Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
(101)
NARASI TERKOYAK
Manaek Maruhum Siburian
Di ruang siaran yang dulu riuh,
mikrofon kini berdebu diam.
Gelombang suara yang mengudara,
tiba-tiba terputus tanpa salam.
Di balik layar yang dulu terang,
gambar menghilang, sinyal meredup.
TVRI dan RRI tenang,
ditinggal mereka yang setia hidup.
Dulu mereka membaca berita,
menyampaikan suara rakyat jelata.
Kini nama mereka tertulis dingin,
di surat PHK tanpa kata.
Semua bermula dari sepiring nasi,
makan bergizi tanpa beban.
Tak perlu bayar, tak perlu cemas,
jalinlah kebersamaan dalam pangan.
Namun entah dari mana datangnya,
angin buruk bertiup kencang.
Katanya gratis adalah beban,
menggerus untung, meruntuh ruang.
Rapat-rapat di meja tinggi,
tak ada suara dari bawah.
Keputusan turun seperti petir,
memutus ratusan langkah pasrah.
Mereka yang dulu mengabdi setia,
menginformasikan negeri dengan jujur.
Kini berdiri di depan gerbang,
menggenggam kertas yang getir.
Di studio yang mereka bangun,
tinggal gema langkah terakhir.
Tak ada perpisahan yang bermakna,
hanya keheningan yang menyindir.
Di luar gedung, langit kelabu,
angin membawa bisik keresahan.
Mereka bertanya dalam hati,
"Apakah ini harga keadilan?"
Makan bergizi tanpa bayar,
mereka menganggapnya salah.
Namun siapa yang bisa menjawab,
mengapa kemanusiaan membuang sampah dengan mudah?
Narasi ini terkoyak kasar,
dengan keputusan tanpa rasa.
RRI dan TVRI masih berdiri,
tapi jiwa telah binasa.
Manaek Maruhum Siburian, Lahir di Tanjung Morawa, Deliserdang sumatera utara.belajar menulis artikel selama 3 tahun yang sudah dibukukan bersama teman-teman penulis artikel dan belajar puisi sederhana satu tahun, seorang guru di Merauke Provinsi Papua Selatan kurang lebih 20 tahun.sudah berkeluarga memiliki 2 anak laki-laki.sekian terima kasih salam kenal
(102) Dilanjut Besok
Mang Zaenal
Aku bingung karena pandir
kala senja digilir ribuan bulir
air hujan jatuh ke bumi bergulir
sepanjang zikir petang tanpa anulir
kupikir mentari tertutup mendung
kunaksir pada guntur meraung
meski kupaksa azam kian menggunung
rehat adalah perihal sedia payung
sudahkah kita mensyukuri hari?
di mana gas semakin sulit dicari
sudahkah kita menekuri hati?
di mana konten semakin tak diminati
aku bingung karena tak juga sadar
kala senja digigiri ribuan kalam onar
meski kupaksa tekad kian berbinar
makan adalah perihal belaja tak berbayar
Cirebon, 18 Februari 2025
Mang Zaenal
(103) Semangat Matahari Pagi
AM. Haryadi Salim
Dengan berbekal buku dalam tas ransel
Anak-anak menyambut semangat matahari pagi menuju gudang ilmu
Menggali ilmu, memeras pikiran bersama udara segar
Menciptakan cakrawala luas dalam menggapai harapan cemerlang
Membangun pilar-pilar kehidupan yang kuat tanpa keluh
Tak ada yang harus diragukan atau bahkan disangsikan
Selama pengetahuan menjadi jendela dunia mengalir mengikuti arus tanpa berlawanan
Berjalan pada garis pikiran tanpa membengkokkan ilmu
Tanpa mengandung wabah kecemasan pada orang-orang tua
Gudang ilmu menjadi tempat mencetak tunas-tunas baru dengan cakrawala yang mengharumkan bumi pertiwi
Di gudang ilmu
Anak-anak suntuk memeras pikiran
Tanpa tiupan udara dingin
Suntuk dan gerah berpacu dengan pikiran saling mengalahkan
Nasi gratis membangkitkan gairah perut kosong yang lama tertahan di antara buku-buku
Meski hidangan tak jauh beda dengan menu masakan simbok
Dengan kelezatan yang dihidangkan
Makan gratis bergizi selalu dihidangkan di meja makan keluarga yang tak pernah mengurangi gizi
Tempe dan tahu tak asing dalam tenggorokan hingga rasa melekat
Di gudang ilmu anak-anak dijejali tempe dan tahu
Menjadi generasi tempe-tahu
Semarang, 2025
(104)
ADA KHABAR , BUKAN KHABAR BURUNG
Door Deo
ada khabar, bukan khabar burung
khabar pemenuhan janji
makan gratis dan bergizi
: buat anak sekolah
secepat burung terbang
khabarpun tersebar
: menyenangkan
( terbayang bagaimana
emak-emak
bapak-bapak
para orang tua wali murid
menyambut gembira khabar yang tersiar
bukan khabar yang dijatuhkan burung )
dan
ada cerita disebuah sekolah
sesuai info bapak ibu guru
murid di kelas ada empat puluh orang,
tukang rangsum bertanya pada murid
kalian semua ada empat puluh orang
jadi,
harus berapa kotak makanan dibagikan
seketika suasana kelas terasa sepi
bapak ibu guru pendamping merasa kikuk
bayangkan
empat puluh mulut ada delapan jawaban
: berbeda
sunguh tak masuk akal
( jadi perenungan kita
murid terasa kehilangan ilmu)
empat puluh bungkus dibagikan
tiga puluh enam mulut bergoyang
menikmat makanan gratis
makanan bergizi
enak sekali
: katanya
empat mulut menganga
melihat menu makanan gratis
tak juga memakan
: keheranan
kenapa nak, tanya bapak ibu guru
- buat emak bu
+ buat orang tua pak, jawab yang lain
:duh Gusti
ada apa dengan anak-anak kiita
( makan gratis dan bergizi
memang membuat sehat dan kuat
semoga giat bersekolah
untuk menimba ilmu
bukan untuk mengejar gratisan makanan )
semoga kasih dan bijak
terbalut kotak ramsum
mengabulkan segala harapan
: sang pemimpin
semoga kasih dan bijak
di menu makanan gratis
semakin mendidik murid
semakin menyehatkan murid
tetanggaku bilang
ada-ada saja
berapa tahan lama
makanan gratis bergizi ini
aku pilih sekolah gratis selamanya
: betul juga gumanku
rumah bluesku
200225
Door Deo, pecinta dan pelaku seni, terus menjelajah mencari kebeningan dan keheningan hingga kelegaan batin
(105)
Makan Gratis di Bawah Senja
Agus Yuwantoro
Ribuan cahaya senja bersinar remang remang
Dibawah pangkalan gas elpiji tambah mahal
Bahkan bisa terbang bebas diangkasa
Bisa sembunyi di balik seragam rakyat
Entah rakyat bawah atau rakyat siluman
Ribuan cahaya senja
Menari sambil bernyanyi lagu mars kesunyian
Padi padi tidak menguning lagi
Gabuk bahkan hancur tergilas harga pupuk tinggi
Barisan petani berjalan pringas pringis
Dibawah pohon ketela palengka
Diubah menjadi nasi
Kertas pajak melambung tinggi
Hampir menyentuh cahaya matahari
Panas membakar hati
Barisan petani diam membisu diri
Tidak bisa tersenyum melihat mendengar
Uang pajak hilang tiada arti
Ribuan cahaya senja mulai menangis
Melihat butiran nasi berterbangan
Bebas di plataran bumi
Menembus sekolahan
Pesantren
Yayasan lansia
Pantai asuhan
Bahkan komplek pelacuran
Sampai Pendidikan Anak Usia Dini
Butiran nasi menari nari
Dengan gaya bebas bersama lagu lagu birokrasi
Bocah bocah pringas pringis
Melihat butiran nasi bisa menari nari
Dengan gaya tarian curi timah, emas, batu bara, minyak gas dan semua isi bumi
Cahaya senja mulai gelap
Banyak manusia bumi gelap mata
Maling teriak maling
Korupsi teriak kurupsi
Ribuan cahaya senja merasa malu
Menyinari jutaan langkah kaki
Penuh lukisan kaki para korupsi
Butiran nasi mulai menari lagi
Dibawah cahaya matahari
Entah kemana lagi
Dibalik tembok tinggi
Bocah bocah pinggiran menatap langit
Telanjang dada sambil gigit jari
Menunggu butiran nasi berhenti menari
Ribuan cahaya senja
Mulai membisu
Disana ya disana
Harusnya butiran nasi
Menari nari bersama bocah bocah
Terkapar dibalik gelapnya birokrasi
Butiran nasi mencakar bumi
Membisu diri
Tidak tahan melihat anak negri
Napsu korupsi semakin tinggi
Melebi ganasnya panasnya matahari
Wonosobo, 27 Peb 2025
Gelandangan Sastra Agus Yuwantoro
Agus Yuwantoro
Sangat suka belajar sastra
Sudah menerbitkan 59 buku antologi, 4 Kuncer 3 antologi puisi. Menulis novel pertama Gadis Bermata Biru.Novel ke 2 Cinta Bersama Senja. Novel ke 3 Pelukis dan Parfum Novel ke 4 Pelangi Cinta.
(106)
Narasi Tak Berkoda
Muhamad Yusuf
Program makan gratis itu
akan mengusir lapar
mengikis kebodohan
mencerdaskan anak-anak sekolah
di tengah permainan masa yang sering tak berpihak
Nasi putih dan sepotong lauk berminyak
adalah harapan
Sayur dan sebiji buahnya membawa warna kebahagiaan
segelas air putih menawarkan kesuksesan
semuanya melompat gembira
Saatnya bersantap
di antara tawa, terdengar isak tangis haru
Bukan karena tak suka tempe atau rasa pedas
namun jatah makannya akan dibawa pulang
dinikmati bersama ibu dan saudara.
Terkuaklah kenyataan
jalan ini bukan hanya soal gizi,
tapi juga menunjukkan jurang curam
kemiskinan dan perbedaan yang teramat dalam
Berserakan kabar
dananya tak jelas alurnya
warga sekolah didera bimbang
jika selalu disuguhi janji yang tawar
Narasi tak berkoda
berhamburan di dinding-dinding maya
justru menjadi santapan setiap pagi
menggali keniscayaan tamsil:
gizi cukup, anak cerdas, masa depan bangsa cemerlang?
Muhamad Yusuf
Muhamad Yusuf, S.Pd (54 tahun) merupakan ASN Guru Bahasa Indonesia yang bertugas di SMAN 1 Banjarmasin. Menyukai membaca dan menulis. Karya-karya penerbitan berupa 2 buku antologi cerpen, 2 buku non fiksi, 1 buku cerita anak. Beberapa kali menjuarai penulisan seperti naskah pembelajaran, cerpen, pantun, dan esai/artikel. Cerpen dan opininya juga menghiasi lembar harian lokal. Cukup sering mengikuti program penulisan bersama, baik yang dimentori pegiat sastra nasional.
(107)
TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS, KAWAN
Thomas Sutasman
Teriak Heinlein menyambar:
Tidak ada makan siang gratis, kawan.
Anak bangsa berpesta dengan sepotong ayam, saban hari.
Di bawah himpitan pajak yang meninggi.
Diguyur importir yang menutup kreatif warga bangsa sendiri.
Dijejal barang konsumsi yang berakhir terhanyut menjadi sampah di kali.
Dibayangi betapa miskin masyarakat, makan pun ditanggung negara
Digerogoti uang negara, hilang percuma, tanpa pemberdayaan.
Tidak ada makan siang gratis, kawan
Teriak Heinlein meninggi
Yang didengar sambil lalu.
(Dari kejauhan terdengar sayup-sayup
Rentetan suara oke gas, oke gas, oke gas
Tak terkendali tanpa pegas,
Dan mungkin sedang antri gas)
Thomas Sutasman, Lahir di Kulon Progo, 6 Maret 1974, tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika SMP Pius Cilacap. Aktif dalam MGMP Matematika Kabupaten Cilacap. Tulisannya pernah dimuat di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Satelit Post, Hidup, Educare, Utusan, dan Cur Unum Keuskupan Purwokerto. Anggota Warga Episthoholik Indonesia, dan Komunitas Tjilatjap History. Beberapa tulisan dimuat dalam beberapa buku, terakhir Pernik-Pernik Sejarah Cilacap (2024). Menulis buku pendidikan, sejarah, dan matematika. Antologi puisinya: Nak, Ku Kirim Puisi Untukmu (2023) dan Ketika Tiba di Rumah (2024). Puisinya dimuat di berbagai antologi puisi, terakhir Putiba Latar Yogya (2024). Selain itu, tulisannya juga masuk dalam antologi esai, parikan, dan cerita pendek. surel: thomassutasman1@gmail.com. FB: Thomas Sutasman. IG: thomassutasman.
(108)
DIALOG DALAM HATI
Bambang Widiatmoko
Bukan sekadar menu bergizi diberikan untuk menjadi asupan
Namun dari setiap buliran nasi menumbuhkan kepentingan
Pada setiap perubahan politik dan kebijakan
Berapa trilliun yang telah digelontorkan
Dan berapa miliar pula yang merembes dan meresap
Dalam senyuman yang tampak disembunyikan.
Ada jutaan anak-anak senang makan gratis telah dicukupkan
Untuk menggantikan bekal yang dibawanya dari rumah
Ada anak-anak yang membagi makan gratisnya untuk dibawa pulang
Sebab keluarganya hidup dalam keterbatasan
Ada anak-anak yang mulutnya ternganga sebab melihat makanan
Sangat berbeda dengan makanan cepat saji yang biasa disantapnya.
Lihatlah mata anak-anak yang polos apa mampu menengarai
Kebocoran anggaran yang rentan pengawasan dan memperbesar utang negara?
“Makanlah dengan lahap anak-anak agar tumbuh sehat dan cerdas
Sebab di setiap yang engkau makan ada keringat para petani. Ada keringat
para peternak ayam dan sapi. Ada keringat para nelayan bercampur gelombang.
Ada kekayaan alam yang sejatinya untuk kesejahteraan kita bersama”.
Bekasi, Maret 2025
Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Gedor Depok (2024), Jauhari(2024), Ijen Purba (2024), Negeri Bencana (2024). Ikut menulis esai di buku al. Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
(109)
SUARA PERUT RAKYAT
Widjanarko
71 Triliun ( seharusnya )
Siswa kenyang, Ibunda kenyang
Bayi dan balita kenyang, Janin kenyang
Vendor kenyang
Sekolah kenyang
Dinas dan Instansi kenyang
Toko agen distributor kenyang
Dan semuaaa yang sudah dikenyangkan....
71 Triliun
Kurang persiapan, ya maaf-lah
Kurang koordinasi, di perbaiki masih bisa-lah
Bosan sama menu, ga jadi masa-lah
Agak basi katamu, maklum-lah
Ga ada menu susu, dana segitu wajar-lah
Gak cukup menu ideal, atur-atur-lah
71 Triliun
Untuk perut generasi dan induknya
Bukan untuk perut rakusmu!
Awas kau!
Kuseret Retret seumur hidup ke kutub utara
Bareng beruang bunting,
Pinguin wasting,
dan Anjing laut stunting
Semarang, 7 Maret 2025
Widjanarko , tinggal di Semarang. Gemar menulis Sastra khususnya Puisi dan Cerpen
Tidak banyak karyanya yang terbukukan
(110)
PAK, BUKANKAH AKU JUGA
ANAK BAPAK
Rosmita
Namaku , Imran peserta didik kelas 6
Aku putus sekolah sejak bapak ku
Pekerja pabrik di PHK
Dari sudut sekolah, aku menatap keceriaan anak-anak menyambut pagi
Mereka semua sudah siap untuk mengikuti sajian mata pelajaran
dari guru mereka
Wajah sumringah
Bertopi dan berdasi rapi, baju mereka semua bersih dan harum
Anak-anak terlahir bernasib baik
Bisa mengecap pendidikan dengan sempurna, ujarku dalam hati
Batinku mulai ngilu
Melihat pemandangan itu
Betapa tidak, aku ingin sekali bersekolah
Mereka membawa bekal dari rumah
Masing,-masing bekal terletak
di tempat kotak makan yang indah
dan mahal, sengaja di beli oleh
orang tuanya
Siang nya saat jam istirahat para guru mulai memberikan satu kotak nasi gratis
Yang dinilai sepuluh ribu rupiah
Seperti nya anak-anak itu enggan menerima makanan dari gurunya
Sebab bekal mereka memang
jauh lebih mewah
Makanan tergelar di meja masing-masing
Ada yang menghabiskan dengan lahap
Ada pula yang hanya menatap seadanya
Menurut ku makanan itu teramat mewah jika sampai ke perut ku
Ah,
Andai saja aku bisa sekolah seperti dulu tentunya aku bisa mencicipi makanan gratis ini, yang memang sukar
Buat aku rasakan
Sedangkan mereka hanya mengabaikan
Pak, apakah karena aku putus sekolah ? Aku tidak bisa merasakan makan gratis
Bukankah aku anakmu juga pak !
Solo 02 Maret 2025
Rosmita , Kelahiran Banda Aceh
Guru SD di Muaro Jambi, mendapat tugas tambahan sebagai Kepala satuan pendidikan di Muaro Jambi
Akan Purna tugas di bulan April
Suka membaca puisi, dan menyukai puisi sejak di bangku sekolah dasar
(111)
"Renungan Malam"
Tiwan Herniawan Karno
Janji politis
Makan bergizi gratis
Sehat dan cerdas
Miris keritis
Gelar nada terhantar
Opini publik
Harapan bangsa
Wujud program terbukti
Berbagai daaliih
Lentera tua
Bagai pandangan mata
Terkesan semu
Tertunduk malu
Dengan berbagai menu
Laen selera
KOTRESTA
Tasikmalaya, 09 Maret 2025
#byWans5965
Tiwan Herniawan Karno , Lansia tua usia senja (65th) lebih, jelang 66 bentar lagi! he he he ...
Kakek bercucu dua (2) putra dan putri masih usia dini (balita) harapan bangsa juga negara.
Hobby : dengerin musik Jazz & Bluess, radio luar ataupun dalam negeri dsb.
Pernah ikutan Antologi bersama HaikuKu Indonesia (Covid-19), Antologi PUSERIK mulai volume l~ll & lll dan lainnya.
Cukup segitu aja deh, sikon nuansa bulan Ramadhan 1446 H hari ke 9 suasananya laen dari biasanya.❤️🙏
Alamat :
Jln. Moch Hatta 222 Cibogor (Blk PT. Jasa Raharja) RT.006/RW.014 Tasikmaĺaya 46131 West Java.😍🙏
(112)
MAKAN BERGIZI GRATIS DI TENGAH KRITIS
Wanto Tirta
bermula omon-omon muncul ide makan bergizi gratis
rakyat senang dininabobokan slogan janji
demi raih kekuasaan diucapkan berulangkali
di mimbar kampanye maupun televisi
dengan lantang dan bangga diserukan menyihir rakyat menjantur pikiran
di tengah stunting anak kurang gizi seolah menjadi solusi
tongkat komando diayunkan terbit intruksi
dari atas ke bawah dilakukan kordinasi
kedok bisnis dilabeli koperasi terlihat rapi tanpa koneksi
ujungnya muara hijau pegang kendali seperti bangkitkan lagi dwi fungsi
melihat gejala itu rasanya uluhatiku nyeri bangunkan mimpi masa lalu bangkit lagi
makan bergizi gratis berkumandang tak habis-habis
apakah nyata atau retorika di panggung autopis
masih diuji waktu karena situasi ekonomi kritis
kekayaan negara hilang dijarah pejabat serakah dan keji
anak-anak sekolah menjadi ladang program
bagi yang menolak dianggap menantang
meski baru di beberapa sekolah dilaksanakan
kekurangan muncul di permukaan mejadi bahan guyonan
dari seberang rumah oposisi tungku api menyala mengepul asap tercium kurang sedap banyak akal lakukan tender di antara rekan
ada yang menerawang bisa menjadi tangan panjang kebocoran
menyuburkan ladang korupsi di sana-sini
di lidah tipis makan bergizi gratis tersasa amis
10012025
Wanto Tirta
(113)
DI RUMAH PETANI
MAKAN BERGIZI YANG TAK PERNAH DINAMAI
Riswo Mulyadi
"Untuk rakyat sepenuh hati,
Makan bergizi, gratis setiap hari."
Tepuk tangan gemuruh entah dari mana
Sorak sorai entah dari siapa,
“Kami tak sedang kelaparan”, ada suara ragu tertahan.
Makan bergizi, di rumah-rumah petani tak pernah dinamai
Gizi itu makanan dari alam sehari-hari
Sawah ditanami padi
Pematang penuh sayur dan ubi
Ikan-ikan berkeliaran di kali
Ayam bertelor setiap hari
Sayur kelor bukan makanan istimewa lagi
Di piring kami, lauk tak selalu penuh,
Kadang hanya nasi, kuah dan sayur daun waluh
Lalap pete, sambal terasi dan ikan teri
Apakah terlalu jauh dari standar gizi?
Tidak semua perut anak bangsa ini lapar
Ada jiwa yang lebih lapar akan rasa nyaman
Di tengah ketidakpastian
Harga-harga
Biaya-biaya
Harga kebutuhan pokok meroket
Bermanuver di langit kekuasaan
Biaya sekolah melangit
Menghujani batu-batu di atas kepala
Dada berdarah menahan derita
Rakyat di segala penjuru negeri
Ingin anak-anak dan generasinya berpendidikan tinggi
Pak tani ingin anaknya jadi menteri
Pak sayur ingin anaknya jadi petinggi
Pak sopir ingin anaknya secerdas Habibie
Jika biaya pendidikan tinggi, setinggi langit negeri ini
Siapa yang akan jadi menteri?
Siapa yang akan jadi petinggi?
10032025
Riswo Mulyadi, lahir dan besar di Karanganjog desa Cihonje, Gumelar, Banyumas. Aktif menulis cerkak, puisi dan guritan banyumasan. Jugga aktif di Komunitas Litersi Blakdhen Gumelar, Jaringan Sastra Pinggir Kali (Jaspinka), Satra Pinggiran, dan LESBUMI PCNU Banyumas.
(114)
AKU TAK HAUS DAN LAPAR MAMA
Silivester Kiik
Mama, di dapur tua masih membisu tungku dan tumpukan kayu kering
bara api dan gumpalan asapnya mengurai sejumlah kisah
yang tak sempat dituliskan embusan kepada setiap mata yang melihat
untuk mengurainya menjadi sebuah perjalanan yang tak hilang dihadapan waktu.
Mama, lihatlah sulur-sulur cemara, mereka tak pernah haus dan lapar
sebab yang didoakan dari mereka adalah bagaimana jika mereka diberi pengetahuan
untuk tumbuh dan tak ditindas oleh lembaran-lembaran yang tertulis
dari mereka yang suka menciptakan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
Mama, aku ingin seperti cemara-cemara itu
melambaikan pelita pengetahuan dan kedamaian
sebab aku tak haus dan lapar; air di sungai masih mengairi darah mimpiku; singkong, jagung, tuak, ubi hutan, sagu masih menghidupi nyawaku.
Mama, aku ingin seperti Albert Einstein yang ditempel di dinding sekolah itu
dan ingin terbang tinggi untuk bermimpi menjadikan air matamu
tak lagi jatuh di tanah yang kering ini
tetapi apakah aku bisa menggapainya?
sedangkan banyak hasil tenunan mama terjual
untuk membayar uang pendidikanku.
Mama, “apakah gaji hasil penjualan puluhan ekor sapi yang di gembala oleh bapak milik Bapak Desa adalah untuk aku bercita-cita?”
Unu si sulung telah putus pendidikannya
Muti yang sedikit pandai pun demikian hasilnya
dan mereka memilih menjadi budak di negeri setumpuk uang
dan aku, “apakah mati menjadi batu di tanah leluhur keramat ini?”
Mama, seruling sunyi yang merdu dikala senja itu
telah kuikat di sobekan baju ini
biarlah menjadi jawaban doaku dari kisah Adam dan Hawa
yang terus terasing di tengah telaga
dan menjerit bersama duri-duri yang menikam telapak kaki ini.
Ya Tuhanku, “aku tak ingin makan dan minum dari tubuh-tubuh yang sombong
seperti di negeriku ini bara apinya lebih panas dengan kebohongan, keangkuhan, kerakusan
dan aku adalah sebatang kayu kering yang mati di dalam pembakaran
dengan menanggung berat kesunyian doa mama
dan pahala pada sebuah diam yang didirikan oleh bapakku.
Tuhan, jika aku terlalu silau memandang rembulan
maka bacalah deritaku di antara putihnya tulang-tulang
jejak-jejak kaki terhitung bersama nyanyian jantung dan rentap
dengan tebaran awan gemawan yang senyap membirukan langit dukaku.
Atambua-Timor-NTT, 10 Maret 2025
Silivester Kiik, adalah seorang guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan penggiat literasi perbatasan. Karyanya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca Oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan.
Puisi lainnya mengisi buku antologi bersama nasional dan regional.
Karya-karya berupa opini, jurnal ilmiah, puisi, artikel, dan lainnya juga hadir melalui media cetak maupun online. Pada tahun 2020 terpilih dalam kegiatan Magang Pegiat Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Tahun 2023 terpilih dalam Peserta Program Guru Inspirator Tingkat Nasional dari berbagai propinsi.
Saat ini tinggal di Kota Perbatasan RI-RDTL (Atambua-Timor-NTT)..
(115)
MAKAN BERGIZI GRATIS DAN PENDIDIKAN
A. MACHYOEDIN HAMAMSOERI
Ada program pemerintah
Yang membuat rakyat senang
Ialah: makan bergizi gratis, yang kini
Telah dilaksanakan di sekolah-sekolah
Walau belum menyentuh
Seluruh lapisan masyarakat
Sebab bagi anak, yang tak bersekolah
Mana bisa memperoleh: "makan bergizi gratis"
Mungkin itu
Yang harus dipikirkan kembali
Sebab banyak orang yang tak mampu
Dan tak bisa menyekolahkan anak-anaknya
Apakah pernah terpikir
Untuk memberikan bantuan
Kepada mereka, hingga anak-anaknya
Juga bisa sekolah, seperti anak-anak lainnya
Bukankah
Pendidikan itu, suatu hal
Yang penting bagi kehidupan anak kita
Karena siapa tahu, diantara mereka nantinya
Ada yang menjadi Penyair
Atau bahkan mungkin, menjadi
Seorang Pemimpin, yang mempunyai
Sifat "amanah" dan berpihak kepada rakyat
Sri Anggur, 11 Maret 2025
A. Machyoedin Hamamsoeri
Lahir 17 Juli 1952 di Jakarta
Pekerjaan: Pensiunan
Mulai menulis sejak tahun 1970 an
Antara tahun 1970 - 1980 an, sajak2nya
sering dimuat di beberapa Media Massa
Telah menerbitkan beberapa buku puisi tunggal dan sering ikut dalam antologi puisi bersama. Namanya masuk dalam buku: Apa
Dan Siapa Penyair Indonesia ( YHPI - 2017)
Kini bermukim di kota Tangerang - Banten
No. WA yang dapat dihubungi: 085894804520.
(116)
CELOTEH MAKANAN BERGIZI GRATIS
Sartikah
Siang itu sekotak nasi terhidang di meja sekolah
ada senyum bahagia di raut wajah mereka
lalu anak anak mulai mencipta rasa
seperti apa gerangan
ragam ekspresi di wajah mungil mereka
setelah makanan dicoba
Hari pertama berlalu sudah
nasib sepiring nasi berbeda beda
ada yang habis tanpa sisa
ada yang tinggal setengah
bahkan ada yang tak di sentuh
mereka lebih memilih untuk dibawanya pulang
entah untuk siapa
Hari hari berikut anak anak mulai bosan
karena cita rasa makanan berbeda dengan
racikan bunda di rumah
masakan bunda lebih ramah karena terhidang dengan cinta
Sepiring nasi menjadi cerita di mana mana
menjadi perdebatan dan celotehan setiap kesempatan
guru pun menpunyai kerja tambahan
untuk membagikan dan memastikan semua kebagian
Andai saja makan bergizi terhidang di setiap rumah
tentulah anak lebih bahagia
menikmati makan bersama keluarga
tak ada yang bicara adik di rumah makan apa
sedang saya di sekolah makan makanan bergizi
walaupun rasa kurang selera
karena masakan bunda lebih mengoda.
Garut, 10_03_2025
Sartikah
seorang guru penikmat sastra
dari Cibiuk Garut
(117)
GRATIS GIZI SENILAI PRAKTIS
Erndra Achaer
Senilai apa
Di tengah efisiensi di semua institusi
Sejumlah anggaran
Digelontorkan tunaikan janji
Dalam perjalanan siapa jadi jaminan
Tak ada spekulan pegang kendali,
Pialang turut bertualang
Tangan-tangan di dapur harus cerdas
Membagi menu terhidang pantas
Pada nampan-nampan harapan
Sesuai nominal kompensasi
Siapa mau merugi, itu pasti
Di satu wilayah dengan wilayah lainnya
Mungkin saja berbeda-beda
Tak ada yang buta angka
Nurani pengelola turut andil juga
Agar semua adil merata
Menu gratis bergizi
Semestinya mengandung cukup nutrisi
Tak terkontaminasi kepentingan
Apalagi penuh berisi titipan
Hingga melenceng dari tujuan
Siapa lunas siapa tandas
Siapa terkuras siapa menguras
Siapa berkelas siapa culas
Siapa tegas siapa buas
Siapa ikhlas siapa minta dibalas
Pada tampilan menu sudah jelas
Harga tak berdusta
Purbalingga, 14 Maret 2025.R
Erndra Achaer (Erni Tujianah), lahir dan besar di bumi Sudirman –Purbalingga. Pernah menjalani kehidupan di Bogor. Kini kembali tinggal kampung halaman, di timur gunung Slamet. Sejumlah karya termuat dalam antologi bersama beberapa komunitas sastra, seperti Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Dapur Sastra Jakarta, Taman Inspirasi Sastra Indonesia, dan lainnya. Aktif pula sebagai admin di beberapa komunitas sastra FB. Antologi tunggal perdana "Nalar Laras Rasa" (Bookies Indonesia, 2024), segera menyusul antologi kedua.
(118)
MERAWAT SENJA ANAK NEGERI
H.Shobir Poer
selalu saja kisah pilu,
bersuara di rumahrumah ringkih,
ada yang belum makan hari ini, kemarin, bahkan untuk esok hari
perutnya lapar,
setetes airpun belum diteguknya
pedihnya lagi, tak ada orang kaya
pancarkan hati jadi matahari,
luluh datang ke pintupintu,
berbagi dan membersamai.
pedih yang panjang,
tak henti dari senja ke senja,
kurus tubuhmu dengan pakaian lusuh
tetap lewati hidup,
bahkan berujung tidur panjang
masih ikhlas menerima
di lain kisah, dapati anak negeri
wariwiri ke luar negeri
menembus senja hedonisme dan indah bermimpi
rasa dalammu hanya belati.
di senja anak negeri,
jutaan masih dalam kemiskinan,
mulai, rawatlah asupan
makanan bergizi,
tidak tebang pilih
tak boleh dikorupsi,
tak boleh berbau basi,
tak boleh dikurangi,
hak itu harus sampai.
ayo, mulailah
merawat senja anak negeri
dengan makan bergizi,
di waktu ke depan
bebaskan anak negeri dari uang sekolah
merata sampai ke ujung pelosok,
hingga senyum leungit bibirnya
bisa mengepak bersama Garuda
sanggup terbang mendunia.
Tangsel, 15-03-2025
(119)
SUARA ANAK PULAU,DOA ANAK NEGERI
Vien Rumailay
Hening menemaniku
Suara itu kembali menggema
Di tengah maraknya makanan Bergisi Gratis
Hadir doa anak negeri
Mengharapkan kebijaksanaan,keadilan,kemanusiaan
Apakah Indonesia baik - baik saja ?
Makan Bergisi gratis menjadi tanda tanya
Apakah makan gratis,namun di bayar pajak ?
Ataukah makan Bergisi gratis,tanpa bayar pajak ?
Wahai pemimpin bangsa
Tiliklah di seberang pulau timur Indonesia
Doa anak negeri
Harapan anak bangsa
Jangan ada politik makanan
Jangan ada kolonialisme penjajahan
Jangan ada intimidasi
Jangan ada Diskriminasi di balik layar makan Bergisi gratis
Indonesia titipan sang ilahi
Pemimpin titipan sang ilahi
Rakyat Indonesia ciptaan sang ilahi
Doa anak negeri semoga Indonesia baik - baik saja
Nusa Ina Maluku,
15 Maret 2025
(120)
Meja-meja Kecil Perjamuan
Mohamad Iskandar.
di meja-meja
murid-murid sekolah sedang dijamin menu
yang katanya pilihan sehat
untuk menjaga raga kuat, hebat, dan semangat
agar tegak menyambut peradaban
merdeka dikomandoi orang-orang berdasi
yang berlagak suci
memberi harapan-harapan
bahwa setiap anak kecil perlu makan siang
bergizi tinggi (katanya)
untuk menyambut kegemilangan masa depan
tahun emas 2045 dalam bingkai kemerdekaan
100 tahun perayaan, lepas dari penjajahan
meskipun nyatanya, kita tidak sepenuhnya lepas
masih terikat dengan aturan-aturan
mengedepankan uang, hilang kewarasan
makna merdeka dijadikan slogan
lewat gadget-gadget kita disuguhi
ledakan kasus korupsi dan pemangkasan anggaran
karena
di negara gemah ripah loh jinawi
busung lapar dan gizi buruk menghantui
maka kita musti tegap sedia
memberi jatah kepada anak-anak
calon-calon pemimpin masa depan, dengan...
makan siang gratis!
(suara pidato berapi-api di televisi, radio, dan koran)
di meja-meja perjamuan
anak-anak sepakat membentuk
imajinasi tentang kemerdekaannya sendiri
tentang belajar menempuh kehidupan
diluar kemampuan mencerna sebuah program
di meja-meja itu
kotak-kotak makanan seperti rayuan
memenangkan kidung suara-suara
yang riuh di kantong-kantong penguasa
sebab
harus ada yang dikorbankan dalam politik
untuk melanggengkan kekuasaan
pion pion kecil di pusaran kesementaraan
Demak, 15 Maret 2025
Mohamad Iskandar.Lahir dan dibesarkan di Sidomulyo Krasak Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. Belajar puisi secara otodidak dan gemar membaca apa saja. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media cetak dan online diantaranya Nusa Bali, Suara Merdeka, Majalah Elipsis, Ompiompi, Biem.co, Penaterbang.com, Barisan.co, Annairi.co, Pustaka Ekspresi, Elipsis.co,Tirastime, potret online, dan sastramedia.com. Mendirikan Kelas Puisi Alit (KEPUL) dan Ruang Kata. Buku puisi terbarunya berjudul OKIN (2024).
(121)
(Maukah anak-anak kita diberi dongeng yang dapat meninabobokan akalnya?)
Amal Kamaluddin
siang segera merentang, rumus-rumus fisika masih mengepul dalam benak. tiba -tiba bel berbunyi dan terdengar suara dari alat pengeras suara bahwa telah tiba waktu untuk makan siang bersama. seolah mendapat pembebasan, suara riuh mengalahkan segala teori yang memenuhi benak mereka. makanan yang tak lagi mengepul mulai berurai dengan gejolak anak-anak. selera yang sedari pagi bergejolak seakan menemukan tambatan. mungkin lapar, atau mungkin juga harus memaksakan. mungkin selera atau bahkan mungkin harus merasa terpaksa. dibenak mereka hanya tergores kekuasaan nasib di negara beraneka, yang memiliki adat dan kebudayaan yang kaya. apakah ini awal dari nasionalisasi nasi atau candaan politik? tak pernah terbersit, di hadapan mereka hanya seonggok janji kampanye yang dipaksakan. yang sangat berbeda dengan sepiring nasi di meja rumahnya dan tersaji dari perahan keringat dan kerelaan. dan mulailah mereka berdoa: "Tuhan... seandainya saja dapat memilih.... pilihkan kami Rizki yang halal dan baik,... yang diperoleh dengan cara yang baik dan ikhlas... bukan dari perahan pajak dan naiknya harga-harga. "
Amal Kamaluddin
(122)
HIDANGAN DI ATAS MEJA KAYU
Naim Emel Prahana
Sejak sore embun menebar kasih sayangnya
membalut setiap bubungan rumah beratap seng
sebelum tidur ibuku berbisik, “pakai selimut ya nak!”
lalu, ia ke luar bilik (a) sambil tersenyum
langkahnya meniti lantai rumah terbuat dari papan
senyap!
Dan, jelang fajar datang bertamu menerpa beranda
ibuku sudah berada di dapur menanak nasi dan sayuran
tangannya cekatan menyusun potongan kayu bakar
diletakkannya di bawah dua beli besi tunggu
asap pun mulai melayang terbang hangatkan suasana
masakan ibu sudah dihidang di atas meja kayu
ibuku adalah wanita satu dari sekian banyak wanita
takkan gentar dihadang kesulitan agar anaknya cepat besar
dengan sarapan nasi putih lauk pauk sayuran rebus, dan
sambal terasi selalu pembeda sarapan di kota
Pesta demokrasi dari waktu ke waktu berlalu
ibuku telah melewatinya dari separuh usia, ia kisahkan
bagaimana janji-janji itu tak sampai di kampungnya
sebab segala macam gizi dan protein diperoleh
dari pinggiran sungai dan kali kecil tumbuh subur
aneka sayuran untuk lauk pauk makanan anaknya
sudah terbiasa!
Rutinitas di rumah kayu beratap seng di kaki pegunungan
jauh beda dengan kebiasan di rumah dekat gedung langit
tak ada protein dan gizi makanan tanpa pembayaran
di kampung, ibuku rajin memetik sayuran pakis, selada
juga banyak kangkung dan pasang bubu ikan hasilnya
telah mengantarkan anaknya ke berbagai ketrampilan
ibuku khawatir anak cucunya jadi malas belajar
karena mimpinya makan bergizi gratis tiap hari, baru sekali
banyak sekali pernyataan petinggi negeri, dan akhirnya suruh
makan ulat pohon sagu dan jangkrik.
Metro, 3 Maret 2025
Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara.Penjelajahan Naim Emel Prahana di dunia seni dan budaya membawa langkahnya mengelilingi berbagai Negara di Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika. Karyanya antara lain 1) Sajak Kaca, antologi bersama empat penyair muda, Yogyakarta, 1984.2) Kasih Tuan, Yogyakarta, 1985. 3) Kembang Malam Kembang Kelam, Metro, 1986.4) Poros, Metro, 1986.Penyair Ini tinggal di Metro Lampung.
(123)
Butir - Butir Nasi
Sri Wahyu Wardani
mata bocah itu berbinar indah
menyiratkan rasa yang membuncah
ditatapnya butir butir nasi di depannya
membayang betapa lezat rasanya
ini makanan mewah
dirumah hanya bubur yang tersaji
beras emak tidak cukup jika dibuat nasi
hanya semangkuk bubur putih untuk sarapan pagi
minum susu dulu hanya sekelebat bayang
namun kini sudah ada di genggam tangan
lantas...mengapa mesti menolak
dan katakan makanan ini tidak enak.
bocah bocah ini tak pernah mengerti
piring- piring yang tersaji hasil kolusi
dari janji- janji yang tersembunyi
dari hati keji bertopeng sepiring nasi
meja- meja sekolah menjadi perjamuan darah
dari tangan - tangan serakah
yang ciptakan noktah di dinding sejarah
tinggalkan riuh pada hati yang gundah
Ungaran , 16 Maret 2025
Sri Wahyu Wardani,lahir 9 Juni ,tinggal di kota Ungaran pecinta kucing yang jatuh cinta pada puisi , memiliki karya beberapa antologi puisi , antologi essai dan cerpen serta 2 buah karya pribadi, kumpulan puisi Merdeka atau Mimpi dan novelet Lembayung.
(124)
Sepiring Impian Dalam Makan Siang Bergizi Gratis
Dalle Dalminto
Perjamuan makan siang bergizi gratis telah dikumandangkan di sekolah-sekolah. Setiap siswa siap disuapi mimpi-mimpi. Bukan untuk dicuci otaknya tetapi biar mereka tumbuh sehat dan pintar.
Lalu, dikampanyekan makan siang bergizi gratis di sekolah-sekolah. Program baru, janji calon penguasa baru
"Ayo pilih saya, nanti akan ada program makan siang bergizi gratis untuk anak-anak sekolah!" Suara lantang saat berkampanye.
"Pak, besok pilih beliau ya, biar dapat makan siang bergizi gratis di sekolah," bisik anak SD kepada bapaknya ketika sedang menonton tivi.
Makan siang bergizi gratis, menjadi program kampanye yang ampuh, mampu menarik massa. Dengan iming-iming kata gratis, rakyat jelata pun berjubel dan berbondong-bondong memberikan hak suara ketika pemilu tiba.
Dan benar saja, setelah penghitungan suara, beliau menang mutlak dan dinyatakan sebagai juara. Dengan tenang beliau menjelma sesosok dewa, yang menjadi tumpuan harapan rakyat jelata untuk mengubah nasib. Yang selama ini karib di dalam kehampaan. Ada harapan baru, tidak seperti tempo dulu, yang selalu membagi-bagikan kartu, kartu, dan kartu.
Setelah beberapa purnama, progam makan siang bergizi gratis pun benar-benar nyata. Rakyat menyambut dengan suka cita. "Tidak perlu repot-repot menyiapkan bekal untuk anak-anak," bisik seorang ibu-ibu dengan riang.
Di suatu ketika seorang anak SD yang baru saja pulang dari sekolah mengadu kepada ibunya, "Bu, besok aku bawa bekal lagi aja, ya!"
Sang ibu pun kaget mendengar permintaan sang anak, lalu bertanya, "Lho, kenapa?"
"Ternyata, masakan ibu lebih enak. Apa karena dibumbui kasih sayang dan cinta sehingga rasanya lebih nendang?" kata seorang anak SD dengan polos.
Yogyakarta, 17 Maret 2025
Dalle Dalminto, seorang penikmat dan pengagum puisi yang lahir pada 5 Februari di Bantul. Sekarang menetap di dusun Bongsren, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Aktivitas sehari-hari bekerja sebagai sebagai pegawai kebersihan di Stadion Sultan Agung Bantul.
(125)
NYANYIAN ANAK BELANTARA
Sukardi Wahyudi
Aku anak belantara
menginginkan hal yang sama dengan anak kota
semua serba ada dan tersedia
kualitas pendidikan setara
bapak ibu guru lengkap bertitel S dua
gedung mewah sering dikunjungi para penguasa.
Aku anak belantara
tak pernah mengaduh apalagi mengeluh
biar program istimewa belum datang
membasahi kerongkongan dada
daging ayam telur susu 4 sehat 5 sempurna
berputur menari di tempurung kepala
makanan bergizi dalam hayalan
perjalanannya panjang menuju bibir desa
entah tersangkut di tikungan mana.
Aku anak belantara
ingin berteriak tak punya suara
suaraku terlalu mungil untuk didengar
dulu belantaraku menyediakan hamparan hidangan lezat tak kalah mewah makanan anak kota
rebung umbut daun sengkil dan pucuk paku
undang galah patin haruan dan biawan
menu kearifan nenek mayang hilang
karena kaki hutan sudah rapuh runtuh
sungai tak perawan di telan air limbah.
Aku anak belantara
sering terlupa atau memang di lupakan
di pandang anak nomor sekian
padahal aku dengan setia menjaga etika.
Aku anak belantara
tapi aku anakmu juga.
Kukar, 17032025.
SUKARDI WAHYUDI, sekarang bertempat tinggal di calon Ibu Kota Negara (Kukar-Kaltim), telah menghimpun karyanya dalam puluhan buku tunggal : LELAKI ITU (puisi, 2010), ADA GELISAH DI PERTEMUAN WAKTU (cerpen 2011), dan BEGENJOH (puisi 2024), menerima Anugerah Kesetian 30 Tahun “SETYASASTRA NAGARI” dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, menerima Anugerah SASTRAWAN BERDEDIKAS 2021 Kaltimtara, menerima Anugerah Sastrawan Berjasa 2024 juga tercatat dalam buku : APA DAN SIAPA : PENYAIR INDONESIA (Yayasan HPI, 2017). JEJAK RINDU (puisi 2019) terpilih sebagai Buku Sastra Nasional 2024 Versi LPSI dan karya puisinya telah diterjemahkan dalam bahasa ibu (bahasa Kutai) bahasa Inggeris, bahasa Spanyol juga termuat dalam ratusan antologi bersama dengan para Penyair Nasional dan Internasional baik berupa Puisi maupun Cerpen.
(126)
MENJADI CERITA
Denting Kemuning
makan bergizi gratis
didapat dengan praktis
tanpa perlu mengiris
ataupun menumis
ibu-ibu tersenyum manis
melihat anaknya makan bersama teman-temannya tanpa menangis
telah tertulis dalam episode baru
mewujudkan program nyata
yang mempunyai anggaran besar
bertujuan meningkatkan gizi
Olalah ....
terkesan manis
tapi sangat ironis
penerima makan bergizi gratis tak memikirkan itu
mereka menerima dengan senang gembira
dapat makan bersama teman dengan menu yang sama
makan bergizi gratis membuat generasi penerus bangsa bisa kuat dan sehat
Surabaya, 18 Maret 2025
Denting Kemuning nama pena dari Kanti Prawindasih. Lahir di Surabaya, 10 April. Telah menerbitkan buku antologi tunggal berjudul TREMBESI DI SUDUT KOTA. Karyanya ada dalam beberapa komunitas sastra dan penyair Nusantara.
(127)
LAPAR
Abede Mujib
(1)
Sepiring nasi berlauk tempe tahu
Tak berbumbu
Yang disajikan di depanku
Jauh lebih berharga bagiku
Daripada menu terenak dan tersehat
Yang hanya ada di dalam otak
Karena lauk yang terlezat
Adalah lapar yang sangat
Tuan puan sekalian
Nasi sisa pun yang kalian berikan
Akan kami makan
Asal tak basi dan memabukkan
Sungguh, memberi makan
Pada kami yang lapar
Dan membutuhkan
Duhai
Betapa mulia
Neraka pun akan malu menyapa
Namun ia akan berbalik rindu
Bahkan memburu penuh nafsu
Jika kelaparan saja
Masih dipermainkan juga
Diperas air matanya
Sampai bosan menengadah
(2)
Wahai tuan puan
Cobalah kau dengar kicau burung
Dan gemirisik asyik dedaun rimbun
Sungguh tak semuanya anyir nanah
Masih terlampau banyak
Orang waras di negeri ini
Yang ingin pula ikut berbakti
Dengan caranya sendiri-sendiri
Sepahit-pahitnya madu
Yang diberikan saudara sebangsa padamu
Jauh lebih bermanfaat
Dibanding manisnya racun para penjilat
Ayolah jangan baperan
Ini konsekuensi bagi kalian
Yang memilih tampil ke depan
Dan meminta diberi kesempatan
Jika niat memang bersih
Direncanakan dengan rapi
Dikerjakan dengan gigih
Dan tak ada maksud tersembunyi
Untuk saling tipu saling curi,
Lanjutkan terus jangan berhenti
Sembari terus mengevaluasi
Dan tak bosan perbaiki diri
Yakinlah
Garuda akan selalu ada
Walau Indonesia gelap dan gulita
Abede, 200325
Abede Mujib,
(128)Makan Bergizi, Siapa yang Makan?
Zainol Akbar
di atas meja, pertunjukan dimulai
panggung sandiwara bertajuk makanan bergizi
berhamburan kelezatan duniawi
janji-janji pasti
berikut ocehan basa-basi
ting, ting, ting
seperti tak asing
suara itu terdengar nyaring
sendok dan garpu sedang beradu sengit di atas piring
mencabik-cabik seonggok daging
dan santapan demi santapan siap digiring
mengisi perut-perut bunting
"...., tapi siapa yang makan?"
Bondowoso, 21 Maret 2025
Zainol Akbar, dilahirkan pada 27 Maret 1992 di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Sejak berada di bangku Sekolah Dasar bergabung di dunia seni teater, salah satu kegiatan Madrasah Diniyah yayasan As-syafi’iyah. Setelah jenjang SMP dan SMA mengikuti ekstra kurikuler kesenian terutama di bidang seni musik. Dan Pernah bergabung sebagai anggota kesenian di UKM Kesenian Dinding IKIP PGRI Jember. Puisinya tersiar di media cetak maupun online, berikut di laman Facebook pribadinya : Zainol Akbar.
(129)
NEGERI PENUH AMBIGU
Aisyah Rauf
Waktu menari di kehidupan bumi
Para pemeran memainkan hidup
Ribuan mata jelata menikmati pementasan
Di atas panggung penuh teka teki
Dengan ambigu tak terkendali
Manusia berdasi
Sibuk mengatur negeri
dari urusan laut hingga gizi anak negeri
Makanan bergizi bertandang ke sekolah
Tanpa pandang kaya atau miskin
Namun ada kisah pilu dan malu
Di pojok kelas tampak anak terdiam
Sembari menggenggam erat kotak harapan
Seketika berlari pulang
agar sekepal nasi bisa berada di pangkuan sang bunda
Saat dapurnya tak terjaga
Kemarin ayah selalu pulang membawa sisa panas matahari
Namun hari ini hanya menengadah ke puncak gedung berasap dari luar pagar
Menerima kata maaf
Karena kepulan asap tak lagi pindah ke dapur ibu
Dermawan hadir dengan banyak kata
Jelata menunggu dan tetap membaca
Namun dapur masih kehilangan bara
Hingga lupa segala rasa
Banyak jiwa ingin selamat
Jemari tak lagi mampu menghitung jiwa-jiwa sekarat
Bekal makanan bergizi disobek lima
Ringkih hidup
Ringkih jiwa
Mati sebelum mati
Bulukumba, 20 Maret 2025
Aisyah Rauf, S.Pd, Lahir di Sinjai, 5 Desember 1973, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai. Prov. Sulawesi Selatan.
Sekarang giat menjalani tugas sebagai guru di SMP Negeri 9 Bulukumba.
Telah menelurkan karya buku tunggal dengan judul Bibir di Tepi Hati dan Mengukir Wajah Anak Negeri. Karyanya pun telah dimuat dalam antologi bersama dan pada komunitas sastra
(130)
BIARKAN ANAK-ANAK TUMBUH SECARA GRATIS
Christya Dewi Eka
Hidangan sehat hari ini:
anak-anak dalam sepiring neraca laba,
diberi makan secukupnya,
dipanen pada saatnya.
Semarang, 20 Maret 2025
Christya Dewi Eka, lulusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang (2003), adalah penulis puisi dan cerpen yang karyanya tersebar di berbagai media cetak dan online. Karyanya telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya juara 1 Lomba Cipta Flash Fiction SIP Publishing (2022), Lomba Cipta Cerpen Kesehatan Mental Sekacil (2022, 2025), serta Payakumbuh Poetry Festival (2024).
(131)
MAKAN BERGIZI GRATIS
Sin Za
Terdengar indah karena gratis
begitu dilaksanakan banyak yang menangis
yang tidak mendukung terancam dihukum
yang mendukung penuh, merugi habis
pembayaran bermasalah
tanpa ada yang merasa bersalah
yang bilang tidak enak
dimaki-maki di layar medsos
awalnya tersiar dana sudah tersedia
nyatanya kalang kabut cari dana
pangkas anggaran sini sana
sebelum tambah runyam
coba dengar suara rakyat
yang lebih suka sekolah gratis
daripada makan gratis
dan tolong serius
tangkap dan hukum semua orang
yang tega makan jatah anak sekolah.
Bandung, 20 Maret 2025
Sin Za adalah nama pena Husin Sutanto. Lahir di Jakarta pada tanggal 22 Maret. Aktif menulis puisi mulai 2021. Saat ini bekerja di Jakarta. HP: 083898611807
Label: Puisi-puisi


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda