Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
76-100
(076)
JANJI UNTUK SEPIRING BERGIZI
Juhri Al Banjary**
Di meja-meja rakyat kecil
Tersaji sepiring harapan yang masih menunggu adil
Makan bergizi setahun sekali
Menunggu hari raya bagi-bagi danging mengantri disana sini
Namun, negeri ini tak hanya soal pangan bergizi
Kami butuh pemimpin yang tak ingkar janji
Jangan beri kami pidato manis di panggung penuh intrik
Sementara hukum masih menang bagi yang licik
Kami ingin negeri bersih dari dusta
Tanpa korupsi yang merampas asa
Tanpa kolusi yang menutup jalan
Tanpa nepotisme yang tumpulkan keadilan
Asal engkau tahu duhai pemimpin negeri
Hari ini negeri tak baik baik saja
Tanah dan kekayaannya dikuasai segelintir elit yang memelihara para bandit
Laut di pagar, sawah dan tambak dipaksa dijual
Negara pura pura tuli, karena sudah tak bernyali
Pemimpin pura pura buta karena tak berkuasa
Yang kaya bebas memberi harta pada penguasa
Agar mudah membungkam rakyat jelata
Duhan Pemimpin negeri, kami ingin bekerja tanpa suap
Tanpa koneksi, tanpa takut dijerat
Kami ingin hukum tegak berdiri
Bukan tunduk pada mereka yang berkuasa sendiri
Sepiring gizi bukanlah belas kasih
Melainkan hak yang tak boleh letih
Namun lebih dari itu, kami menanti
Negeri yang jujur, pemimpin berhati
Bukan hanya kenyang yang kami damba
Tapi keadilan yang nyata terasa
Agar esok tak lagi berharap gratis pada alam semesta
Hidup di negeri yang ramah adil makmur sentosa
Barru, 01 Februari 2025
Juhri Al Banjary, Buah pasangan Matnawi dan Umriani, anak ke dua dari tiga bersaudara, Sekarang aktif sebagai seorang Pendidik di Pondok Pesantren Al Ikhlash Addary DDI Takkalasi di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Hobi menulis dan membaca puisi. Saat ini sudah menulis lebih dari 40 Buku Antologi bersama dan 3 buku tunggal. Email: juhribanjarmasin@gmail.com. No WA. 081241117019*
(077)
SEMBAB
Yohanes Moeljadi Pranata
Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.
Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.
Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.
Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.
YMP
Sarinah, 2 Februari 2025
Yohanes Moeljadi Pranata
(078)
SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH
A. Zainuddin Kr**
Sepuluh ribu rupiah itu apa?
seekor jangkrik aduan Jalitheng, Jalibrang pun tiada terbeli. Apalagi jika ia sudah menang kontes berkali-kali.
Tetapi kita, orang-orang negri konoha, uang segitu masih cukup besar nilainya. Sepuluh ribu saja masih dapat di sunat beberapa, di tengah riuhnya pesta makan bersama para siswa.
:Nasi putih, tumis kangkung, buah pisang, dan sayap ayam negri.
"Ini makanan bergizi. Empat sehat. Gua tabok lu, biar lebih sempurna".
Bang Dedy sedemikian geramnya. Pak menteri menggeleng-nggelengkan kepala.
"Jangkrik!". Timpal pak menteri yang selayaknya di timpal.
Sepuluh ribu rupiah itu apa?
Meski segitu tetap hanya masih bisa beberapa. Beberapa tempat dan kota saja.
Ini pun dari kocek pribadi dan sementara meminjam APBD.
Ya,
tetapi tenanglah. Proyek ini pasti akan merata.
Walau tak seberapa, di kali saja akan sekian banyak jumlahnya.
Pekalongan, 030225
Zaenuddin KR
(079)
SEPIRING HARAPAN
Siti Suci WInarni
Di meja-meja kecil tersaji piring-piring harapan
Setiap sendok adalah janji memberi rasa lezat Selezat rempah yang menggoda selera
Laksana embun pagi menyentuh pucuk-pucuk asa
Mengundang tawa kecil di wajah anak negeri
Di balik aroma hangat sup cita-cita
Terpintal benang-benang harapan yang halus
Menjadi lembaran sutra indah
Mereka yang mengukir nasib mencari setitik cahaya terang
Di antara bayang-bayang janji yang terkadang semu
Namun sajian makan sudah terhampar di pangkuan generasi emas dengan senyum mengulum indah
Ada rasa puas terkadang cemas dan was-was
Tak mampu mengadu saat mengunyah menu
Rasa di lidah tak pas
Apakah ini sekadar tinta tinta sekilas melukis janji
Kemudian mengering di kertas waktu
Ataukah benih bergizi tumbuh subur di ladang ibu pertiwi
Mengakar dalam dada, mekar dalam senyuman anak negeri seindah pelangi
Karena tak ada lagi rasa lapar dan perut bernyanyi
Dalam setiap gigitan tersirat bisikan alam
Mengisahkan perjalanan jauh dari keraguan
Sebuah simfoni rasa menebar kepercayaan
Apakah masa depan akan terurai dalam benang-benang nutrisi
Atau sekadar seindah alunan puisi kemudian berhenti
Mari kita menikmati piring-piring harapan itu
penuh suka cita
Sambil menatap mata langit yang merona
Mencari makna di balik setiap sendok yang terhidang
Memenuhi janji demi masa depan generasi bergizi, berintelijensi, serta berdedikasi tinggi
Buah impian menjadi kenyataan
Atas segala karunia-Nya
*4 Februari 2025*
Siti Suci Winarni
Nama Panggilan : Win/Suci
Nama pena : SSW/ Chi Wien
Lahir :: 30 Oktober di Ponorogo Jatim
Karya : pernah menulis 13 buku tunggal ber ISBN dan 80 buku antologi.
(080)
TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN, Rissa Churria
Di warteg
Ada sisa-sisa janji yang tak pernah diselesaikan
Di dapur api tak pernah padam
Menggenggam harapan yang cepat padam
Jika tak diberi makan
Tak ada kata yang terucap
Hanya suara sendok yang jatuh
Hanya aroma datang
Mengingatkan kita pada yang terlupa
Kenyataan yang kerap ditunda
Setiap piring adalah utang
Setiap lauk adalah permintaan yang belum terjawab
Anak-anak itu memandang sepiring nasi
Seperti mereka menunggu keputusan terlambat
Seperti mereka menanti janji yang tak pernah datang
Di meja makan kita semua ikut bertanggung jawab
Atas semua yang belum selesai
Atas yang masih hilang dalam hitungan angka
Dalam perhitungan waktu yang dibuang sia-sia
Mereka lapar kita pun lapar
Tapi bukan hanya perut yang kosong
Ada ruang besar yang menunggu diisi oleh sesuatu
Yang lebih dari sekadar janji
Yang tergesa untuk segera masturbasi
*Bekasi, 02.02.2025*
Rissa Churria, asal Banyuwangi Jawa Timur, menetap dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Menerbitkan 11 Buku Puisi Tunggal, 1 Puisi Kontemplasi, 1 buku Pedoman Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, dan 100 lebih kumpulan antologi bersama baik dalam dan luar negeri.
(081)
SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS
Ais Octadiga
Alur drama kembali mengikis
Menyajikan pendekatan magis
Menutup horor bertopeng manis
Melakon Pahlawan wacana makan gratis.
Ah,
Ini sumbang ditelinga dan mata
Uforia yang teranggap najis
Kebaikan pada rakyat dari Negara
Masih kau sindir dan melankolis.
Ah,
Adakah bagi pengemis masih gratis ?
Adakah untuk para pemagar laut juga gratis ?
Atau alibi menutup kasus ?
Dan,
Ayah Bunda tak pernah meminta bayaran
Apa lagi melabeli gratis
Ini hanya lelucon yang tidak lucu
Untuk cerita bagi anak cucu.
Dewantara, 05 Februari 2025**
Ais Octadiga, berasal dari Aceh, berdomisili di Aceh Utara, kelahiran Oktober 1987. Mulai menulis puisi semenjak Sekolah Menengah Atas, hingga sampai saat ini telah lebih dari seratus karya Puisi yang ditulis.
*
(082)
JANJIMU DALAM MIMPIKU ADA
Dona Lesmana**
Kulirik pintu disamping ku
Oh, ternyata hentakan jantung guru yang datang
Tersenyum kecut menerka alam pikiran kami
“sudahku bilang jangan menunggu”,beliau berucap
Kulirik lagi pintu disampingku
Menyentuh perut berbunyi saat matahari diatap kelas
Nyeri sekali menambah hitungan angka depanku
Dengan waktu pasir berbisik hening.
Kulirik lirik pintu disampinku lagi dan lagi
Teringat suara bisikan bunda mendengung dengung “nanti pilihanmu kirim makanan gratis”
Dengan santai mengibaskan dasternya berkipas manja
Tempat bontotku tersusun rapi di kumpulan piring piring
Kuliri sambil berdiri menggapai janjimu yang tadi malam muncul
Berharap siang ini sebelum ke pangkuan bunda
ayam goreng sudah ku telan
susu sudah kuhisap
buah sudah ku habiskan
beras petanipun sudah ku unyah.
Dona Lesmana, asal dari Lampung . Menetepa dan tinggal di Lampung Tengah
Baru belajar menulis puisi*
(083)
REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR
Uleceny
Sajian impian dalam hidup bergizi.
Menguar aroma kajian makan gratis
Dan harumnya Stella di segala penjuru, berikan nutrisi jiwa pada akar negeri ini.
Hingga sempurnakan segala ingin.
Dalam harap, generasi emas tumbuh kyushoku sepadan.
Bukalah jendela pikir sejenak:
Sajian istimewa di kotak nasi sekolahan.
Menguar aroma sayuran,
pisang emas mungil, lauk, dan nasi berpadu padan.
Dan sebotol kecil, susu rasa pandan.
Berbayar seharga sepuluh ribuan.
Ibu katering hilang mantra.
Lihatlah:
Ada wajah polos anak-anak negeri berbalut senyum bunga.
Dibagikan bekal oleh bapak ibu guru.
Hati setenang telaga, melahap yang tersaji.
Anak- anak berumah langit pun riang
meski ia tahu. Ayah, ibu,
terik ini perutnya setipis irisan semangka.
Namun:
Anak-anak bersendok emas, perutnya menolak berdamai dengan hidangan itu.
Tidak semua paham bukan?
pada yang terhidang di meja pikir.
Kadang, puisi pun berprasangka.
*Sumbawa, 020224*
Sulastri Saguni, dengan nama pena Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli, suka membaca dan menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul " Rindu Perempuan Rumah Panggung" dan " Cinta Sebening Madu. " Serta " Perempuan penjaga Tradisi. "dan cerpen tunggal ' Merindang Rindu ( Hyang Pustaka 2024)
Pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA, Ketua Wanita Penulis Indonesia wilayah NTB.*
(084)
JANJI TERBUKTI
GUNAWAN DM
Baru rencana kontroversi terjadi
Kali ini makan gratis tahap percobaan
Pagi pagi tim gizi para koki menanak nasi
Menjelang siang diatas meja rumah belajar
Kotak tersusun rapi siap saji menu bergizi
Murid bersyukur makan gratis
Dalam kotak ada nasi, lauk, ikan telur dadar, pisang dan susu empat sehat lima sempurna
Demikian janji suci Presiden telah terbukti
Di satu sisi banyak orang tidak setuju
Bila makan gratis terus berlanjut
rumah makan gulung tikar
Harga ikan sayur mayur dan telur membumbung
Sebuah alternatif
Ada suara sumbang mungkinkah akan terjadi ?
" Ulat kepompong jadikan menu bergizi tinggi "
Betapa teganya mereka kalau ini benar
Aku tak setuju walau ini katanya halal namun jijik
Biarlah perut keroncongan
Kalau memang niat sejahterakan rakyat berilah mereka yang yang terbaik
*Sumbawa, 06-02-2025*
GUNAWAN DM
PEJERJAAN : PENSIUNAN PNS
ALAMAT : RT.012 RW. 06 DUSUN MAKMUR DESA SEMAMUNG KEC. MOYOHULU KAB. SUMBAWA PROP. NTB.
HOBY : MEMBACA DAN MENULIS*
(085)
Cerita Pagi Di Piring Nasi
Syarifah Laila Hayati
Di awali sebuah janji
Sepaket nasi
Mengawali orası jika menjadi
Saat itu tiada lagi
Semua sudah dijuali
Mimpi itu telah menjadi bukti
Anak-anak meneriaki
Paket gratis sarapan pagi
Serasa basi
Tersisip buah cukup sebiji
Supaya tiap petak terisi
Namun cerita pagi
Terindikasi
Dicurangi
Sarapan yang katanya bergizi
Ada secuil cerita tak sedap lagi
Bukan itu tuan yang kami cari
Wahai pemberi janji
Buku sekolah jangan lagi ayah kami beli
Sekolah gratis lebih mumpuni
Sarapan pagi cukup ibu kami beri
Ayah pejuang masa depan putra-putri
Kami bocah generasi
Tak perlu gratis sarapan pagi
Bangku sekolah tempat kami duduki
Tak layak lagi
Itu benahi
kelak kami berkata tuan paling mengerti
Sebagai generasi negeri ini
Riau, 070225
Syarifah Laila Hayati
(086)
BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU
Rosidah Resyad RosieR
Berikan aku sepiring nasi
agar serunaiku bersuara
berikan aku secuil gizi
agar suaraku bergema
aku lelah berbaring
mendengar irama perutku
dalam rimba kelaparan
Jangan pucat
Aku membawa sepiring nasi
untuk perutmu yang bernyanyi
terdengar suara dari sarang laba-laba
setelah itu aku mendengar orang-orang bertengkar
aku tak tahu mengapa bersengketa
aku terus melumat serpihan lauk pauk
agar redah laparku
sebab di rumah aku tak lagi mengenalinya
telah kering kerongkongan
dalam pestanya yang mewah
makan bergizi mengenalkanku
pada ayam goreng sayur lodeh udang tepung lahapku hari ini sejenak lupakan lapar hari esok.
biarlah lauk pauk memberi kesan dalam nadiku dalam keharuman makan bergizi
walau aku melihat seakan orang-orang tak mengerti.
hari ini aku melihat sinaran tajam lampu baru
tak lagi menyeret keronconganku
aku telah berada dalam catatan di buku kecilnya
dan disetiap sudut mereka berseru
dari gizi tanah Indonesia
membangun negeri emas dan jangan lupa
kenalilah aku baik baik
buat meredahkan lapar baru.
Sumbawa,7 Februari 20025
Rosidah Resyad RosieR, Lahir dan domisili di Sumbawa NTB, Hobby menyanyi dan menulis
(087)MAkAN GRATIS DI JALANAN
Riani Pemulung
Bocah dekil rambut kusut dengan mata yang sayu bertanya pada ibunya
Mak,aku mendengar anak anak sekolah mendapatkan makan siang gratis
adakah untuk kita Mak ?
emakpun tersenyum sembari asyik mengorek ngorek tong sampah di depan nya
bocah dekil kembali bertanya
mengapa tersenyum Mak ?
bukankah aku juga anak ibu Pertiwi?
bocah dekil memicingkan matanya
emakpun menghela nafas
Nak,tak usah kau banyak bertanya
nikmati saja hidup kita hari ini
bersyukur masih banyak sisa makanan di tong tong sampah yang bisa kita kais
bersyukur juga sampah sampah masih bisa kita tukar dengan rupiah
Mari kita berdoa saja
semoga setiap hari smakin banyak para relawan yang berbagi nasi bungkus di jalanan
hingga kita bisa setiap saat makan makanan yang layak
bukan dari sisa tikus tikus
Tegal 7 Februari 2025
Riani. lahir dan tinggal di kota Tegal Jateng
25 Mei 2974
aktivitas sehari hari Pemulung sampah
yang sudah dijalani sejak tahun 2005
hingga sekarang
pendidikan tamat SMP
hobi menulis dan membaca puisi dari SD
memiliki empat putra
hobi menulisnya tertuang dalam buku Antologi tunggal yang berjudul Mengais Memulung Dalam Kehidupan
dan mengikuti beberapa Antologi puisi bersama
untuk terus belajar berkarya
(088)
DOA MAKAN BERGIZI GRATIS
Ence Sumirat
Ya Tuhan, semoga hidangan yang tersaji berasal dari tangan lembut ketulusan, bukan dari ambisi kasar kekuasaan apalagi pamer unjuk kebesaran yang mencengkeram indah kehidupan
Biar lapar kemanusiaan berhenti disuapi kerinduan, biar ratap kenyerian ditutupi lagu kebahagiaan
Ya Tuhan, mudah-mudahan makan gratis ini adalah muhasabahnya pemimpin kami kembali membaca kitab suci, setelah lama telantarkan bersama pongah dan keserakahan di setiap meja perjamuan juga di haus jiwa yang senantiasa menjulangkan doa menjerit hingga menggedor langit
Kabulkanlah Tuhan
Aamiin!
Cianjur 8 Februari 2025
Ence Sumirat , lahir di Cianjur.Belajar menulis puisi secara otodidak.Karyanya banyak dimuat majalah cetak juga online.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Juga kurang lebih lima puluh puisinya termuat dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bekerja sebagai seorang pemulung
(089)
BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI
Sugeng Joko Utomo
Makan siang bergizi
Penuh variasi
Sayur oseng dan sekepal nasi
Sepotong daging menemani
Dimasak di dapur umum desa
Sekali masak untuk duaribu siswa
Diolah oleh ibu-ibu PeKaKa
Tanpa cheff apalagi ahli pramubujana
Yang penting semua anak sekolah
Sukaria menerima jatah
Soal rasa itu hanya selera lidah
Tak pernah ada protes keluh kesah
Tentang nominal harga tak sesuai janji
Itu urusan para pemangku negeri
Yang penting perut kenyang terisi
Gratis sehari sekali
Masalah sebagian dana dikorupsi
Ah, masa bodoh tak ambil perduli
Tapi tidak dengan para orang tua
Inginnya sekolah gratis tanpa biaya
Kalau untuk sekedar makan cukuplah ada
Tapi terasa berat untuk iuran SPP dan lain sebagainya
Hai para orng bijak
Adakah solusi yang berpihak
Pada masyarakat desa di pelosok
Yang ekonominya tumbuh terseok-seok
Panen sawah tiada pasti
Pupuk mahal tak terbeli
Kerja ke kota tak mengandung janji
Bertahan di desa pun bisa mati berdiri
Ah, sedih tak terperi
Mengingat sistem di negara ini
Tasikmalaya, 9 Februari 2025
(090)
MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN
Yoffie Cahya
Program makan bergizi gratis
Kau penuhi sesuai janji
Bukti cintamu pada anak- anak bangsa
Hatimu memang sangat mulia
Program makan bergizi gratis
Di sisi lain membuatku miris
Terkesan kemiskinan bangsa ini
Tak mampu membeli makanan bergizi
Program makan bergizi gratis
Memang hanya suatu permulaan
Kinerja dari sebuah pemerintahan
Menepati janji sewaktu kontestasi
Harapanku padamu, Bapak Presiden
Prioritaskan kesejahteraan rakyat jelata
Keadilan dan kemakmuran yang dirasakan bersama
Rakyat bisa membeli sendiri makanan bergizi
Teruslah berjuang demi kemajuan bangsa
Sebab hidup bukan makan semata
Kadipaten, 6 Februari 2025
Yoffie Cahya, lahir di Kadipaten Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Oktober. Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel di media cetak dan daring. Menulis buku kumpulan puisi, cerpen, esai secara pribadi dan bersama penyair- penyair lain (antologi ).
Tahun 2023 bersama esais dan penyair Hikmat Gumelar mendapat penghargaan dari Pemda Majalengka sebagai sastrawan yang berasal dari Majalengka.
(091)
Mungkin Karena Tidak Sarapan
Kasdi Kelanis
waktu itu aku kelas tiga awal sebuah SMP di kota lereng Merbabu
seperti biasa aku harus jalan kaki
11 km pulang dan pergi
sarapan pagi ala kadarnya yang penting ada nasi
selalu kakekku bangun lebih pagi
menyiapkan sarapan pagi
dengan tungku batu diisi kayu bakar
biasanya nasi jagung masih tersedia setiap pagi
kakek tinggal membuat sayur
sederhana dari tempe dengan
kuah melimpah
itulah rutinitas pagi anak lereng
Merbabu yang menimba ilmu
dari desa ke kota yang berjarak 11 km
pada suatu hari
terpaksa perut tidak terbekali nasi
namun kakekku sangat cepat
membaca situasi
bergegas menyambar tangga bambu menaiki pogo mengambil
beberapa kentang lalu direbus
untuk sarapan cucu pertamanya
tidak ada uang jajan SPP pun
sudah biasa nunggak
sekolah tanpa sepatu lumrah
pada waktu itu
namun keakraban dan kesetiakawanan terjaga dan
adab pada guru adalah utama
singkat cerita setelah tidak sarapan nasi itu aku jatuh sakit
berkepanjangan dan keluar dari sekolah
di usia tua ketika mengenang
semua itu ada program makan
bergizi gratis untuk siswa
tentu aku tidak menikmati
aku mengerti pemerintah peduli
sekalipun banyak yang kurang empati
masih banyak saudara kita yang
belum beruntung
untuk kebutuhan makan saja
masih harus kerja keras mengumpulkan rupiah
aku jadi ingat kisah di buku
suci
ketika Sang Juru Selamat memberi makan lima ribu orang lebih dengan dua roti dan lima
ekor ikan yang diberkati
moga program makan bergizi
gratis ke depan makin bergengsi
tidak menjadi bahan ejekan keji
Sragen, 10 Februari 2025
Kasdi Kelanis, penulis puisi di fesbuk. Sejak September
2020 telah membukukan puisi-
puisi tersebut dalam 10 judul antologi tunggal dan tentu saja
ikut aktif kegiatan menulis antologi bersama dan kegiatan sastra di berbagai kota. Antologi
Bisik-Bisik Daun Padi (Prabu 21, Batu Malang 2021) dan Hari-Hari Purna-Bhakti (Kosa Kata Kita, Jakarta 2022) telah mendapat apresiasi Lumbung Puisi Penyair Indonesia di bawah
komandan RgBagus Warsono, masuk Sastra Nagari-kesetiaanbersastra 30 tahun dan Sastratama
bersama teman-teman sastrawanlainnya, serta Antologi Hari-Hari Purna-Bhakti masuk nominasi pemilihan antologi puisi 2024.
(092)
SUAPAN BERPENGHIBURAN
JUWAINI (Cak Ju)
Karenanya hanya meyenangkan perasaan
Bukan solusi jalan menyelesaikan persoalan – bagi yang membutuhkan –
karena rata semua mendapatkan yang kenyang semakin kenyang disaat negara dalam kesulitan
Inilah suapan hanya sepintasan sesaat ada
yang melenakan dari tujuan kepentingan dukungan jalan kekuasaan bukan pendidikan siyasah memberi pelayanan anak anak bangsa dalam madrasah panjangnya yang akan melahirkan bagaimana cara membuat kail dan jala untuk menangkap ikan
Ini juga bukan gratisan jika di ambil dari pajak apalagi dari pinjaman anak anak kelak yang akan mengembalikan
Inilah era bangsaku bapak bapak yang tak bepikir panjang yang bapak bapak tau siyasah penghiburan itu jalan untuk meraih kemenangan kekuasaan berkelanjutan
Kediri 2025
Juwaini (Cak Ju), Lahir di Kediri - Jawa Timur 31 – 01 – 1969. Alumni Fak Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. Menulis sastra dan ber teater sejak menjadi mahasiswa. Puisi nya sebagian di antologi kan dalam 15 buku bersama penyair di berbagai kota. Pengurus Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab Kediri – Jawa Timur komite (bahasa, sastra dan tradisi lisan) periode (2022 – 2025) dan sebagai humas ormas ABI (ahlulbait indonesia) wilayah Kediri dan Nganjuk. Email : juwaini.3@gmail.com
(093)
Mengeja Nasi Dalam Pikirmu
Riki Utomi
Satangkup saja, menjalar debar kami menatap. Ruap apakah di dalam itu? Kau genap menatap nasi bisu itu. Gugup menyela lauk sejumput itu. Tiba-tiba tanganmu gemetar maraih sebuku kecil tempe dan tahu.
Berdengung telingamu akan harapan. Semacam rasa menuntaskan gizi. Nun jauh harap itu, disini kau gemuruh risau dari bentuknya saji.
Pejam matamu dalam ke kunang hitam. Perut berkata lain pada sebuah hakikat hidup. Meski harapan jauh untuk melunas impian. Pikirmu tersimpan rapuh pada sajian.
Setangkup saja atau raihlah sendokmu meski tangan gemetar. Cukuplah rumit perutmu bergetar untuk menuntaskan remuk gamang itu.
Selatpanjang, 3 Februari 2025
Riki Utomi, kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Buku cerpennya Mata Empat (2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2017). Buku esainya Menuju ke Arus Sastra (2017). Puisi-puisinya tersiar di media massa lokal dan nasional. Bekerja sebagai pendidik dan bermukim di Selatpanjang, Riau.
(094)
Menguak Asa di Gerbang Pagi
Juliati
Dini hari ini aku sudah siaga
Menjingjing tas berisi tiga buku tulis tipis dan dua kresek kecil
Dengan seragam lapuk yang terus kupakai untuk menuntut ilmu
Dan hanya sesekali terisi rupiah ada di saku
Memakai sepatu baru pemberian Bu Guru dan kasut hitam yang sudah berlubang di area jempol kaki
Tak sedikitpun mengurangi semangatku untuk segera beranjak dari gubug kecil menuju pondok ilmu
Aku tetap melangkah tegap meninggalkan tatapan iba dan cemooh yang sering kudapat
Lirih kudengar suara merajuk
Minta Aaaaaaa
Sejenak aku menoleh ke belakang
Lambaian tangan kecil memohon dengan tatapan kosong
Tekad ku makin menggebu
Bertarung menggapai asa yang entah kapan tergapai
Tak sabar kudapat bagian itu
Kulihat banyak yang sudah di tangan
Sementara aku masih menunggu giliran
Bergetar tangan kala kudapat nampan berisi empat sehat lima sempurna
Kulihat daging ayam yang begitu menggoda
tahu tempe yang tak kalah merayu tuk segera ku makan
Sementara wortel , dan sawi putih yang tak luput dari pantauan
Nasi putih teronggok di samping susu kotak serta seiris besar pepaya merah
Nanar kulihat semua , hampir aku kalap untuk segera kulahap
Namun teringat suara lirih dan lambaian harapan
Aku segera berlari meraih plastik kresek
Ku bungkus nasi dan lauknya
Segera kusimpan dalam tas usangku
Yakin ku begitu membara
Jika kuhadiahkan pada adik tercinta
Ada bayangkan senyum simpul gadis kecil
Berharap ada asupan untuk tubuh linglainya
Ayah , bunda , kupenuhi tanggung jawab ini agar kalian tenang di sana
Indramayu , 11 Pebruari 2025
Juliati
(95)
Merawati May
MAKAN GRATIS
Kata-kata tak sekadar ucapan. sebab muara dari laut persoalan adalah mulut
Setelah melewati rangkaian uji coba sepanjang biaya di atas rel kereta api, program makan bergizi gratis pun tiba ke mulut anak-anak
Adakah nasi-nasi itu menyasar ke anak-anak di atas timbunan sampah kemiskinan di bantargebang?
Memang,
perut, mulut, dan kemiskinan mengakses kelaparan dan kehidupan anak-anak dibelenggu kemiskinan
Adakah kelaparan itu datang lagi setelah mulut-mulut pengunyah kemiskinan terkulai
tatkala janji-janji terhenti atas pergantian kekuasaan nanti?
Bengkulu, 12 Februari 2025
Merawati May, lahir di Mukomuko, 12 Mei 1978. Karyanya tergabung dalam berbagai antologi al. Dan memiliki lima buku tunggal. Perjalananku (2016); Nasihat Ibu (2021); Kidung Hati Amreta (2022). Aku Milik Siapa (2023). Dari Awal sebelum akhir kenangan (2024). Karyanya tersebar di berbagai media masa baik media masa daerah, nasional dan Asean. Serta digital. Pernah masuk di jurnal puisi
cinta, majalah Homagi magazin, Media sastra dan budaya, majalah semesta seni, koran
PosBali, koran NusaBali, Bali politika, majalah Jurdik.id, majalah elipsis, Majalah Redaksi
apakjake, majalah Pemuisi malasiya dan blok pekerja seni Riau. Fb: Merawati SE, Ig: Merawati May, Email: mutiarakasihbkl@gmail.com, No Hp. 085381277268.
Buku tunggalnya dua kali lolos di ajang FSIGB Gunung Bintan tahun 2023 dan 2024
(096)
Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.
Rust Gaok
Saat ku tulis ini, perjalanan baru dimulai. sepuluh hari adalah bayi baru lahir belum bisa berbuat apa-apa. Namun cerita miring terjadi di mana - mana . Menu menampar wajah . Ayam berlari kulitnya tersayat. Keras. Anak- anak berlari ketakutan. Ada yang pasang badan. Membunuh demokrasi. Kejujuran yang demokrasi rupanya menjadi beban. Menjadi rintangan.
Anak+ anak sesungguhnya adalah simbol kejujuran. Mereka hanya menjawab pertanyaan . Belalang dan serangga beterbangan di antara sayur dan nasi . Anak- anak berlari menangis ketakutan. Cerita berhamburan di media sosial. Tantang perubahan harga. Tentang ayam yang rasanya aneh . Tentang susu rasa daun kelor. Tantang anak- anak yang tidak mau makan. Tentang cerita di negri dongeng. Bulan madu yang menawarkan harmonisasi, tiba-tiba menjadi senja yang gelap. Sayur tumpah di antara nasi yang sedikit basi . Senja makin gelap menjadikan langkah makin sulit. Kerikil mempersulit langkah.
Dan anak- anak mengeluh, membiarkan perut lapar demi masakan di rumah. Ada yang diam menatap tajam. Ada yang bingung melihat nasi yang basi. Ada yang muntah bau racun. Tak ada yang terpaksa
Semoga!
Pemalang, 6 Feb 2025
Rustono ( Rust Gaok) , Tenp.tgl lhr: Pemalang,6 Desember 1963
Pendidikan terakhir: IKIP MUHAMADIYAH YOGYAKARTA
LULUS 1990
Pekerjaan : Guru di SMA N 1 BANTARBOLANG PEMALANG Samapi sekarang.
Menjadi pengelola SMK PGRI 3 RANDUDONGAKAL dari 2003 s.d. 2008
Organisasi :DKD KABUPATEN PEMALANG sebagai penasat
Karya: Keranda di Kurusetra ( kumpulan puisi )
097)
Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris
Asti Musman
Ayah, mengapa ayah di rumah?
Tidaklah upah akan sirna jika kerja tiada?
Ibu, mengapa ibu termanggu kelu?
Bukankah jatah makan bergizi gratis telah masuk perutku?
Aku tak mengerti mengapa ini terjadi
Makan bergizi gratis mendulang miris
Ayah tertimpa PHK
Atas nama efisiensi dana agar kami bisa makan bergizi gratis
Ibu, pandanglah aku anakmu
Bergegas pulang ingin bercerita padamu
Tentang nasi, sayur, dan ikan yang aku makan
Mana masakamu ibu? Aku Rindu!
Penguasa, ayahku dan ayah-ayah mereka
Tersungkur tanpa daya
Pikirkan ulang benarkah makanan bergizi gratis maslahat untuk semua?
Ataukah penting bagi kami dan bagi segelitir bangsa?
Penguasa, jika keputusanmu salah, bukan berarti kau kalah
Tak ada manusia luput dari salah
Mari kita telaah, bagaimana harus berbenah
Berikan kami kail, agar kami mampu menjaring udang galah
Bukan makanan gratis yang membuat semua jadi resah
Madiun, 13 Februari 2025
Asti Musman, adalah nama pena Estiningdyah, SP. Penulis yang lahir di Tuban, Jawa Timur tahun 1968 . Pernah bekerja sebagai announcer dan reporter di radio Global FM Bali, Penanggung Jawab Radio Global FM Jogja, dan eksekutif produser program feature Jogja TV. Pernah menulis di Koran Bali Post, Nusa Tenggara, Swadesi, dan Simphoni. Ia merupakan penulis otodidak yang telah banyak menulis puisi, cerita pendek berbahasa Jawa serta menulis lebih dari 40 buku dengan tema sejarah, budaya Jawa, dan psikologi popular. Karya terbarunya : Seksualitas dalam Budaya Jawa (Gerbang Media, 2025), Amazing Leaders (Anak hebat Indonesia, 2025) dan Kumpulan Geguritan Kinanthi Gurit Pawestri (Interlude, 2025). Penulis merupakan bagian dari penggagas Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya). Saat ini penulis berdomisili di Madiun.
(098)
SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG TERSEDU
Puisi Abror Y Prabowo
Adakah yang lebih haru ketimbang cahaya
yang terselip di antara sendok dan garpu?
Mata redup menghirup semangkuk sup.
Kanak-kanak melonjak:
Nasi telah berpulang ke piring-piring kita.
Tak perlu cemas mengaduk udara,
memungut remah doa dan nestapa
di dasar periuk yang hampa.
Ibu tersedu.
: Biarlah wortel, ikan, telur dan segelas susu
menuntun langkahmu tanpa lapar yang dulu
kerap mengintai dari balik pintu,
menjelma orkestra di kebun-kebun ayah
yang tak kunjung berbuah.
Tak usah lagi menyeduh angin,
meneguk embun dari cangkir yang retak.
Kanak-kanak kian bertepuk, merayakan
setiap suapan, seperti menyambut bulan
jatuh ke pangkuan.
"Inilah negeri para dewa,
perut kenyang cuma-cuma
sebab mereka telah menebus janji
demi suara yang diarak di musim pesta."
Maka janganlah terlambat
mencecap Allahuma baarik laana—
agar daging, telur dan sayur mayur
tenang bersemayam dan tak berontak
di perut kanak-kanak. Agar harapan
kian mekar di lidah mereka,
tanpa harus berkali meronta
karena lelah ditipu cahaya.
Yogyakarta, 2025
Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menempuh Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Karya cerpen dan puisinya telah dipublikasikan di berbagai media. Karya puisinya terangkum dalam antologi “Lagu Tembang Nyanyian”. Buku kumpulan cerpennya "Anjing dengan Luka di Tengkuk”, dan “Maaf Aku Membaca Diary Ungumu”. Selain itu juga menulis naskah drama dan menyutradarinya, di antaranya, “Sih”, “Lolong”, dan “Gincu” yang dipentaskan di Yogyakarta bersama Teater KSP Indonesia. Ketiga naskah dramanya tersebut rencananya juga akan diterbitkan dalam buku antologi di tahun ini oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat sebagai bagian dari program advokasi terhadap kekerasan perempuan. Saat ini berprofesi sebagai praktisi digital marketing di perusahaan yang didirikannya bersama beberapa rekan, PT. Nuera Global Internasional yang fokus menangani digital advertising & business consultant. Bersama istri dan keempat anaknya, tinggal di Perumahan Taman Arum Sari Blok M, Cokro Konteng, Sidoarum, Godean, Sleman, DI Yogyakarta, 55264.
(099) Piring Harapan di Meja Negeri
Irawati
Fajar menyapa dengan lembut
hidangan tersaji menggugah selera
Beras putih bak butiran permata
mengisi perut dengan kehangatan cinta
Sayuran hijau bagai zamrud bersinar
memberi kesegaran bagi raga
Ikan melompat dalam rasa nikmat
menyuburkan jiwa dengan cahaya
Susu mengalir bagaikan sungai emas
menguatkan tubuh penuh semangat
Buah berwarna seperti pelangi
menjalin sehat dalam harmoni
Tak ada lagi mendung kesedihan
kelaparan pergi, senyum merekah
Di meja makan, kasih mengalir
makanan sehat membawa harapan
Piring-piring penuh keceriaan
menghapus duka, memberi kekuatan
Setiap suapan sinar penerang
membimbing langkah menuju masa depan
Di dapur cinta, tangan saling membantu
menjalin impian tanpa batas
Makanan sehat adalah hak semua
mewujudkan negeri yang peduli sesama
Irawati
Kepala SDN 04 Sikabu Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam
Hobi traveling dan menulis
(100)
Tidak Ada Makan Gratis
Ujang Saepudin
Berapa harga yang akan kau makan
Untuk menghapus suara perut teman-temanmu
Yang terdengar di kelas-kelas jauh
Tentu, sekarang dan nanti
Kau akan membayarnya
Sesudah dunia mereka kenyang purna lepas.
Kau akan menghitungnya sesudah beberapa soal terjawab oleh laparmu.
Tanpa semua itu, kau masih tetap mengunyah bukan. Yang perlu kau lakukan adalah mengisi lambung teman-temanmu dengan nilaimu.
Kau tak perlu bertanya kapan makan gratisan itu tiba lalu mengunci mulutmu. Sebab, telah aku ajarkan cara memberi dengan tangan bersih & telah aku beritahu jawabannya
untuk kau presentasikan di depan negara.
Cianjur, 2025
Ujang Saepudin lahir di Cianjur, aktifitasnya sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur, beberapa puisinya tersiar di media nasional dan digital.
Label: Puisi-puisi


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda