka pun akan malu menyapa

Namun ia akan berbalik rindu 

Bahkan memburu penuh nafsu 

Jika kelaparan saja

Masih dipermainkan juga

Diperas air matanya

Sampai bosan menengadah

(2)

Wahai tuan puan

Cobalah kau dengar kicau burung

Dan gemirisik asyik dedaun rimbun

Sungguh tak semuanya anyir nanah

Masih terlampau banyak

Orang waras di negeri ini

Yang ingin pula ikut berbakti

Dengan caranya sendiri-sendiri 

Sepahit-pahitnya madu

Yang diberikan saudara sebangsa padamu

Jauh lebih bermanfaat 

Dibanding manisnya racun para penjilat

Ayolah jangan baperan

Ini konsekuensi bagi kalian

Yang memilih tampil ke depan

Dan meminta diberi kesempatan 

Jika niat memang bersih

Direncanakan dengan rapi

Dikerjakan dengan gigih 

Dan tak ada maksud tersembunyi 

Untuk saling tipu saling curi,

Lanjutkan terus jangan berhenti 

Sembari terus mengevaluasi

Dan tak bosan perbaiki diri

Yakinlah 

Garuda akan selalu ada

Walau Indonesia gelap dan gulita

Abede, 200325


 

Abede Mujib,



(128)Makan Bergizi, Siapa yang Makan?

Zainol Akbar


di atas meja, pertunjukan dimulai

panggung sandiwara bertajuk makanan bergizi

berhamburan kelezatan duniawi

janji-janji pasti

berikut ocehan basa-basi

ting, ting, ting

seperti tak asing

suara itu terdengar nyaring 

sendok dan garpu sedang beradu sengit di atas piring

mencabik-cabik seonggok daging

dan santapan demi santapan siap digiring

mengisi perut-perut bunting

"...., tapi siapa yang makan?"

Bondowoso, 21 Maret 2025


Zainol Akbar, dilahirkan pada 27 Maret 1992 di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Sejak berada di bangku Sekolah Dasar bergabung di dunia seni teater, salah satu kegiatan Madrasah  Diniyah yayasan As-syafi’iyah. Setelah jenjang SMP dan SMA mengikuti ekstra kurikuler kesenian terutama di bidang seni musik. Dan Pernah bergabung sebagai anggota kesenian di UKM Kesenian Dinding IKIP PGRI Jember. Puisinya tersiar di media cetak maupun online, berikut di laman Facebook pribadinya : Zainol Akbar.









(129) 

NEGERI PENUH AMBIGU

Aisyah Rauf

Waktu menari di kehidupan bumi

Para pemeran memainkan hidup

Ribuan mata jelata menikmati pementasan 

Di atas panggung penuh teka teki

Dengan ambigu tak terkendali

Manusia berdasi

Sibuk mengatur negeri

dari urusan laut hingga gizi anak negeri

Makanan bergizi bertandang ke sekolah

Tanpa pandang kaya atau miskin

Namun ada kisah pilu dan malu

Di pojok kelas tampak anak terdiam 

Sembari menggenggam erat kotak harapan

Seketika berlari pulang

agar sekepal nasi bisa berada di pangkuan sang bunda

Saat dapurnya tak terjaga

Kemarin ayah selalu pulang membawa sisa panas matahari

Namun hari ini hanya menengadah ke puncak gedung berasap dari luar pagar

Menerima kata maaf

Karena kepulan asap tak lagi pindah ke dapur ibu

Dermawan hadir dengan banyak kata

Jelata menunggu dan tetap membaca

Namun dapur masih kehilangan bara

Hingga lupa segala rasa

Banyak jiwa ingin selamat

Jemari tak lagi mampu menghitung jiwa-jiwa sekarat

Bekal makanan bergizi disobek lima

Ringkih hidup

Ringkih jiwa

Mati sebelum mati

Bulukumba, 20 Maret 2025

Aisyah Rauf, S.Pd, Lahir di Sinjai, 5 Desember 1973, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai. Prov. Sulawesi Selatan.

Sekarang giat menjalani tugas sebagai guru di SMP Negeri 9 Bulukumba.

Telah menelurkan karya buku tunggal dengan judul Bibir di Tepi Hati dan Mengukir Wajah Anak Negeri. Karyanya pun telah dimuat dalam  antologi bersama dan pada komunitas sastra























(130) 

BIARKAN ANAK-ANAK TUMBUH SECARA GRATIS


Christya Dewi Eka


Hidangan sehat hari ini:

anak-anak dalam sepiring neraca laba, 

diberi makan secukupnya, 

dipanen pada saatnya. 

Semarang, 20 Maret 2025




Christya Dewi Eka, lulusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang (2003), adalah penulis puisi dan cerpen yang karyanya tersebar di berbagai media cetak dan online. Karyanya telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya juara 1 Lomba Cipta Flash Fiction SIP Publishing (2022), Lomba Cipta Cerpen Kesehatan Mental Sekacil (2022, 2025), serta Payakumbuh Poetry Festival (2024).











(131) 

MAKAN BERGIZI GRATIS

Sin Za


Terdengar indah karena gratis

begitu dilaksanakan banyak yang menangis

yang tidak mendukung terancam dihukum

yang mendukung penuh, merugi habis

pembayaran bermasalah

tanpa ada yang merasa bersalah

yang bilang tidak enak

dimaki-maki di layar medsos

awalnya tersiar dana sudah tersedia

nyatanya kalang kabut cari dana

pangkas anggaran sini sana

sebelum tambah runyam

coba dengar suara rakyat

yang lebih suka sekolah gratis

daripada makan gratis

dan tolong serius

tangkap dan hukum semua orang

yang tega makan jatah anak sekolah. 

Bandung, 20 Maret 2025



Sin Za adalah nama pena Husin Sutanto. Lahir di Jakarta pada tanggal 22 Maret. Aktif menulis puisi mulai 2021. Saat ini bekerja di Jakarta. HP: 083898611807


Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda