Rabu, 02 April 2025

Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi

 Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi

76-100

 (076)


JANJI  UNTUK SEPIRING BERGIZI 

Juhri Al Banjary**


Di meja-meja rakyat kecil

Tersaji sepiring harapan yang masih menunggu adil

Makan bergizi setahun sekali

Menunggu hari raya bagi-bagi danging mengantri disana sini 

Namun, negeri ini tak hanya soal pangan bergizi

Kami butuh pemimpin yang tak ingkar janji

Jangan beri kami pidato manis di panggung penuh intrik 

Sementara hukum masih menang bagi yang licik

Kami ingin negeri bersih dari dusta

Tanpa korupsi yang merampas asa

Tanpa kolusi yang menutup jalan

Tanpa nepotisme yang tumpulkan keadilan

Asal engkau tahu duhai pemimpin negeri  

Hari ini negeri tak baik baik saja

Tanah dan kekayaannya dikuasai segelintir elit yang memelihara para bandit

Laut di pagar, sawah dan tambak dipaksa dijual 

Negara pura pura tuli, karena sudah tak bernyali

Pemimpin pura pura buta karena tak berkuasa

Yang kaya bebas memberi harta pada penguasa

Agar mudah membungkam rakyat jelata

Duhan Pemimpin negeri, kami ingin bekerja tanpa suap

Tanpa koneksi, tanpa takut dijerat

Kami ingin hukum tegak berdiri

Bukan tunduk pada mereka yang berkuasa sendiri

Sepiring gizi bukanlah belas kasih

Melainkan hak yang tak boleh letih

Namun lebih dari itu, kami menanti

Negeri yang jujur, pemimpin berhati

Bukan hanya kenyang yang kami damba

Tapi keadilan yang nyata terasa

Agar esok tak lagi berharap gratis pada alam semesta

Hidup di negeri yang ramah adil makmur sentosa  


Barru, 01 Februari 2025


Juhri Al Banjary, Buah pasangan  Matnawi dan Umriani, anak ke dua dari tiga bersaudara, Sekarang aktif sebagai seorang Pendidik di Pondok Pesantren Al Ikhlash Addary DDI Takkalasi di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Hobi menulis dan membaca puisi. Saat ini sudah menulis lebih dari 40 Buku Antologi bersama dan 3 buku tunggal. Email: juhribanjarmasin@gmail.com. No WA. 081241117019*





















 (077) 


SEMBAB

Yohanes Moeljadi Pranata


Pagi itu, Darto bangun dgn perut kosong. Semalam ia cuma minum air putih. Warung nasi tempatnya biasa ngutang sudah tak mau lagi memberinya lauk. Anak istrinya masih tidur. Wajah mereka letih.

Ia keluar rumah. Berjalan cepat ke pasar. Mengais sayur-sayur sisa. Mencari nasi basi. Kadang ada. Kadang tidak. Hari ini sial. Tukang sayur sudah lebih dulu diserbu pemulung lain. Perutnya makin perih.

Siang panas. Ia duduk di trotoar. Mengelap keringat. Pikirannya kusut. Uang di sakunya cuma seribu perak. Tak cukup buat beli nasi. Belum lagi kontrakan nunggak. Anak bungsunya batuk2. Istrinya minta uang buat beli obat.

Malam datang. Darto pulang dgn tangan kosong. Di rumah, anak2nya menunggu. Istrinya diam. Matanya sembab. "Besok pasti ada rejeki," katanya lirih. Dalam hati, Darto berdoa. Tapi entah pada siapa.

YMP

Sarinah, 2 Februari 2025


 

Yohanes Moeljadi Pranata










 














(078) 

SAJAK SEPULUH RIBU RUPIAH

A. Zainuddin Kr**


Sepuluh ribu rupiah itu apa?

seekor jangkrik aduan Jalitheng, Jalibrang pun tiada terbeli. Apalagi jika ia sudah menang kontes berkali-kali.

Tetapi kita, orang-orang negri konoha, uang segitu masih cukup besar nilainya. Sepuluh ribu saja masih dapat di sunat beberapa, di tengah riuhnya pesta makan bersama para siswa.

:Nasi putih, tumis kangkung, buah pisang, dan sayap ayam negri.

"Ini makanan bergizi. Empat sehat. Gua tabok lu, biar lebih sempurna".

Bang Dedy sedemikian geramnya. Pak menteri menggeleng-nggelengkan kepala.

"Jangkrik!". Timpal pak menteri yang selayaknya di timpal.

Sepuluh ribu rupiah itu apa?

Meski segitu tetap hanya masih bisa beberapa. Beberapa tempat dan kota saja.

Ini pun dari kocek pribadi dan sementara meminjam APBD.

Ya,

tetapi tenanglah. Proyek ini pasti akan merata.

Walau tak seberapa, di kali saja akan sekian banyak jumlahnya.


Pekalongan, 030225






Zaenuddin KR




































(079) 

SEPIRING HARAPAN

Siti Suci WInarni


Di meja-meja kecil tersaji piring-piring harapan

Setiap sendok adalah janji memberi rasa lezat Selezat rempah yang menggoda selera

Laksana embun pagi menyentuh pucuk-pucuk asa

Mengundang tawa kecil di wajah anak negeri

Di balik aroma hangat sup cita-cita

Terpintal benang-benang harapan yang halus

Menjadi lembaran sutra indah

Mereka yang mengukir nasib mencari setitik cahaya terang

Di antara bayang-bayang janji yang terkadang semu

Namun  sajian makan sudah terhampar di pangkuan generasi emas dengan senyum mengulum indah

Ada rasa puas terkadang cemas dan was-was

Tak mampu mengadu saat mengunyah menu

Rasa di lidah tak pas 

Apakah ini sekadar tinta tinta sekilas melukis janji

Kemudian mengering di kertas waktu

Ataukah benih bergizi tumbuh subur di ladang ibu pertiwi

Mengakar dalam dada, mekar dalam  senyuman anak negeri seindah pelangi

Karena tak ada lagi rasa lapar dan perut bernyanyi

Dalam setiap gigitan tersirat bisikan alam

Mengisahkan perjalanan jauh dari keraguan

Sebuah simfoni rasa menebar kepercayaan

Apakah masa depan akan terurai dalam benang-benang nutrisi

Atau sekadar seindah alunan puisi kemudian berhenti

Mari kita menikmati piring-piring harapan itu

penuh suka cita

Sambil menatap mata langit yang merona

Mencari makna di balik setiap sendok yang terhidang

Memenuhi janji demi masa depan generasi  bergizi, berintelijensi, serta  berdedikasi tinggi

Buah impian menjadi kenyataan 

Atas segala karunia-Nya 

*4 Februari 2025*







Siti Suci Winarni

Nama Panggilan : Win/Suci

Nama pena  : SSW/ Chi Wien

Lahir :: 30 Oktober di  Ponorogo Jatim

Karya : pernah menulis 13 buku tunggal ber ISBN dan 80 buku antologi.

















 (080) 

TANGGUNG JAWAB DI MEJA MAKAN, Rissa Churria


Di warteg

Ada sisa-sisa janji yang tak pernah diselesaikan

Di dapur api tak pernah padam

Menggenggam harapan yang cepat padam 

Jika tak diberi makan

Tak ada kata yang terucap

Hanya suara sendok yang jatuh

Hanya aroma datang

Mengingatkan kita pada yang terlupa 

Kenyataan yang kerap ditunda

Setiap piring adalah utang

Setiap lauk adalah permintaan yang belum terjawab

Anak-anak itu memandang sepiring nasi

Seperti mereka menunggu keputusan  terlambat

Seperti mereka menanti janji yang tak pernah datang

Di meja makan kita semua ikut bertanggung jawab

Atas semua yang belum selesai

Atas yang masih hilang dalam hitungan angka

Dalam perhitungan waktu yang dibuang sia-sia

Mereka lapar kita pun lapar

Tapi bukan hanya perut yang kosong

Ada ruang besar yang menunggu diisi oleh sesuatu

Yang lebih dari sekadar janji

Yang tergesa untuk segera masturbasi


*Bekasi, 02.02.2025*







Rissa Churria, asal Banyuwangi Jawa Timur, menetap dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Menerbitkan 11 Buku Puisi Tunggal, 1 Puisi Kontemplasi, 1 buku Pedoman Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, dan 100 lebih kumpulan antologi bersama baik dalam dan luar negeri.































 (081) 

SAMPUL KLISE BERAROMA GRATIS

Ais Octadiga


Alur drama kembali mengikis

Menyajikan pendekatan magis

Menutup horor bertopeng manis

Melakon Pahlawan wacana makan gratis.

Ah,

Ini sumbang ditelinga dan mata

Uforia yang teranggap najis

Kebaikan pada rakyat dari Negara

Masih kau sindir dan melankolis.

Ah,

Adakah bagi pengemis masih gratis ?

Adakah untuk para pemagar laut juga gratis ?

Atau alibi menutup kasus ?

Dan,

Ayah Bunda tak pernah meminta bayaran

Apa lagi melabeli gratis

Ini hanya lelucon yang tidak lucu

Untuk cerita bagi anak cucu.


Dewantara, 05 Februari 2025**












Ais Octadiga, berasal dari Aceh, berdomisili di Aceh Utara, kelahiran Oktober 1987. Mulai menulis puisi semenjak Sekolah Menengah Atas, hingga sampai saat ini telah lebih dari seratus karya Puisi yang ditulis.

*



























(082)

JANJIMU DALAM MIMPIKU  ADA

Dona Lesmana**


Kulirik pintu disamping ku

Oh, ternyata  hentakan jantung guru yang datang

Tersenyum kecut menerka alam pikiran kami

“sudahku bilang jangan menunggu”,beliau berucap

Kulirik lagi pintu disampingku

Menyentuh perut berbunyi saat matahari diatap kelas

Nyeri sekali menambah hitungan angka depanku

Dengan waktu pasir berbisik hening.

Kulirik lirik pintu disampinku lagi dan lagi

Teringat suara bisikan bunda mendengung dengung  “nanti pilihanmu kirim makanan  gratis”

Dengan santai mengibaskan dasternya berkipas manja

Tempat bontotku tersusun rapi di kumpulan piring piring

Kuliri sambil berdiri menggapai janjimu yang tadi malam muncul

Berharap siang ini sebelum ke pangkuan bunda 

ayam goreng sudah ku telan 

susu sudah kuhisap

buah sudah ku habiskan 

beras petanipun sudah ku unyah.












Dona Lesmana, asal dari Lampung . Menetepa dan tinggal di Lampung Tengah

Baru belajar menulis puisi*

































(083) 

REMAH-REMAH DI MEJA PIKIR

Uleceny


Sajian impian dalam hidup bergizi.

Menguar aroma kajian makan gratis

Dan harumnya Stella di segala penjuru, berikan nutrisi jiwa pada akar negeri ini. 

Hingga sempurnakan segala ingin. 

Dalam harap, generasi emas tumbuh kyushoku sepadan.

Bukalah jendela pikir sejenak:

Sajian istimewa di kotak nasi sekolahan. 

Menguar aroma sayuran,

pisang emas mungil, lauk, dan nasi berpadu padan. 

Dan sebotol kecil, susu rasa pandan. 

Berbayar seharga sepuluh ribuan. 

Ibu katering hilang mantra. 

Lihatlah:

Ada wajah polos anak-anak negeri berbalut senyum bunga. 

Dibagikan bekal oleh bapak ibu guru. 

Hati setenang telaga, melahap yang tersaji. 

Anak- anak berumah langit pun riang

meski ia tahu. Ayah, ibu,

terik ini perutnya setipis irisan semangka.

Namun:

Anak-anak bersendok emas, perutnya menolak berdamai dengan hidangan itu. 

Tidak semua paham bukan? 

pada yang terhidang di meja pikir. 

Kadang, puisi pun berprasangka. 

*Sumbawa, 020224*



Sulastri Saguni, dengan nama pena Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli,   suka membaca dan menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul " Rindu Perempuan Rumah Panggung" dan " Cinta Sebening Madu. " Serta " Perempuan penjaga Tradisi. "dan cerpen tunggal ' Merindang Rindu ( Hyang Pustaka 2024) 

 Pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA, Ketua Wanita Penulis Indonesia   wilayah NTB.*



















 (084) 

JANJI TERBUKTI

GUNAWAN DM


Baru rencana kontroversi terjadi

Kali ini makan gratis tahap percobaan

Pagi pagi tim gizi para koki  menanak nasi

Menjelang siang diatas meja rumah belajar 

Kotak tersusun rapi siap saji menu bergizi

Murid bersyukur makan gratis

Dalam kotak ada nasi, lauk, ikan telur dadar, pisang dan susu empat sehat lima sempurna

Demikian janji suci Presiden telah terbukti

Di satu sisi banyak orang tidak setuju

Bila makan gratis terus berlanjut

rumah makan gulung tikar

Harga ikan sayur mayur dan telur membumbung 

Sebuah alternatif 

Ada suara sumbang mungkinkah akan terjadi ?

" Ulat kepompong jadikan menu bergizi tinggi "

Betapa teganya mereka kalau ini benar 

Aku tak setuju walau ini katanya halal namun jijik

Biarlah perut keroncongan 

Kalau memang niat sejahterakan rakyat berilah mereka yang yang terbaik


*Sumbawa, 06-02-2025*











GUNAWAN DM

PEJERJAAN : PENSIUNAN PNS

ALAMAT : RT.012 RW. 06 DUSUN MAKMUR DESA SEMAMUNG KEC. MOYOHULU KAB. SUMBAWA PROP. NTB.

HOBY : MEMBACA DAN MENULIS*






























 (085) 

Cerita Pagi Di Piring Nasi

Syarifah Laila Hayati


Di awali sebuah janji

Sepaket nasi

Mengawali orası jika menjadi

Saat itu tiada lagi 

Semua sudah dijuali

Mimpi itu telah menjadi bukti 

Anak-anak meneriaki

Paket gratis sarapan pagi 

Serasa basi

Tersisip buah cukup sebiji

Supaya tiap petak terisi

Namun cerita pagi

Terindikasi 

Dicurangi

Sarapan yang katanya bergizi

Ada secuil cerita tak sedap lagi

Bukan itu tuan yang kami cari

Wahai pemberi janji

Buku sekolah jangan lagi ayah kami beli

Sekolah gratis lebih mumpuni 

Sarapan pagi cukup ibu kami beri

Ayah pejuang masa depan putra-putri 

Kami bocah generasi 

Tak perlu gratis sarapan pagi 

Bangku sekolah tempat kami duduki

Tak layak lagi

Itu benahi

kelak kami berkata tuan paling mengerti 

Sebagai generasi negeri ini


Riau, 070225


 Syarifah Laila Hayati




 
































(086) 

BUAT MEREDAHKAN LAPAR BARU

Rosidah Resyad RosieR

Berikan aku sepiring nasi

agar serunaiku bersuara

berikan aku secuil gizi

agar suaraku bergema

aku lelah berbaring 

mendengar irama perutku

dalam rimba kelaparan 

Jangan pucat

Aku membawa sepiring nasi

untuk perutmu yang bernyanyi

terdengar suara dari sarang laba-laba

setelah itu aku mendengar orang-orang bertengkar

aku tak  tahu mengapa bersengketa

aku terus melumat serpihan lauk pauk

agar redah laparku

sebab di rumah aku tak lagi mengenalinya

telah kering kerongkongan

dalam pestanya yang mewah

makan bergizi mengenalkanku

pada ayam goreng sayur lodeh udang tepung lahapku hari ini sejenak lupakan lapar hari esok.

biarlah lauk pauk memberi kesan dalam nadiku dalam keharuman makan bergizi

walau aku melihat seakan orang-orang tak mengerti.

hari ini aku melihat sinaran tajam lampu baru

tak lagi menyeret keronconganku

aku telah berada dalam catatan di buku kecilnya

dan disetiap sudut mereka berseru

dari gizi tanah Indonesia

membangun negeri emas dan jangan lupa

kenalilah aku baik baik

buat meredahkan lapar baru.

Sumbawa,7 Februari 20025

Rosidah Resyad RosieR, Lahir dan domisili di Sumbawa NTB, Hobby menyanyi dan menulis





















 











(087)MAkAN GRATIS DI JALANAN 

Riani Pemulung


Bocah dekil rambut kusut dengan mata yang sayu bertanya pada ibunya 

Mak,aku mendengar anak anak sekolah mendapatkan makan siang gratis 

adakah untuk kita Mak ?

emakpun tersenyum sembari asyik mengorek ngorek tong sampah di depan nya

bocah dekil kembali bertanya 

mengapa tersenyum Mak ?

bukankah aku juga anak ibu Pertiwi?

bocah dekil memicingkan matanya 

emakpun menghela nafas 

Nak,tak usah kau banyak bertanya 

nikmati saja hidup kita hari ini 

bersyukur masih banyak sisa makanan di tong tong sampah yang bisa kita kais 

bersyukur juga sampah sampah masih bisa kita tukar dengan rupiah 

Mari kita berdoa saja 

semoga setiap hari smakin banyak para relawan yang berbagi nasi bungkus di jalanan 

hingga kita bisa setiap saat makan makanan yang layak

bukan dari sisa tikus tikus 

Tegal 7 Februari 2025










Riani. lahir dan tinggal di kota Tegal Jateng 

25 Mei 2974

aktivitas sehari hari Pemulung sampah 

yang sudah dijalani sejak tahun 2005

hingga sekarang 

pendidikan tamat SMP 

hobi menulis dan membaca puisi dari SD 

memiliki empat putra 

hobi menulisnya tertuang dalam buku Antologi tunggal yang berjudul Mengais Memulung Dalam Kehidupan 

dan mengikuti beberapa Antologi puisi bersama 

untuk terus belajar berkarya

























(088) 

DOA MAKAN BERGIZI GRATIS

Ence Sumirat


Ya Tuhan, semoga hidangan yang tersaji berasal dari tangan lembut ketulusan, bukan dari ambisi kasar kekuasaan apalagi pamer unjuk kebesaran yang mencengkeram indah kehidupan

Biar lapar kemanusiaan berhenti disuapi kerinduan, biar ratap kenyerian ditutupi lagu kebahagiaan

Ya Tuhan, mudah-mudahan makan gratis ini adalah muhasabahnya pemimpin kami kembali membaca kitab suci, setelah lama telantarkan bersama pongah dan keserakahan di setiap meja perjamuan juga di haus jiwa yang senantiasa menjulangkan doa menjerit hingga menggedor langit

Kabulkanlah Tuhan

Aamiin!


Cianjur 8 Februari 2025

















Ence Sumirat , lahir di Cianjur.Belajar menulis puisi secara otodidak.Karyanya banyak dimuat majalah cetak juga online.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Juga kurang lebih lima puluh puisinya termuat dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bekerja sebagai seorang pemulung





















 (089)

BOTRAM BERGIZI SIAPA KORUPSI

Sugeng Joko Utomo

Makan siang bergizi

Penuh variasi

Sayur oseng dan sekepal nasi

Sepotong daging menemani

Dimasak di dapur umum desa

Sekali masak untuk duaribu siswa

Diolah oleh ibu-ibu PeKaKa

Tanpa cheff apalagi ahli pramubujana

Yang penting semua anak sekolah

Sukaria menerima jatah

Soal rasa itu hanya selera lidah 

Tak pernah ada protes keluh kesah

Tentang nominal harga tak sesuai janji

Itu urusan para pemangku negeri

Yang penting perut kenyang terisi

Gratis sehari sekali 

Masalah sebagian dana dikorupsi

Ah, masa bodoh tak ambil perduli

Tapi tidak dengan para orang tua

Inginnya sekolah gratis tanpa biaya

Kalau untuk sekedar makan cukuplah ada

Tapi terasa berat untuk iuran SPP dan lain sebagainya 

Hai para orng bijak

Adakah solusi yang berpihak 

Pada masyarakat desa di pelosok 

Yang ekonominya tumbuh terseok-seok

Panen sawah tiada pasti

Pupuk mahal tak terbeli

Kerja ke kota tak mengandung janji

Bertahan di desa pun bisa mati berdiri 

Ah, sedih tak terperi

Mengingat sistem di negara ini

Tasikmalaya, 9 Februari 2025

 (090) 

MAKAN BERGIZI DAN KEMISKINAN

Yoffie Cahya


Program makan bergizi gratis

Kau penuhi sesuai janji

Bukti cintamu pada anak- anak bangsa

Hatimu memang sangat mulia 

Program makan bergizi gratis

Di sisi lain membuatku miris

Terkesan kemiskinan bangsa ini

Tak mampu membeli makanan bergizi 

Program makan bergizi gratis 

Memang hanya suatu permulaan

Kinerja dari sebuah pemerintahan 

Menepati janji sewaktu kontestasi

Harapanku padamu, Bapak Presiden

Prioritaskan kesejahteraan rakyat jelata

Keadilan dan kemakmuran yang dirasakan bersama 

Rakyat bisa membeli sendiri makanan bergizi

Teruslah berjuang demi kemajuan bangsa

Sebab hidup bukan makan semata

                                        Kadipaten, 6 Februari 2025














Yoffie Cahya, lahir di Kadipaten Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Oktober.  Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel di media cetak dan daring. Menulis buku kumpulan puisi, cerpen, esai secara pribadi dan bersama penyair- penyair lain  (antologi ).

Tahun 2023 bersama esais dan penyair Hikmat Gumelar mendapat penghargaan dari Pemda Majalengka sebagai sastrawan yang berasal dari Majalengka.




























 (091) 

Mungkin Karena Tidak Sarapan

Kasdi Kelanis


waktu itu aku kelas tiga awal sebuah SMP di kota lereng  Merbabu

seperti biasa aku harus jalan kaki

11 km pulang dan pergi

sarapan pagi ala kadarnya yang penting ada nasi

selalu kakekku bangun lebih pagi

menyiapkan sarapan pagi

dengan tungku batu diisi kayu bakar

biasanya nasi jagung masih tersedia setiap pagi

kakek tinggal membuat sayur

sederhana dari tempe dengan

kuah melimpah

itulah rutinitas pagi anak lereng

Merbabu yang menimba ilmu

dari desa ke kota yang berjarak 11 km

pada suatu hari

terpaksa perut tidak terbekali nasi

namun kakekku sangat cepat

membaca situasi

bergegas menyambar tangga bambu menaiki pogo mengambil

beberapa kentang lalu direbus

untuk sarapan cucu pertamanya

tidak ada uang jajan SPP pun

sudah biasa nunggak

sekolah tanpa sepatu lumrah

pada waktu itu

namun keakraban dan kesetiakawanan terjaga dan

adab pada guru adalah utama

singkat cerita setelah tidak sarapan nasi itu aku jatuh sakit

berkepanjangan dan keluar dari sekolah

di usia tua ketika mengenang

semua itu ada program makan

bergizi gratis untuk siswa

tentu aku tidak menikmati

aku mengerti pemerintah peduli

sekalipun banyak yang kurang empati

masih banyak saudara kita yang

belum beruntung

untuk kebutuhan makan saja

masih harus kerja keras mengumpulkan rupiah

aku jadi ingat kisah di buku

suci

ketika Sang Juru Selamat memberi makan lima ribu orang lebih dengan dua roti dan lima

ekor ikan yang diberkati

moga program makan bergizi

gratis ke depan makin bergengsi

tidak menjadi bahan ejekan keji

Sragen, 10 Februari 2025


















Kasdi Kelanis,   penulis puisi di fesbuk. Sejak September

2020 telah membukukan puisi-

puisi tersebut dalam 10 judul antologi tunggal dan tentu saja

ikut aktif kegiatan menulis antologi bersama dan kegiatan sastra di berbagai kota. Antologi

Bisik-Bisik Daun Padi (Prabu 21, Batu Malang 2021) dan Hari-Hari Purna-Bhakti (Kosa Kata Kita, Jakarta 2022) telah mendapat apresiasi Lumbung Puisi Penyair Indonesia di bawah

komandan RgBagus Warsono, masuk Sastra Nagari-kesetiaanbersastra 30 tahun dan Sastratama

bersama teman-teman sastrawanlainnya, serta Antologi Hari-Hari Purna-Bhakti masuk nominasi pemilihan antologi puisi 2024.
















 (092) 

SUAPAN BERPENGHIBURAN

JUWAINI (Cak Ju)



Karenanya hanya meyenangkan perasaan

Bukan solusi jalan menyelesaikan persoalan – bagi yang membutuhkan –

karena rata semua mendapatkan yang kenyang semakin kenyang disaat negara dalam kesulitan 

Inilah suapan hanya sepintasan sesaat ada

yang melenakan dari tujuan kepentingan dukungan jalan kekuasaan bukan pendidikan siyasah memberi pelayanan anak anak bangsa dalam madrasah panjangnya yang akan melahirkan bagaimana cara membuat kail dan jala untuk menangkap ikan 

Ini juga bukan gratisan jika di ambil dari pajak apalagi dari pinjaman anak anak kelak yang akan mengembalikan 

Inilah era bangsaku bapak bapak yang tak bepikir panjang yang bapak bapak tau siyasah penghiburan itu jalan untuk meraih kemenangan kekuasaan berkelanjutan

        Kediri 2025













Juwaini (Cak Ju),  Lahir di Kediri - Jawa Timur 31 – 01 – 1969. Alumni Fak Pertanian Universitas Muhammadiyah  Malang. Menulis sastra dan ber teater sejak menjadi mahasiswa. Puisi nya sebagian  di antologi kan dalam 15 buku bersama penyair di berbagai kota. Pengurus  Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab Kediri – Jawa Timur komite (bahasa, sastra dan tradisi lisan) periode (2022 – 2025) dan sebagai humas ormas ABI (ahlulbait indonesia)  wilayah Kediri dan Nganjuk. Email : juwaini.3@gmail.com  


























(093) 

Mengeja Nasi Dalam Pikirmu

Riki Utomi


Satangkup saja, menjalar debar kami menatap. Ruap apakah di dalam itu? Kau genap menatap nasi bisu itu. Gugup menyela lauk sejumput itu.  Tiba-tiba tanganmu gemetar maraih sebuku kecil tempe dan tahu. 

Berdengung telingamu akan harapan. Semacam rasa menuntaskan gizi. Nun jauh harap itu, disini kau gemuruh risau dari bentuknya saji. 

Pejam matamu dalam ke kunang hitam. Perut berkata lain pada sebuah hakikat hidup. Meski harapan jauh untuk melunas impian. Pikirmu tersimpan rapuh pada sajian. 

Setangkup saja atau raihlah sendokmu meski tangan gemetar. Cukuplah rumit perutmu bergetar untuk menuntaskan remuk gamang itu. 

Selatpanjang, 3 Februari 2025


Riki Utomi,  kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Buku cerpennya Mata Empat (2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2017). Buku esainya Menuju ke Arus Sastra (2017). Puisi-puisinya tersiar di media massa lokal dan nasional. Bekerja sebagai pendidik dan bermukim di Selatpanjang, Riau.










(094)

Menguak Asa di Gerbang Pagi

Juliati


Dini hari ini aku sudah siaga

Menjingjing tas berisi tiga buku tulis tipis dan dua kresek kecil

Dengan seragam lapuk yang terus kupakai untuk menuntut ilmu

Dan hanya sesekali terisi rupiah ada di saku

Memakai sepatu baru pemberian Bu Guru dan kasut hitam yang sudah berlubang di area jempol kaki

Tak sedikitpun mengurangi semangatku untuk segera beranjak dari gubug kecil menuju pondok ilmu

Aku tetap melangkah tegap meninggalkan tatapan iba dan cemooh yang sering kudapat 

Lirih kudengar suara merajuk

Minta Aaaaaaa 

Sejenak aku menoleh ke belakang 

Lambaian tangan kecil memohon dengan tatapan kosong

Tekad ku makin menggebu 

Bertarung menggapai asa yang entah kapan tergapai

Tak sabar kudapat bagian itu 

Kulihat banyak yang sudah di tangan 

Sementara aku masih menunggu giliran 

Bergetar tangan kala kudapat nampan berisi empat sehat lima sempurna 

Kulihat daging ayam yang begitu menggoda

tahu tempe yang tak kalah merayu tuk segera ku makan 

Sementara wortel , dan sawi putih yang tak luput dari pantauan 

Nasi putih teronggok di samping susu kotak serta seiris besar pepaya merah

Nanar kulihat semua , hampir aku kalap untuk segera kulahap

Namun teringat suara lirih dan lambaian harapan 

Aku segera berlari meraih plastik kresek 

Ku bungkus nasi dan lauknya 

Segera kusimpan dalam tas usangku

Yakin ku begitu membara 

Jika kuhadiahkan pada adik tercinta

Ada bayangkan senyum simpul gadis kecil

Berharap ada asupan untuk tubuh linglainya 

Ayah , bunda , kupenuhi tanggung jawab ini agar kalian tenang di sana 

Indramayu , 11 Pebruari 2025




 


Juliati




(95)

Merawati May

MAKAN GRATIS

Kata-kata tak sekadar ucapan. sebab muara dari laut persoalan adalah mulut

Setelah melewati rangkaian uji coba sepanjang biaya di atas rel kereta api, program makan bergizi gratis pun tiba ke mulut anak-anak 

Adakah nasi-nasi itu menyasar ke anak-anak di atas timbunan sampah kemiskinan di bantargebang?

Memang, 

perut, mulut, dan kemiskinan mengakses kelaparan dan kehidupan anak-anak dibelenggu kemiskinan  

Adakah kelaparan itu datang lagi setelah mulut-mulut pengunyah kemiskinan terkulai

tatkala janji-janji terhenti atas pergantian kekuasaan nanti?


Bengkulu, 12 Februari 2025


















Merawati May, lahir di Mukomuko, 12 Mei 1978. Karyanya tergabung dalam berbagai antologi al. Dan memiliki lima buku tunggal. Perjalananku (2016); Nasihat Ibu (2021); Kidung Hati Amreta (2022). Aku Milik Siapa (2023). Dari Awal sebelum akhir kenangan (2024).  Karyanya tersebar di berbagai media masa baik media masa daerah, nasional dan Asean. Serta digital. Pernah masuk di jurnal puisi

cinta, majalah Homagi magazin, Media sastra dan budaya, majalah semesta seni, koran

PosBali, koran NusaBali, Bali politika, majalah Jurdik.id, majalah elipsis, Majalah Redaksi

apakjake, majalah Pemuisi malasiya dan blok pekerja seni Riau. Fb: Merawati SE, Ig: Merawati May, Email: mutiarakasihbkl@gmail.com, No Hp. 085381277268.

Buku tunggalnya dua kali lolos di ajang FSIGB Gunung Bintan tahun 2023 dan 2024















 (096) 

Pedut Bergelayutt di Sudut Menu.

Rust Gaok


Saat ku tulis ini, perjalanan baru dimulai. sepuluh hari adalah bayi baru lahir belum bisa berbuat apa-apa. Namun cerita  miring terjadi di mana - mana . Menu menampar wajah . Ayam berlari kulitnya tersayat. Keras. Anak- anak berlari ketakutan. Ada yang pasang badan. Membunuh demokrasi. Kejujuran yang demokrasi rupanya menjadi beban. Menjadi rintangan.

Anak+ anak sesungguhnya adalah simbol kejujuran. Mereka hanya menjawab pertanyaan . Belalang dan serangga beterbangan di antara sayur dan nasi . Anak- anak berlari menangis ketakutan. Cerita berhamburan di media sosial. Tantang perubahan harga. Tentang ayam yang rasanya aneh . Tentang  susu rasa daun kelor. Tantang anak- anak yang tidak mau makan. Tentang cerita di negri dongeng. Bulan madu yang menawarkan harmonisasi, tiba-tiba  menjadi senja yang gelap. Sayur tumpah di antara nasi yang sedikit basi . Senja makin gelap menjadikan langkah makin sulit. Kerikil mempersulit langkah.

Dan anak- anak mengeluh, membiarkan perut lapar demi masakan di rumah. Ada yang diam menatap tajam. Ada yang bingung melihat nasi yang basi. Ada yang muntah bau racun. Tak ada yang terpaksa

Semoga!

                           Pemalang, 6 Feb 2025









Rustono ( Rust Gaok) , Tenp.tgl lhr: Pemalang,6 Desember 1963

Pendidikan terakhir: IKIP MUHAMADIYAH YOGYAKARTA

LULUS 1990

Pekerjaan : Guru di SMA N 1 BANTARBOLANG PEMALANG Samapi sekarang. 

Menjadi pengelola SMK PGRI 3 RANDUDONGAKAL dari 2003 s.d. 2008

Organisasi :DKD KABUPATEN PEMALANG sebagai  penasat 

Karya: Keranda di Kurusetra ( kumpulan puisi )
























097) 

Makan Bergizi Gratis, Mendulang Miris

Asti Musman


Ayah, mengapa ayah di rumah?

Tidaklah upah akan sirna jika kerja tiada?

Ibu, mengapa ibu termanggu kelu?

Bukankah jatah makan bergizi gratis telah masuk perutku?

Aku tak mengerti mengapa ini terjadi

Makan bergizi gratis mendulang miris

Ayah  tertimpa  PHK

Atas nama efisiensi dana agar kami bisa makan bergizi gratis

Ibu, pandanglah aku anakmu

Bergegas pulang ingin bercerita padamu

Tentang nasi, sayur, dan ikan yang aku makan

Mana masakamu ibu? Aku Rindu!

Penguasa, ayahku dan ayah-ayah mereka

Tersungkur tanpa daya

Pikirkan ulang benarkah makanan bergizi gratis maslahat untuk semua?

Ataukah penting bagi kami dan bagi segelitir bangsa?

Penguasa, jika keputusanmu salah, bukan berarti kau kalah

Tak ada manusia luput dari salah

Mari kita telaah, bagaimana harus berbenah

Berikan kami kail, agar kami mampu menjaring udang galah

Bukan makanan gratis yang membuat semua jadi resah


Madiun, 13 Februari 2025


Asti Musman, adalah nama pena Estiningdyah, SP. Penulis  yang lahir di Tuban, Jawa Timur tahun 1968 .  Pernah bekerja sebagai  announcer dan reporter di radio Global FM Bali, Penanggung Jawab  Radio Global FM Jogja, dan eksekutif produser program feature Jogja TV.  Pernah menulis di Koran Bali Post, Nusa Tenggara, Swadesi, dan Simphoni. Ia merupakan penulis otodidak yang telah banyak menulis puisi, cerita pendek berbahasa Jawa serta menulis  lebih dari 40 buku dengan tema sejarah, budaya Jawa, dan psikologi popular.  Karya terbarunya : Seksualitas dalam Budaya Jawa  (Gerbang Media, 2025),  Amazing Leaders (Anak hebat Indonesia, 2025) dan  Kumpulan Geguritan Kinanthi Gurit Pawestri (Interlude, 2025). Penulis  merupakan bagian dari penggagas Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya). Saat ini penulis berdomisili di Madiun.












 (098) 

SEPIRING CAHAYA DAN DOA IBU YANG TERSEDU

Puisi Abror Y Prabowo

Adakah yang lebih haru ketimbang cahaya

yang terselip di antara sendok dan garpu?

Mata redup menghirup semangkuk sup.

Kanak-kanak melonjak:

Nasi telah berpulang ke piring-piring kita.

Tak perlu cemas mengaduk udara,

memungut remah doa dan nestapa

di dasar periuk yang hampa.

Ibu tersedu.

: Biarlah wortel, ikan, telur dan segelas susu

menuntun langkahmu tanpa lapar yang dulu

kerap mengintai dari balik pintu,

menjelma orkestra di kebun-kebun ayah

yang tak kunjung berbuah.

Tak usah lagi menyeduh angin,

meneguk embun dari cangkir yang retak.

Kanak-kanak kian bertepuk, merayakan

setiap suapan, seperti menyambut bulan

jatuh ke pangkuan.

"Inilah negeri para dewa,

perut kenyang cuma-cuma

sebab mereka telah menebus janji

demi suara yang diarak di musim pesta."

Maka janganlah terlambat

mencecap Allahuma baarik laana—

agar daging, telur dan sayur mayur

tenang bersemayam dan tak berontak

di perut kanak-kanak. Agar harapan

kian mekar di lidah mereka,

tanpa harus berkali meronta

karena lelah ditipu cahaya.

Yogyakarta, 2025

Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menempuh Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Karya cerpen dan puisinya telah dipublikasikan di berbagai media. Karya puisinya terangkum dalam antologi “Lagu Tembang Nyanyian”. Buku kumpulan cerpennya "Anjing dengan Luka di Tengkuk”, dan “Maaf Aku Membaca Diary Ungumu”. Selain itu juga menulis naskah drama dan menyutradarinya, di antaranya, “Sih”, “Lolong”, dan “Gincu” yang dipentaskan di Yogyakarta bersama Teater KSP Indonesia. Ketiga naskah dramanya tersebut rencananya juga akan diterbitkan dalam buku antologi di tahun ini oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat sebagai bagian dari program advokasi terhadap kekerasan perempuan. Saat ini berprofesi sebagai praktisi digital marketing di perusahaan yang didirikannya bersama beberapa rekan, PT. Nuera Global Internasional yang fokus menangani digital advertising & business consultant. Bersama istri dan keempat anaknya, tinggal di Perumahan Taman Arum Sari Blok M, Cokro Konteng, Sidoarum, Godean, Sleman, DI Yogyakarta, 55264. 








(099) Piring Harapan di Meja Negeri

Irawati


Fajar menyapa dengan lembut 

hidangan tersaji menggugah selera 

Beras putih bak butiran permata

mengisi perut dengan kehangatan cinta

Sayuran hijau bagai zamrud bersinar  

memberi kesegaran bagi raga 

Ikan melompat dalam rasa nikmat

menyuburkan jiwa dengan cahaya

Susu mengalir bagaikan sungai emas

menguatkan tubuh penuh semangat 

Buah berwarna seperti pelangi

menjalin sehat dalam harmoni

Tak ada lagi mendung kesedihan

kelaparan pergi, senyum merekah

Di meja makan, kasih mengalir

makanan sehat membawa harapan

Piring-piring penuh keceriaan

menghapus duka, memberi kekuatan

Setiap suapan sinar penerang

membimbing langkah menuju masa depan

Di dapur cinta, tangan saling membantu

menjalin impian tanpa batas

Makanan sehat adalah hak semua

mewujudkan negeri yang peduli sesama










Irawati

Kepala SDN 04 Sikabu Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam

Hobi traveling dan menulis


(100) 

Tidak Ada Makan Gratis

Ujang Saepudin


Berapa harga yang akan kau makan

Untuk menghapus suara perut teman-temanmu

Yang terdengar di kelas-kelas jauh

Tentu, sekarang dan nanti 

Kau akan membayarnya

Sesudah dunia mereka kenyang purna lepas.

Kau akan menghitungnya sesudah beberapa soal terjawab oleh laparmu.

Tanpa semua itu, kau masih tetap mengunyah bukan. Yang perlu kau lakukan adalah mengisi lambung teman-temanmu dengan nilaimu.

Kau tak perlu bertanya kapan makan gratisan itu tiba lalu mengunci mulutmu. Sebab, telah aku ajarkan cara memberi dengan tangan bersih & telah aku beritahu jawabannya 

untuk kau presentasikan di depan negara.


Cianjur, 2025















Ujang Saepudin lahir di Cianjur, aktifitasnya sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur, beberapa puisinya tersiar di media nasional dan digital.
































Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda