Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
51-75
(051)
MENU DITENTUKAN
Suyitno Ethex
menu ditentukan
begitu juga anggaran
tukang masak kerepotan
cari bahan sesuai anggaran
mau beli susu
mau beli daging
pusing
beli saja bahan makan
yang penting tak menyimpang
bergizi bila dimakan
di kota besar
menu jadi beban besar
di desa kecamatan
menu gampang ditemukan
menu ditentukan
anggaran ditentukan
tukang masak kebingungan
2025
Suyitno Ethex
(052)
JANJI BERGIZI MAKAN BERGIZI: GRATIS,
Gurit Asmara Ruci
tanah merdeka indonesia
negeri elok amat kucinta
tanah tumpah janji-janji bergizi
yang diundi lima tahun sekali
kata makan dan gratis,
adalah mantra mistis paling magis
menghipnotis nasib yang tak kunjung manis
lidah-lidah pun rela menjulur - mengais
maka terjadilah serta-merta
di atas meja belajar telah tercitra
nampan-nampan berisi potongan janji
mencerdaskan isi kepala dengan presisi
makan, makanlah nak dengan segera
ini bukan waktunya memanjakan selera
yang utama isi kepalamu mesti menyala
kelak kau akan mengerti apa arti berguna
di pos-pos anggaran mereka bersiasat
mengingat tabiat, doakan agar tak tersesat
semoga susu yang diberikan
bukan kambing hitam yang biasa diributkan
makan, makanlah nak bak bulldozer
seakan kau hendak ditabok ekor buzzer
selalu bersyukur jaga ingatanmu
MBG ini adalah taruhan masa depanmu
2024
Gurit Asmara Ruci, *lahir dan berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur. Puisinya dimuat di beberapa media cetak dan media online serta beberapa antologi.
(053)
Rapat Rahasia di Dalam Perut,
Batari Parfum
Di meja makan sekolah, piring-piring
berdiri tegak seperti peserta sidang.
Nasi di tengahnya adalah saksi bisu,
ditanya berkali-kali oleh mulut anak-anak,
tapi jawabannya tercecer di lembar anggaran.
Sendok bergesekan pelan,
seperti tangan yang sedang mencuri.
Sop sayur berubah jadi protokol.
Daging ayam menghilang,
digantikan laporan resmi yang tak pernah dimakan.
Di belakang pintu dapur,
garpu menggantung dengan luka di lehernya.
Lemari es berdenting seperti kotak suara,
menyimpan semua janji basi:
lauk impor, protein kadaluarsa,
gizi yang dikarantina di ruang rapat hotel.
“Anak-anak hanya butuh kenyang,” kata mereka,
sambil menandatangani bon makan malam.
Anak-anak sekolah duduk di kursinya,
mengunyah udara dengan suara pelan.
Di dalam perut mereka, negara sibuk berdiskusi.
Tulang ikan bercampur kertas tender,
kolesterol tumbuh dari janji subsidi.
“Besok kita makan apa?” tanya seorang anak.
“Besok kita makan mimpi,” jawab nasi dingin.
Di pojok ruangan,
jam dinding berhenti berdetak.
Di lantainya, minyak goreng tumpah,
licin seperti politik.
Semua orang berjalan di atasnya,
tanpa takut terjatuh.
Di luar, korupsi bersiul pelan,
memanggil tikus-tikus pulang.
Mereka membawa potongan piring,
untuk membangun istana kecil
di perut anak-anak yang sudah lama kosong.
*Banyumas , 25 Januari 2025*
Batari Parfum
(054)
Makan Gratis Bergizi Mimpi atau Nyata,
Hafney Maulana
Makan gratis bergizi, mimpi atau nyata? Di negeri ini, kelaparan masih nyata
Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan. Gizi buruk merajalela, potensi bangsa terancam
Perut keroncongan, mimpi jadi santapan. Di negeri makmur, gizi buruk merajalela.
Anak-anak kelaparan, masa depan tergadaikan.[1]
Program digulirkan, janji manis diumbar. Tapi, apakah cukup hanya dengan program?[2] Struktur sistem yang rapuh, akar masalah tak terpecahkan. Korupsi merajalela, anggaran lenyap sia-sia.[3]
Bukan hanya soal kenyang
Tapi juga rasa sayang
Berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan
Dalam setiap suapan
Makan gratis bergizi, solusi atau tambal sulam?
Kita perlu lebih dari sekadar program makan siang. Pendidikan gizi, penting untuk jangka panjang. Agar masyarakat sadar, betapa pentingnya gizi seimbang.[4]
Pertanian lokal digalakkan, produksi pangan meningkat. Distribusi merata, harga terjangkau. Koperasi petani tumbuh subur, kesejahteraan merata. Ini baru disebut kedaulatan pangan sejati.[5]
Makan gratis bergizi, mimpi yang harus kita wujudkan. Bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk semua. Dengan kerja sama, gotong royong, dan inovasi. Kita bisa wujudkan Indonesia yang bebas dari kelaparan.
Mari berbagi, mari peduli
Bukan hanya memberi makan gratis hari ini
Tapi juga memberi solusi
Agar semua bisa makan tidak sekedar ilusi
*2025*
*Catatan Kaki:
[1] Data WHO menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia masih tinggi, padahal merupakan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.
[2] Banyak program pemerintah yang gagal mencapai target karena kurangnya evaluasi dan tindak lanjut yang serius.
[3] Kasus korupsi dalam proyek-proyek sosial seringkali terjadi dan merugikan masyarakat banyak.
[4] Tingkat kesadaran masyarakat tentang gizi masih rendah, sehingga perlu upaya edukasi yang lebih intensif.
[5] Kedaulatan pangan penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Kab. Indragiri Hilir, Riau. Karya puisinya telah dimuat diberbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi antara lain: Antologi Puisi Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI dan Angkasa Bandung, 1997), Amsal sebuah Patung (Yayasan Gunungan, Yogyakarta, 1997). Puisi-puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Seri Sastra Tembi.net: Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019) dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020), Para Penuai Makna (Dapur Sastra Jakarta, 2021), Seribu Tahun Lagi (Masyarakat Literasi Jember, 2021) dan puluhan antologi puisi lainnya.
(055)
BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA,
Riska Widiana
Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan
Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan
Bagi orang-orang tak memiliki lengan
Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah
Meski, di sebuah piring
Satu jeruk keriput tersenyum
Tumis sayur dingin sedang manyun
Daging ayam seruas jahe terlihat datar
Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana
Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu
Dipenuhi tawa dan buah segar
Nuansa ceria secerah musim semi
Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai
Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung
Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja
___Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran
Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk
__Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan
Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan
Jangan berkata-kata, kau cukup diam
Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja
Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis
Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan
Entah kau hendak berterima kasih atau tidak
Diam saja, kita hanya cukup bersyukur
Setiap jalan yang telah diukur
Jangan mengeluh, duh
Bagimu adalah hanya
Bagi mereka adalah luar biasa
Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa
Di meja mana mereka terhidang
Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur
Riau,26/1/ 2025
(056)
Salah Asuhan,
Ibrahim Ibrahim
Bumi pertiwi ini subur dan hijau
Terhampar sawah luas dan rimbun
Namun kita hanya memanen embun
Dari hujan yang selalu murung
Kita seperti burung, memiliki sayap
Tapi tidak tahu bagaimana terbang tinggi
Kita memiliki tanah subur dan hijau
Tapi tak mampu dikelola dengan bijak
Hutan kita gundul, sungai kita tercemar
Tanah kita tandus, dan kekayaan kita hangus
Kita seperti kapal, yang tidak memiliki kemudi
Tidak tahu arah, dan tidak tahu tujuan
Seharusnya makan bergizi gratis
Jauh sejak dahulu
Kalau saja pelaku korupsi
Tidak dibiarkan berkompromi
Lalu melarikan diri
Dari negeri ini
Sidoarjo, 2025
Ibrahim Ibrahim, pecinta sastra yang tinggal di Sidoarjo-Jawa Timur. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi bersama (cerpen/puisi) saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan puisinya
(057)
MBG, ADAKAH STRATEGI POLITIS?
Imron Bintang
menatap rakyat jelata,
yang telah mufakat mendaulatnya,
menduduki tahta selanjutnya,
begitu rentan kesejahteraan
ia pun mencanangkan program andalan
: makan bergizi gratis bagi anak bangsa
apa yang bisa diharapkan
dari generasi yang terabaikan
pangan dan kesehatan?
tidak siap menjadi pelaku perubahan
bagi indonesia berkemajuan
maka sebagai penunjang pendidikan
asupan gizi nasional harus ditingkatkan
orang-orang berperang pandangan
tentang 71 T yang siap dianggarkan
bagi 82,9 juta penerima
seharusnya 420 T bisa merata sempurna
pada setiap tahunnya
di tengah derita beban hutang negara
ribuan trilyun ketat melilit istana
dana swasta dan apbd pun siap dikucurkan
sampai pun uang zakat diusul alihkan
apakah makan bergizi gratis
adalah strategi politis
untuk mendulang simpati rakyat
yang tengah terengah-engah
terpijak roda modernisasi di segala arah?
duaratus juta kepala mengangguk iya
sambil kasak-kusuk mencari celah cela
dua puluh lima juta kepala lebih
kaum jelata yang hidup letih
mempercayai program ini
bisa meringankan beban dapur pagi hari
Kendal, 23 Januari 2025
Imron Bintang, Kendal 14 Nopember 1969, adalah seorang pedagang keliling yang *sejak remaja merasa gatal tangannya untuk selalu menulis ( puisi ). Di antara karyanya tergabung dalam antologi bersama: Ketika Dalam Keheningan, Puisi Religi 1 dan 2, Under The Moon, Upacara Tanah Puisi, Raja Kelana 2, Ketika Jakarta Bukan Lagi Ibu Kota, Lampion Merah Dadu*
Published by Literanesia — 27 Jan 2025
(058)
MAKAN BERGIZI GRATIS, CAHAYA HARAPAN,
Suriar Amazi
Di atas piring kosong, tertanam mimpi yang berkibar
Makan bergizi gratis, laksana embun pagi yang menyegarkan
Program ini menari di antara kabut kemiskinan
Mengusir bayang-bayang gizi buruk yang melilit jiwa.
Seperti mentari pagi, hangat menyapa tanpa pilih kasih
Anak-anak melompat, bagaikan kupu-kupu yang riang menari
Makanan bergizi tersaji, menjadi pelangi di hati mereka
Senyum orang tua adalah doa yang terbang ke langit.
Makan bergizi gratis, bukan sekadar menu di meja
Ia adalah simfoni kehidupan, nada-nada masa depan
Mengokohkan pondasi, melahirkan generasi tangguh
Yang kelak menjadi penjaga bumi pertiwi yang bijak.
Dalam setiap gigitan, terselip cita-cita yang menyala
Bagaikan bara api kecil yang menghangatkan kegelapan
Program ini adalah jembatan, menghubungkan jurang harapan
Merajut Indonesia yang setara, penuh harmoni dan keadilan.
Makan bergizi gratis, adalah cermin kasih yang tanpa batas
Ia melukis masa depan dengan warna yang cerah
Menumbuhkan tunas-tunas bangsa yang menjulang tinggi
Menjadi cahaya harapan bagi Indonesia yang makmur dan abadi.
*Semangat Dalam, Alalak-Barito Kuala
Jum'at, 17 Januari 2025/17 Rajab 1446*
SURIAR AMAZI, *(Barito Kuala-Marabahan) pencinta, penikmat dan suka menulis puisi. Lahir di kota Banjarmasin. Berdomisili di Kel. Semangat Dalam, Kec. Alalak, Kab. Barito Kuala, Prov. Kalimantan Selatan. Karya tulis puisi tersebar di berbagai Komunitas Sastra FB dengan berjenis genre puisi. Bergabung dalam puluhan antologi menulis bersama penyair lain yang sudah diterbitkan. Menulis puisi sejak berseragam putihabu, Buletin Obor Tarbiyah (semasa masih kuliah) dan Facebook sejak tahun 2013. Dapat ditemui pada akun fb: https://www.facebook.com/suriar.amazi dan email: akhbirnysa60@gmail.com*
Published by Literanesia — 27 Jan 2025
(059)
SOLUSI MAKAN BERGIZI GRATIS,
Sunawi
Program yang menggelitik di tengah ekonomi ada yang terasa sulit
Yang merasa terpenuhi kebutuhannya hal biasa
Yang merasa kurang terpenuhi adanya makan bergizi gratis merasa suka
Niat luhur yang bisa membawa budipekerti luhur
Apabila yang merasa lebih menyumbangkan untuk negara
Makan bergizi gratis atas nama negara
Dengan tulus ikhlas menyumbangkan darma baktinya untuk negeri ini
Apa hendak dikata keadaan masalalu sawah tegalan sebagian menghilang
Tergerusnya masadepan terkikis sudah yang jadi tumpuan pangan
Potong kompas demi mengikuti arus yang semakin modern
Tak kuat pabila tertinggal jauh dengan lainnya
Mau tidak mau yang merasa kurang kuat ingin mengikuti arusnya
Lepaslah masadepan yang jadi tumpuan
Hari ini untuk hari ini sampai nanti
Ingat masalalu dalam senja menerawang
Yang masih lumayan pangan
Masa panen sebagian untuk dirinya
Sebagian lagi untuk dijualnya
Menjadikan longgar pangan ada kelebihan
Kelebihan pangan berguna pada dirinya dan sesama
Meskipun imbalan menyertainya
Waktu dulu tidak ada program makan gratis
Padahal andai ada tentu saja berikan kemudahan
Karena kuat yang jadi tinggalan
Memang program dulu dan kini berbeda
Demikian juga merambah aturan nya
Makan bergizi kalau sesuai dengan penghasilan bagus saja
Andai tidak sesuai nantinya apa tidak berat belakangan
Sehingga kebutuhan itu tidak mampu dipaksakannya
Makan bergizi gratis bisa terlaksana tanpa hutang
Asalkan semua yang berlebih menyumbangkan darma baktinya
Sehingga programnya bisa terlaksana
Sunawi
*Yogyakarta. 27 Januari 2025*
(060)
Drama Babak Pertama,
Chie Setiawati
Angin berkabar
Perayaan kemenangan pemimpin negeri segera di gelar
Euforia di tiap sudut sekolah
Makan gratis konon bergizi
Tapi budget terkebiri
Angan berkibar
Ribuan anak berekspektasi makan enak
Wajah-wajah sumringah
Asap daging panas beraroma rempah mengelitik angan
Sayur mayur tak lupa buah dan susu ikut menari dalam khayal
Ingin berkisah
Hidangan tersaji tak melulu sesuai nilai gizi
Hidangan dalam baki alakadar sekedar memenuhi pesanan
Ada anak lahap menyantap dengan nikmat
Tak peduli rasa dan rupa
Tak peduli menu yang ada
Sebab lapar membuatnya berselera
Sebab uang jajan tak membuatnya kenyang
Sebab bersyukur baginya lebih penting
Beberapa anak memaki
Mengkritik hidangan yang tersaji
Tersebab menu makan di rumah lebih lezat dari makan gratisan di sekolah
Nasib makanan berakhir dalam tong sampah
Lalu...
Polemik terjadi
Lalu...
Media mencari celah mengkritik pemerintah
Lalu
Lalu...
Kemudian...
Selanjutnya...
Hanya Tuhan yang tahu episode selanjutnya seperti apa.
Chie Setiawati. Bergabung dengan komunitas Penyair Perempuan Indonesia. Karyanya telah di muat di beberapa surat kabar online dan cetak. Masuk dalam antologi Rainy Day Banjarbaru 2018, Almuni Munsi 2018, Pertemuan Sastrawan Nusantara 2022, Jambore Sastra Asia Tenggara 2024. Dan banyak lagi.*
(061)
Jangkrik,
Ahmad Irfan Fauzan
anak-anak menikmati makan siang
dengan jangkrik dan sayur kacang
katanya: bergizi dan menghemat uang
orangtua mulai bingung
pemerintah menjadi gemblung
program yang terlalu dipaksakan
menjadikan anak-anak sekolah sebagai bahan percobaan
dari kampanye pemilihan
katanya: dari rakyat untuk rakyat
dari rakyat sampai sekarat
Serang 2025
Ahmad Irfan Fauzan lahir di Brebes 20 Desember 92 menyukai buku dan karya sastra
(062)
MENGGAPAI MASA DEPAN CERAH,
Iis Yuhartini
Teruskanlah program makan siang bergizi, Pak Presiden
aku masih ingin merasakan lezat ayam goreng, juga lauk pauk lainnya
segarnya potongan buah, sekotak susu menambah nikmat rejeki Allah yang kuasa
pergi sekolah makin semangat merenda asa
Asupan gizi sangat penting untuk tumbuh kembangku
di rumah hanya nasi berteman garam menjadi menu ibu
ayah hanya pekerja serabutan, tidak dapat memenuhi semua kebutuhan
beruntung sekolah negeri gratis tanpa bayaran
Biarkan saja orang kaya meremehkan program ini
uang mereka banyak dapat membeli segala yang di sukai
aku bersyukur ada makan gratis bergizi di sekolah
anak Indonesia sehat akan kuat melangkah menggapai masa depan cerah
Bekasi, 25 Januari 2025
Iis Yuhartini
(063)
Harapan untuk Anak-Anak Masa Depan,
Puisi Akhmad Sekhu
Jangan berdebat, Saudaraku, dukunglah
Dengan program makan bergizi gratis ini
Pemerintah sedang baik hati mau berbagi
Pendapatan dari pajak yang kita bayarkan
Simpanlah uang untuk beli makanan anak-anak
Mungkin nanti bisa digunakan kebutuhan lain
Atau ditabung yang sewaktu-waktu menolong kita
Dari kebutuhan tiba-tiba yang sangat mendadak
Kita memang harus kritis jika pemerintah apatis
Tapi ini pemerintah sedang sangat peduli
Dengan program makan bergizi gratis
Peduli gizi makanan untuk anak-anak kita
Simpanlah tenaga kita yang berlebih
Jangan untuk berdebat tapi kita mengawal
Pemerintah dalam jalankan pembangunan
Kalau ada kesalahan atau korupsi, tegurlah!
Rakyat dan pemerintah hanya beda kedudukan
Sebagai sesama manusia, kita harus mendukung
Makan bergizi gratis sebagai program kemanusiaan
Demi harapan untuk anak-anak masa depan
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2025
Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah.
Menulis berbagai tulisan, berupa puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film, telaah tentang televisi di berbagai media massa. Puisi-puisinya masuk sekitar 70 buku antologi komunal (1994-2024). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (2022), Indonesia Negeri Paling Puitis di Dunia (manuskrip). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).
(064)
Bukan Makan Gratis
Acep Syahril**
bukan makan gratis
yang kami butuhkan
dulu kami pernah bawa jerigen antri minyak tanah beras murah dan bubur kacang ijo dari pagi sampai matahari berdiri
pernah juga ketika harga harga barang naik tapi kami dikasih kaos gratis berlogo partai kalender gratis poster gratis dan berbaris
di bawah matahari gratis
sekarang kami hidup berdampingan dengan para pencuri rebutan rizki dengan koruptor maling tapi anak-anak kami dikasih makan gratis ini jelas jelas pelecehan
sejak dulu kami saudara handai tolan cukup makan dengan ikan tempe dan tahu tapi masih bisa berpikir cerdas mengatasi kepelikan hidup ini sebaliknya kalian para penguasa yang
ketakutan dengan kepintaran kami
sekarang anak-anak kami kalian beri makan gratis dengan
dalih meningkatan gizi agar mereka sehat pintar dan berani sementara kalian sudah mempersiapkan bedil barisan
tameng jaga negeri serta siap menghantamkan sepatu besi pada mereka yang nantinya akan mempersoalkan demokrasi
anak-anak di negeri ini tidak membutuhkan makan gratis tapi pemimpin yang jujur para pejabat amanah aparatur hukum
tafakur yang benar-benar memikirkan nasib rakyat
yang hak-haknya dihargai sebagai manusia yang juga layak
hidup di negeri ini
yang paling utama anak-anak ini benar-benar dipaksa belajar
agar cerdas dan pintar untuk mengatasi persoalan hidup
di negeri yang kaya raya ini bukan dipaksa sekolah atau kuliah
lalu dapat gelar berjibun tapi malah guoblog dan pongah
merasa paling hebat sendiri dan paling pintar sendiri lalu melanjutkan tradisi maling dan mencuri karena mereka
bukan belajar melainkan sekolah dan kuliah
jadi bukan makan gratis dan literasi tipu-tipu yang dibutuhkan anak-anak kami tapi paksa mereka belajar dan siapkan untuk menjadi anak-anak kreatif tampil paling depan dengan
segala kreativitas menantang untuk siap berkompetisi dengan
modrenisasi dan segala teknologi siapkan kuhp yang benar
siapkan bedil sepatu dan tameng kalian untuk menjaga
mereka yang kelak mengharumkan dan mengangkat
derajat bangsa ini dimata dunia
*indramayu 2025*
(065)
Semoga Bukan Sesaat,
Fie Asyura
Hari ini
Pagi terindah
Senyum terukir di wajahku
Ada janji yang diwujudkan
Serasa mimpi di siang bolong
Di hadapanku tersaji kotak makanan bergizi
Gratis
Cacing di perutku berontak
Rasa tak sabar
Berdoa
Untuk pemimpin kami
Untuk guru-guru kami
Untuk negeri ini
Semoga
Subur makmur
Gemah ripah
Loh jinawi
Emak, saat kubuka kotak makanan
Airmataku turun
Mataku menatap tak percaya
Setumpuk nasi putih
Lengkap dengan lauk pauknya
Ada ayam goreng, telur, cah kangkung, pergedel jagung
Serasa mimpi
Terbayang emak dan bapak
Duduk mencangkung dengan segelas kopi tanpa gula
Ubi rebus dengan parutan kelapa
Masih terdengar emak berkata lirih
Kepada bapak yang duduk termenung
'hari ini beras habis'
Bapak terdiam
Di hatinya mungkin berkata
Dapatkah aku mengumpulkan rongsokan
Untuk membeli beras
Pura-pura tak mendengar
Kudekati emak dan bapak
Kucium takzim tangan keriput
Aku pergi bapak, emak
Emak tersenyum
Sinar matanya begitu teduh
Hati-hati di jalan, le
Jangan lupa berdoa
Bapak tersenyum sambil mengusap kepalaku
Belajar yang baik, anakku
Supaya cerah masa depanmu
Aku mengangguk
Berjanji
Pagi ini di hadapanku
Makanan bergizi gratis
Kumakan sedikit
Kuambil pakai sendok
Cukup sesuap
Nanti sepulang sekolah
Akan kuberikan emak dan bapak
Agar mereka ikut menikmati makanan bergizi gratis
Senyum mereka adalah bahagiaku
Terima kasih pemimpin kami
Saat pertama duduk sebagai pengayom rakyat
Makanan bergizi gratis
Prioritas pertama
Langsung menyentuh
Perut-perut lapar
Makanan bergizi gratis
Semoga tidak sesaat
Bravo pemimpin kami
Bengkayang, 30 Januari 2025
(066)
MEMBAYAR JANJI,
Winar Ramelan
Saya aminkan!
Saat janji janji ditepati
Bukan sekedar omon omon kosong
Agar tak menjadi hutang yang dibawa mati
Empat sehat lima sempurna
Itulah mulanya yang dibidik dari istana
Mengisi lambung anak negeri ini
Dengan asupan bergizi
Sudah bersinergikah
Petani yang menanam
Peternak memerah susu
Juru masak mengolah makanan
Untuk dibagikan
Agar bocah bocah tenang
Dalam menimba ilmu di sekolahan
Aku aminkan
Ketika ditepatinya sebuah janji
Bukan hanya bualan
Untuk sekedar meraih kemenangan
Agar duduk tenang di kursi kepemimpinan
Tetapi, bolehkah aku bertanya?
Ini untuk berapa lama
Agar jangan hanya seperti angin surga
Yang hinggap sejenak, lalu lewat begitu saja
Aku berharap
Jika anak negeri ini
Bukan semata untuk dijadikan kelinci percobaan
Apalagi menjadi media korupsi besar besaran
Atas program program yang dicanangkan
Karena mereka generasi penyangga negeri ini
Yang akan menjadi pilar atas tegaknya bangsa ini
Mereka yang kelak akan menjaga keutuhan atas keberagaman yang ada
Maka, berilah asupan untuk jiwa raganya
Moral, etika dan ilmu yang mumpuni
Juga makanan bergizi
Aku aminkan
Untuk pemimpin negeri ini
Yang mampu menjadi tauladan atas kebaikan
Dan bisa dicontoh oleh generasi mendatang
Denpasar. Januari2025
Winar Ramelan lahir di Malang 05 juni dan kini tinggal di Denpasar Bali. Puisinya terangkum dalam antologi tunggal Narasi Sepasang Kaos Kaki(2017), Mengening(2020), Dongeng Latisha(2023) dan lebih dari 60 antologi bersama al antologi dwi bahasa, Indonesia - Bolivia, antologi sembilan negara, Puisi Di Tanah Cahaya (hpi 2022) Raja Kelana, antologi puisi 12 DNP, dlsb. Dimuat di berbagai media cetak daerah maupun nasional dan media online, al Harian Pikiran Rakyat, Banjarmasin Post, Dinamikanews, Bali Pos, Harian Nusa Bali, Suara NTB, Radar Malang, Suara Sarawak Malaysia, Majalah Humagi Internasional, dlsb, Kontributor di Majalah wartam, masuk lima besar Anugerah Sastra Apajake, menulis cerpen, cernak juga artikel.
(067)
Jamuan Negeri,
Indri Kartika Putri
Di meja kecil ini cerita negeri ditulis, tak ada jiwa yang dilupakan
sebuah piring tersaji penuh kehidupan,
dalam setiap suapan harapan tumbuh, mimpi melangkah
menghapus dahaga impian yang tak pernah surut
Tiada harga untuk secuil kebahagiaan, saat anak bangsa tersenyum lega,
karena makan bergizi adalah hak,
anugerah penghapus penantian
bukan sekadar janji yang memudar jejak
Rasa kenyang bukan sekadar nikmat,
namun penopang langkah menuju harapan
Hidangan bukan sekadar santapan,
namun lambang bukti cinta dari para pemimpin emas
menguatkan rakyat menyalakan asa, mewujudkan mimpi yang pernah terpintal angin.
Magelang, 31 Januari 2025
Indri Kartika Putri yang akrab disapa Indy, berdomisili di Magelang merupakan salah satu Finalis Duta Wisata Kabupaten Magelang 2011 dan pernah meraih Juara 3 Lomba Cipta dan Baca Puisi, Juara 2 Lomba Karikatur, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) ESFRA di Unissula Semarang pada tahun 2017, dan Juara 3 Lomba Geguritan.
(068)
Makan Bergizi Gratis,
Noor Laila Amin
Program Pemerintah Baru yang sangat ideal...
Disaat rakyat memang sedang kekurangan gizi, perlu peningkatan kesejahteraan demi memperbaiki Generasi Emas yang sedang dipersiapkan...
Seperti semua program yang ada selalu saja menimbulkan pro dan kontra...
Tak apa-apa asal terbukti adanya semua juga akan menerima...
Karena dalam program ini ternyata juga bisa melibatkan semua pihak untuk menjadi stakeholder nya. Petani, nelayan, pedagang, ibu-ibu rumah tangga semua bisa terlibat dan ketiban rejeki nya...
UMKM juga bisa ikut dilibatkan, supaya uang dari rakyat kembali ke rakyat...
Alangkah indahnya jika program ini bisa terlaksana dengan benar, baik dan penuh tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat...
Kekhawatiran tentang kelemahan dan kekurangan disana sini tentu ada, dan perlu pengawasan yang ketat dari semua pihak. Terutama di awal pelaksanaannya, jika ada kelemahan segera benahi.
Karena di negeri ini banyak pemimpin atau pelaksana proyeknya yang selalu mencari celah untuk korupsi...
Makan Bergizi Gratis adalah proyek yang harus kita dukung sepenuh hati, jangan belum apa² sudah kita nyinyiri.
Setidaknya biarkan berjalan setahun dulu, kita lihat apakah akan menjebol APBN atau tidak?...
Presiden Prabowo Subianto kan ingin mengakhiri hidupnya dengan Husnul khatimah, mengabdikan sisa usianya untuk kepentingan negeri...
Tak ada yang sia² dari setiap pengabdian...
Semoga cita² mengantarkan anak bangsa menjadi Generasi Emas menjadi kenyataan di tahun 2045 yad...
#bilikprivasi31012025#
(069)
JANJI DALAM SEKOTAK NASI,
A.Rahim Eltara
Embun pagi itu
telah direguk matahari
Anak-anak gelisah menunggu
berharap janji tidak menjadi basi.
Di atas meja,
tersaji janji dalam sekotak nasi.
Bergizi dan gratis, katanya. Sepotong
empal daging, tumis buncis,
pisang raja, dan susu, dikemas dengan
cinta tanpa cemas.
Bapak dan ibu guru pun
ikut berpartisipasi. Menghidangkan
sepiring senyum, tanpa
basa-basi dan orasi.
Sekotak nasi,
yang dihajatkan tuan dari atas
podium. Mereka membayangkan
masakan ibu, yang disaji dengan
cinta yang matang.
Lalu anak-anak menyantap
dengan lahap. Tidak ada yang menyontek
daftar menu. Karena dari sekotak nasi,
mereka lebih menikmati sedapnya janji
dan lezatnya rasa syukur.
Sumbawa, 30Januari 2025
A.RAHIM ELTARA, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Antologi tunggalnya Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024) dan puluhan antologi bersama. Kini berdomisili di Sumbawa Nusa Tenggara Barat.
(070)
GRATISAN BORONGAN
Hadi Lempe
Cerita masa lalu adalah keindahan kenangan
Meski terseok payah krisis gizi wajah anak-anak masih bersemangat menghapus duka orang tua
Kala itu perjuangan kelaparan, tak ada kata gratis untuk antri sebungkus nasi selain kata iklas berbagi.
Kini jaman berjalan semakin maju menjadi modern bagi kaum oportunis.
Berpura - pura merancang kemanisan, menciptakan kepahitan nyatanya.
Berjuta - juta makanan gratis yang di kemas dalam bungkus plastik
Sungguh sangat fantastis menggiring opini modernisasi.
Menyasar anak - anak negeri hanya untuk mengelabuhi korupsi
Lalu apa di pertanyakan
Paket gratis, hemat, bergizi
Empat sehat
Lima sempurna
Tahu
Tempe
Sayur
Sambal
Plus susu bantal
Harga murah
Basi karena tak terjangkau
Modal mengendap menjadi bancakan para spikulan
Makelar meraja rela
Memasak korupsi menjadi tren gratisan borongan.
Pekalongan 30/1/2025.
Hadi Lempe
(071)
KATANYA GRATIS
Dedi Wahyudi
Program pemerintah bagus
Sebuah rencana mencerdaskan anak bangsa
Dari makan makanan yang bergizi
Setiap langkah pasti ada onak duri menghampiri
Sebuah janji kampanye yang harus ditepati
Agar tak dibilang mungkir atau khianat diri
Tetapi banyak yang sinis dibandingkan dengan simpati
Makanan kurang bergizi dan malahan orang tua disuruh menyumbang
Pemerintah harus bijak di sana dan di sini
Rakyat susah jangan dibuat lebih susah
Mengisi kampung tengah saat ini sungguh miris
Penggangguran dan lapangan pekerjaan mengalami melonjak drastis
Hutang negara tak terhitung lagi
Mimpi generasi emas apakah hanya isapan jempol belaka
Atau negeri zamrud khatulistiwa hanya tinggal nama
Karimun, 31 Januari 2025
Dedi Wahyudi lahir di Teluk Air Karimun pada tanggal 12 Januari 1975. Telah menerbitkan buku puisi solo seperti Filosofi Sandal Jepit (2017), Secawan Kopi dan Sebungkus Roti ( 2017), Menulis Tanpa Batas (2018) Gurusiana Yang Membahana (2018) Kutemukan Cinta di Sagusabu (2018), Warna Warni Puisi Sonian (2019)Cappucino (2020), Berkibarlah Celanaku (2021). Bertempat tinggal di Batu Lipai RT 2 RW 1 Kelurahan Baran Timur Kecamatan Meral Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau.
(077)
SEMBAB
Yohanes Moeljadi Pranata
SEMBAB
Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.
Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.
Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.
Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.
YMP
Sarinah, 2 Februari 2025
(072)
JANGAN KIRA KAMI
Putri Bungsu
Jangan kira kami,Tuan !
Orang tua tak memberi makan bergizi pada anaknya
Sebelum progran nasional diterapkan
Anak kami sudah makan bergizi bahkan sejak dalam kandungan
Kalau boleh kami sarankan
Berikan saja pada yang membutuhkan
Program mercusuar menyisakan carut-marut tak karuan
Ajang bancakan tikus- tikus berdasi
Monopoli pengadaan oleh petinggi yang menjalin relasi
UMKM sempit berkontribusi
Bila diberi peluang pun harus bermitra dengan vendor
Yang telah ditunjuk dan terkoordinasi
Makan bergizi gratis hadirkan korupsi sistematis
Tuan,tidak bisakah mekanisme desentralistik
Libatkan kantin sekolah hingga wali siswa
Setidaknya bisa menekan angka korupsi
Dari dua setengah persen saja
Akan terakumulasi satu koma tujuh Trilliun
Setelah berhitung bersimulasi begitu berat dana harus diberi
Muncul berbagai spekulasi
Mulai minta dana bazis hingga alternatif pengganti
Ulat,belalang,jangkrik,aneka serangga
Duh,BGN bagaimana dengan yang alergi
Bukankah lebih bijaksana dengan memotong gaji petinggi?
*Karanganyar,1 Februari 2025*
Putri Bungsu, lahir di Kulon Progo,26 Sept.1964.Berzodiak Libra,gemar menulis dan avontur.Telah menerbitkan 5 buku puisi tunggal dan lebih 200 buku antologi bersama baik nasional maupun internasional.
*
(073)
Sebuah Kotak Istimewa
Agus Sukamto**
Di ujung kampung
Di sebuah sekolah yang hampir punah
Gedungnya penuh retakan
Atapnya penuh ganjalan
Anak-anak masih setia
Menunggu cerita dari kota
Sebuah kotak istimewa
Makan bergizi gratis katanya
Hingga masa itu tiba
Kotak istimewa untuk mereka
Disantap bersama-sama
Begitu nikmat terasa
Terlihat seorang anak terdiam
Tak menyentuh kotaknya
Bukan tak suka
Untuk Emak katanya
*Pati, 01/02/2025*
Agus Sukamto, Lahir di Pati, tanggal 17 Agustus. Tinggal di Pati Jawa tengah. Kesehariannya sebagai guru Sekolah Dasar di Kabupaten Pati. Memiliki kumpulan puisi tunggal yang berjudul “Pensilku” (2020). Sajaknya juga termaktub dalam antologi bersama “Suara Hati Guru di Masa Pandemi” (2020), “Percakapan Hari Libur” (2020), “Kebaya Bordir untuk Umayah” (2021), “Jejak Puisi Digital” (100 Puisi terpilih lomba cipta puisi HPI 2021) WA: 082352657656.*
(074)
Makan Siang Gratis: Sebuah Renungan
Prawiro Sudirjo**
Di meja-meja sekolah negeri
Nasi terhidang, sayur tersaji.
Namun, di balik piring-piring ini
Ada konsep yang perlu diuji.
Anggaran triliunan digelontorkan
Untuk perut anak bangsa kenyang.
Tapi, apakah semua merasakan?
Atau hanya sebagian yang terpegang?
Di pelosok negeri yang jauh di mata
Distribusi tersendat, kualitas terlupa
Lauk mentah, sayur tak bercita rasa
Apakah ini yang disebut bergizi sempurna?
Dana pribadi dicampur urusan negara,
Batasan kabur, konflik kepentingan menganga
.Akuntabilitas jadi tanda tanya
Apakah transparansi masih dijaga?
Investasi besar demi masa depan anak cerah
Namun, apakah fiskal kita siap menampah?
Utang menumpuk, pasar gelisah
Apakah ini jalan menuju sejahtera?
Makan siang gratis, niatmu mulia
Namun pelaksanaan perlu waspada
Agar program tak sekadar wacana
Tapi benar membawa manfaat nyata
*Bekasi, 1 Februari 2025*
PRAWIRO SUDIRJO, Penulis lahir di Cirebon tahun 1978. Kini guru tinggal di Bekasi. Aktif sebagai penasehat Kafe Sastra Nusantara dan ketua Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB). Buku yang pernah ditulis antara lain : Guru Medsos Masuk TV (2017), Kumpulan Puisi Jalan Hidup dan Cinta (2018), dan Kumpulan Cerita Misteri Yang Tak Terjelaskan (2021) memenangkan nominasi Scarlet Pen Award 2022 kategori cerita misteri, bukunya yang terbaru berupa kumpulan puisi berjudul “Pena Patah (2023). Selain itu karyanya dimuat dalam antologi puisi : Minyak Goreng Memanggil (2022), Antologi Puisi Pantun Pemilu (2023). Penyair dapat dihubungi email: dwiero@gmail.com, nomor WA: 081398989282*
(075)
MEMBACA INGIN
Hadijah Karim
Pecahlah,
anak-anak berlarian mengejar gelembung-gelembung mimpi
Pagi sekali Ipung melangkah dengan tergesa-gesa
semalaman tak dapat tidur
ayam goreng empal tahu dan tempe bacem
pun sayur buncis dan sebutir telur menari-nari
di pelupuk matanya
ayam goreng yang tak pernah dinikmatinya
terbawa mimpi semalam
ayam goreng ipin upin lezat
lezat sampai igauannya terjaga
Pagi Ipung berpesan pada emaknya
tak usah menyiapkan makan hari ini
ia akan bawakan emaknya bekal
nasi gratis dari sekolah nanti
di sekolah waktu keluar main tiba nasi pun dibagi
cacing di perut Ipung makin bergelinjang
ia tak ingin membuka kotak nasinya
aroma lezat cukup meneduhkan perut mungilnya
Ipung ingat emaknya yang sendiri
bekerja sebagai pemulung
ia ingin emaknya membuka kotak nasi itu
dan mereka menikmatinya dengan doa
Ipung ingin suapan cinta emak
tak pernah lepas darinya
Nasi gratis
adakah yang menolak
di bilik sana ada yang menginginkanku
menjadi anak cerdas pandai
bisa sekolah tinggi gratis lagi
dengan kepadaianku
kelak aku menjadi orang sukses
emakku tak jadi pemulung lagi
Emakku tak kerja berat lagi
Ipung berlarian pulang bagai kilat
Pintu rumah menganga lebar
tunggu kepulangannya
*Sumbawa, 01022025*
Hadijah Karim , kelahiran Sumbawa Besar NTB dengan nama pena HadijahKarim, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 3 Sumbawa Besar. Menulis 3 buku tunggal puisi dan beberapa antologi baik puisi, cerpen, Pantun,Syair, Karmina,bersama penyair Nusantara maupun Asean. Baginya, menulis adalah rumah hati, mencari yang kekal dan memaknai yang sementara.*
Label: Puisi-puisi


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda