Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi
(001)
BERTANYA CACING KEPADA LALAT,
Heru Patria
bertanya cacing cacing dalam perut bocah sekolah
tentang makan bergizi gratis yang katanya program wah
apakah semua ini bukan sekadar program pamer wajah
agar kepemimpinan dianggap syah
agar kedudukan tak goyah
padahal bagimana bisa dengan anggaran sepuluh ribu
memberi makanan bergizi lengkap dengan susu
sedang harga harga terus melambung sepanjang waktu
juga pajak dinaikkan seenak jidatmu
atau bisa jadi makan bergizi gratis cuma program ambigu
lalat angkuh menjawab dengan teguh
bahwa makan bergizi gratis program yang rapuh
akan membuat situasi makin keruh
kaum jelata dipastikan kian mengeluh
sebab mereka harus memeras peluh
penuhi pajak tinggi yang ditetapkan kaum angkuh
lalat bersilat lidah sembunyikan kebenaran
makan bergizi gratis hanyalah program pencitraan
sebab di republik ini kemiskinan sengaja dipelihara
dijadikan lumbung suara saat pemilu tiba
ini tidak ada bedanya dengan bansos rutin
mendidik masyarakat bermental miskin
cacing cacing terdiam tanpa kata
apa yang disampaikan para lalat benar adanya
sungguh kasihan anak usia sekolah di Indonesia
mendapat makan bergizi dengan menu ala kadarnya
apakah mereka lupa kalau negeri ini kaya
cerita tentang lumbung padi pernah berjaya pada masanya
dalam pelukan dewi sri ketahanan pangan itu nyata
tapi
ketika lalat lalat duduk di kursi kuasa
urusan perut dijadikan topeng propaganda
cacing dalam perut dijejali janji semata
tanpa ada realita
untuk apa ada program makan bergizi gratis
jika di sudut negeri masih banyak jelata menangis
tangan tangan ringkih dekati tong sampah tuk mengais
berharap dapat rejeki di sela tangis
kini cacing tak mau lagi bertanya pada lalat
setelah sadar makan bergizi gratis sekadar alat
tipu muslihat dari para pejabat
tipu daya dari para birokrat
ladang empuk bagi kaum penjilat
bara neraka bagi masyarakat
cacing cacing tahu
rendahnya pendidikan di sini bukan karena menu
tapi karena adanya sistem tak menentu
ganti kurikulum setiap ada menteri baru
juga adanya intervensi pada wewenang guru
namun cacing cacing tak bisa berbuat apa apa
kokoh kaki tangan lalat lawan tak sebanding bagi mereka
di akhir semua ini para cacing hanya bisa berdoa
semoga lalat segera turun dari singgasana
sebab generasi bangsa tak hanya butuh makan bergizi
tapi lebih butuh perubahan sistem di segala lini
agar pancasila dan uud 1945 berjalan secara murni
agar semangat reformasi tak setengah hati
makan bergizi gratis hanyalah kedok
tutupi sistem yang terlanjur bobrok
Blitar, 13 Januari 2025
Heru Patria, adalah novelis dari Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya telah banyak dimuat di berbagai media masa baik cetak maupun online. Peraih anugerah Sutasoma 2024 ini juga menulis sastra Jawa berupa gurit, wacan bocah, dan crita cekak. Pendiri komunitas Swara Sastra Jawa ini telah menerbitkan buku antologi puisi, yaitu : Berita Dari Kolong Tol (Intishar, 2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2022), Orasi Anak Negeri (LovRinz, 2023), Rapsodi Dua Hati (IA Publisher, 2024)
(002)
Wacana Makan,
Biolen Fernando Sinaga
.
Terbertik sudah
Wacana makan
Makan makanan bergizi
Makan makanan gratis
Makan makanan bergizi gratis
Makan makanan gratis bergizi
Tolong jangan langsung interupsi
Apakah makanannya bayar, gizinya gratis
Apakah makanannya bergizi banyak atau sedikit
Apakah gratis bukan termasuk gratifikasi?
.
Kritis itu perlu
Tapi kita lebih fokus mengatasi krisis gizi
Karena itu membuat generasi muda kritis
Maksudku, eh maksud kami, kondisinya jadi kritis dan perlu ditangani segera
Dari itu sifat kritis harus terukur
Seperti menu dalam makanan gratis itu
Dari lima kotak di wadah itu
Sebaiknya kelimanya berisi
(Lima kan Pancasila)
Kalau tak bisa, setidaknya empat kotak berisi
Tapi jangan pula gampang menuduh satu kotak dikorupsi
Beritikadlah baik
Baiklah beritikad
Beritikad baiklah
Soal sapi diimpor dari luar negri untuk hal itu, cobalah jangan langsung suuzon
Diimpor kan karena sapi lokal belum cukup
Jangan sampai gara gara makanan bergizi gratis
Jadi menghalangi makanan bergizi berbayar
Saling menghargailah
Dan kalau ada negara lain yang berniat kucurkan dana
Belum tentu kita langsung setujui
Bisa saja kita minta jangan dengan cara dikucurkan
Atau kita bilang, kan kami mau membantu, masa malah dibantu?
.
Nah begitulah
Mari berprasangka baik
Kita bukan hanya ingin membangun fisik
Tetapi juga mental generasi bangsa
Sehat jasmani
Sehat rohani
Jadi sambutlah program
Makan makanan bergizi gratis
Makan makanan gratis bergizi
Dan program ini independen
Tidak bekerja sama dengan produk berslogan
Minum makanan bergizi
Apa apaan itu
Minum kok makanan
Makan kok minuman
Oh, maaf
Kita harus saling menghargai setiap wacana
Demikian disampaikan, terimakasih perhatiannya.
.
Dairi, Jan 2025
Biolen Fernando Sinaga
(003)
INFLASI,
Dody Yan Masfa
Di tengah kota orang-orang berisik
Makan bergizi gratis, hanya angan
Kebun dalam diri terbakar
Sisa-sisa vitamin, limba-limba mineral
Inflasi menghantui, harga melonjak
Makanan bergizi, simbol kapital
Tapi siapa majikannya?
Kebun dalam diri dibakar perompak
Oh, makan bergizi gratis, impian tak tercapai
Tapi kita tetap berharap, makanan seimbang
Untuk kesehatan tubuh dan jiwa
Di tengah krisis, warga teriak
Makan bergizi gratis, untuk siapa?
Di pelosok desa, jari-jari gurita korup
Taman hati terlupakan
Kebun dalam diri meledak
Dody Yan Masfa
2025
Dody Djunaedy
Nama Populer : Dody Yan Masfa
Lahir di Surabaya, 15 Juni 1965. Aktif berkesenian sejak tahun 1987. Fokus pada seni teater dan sastra. Karya antologi puisi yang sudah terbitkan :
- Episode Gadis Zuha ( 2013 )
- Perayaan Pertikaian Dalam Rumah Puisi ( 2021 )
Kontak person : email : dodyyanmasfa@gmail.com
Published by Literanesia — 14 Jan 2025
(004)
Perbaikan Gizi Anak Negeri,
Raju
Makan bergizi gratis, karya cipta pemerintah
Terhidang dalam kotak-kotak nasi
Demi perbaikan gizi anak negeri
Walau tanpa menu ikan melengkapi
Negeri kita, negeri maritim
Nenek moyang kita, pelaut tangguh
Menaklukkan gelombang, derasnya badai
Mencerdaskan generasi, demi martabat gizi anak negerinya
Pun demikian..
Anak-anak sekolahan, bercoloteh gembira
"Besok ada enggak sajian susunya?"
Melengkapi empat sehat lima sempurna
Pikiran polos mewarnai benaknya
Tentang masa depan
Masih dalam perabaannya.
*Kutaradja. 14.01.2025
Aceh-Indonesia*
Rajuddin
Nama Kecil : Raju
Penulis lahir di Desa Nibong Wakheuh. Pada tanggal 20 juni 1973. Kecamatan Tanah Luas. Kabupaten Aceh Utara
Menamatkan pendidikan terakhir
Di Universitas Abulyatama (1992-1996)
Fakultas Peternakan
Jirusan Produksi Ternak Besar.
Buku antologi bersama yang sedang digarap, "Gempita Suara Nusantara"
Menulis merupakan tempat menyalurkan sebuah hobbi, dengan menulis dapat mencurahkan segala ide dan perasaan di antara kata-kata yang tidak dapat terucap.*
(005)
Jamuan Tanpa Harga,
Andi Irwan
Dalam piring emas tersaji alam,
Kehangatan nasi seakan sinar surya,
Sayur hijau, daun zamrud nan dalam,
Daging lembut bagai awan di maya.
Aroma rempah menari di udara,
Mengiring langkah sang perut lapar,
Sebening embun, kuah cinta mengembara,
Menembus jiwa, rasa syukur tersebar.
Lidah berdendang dalam harmoni rasa,
Serupa simfoni sang malam sunyi,
Tiada terikat bayang rupiah durjana,
Ini pesta hati, makan gratis bergizi.
Roti renyah seperti pasir pantai,
Susu putih mengalir bagai salju,
Buah segar, manik surga, kupintai,
Semuanya anugerah, sungguh syahdu.
Di bawah langit tak bertepi,
Kita berbagi, memecah rasa perih,
Makan ini, pelipur diri,
Berkah semesta, menjelma kasih.
*Sorong, 14.01.2025*
Andi Irwan
Nama Pena : Pena Lingga
Penulis lahir di Desa Kendari pada tanggal 09 April 1997. Sulawesi tenggara
Menamatkan pendidikan terakhir di SMA Negeri 02 Pinrang, Sulawesi Selatan.
Pekerjaan: Penulis dan Pegiat seni sastra
Karya yang sementara di garab;
1. Buku Novel: 30 Hari Mengajariku untuk Melepasmu
2. Novel: Dunia Terlalu Berisik
3.Buku Antologi bersama " Bengkel sastra "
Aktivitas:
Anggota komunitas Rumah Literasi dan Bengkel sastra,tempat berbagi ilmu dan inspirasi tentang dunia literasi.
Minat:
Sastra
Cerita horor dan misteri
Budaya lokal Sulawesi
Gaya Menulis:
Mengangkat tema-tema emosional dan reflektif, sering kali menyentuh sisi kemanusiaan, budaya, dan pengalaman hidup sehari-hari.*
(006)
Santapan Kasih,
Khodijah
Di sudut senja kota
Di punggung desa prasaja, terlihat senyum sumringa bocah menyendok nasi bahagia.
"Ada ayam, susu dan buah," cletuk wajah polos tanpa dosa
Makanan tersaji di atas meja sekolah
Mengejar mimpi mengusir lara
Tak ada harga di papan tulis itu,
Selain hati yang tulus bapak dan ibu guru dalam memberi ilmu
Makanan tersaji dari yang peka akan rasa
Atas dasar cinta, memberi harapan pada putra-putri bangsa
Menu gizi gratis, bukan sekadar makanan
Tapi semangat hidup yang dijalankan insan
Dalam setiap sendok yang disantap,
Ada doa tulus hingga ibu pertiwi berbesar hati
Mereka yang datang membagi bukan sekadar tamu,
Melainkan jiwa-jiwa yang ingin bertemu.
Bertukar cerita, membangun asa,
Menghapus kesenjangan dengan cinta.
Di balik meja itu ada
Yang percaya bahwa berbagi adalah jalan nyata.
Tak peduli seberapa kecil yang diberi,
Hati mereka kaya dan tak sunyi.
Menu gizi gratis, lebih dari sekadar kenyang,
Ia adalah harapan yang terus berkembang.
Menyapa jiwa, membangun insani,
Semoga semua yang menghuni negri ini hidup bermartabat dan terpuji
Cirebon 14 Januari 2025
Khodijah S,Pd, M,Pd seorang guru, pernah mengajar di STIE Tunas Nusantara Cawang. Jakarta. Telah menulis 20 judul buku Fiksi & Nonfiksi yang diantaranya:
Membangun Pola Pikir, Komunikasi Transenden dalam Pembentukan Jati Diri, Logika Komunikasi, Berahirnya sebuah Kekosongan, Sukma (fiksi), Kuncup Berkembang (fiksi), Jalan Eshma (fiksi) Atas nama Cinta dan lainnya. Saat ini dalam proses penulisan Sensasi Rasa sebua seni dalam melakukan pengolahan.
(007)
TIDAK PERLU MAHAL
Mohammad Saroni
Makanan bergizi adalah harapan
makanan sehat apa lagi
sebab semua orang ingin sehat
sebab semua orang ingin alfiat
Makanan bergizi adalah kebutuhan
makanan sehat adalah tuntutan
untuk pemerintah yang pro rakyat
bukan hanya slogan apalagi sekedar lips kampanye
Negeri ini kaya sumber daya
tak akan habis tujuh turunan
tetapi semua akan sia-sia semata
ketika sumber daya manusia diabaikan
Maju mundurnya bangsa di tangan manusianya
dan generasi muda adalah harapan utama
tetapi harap hanya tinggal harap semata
ketika mereka tidak mampu apa-apa
Makanan menjadi pengharapan
untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuannya
dan, pemerintah harus mengkondisikan
tidak perlu mahal yang penting bergizi dan sehat
Tidak peduli duit darimana
sebab negeri ini negeri yang kaya
tanah surga yang diberikan-Nya
bukan untuk sebagian orang saja
melainkan untuk semua anak bangsa
Tidak perlu mahal
cukup yang sehat dan bergizi
untuk membangun fisik dan psikis
agar menjadi bangsa dan negara yang kuat
Dapatkah??
Gembongan, 15 Januari 2025
Mohammad Saroni, tinggal di Mojokerto. Menulis sebagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam hati atas suatu kondisi di luar diri.
Menulis untuk genre nonfiksi maupun fiksi.
(008)
GLOBALISASI AI,
Chanchan Parase
.
Ini Globalisasi AI
Di mana setiap usia
Menanam jemari
Di Smarphone
Beberapa anak
Penyandang relatif kecewa
Dapat tekanan pendidikan
Mereka di D.O paksa
Gagal Spp, sebagian
Gagal menggoda gurunya
Untuk pelunasan
Lalu memintas bunuh diri, solusi
Desa yang masih purba
Berita Negara yang luar biasa
Makan bergizi gratis yang dipopulerkan
Tak semerata gembira Indonesia
Sebenarnya pelayanan negeri
Kepada rakyatnya ini, kelayakan
Separoh hati, di mana mata uang
Adalah penghianat nomor satu
Ketidakpuasan
.
Batam, 15 Januari 2025
Chanchan Parase
Nama dari Ibu :Candra
Lahir :Medan 11 Juli 1975
Pendidikan final : SMK
Alamat Batam Kepulauan Riau
Koleksi Antologi bersama +20x
Catatan terakhir baru calon PPPK
(P3K)
(009)
Surat Dari Pak Tani ; Harus Adil dan Merata
Theo Kiik
Jari-jemari ku sudah kaku
tetapi mata ku tak lelah membaca koran-koran baru
tentang lahan sawah yang digusur
dan harapan para petani yang dipaksa kubur.
tentang pengusaha yang semakin makmur
petani yang kehilangan tanah subur
tentang korupsi yang menjamur
dan hakim agung suka manipulator.
Hari ini, aku menulis lagi, tentang makan bergizi gratis untuk anak-anak negeri
Teruntuk tuan dan puan, yang disana
; diatas istana negara
terlampau stunting kah kita
ataukah terlalu hina kedudukan rakyat di mata pejabat? jika ia,
mengapa harus ada pajak rakyat untuk membiayai urusan negara?
Makan bergizi gratis untuk anak-anak bangsa.
Akankah semua anak diperlakukan sama?
: Dari anak-anak abdi negara,
semampai anak-anak pengusaha dan anak-anak jelata.
semua diberi menu makan yang sama?
Lantas bagaimanakah dengan pengemis yang hidup di persimpangan jalan sana?
apakah mereka boleh mendapat jua?
siapakah yang berbicara derita mereka?
Ini negara Pancasila,
bunyi sila kelima,
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
dan pengemis juga rakyat Indonesia.
Sebelum kita lupa
mereka tanggung jawab siapa
mereka juga anak-anak bangsa
harusnya kita adil dan merata.
Malaka, 15 Januari 2025
Theo Kiik, lahir di Anametan. Sebuah kampung yang sangat dekat dengan pusat kota kabupaten Malaka. Pernah menulis satu buku antologi di yang diselenggarakan oleh lumbung puisi dengan judul "Puisi-puisi Melihat Indonesia.
Published by Literanesia — 16 Jan 2025
(010)
KABAR MAKAN TIDAK KABUR,
Raden Mas Sudarmono
Hanya berkabar makan bergizi gratis
apakah rakyat sudah makmur sentosa
seperti nyanyian dalam lagu kebangsaan
ternyata tidak sedemikian akurat
negeri kita sedang tidak baik baik saja
Mari kita saling memberitahu
banyak petinggi negeri ambigu
terbiasa mengumbar janji
omong omong ternyata kosong
berita stunting anak anak dan ibu hamil
menjadi trend proyek negeri terkini
cobalah bertumpu pada sila kelima
telah disebutkan dalam lambang negara
keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
marilah berselancar di media sosial
program unggulan makan bergizi gratis
menelan biaya sebesar 71 triliyun
hanya menyihir menjadi berita mutakhir
keberlanjutan pemerintahan semu
agar korporasi tidak berbau korupsi
Hanya udar rasa bukan mengharap
ayolah ayo kita segerakan program nya
termasuk yang rentan karena kesehatan nya
beramai ramai makan bergizi gratis
kata undang undang benar dijalankan
sebab fakir miskin dipelihara oleh negara
dan disana sini masih banyak pengemis
kehidupannya selalu diliputi rasa pesimis
semangat tentunya hindarkan rasa ngeri dan miris.
*Magelang, 14 Januari 2025*
SUDARMONO lahir Bantul Yogyakarta 1963 pendidikan terakhir S1 Fak Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta, Penulis dan penyuka sastra juga kebudayaan sekarang mengelola Taman Bacaan Masyarakat TBM Ruang Jiwa di Muntilan Magelang tulisan puisi nya banyak diterbitkan oleh Komunitas Sastra di Indonesia pada umumnya diantaranya Gambang Semarang, Kaffein Ruang dan Kreativitas, Jakarta dan Betawi 3 Titimangsa Lahirnya Peradaban Bangsa, Wasiat Botinglangi, Angkatan Milenial, Plengkung Yogyakarta dalam Sajak, Majalah Sastra Semesta, Elipsis, Apajake, Magelang Ekspres, Cakra Bangsa, Tabloid Alinea Baru dan sebagainya. Alamat Gataklamat No 63 RT 04/RW 01 Desa Pucungrejo Muntilan Magelang Jawa Tengah Kode Pos 56414 WA 085226095700 email sudarmonosatrrajiwa@gmail.com*
(011)
HARAPAN KINI DAN NANTI,
Abi Chairil Anwar
wajah-wajah lugu itu
duduk rapi siku dilipat diatas bangku
menunggu masa depan
piring saji cekung lima menyulam asa
menu penuh gizi
tegar menyongsong masa
raut muka mereka suka cita
kala hidangan tiba
upacara diawali dengan lantunan doa
namun disudut sana
satu siswa menyeka air mata
diam, tak mampu mengawali makannya
menerawang jauh ingat rumahnya
emak makan apa ?
seketika disisihkanlah separuh jatahnya
sebagai bukti cinta
seketika itu juga aku tersentak
bukanya ada siswa
nun jauh disana
diantara nusa
yang harus berenang
yang bergelantungan
yang berjalan jauh menembus hutan
untuk menuju sekolah
yang beratap alang-alang
berdinding bambu dianyam
beralaskan tikar daun lontar
namun semangat mencari ilmu tak pernah padam
mereka juga anak bangsa
patut menuntut bukti cinta dari negara
meski harus menunggu lama
namun harapan mesti ada
Malang, 15 Januari 2025
Ayyub Ruddy Prayitno ,SE
Nama Pena : Abi Chairil Anwar [Abi_kh@n]
Tempat/tanggal lahir : Jember/14 Juni 1961
Aktif menulis puisi sejak tahun 1981
dan baru tahun 2011 karya puisi dipublikasikan lewat media sosial utamanya Facebook.
Selain menulis puisi, sejak awal pensiun aktivitas mengisi waktu adalah melukis.
(012)
PROTES SEKONYONG-KONYONG, SEPUTAR SUSU DAN GELAS KOSONG
Osratus
"Susu, ditunggu
Gelas, menanggung rindu
Susu, tak mau tau
Gelas, dirundung pilu
Nasi, menampakkan diri
Serundeng, menggandeng ayam goreng
Sayur buncis, berikan pedasnya
tipis-tipis
Semangka, bikin air liur mengucur
Nasi kotak tersaji silakan dinikmati
sambil menunggu susu
dan gelas bertemu
tapi bukan untukmu, diriku
Kalau nasi kotak
telah disikat dengan telak
sedangkan susu dan gelas
membenamkan diri di lipatan waktu,
tidak berarti mereka tidak
sayang kita, bukan?
Tapi bukan kau yang diberi
makan bergizi gratis itu
melainkan para anak didikku
Susu gratis tetap kita tunggu
dengan rasa gembira yang menyertai kita
Makan bergizi gratis, hiduplah!
Tapi andai kelak makan bergizi gratis
tinggal nama, lapang dada
telah dipersiapkan dari sekarang, bukan?
Susu, gelas setia menunggumu
Susu, buah hati kami susuilah!"
**Sorong, 15 Januari 2025**
Osratus , adalah nama pena dari Sutarso nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 59 tahun lalu. Sekarang, tinggal di Kabupaten Sorong (Papua Barat Daya). Menulis puisi adalah hobinya.*
(013)
MERDEKA TIGA KALI SEHARI,
Romö Jatí
anakku yang lima sekokah semua
dari paud sampai es em a
mereka sedang mengejar cita cita
ada satu yang masih balita
dan satu lagi masih di perut ibunya
kini rasa syukurku padaNya
mereka makannya ditanggung negara
meski sehari dapat sekali saja
itu pun tak mengapa
sudah mengurangi uang belanja
aku yang bekerja
hanya sebagai penyusun batu bata
gaji yang kudapat tak seberapa
setiap harinya harus berlomba
dengan kenaikkan harga
semoga anak anakku nanti
semua bisa jadi menteri
yang tidak doyan korupsi
agar negara bisa memberi makan bergizi
untuk anak anak negeri tiga kali sehari
Kepri
Tanjungpinang
(014)
CATATAN KECIL NEGERI TERPENCIL,
Ahmad Maliki Mashar
Selamat pagi orang-orang penting
Dari tepi hutan di semak ranting-ranting
Kami menahan licin dengan ban gundul
Jalan tanah kuning yang tersiram gerimis
Apak berlumpur amis
Selamat pagi orang-orang penting
Makanan bergizi kami hanya nasi kuning
Sedikit campuran bihun goreng
Di warung samping sekolah yang lantainya tanah kuning
Tiap pagi kami rebutan bagi yang punya uang jajan
Takut ketinggalan tak dapat sarapan
Segelas susu selalu hanya khayalan
Sebab kami terbiasa dengan air putih dari galon lima ribuan
Selamat pagi orang-orang penting
Negeri ini begitu luas, mulai Sabang sampai Merauke
Dari Miangas hingga Pulau Rote
Seakan tanpa batas, berlaut deras dan berimba rebas
Masih ada orang-orang culas.
Sekara, 15 Januari 2025.
AHMAD MALIKI MASHAR. Lahir 1971. Suka puisi sejak masih sekolah, menulis puisi untuk koran kampus dan surat kabar daerah. Sekarang mencoba menulis puisi untuk antologi bersama. Alamat : RT 01/RW 01 Desa Sekara, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Kode pos 29276. HP/WA 08526520047
(015)
AMBISI DIBAYAR MAKAN,
Dahta Gautama
Apakah hanya dengan makan, manusia sanggup hentikan lapar?
Makan gratis di sekolah, tak pernah membentuk manusia sehat secara akal.
Makan hanya sarana kunyah fana,
masuk ke mulut, melewati tenggorokan, terhenti di lambung.
Menjadi ampas dan berakhir di jamban.
Mengapa ada makan gratis di sekolah?
Apakah tak ada sarapan gratis di rumah, yang ditanak ibu atau nenek?
Ah, janji kampanye harus tuntas,
Makan gratis harus ada.
Angka-angka dibikin, dari harga telur
hingga kangkung.
Siapa yang diuntungkan? Perut atau
katering?
Padahal, untuk menghentikan lapar,
manusia mesti digerakkan.
Pikiran dijernihkan dari janji, dan otot
diberi alat untuk menggerakkan mesin.
Industri pertanian mesti dipacu,
produksi pangan wajib swasembada.
Pabrik-pabrik tidak digencet oleh
pajak yang selangit. Dan para buruh
menerima upah yang setimpal.
Makan gizi gratis.
Berada ditengah-tengah: ambisius, janji dan merendahkan marwah manusia.
Taman Gunter, 15 Januari 2025
DAHTA GAUTAMA. Lahir di Hajimena, Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Menekuni sastra sejak tahun 1990. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal dan nasional, antaranya: Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Koran Tempo, Lampung Post, Sumatera Post, Lampung Ekspres, dll.
Buku puisi tunggalnya: Ular Kuning (2011) dan Manusia Lain (2013). Puisi-puisinya tergabung sedikitnya dalam 42 buku Antologi Bersama.
Puisinya yang berjudul: Khimaci di Showa Kinen, masuk dalam 100 Puisi Terbaik 2008 versi Pena Kencana Award (Gramedia Pustaka) dan menerima Anugerah Sastra Pena Kencana Award 2008 peringkat 2.
Kini bekerja sebagai advokat di Kantor Hukum DG&Partners. Pernah menjabat Pemimpin Redaksi Dinamika News (2006 - 2012), Direktur NGO Badan Logistik Informasi (2008 - 2018), Redaktur Pelaksana Majalah Demokratis (2002 - 2006) dan Reporter Antv (1995 - 1998).
(016)
MENUNGGU WAKTU
Iqbal Kurniawan
Ketika pikuranku mulai riuh dengan gaung suara dan tingkah lakumu.
Jangankan makanan bergizi, bahkan hidangan sederhana tak lagi bisa ku santap saat pagi hari.
Waktu kian berlalu, kalimat dan janji yang kau lontarkan layaknya nada.
Kini tak seperti melodi ataupun majas di sebuah aksara.
Tetapi apakah bibir itu menepati janjimu?
Layaknya sebuah angan di langit senja, atau ribuan bintang di tengah malam.
Dimana cinta saat duniaku terasa hampa?.
Kata-katamu, menari di dalam metafora yang indah.
Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu?
Perihal langit renjana, membumi cinta, dan angkara.
Aku bertanya pada angin, dan daun-daun gugur di musim tak menentu.
Apakah kau masih ingin melihat tulisan tanganku?.
Disela puing-puing mimpi, aku merenungi, tentang cinta tak sekedar kata.
wahai tanah yang ku pijak, aku disini menunggu.
Menunggu waktu yang menumbuhkan harap.
Bahkan tak pernah aku ingin menyerah pada delusi.
Sebab ada angan yang ingin kita jadikan nyata.
lampung, 15 Januari 2025
Iqbal Kurniawan, Lahir: 14 September 2000
Penulis lahir di desa bandar agung, kecamatan terusan nunyai, pada taun 14 September 2000, lampung tengah
Pekerjaan: Penulis dan host di room puisi, di beberapa aplikasi live voice
Aktivitas : aktif di room live voice puisi dan sedang merambah di dunia literasi, aktif juga di rumah literasi
(017)
MAKAN GRATIS,
Tarni Kasanpawiro
Memang terdengar manis
Tapi bikin orangtua meringis
Yang tahu kesukaan anaknya hanya ibu
Meskipun ceplok telor dan kangkung ditumis
Asal ibunya yang masak akan disikat habis
Mending dikaji ulang hindari kecurangan
Dari pada program yang terlihat cemerlang
Dijadikan ajang mencari keuntungan
Hanya menguntungkan segelintir orang
Menciptakan banyak kemungkinan
Bekasi, 16 Januari 2024
Tarni Kasanpawiro
(018)
LEZATNYA MASAKAN EMAK,
Puspasari
Pagi ini ada rasa yang berbeda ketika emak membangunkan ku
Aku beranjak ke kamar mandi membawa handukku yang sudah sedikit usang
Dengan bersenandung kecil , aku mandi dan menggosok gigi
Selepas solat subuh , aku sarapan nasi dengan lauk ikan dan sayur kangkung
Makanan sederhana di desaku yang disediakan emak untuk kami sarapan
Lantas aku melangkah ke sekolah bersama teman-teman
Kami berbincang dengan riang " kawan ini hari pertama kita akan mendapatkan makan siang gratis "
Terbayang lezatnya makan gratis yang bergizi di sekolah nanti
Oh....betapa kami ingin menikmati makan lezat bergizi seperti orang-orang kaya di kota
Yang sering kami lihat di televisi .
Waktu belajar terasa sangat lambat , namun akhirnya jam makan siang pun tiba
Ibu guru dengan senyuman yang sangat cantik membagikan kotak- kotak yang berisi makanan
Aku menatap makanan yang diberikan ibu guru
Ada nasi , sepotong tahu , telur rebus, sayur buncis , dan buah pisang , juga susu kotak
Aku tersenyum , inikah yang disebut makanan bergizi
Ah....aku tidak suka sayur buncis
Aku tersenyum, emakku lebih pandai memasak sayur kangkung
Emak juga sering memasak tahu dan juga menggoreng telur ayam peliharaan bapak
Atau terkadang memasak ikan dari Empang di belakang rumah
Buah pisang yang ditanam bapak juga lebih ranum
Makanan bergizi yang kulihat di televisi seketika buyar dari bayangan ku
Ketika aku kembali menatap makanan gratisku siang ini
Aku berdiri dan hanya mengambil susu kotak lalu keluar dari ruang kelas
Tanpa memperdulikan tatapan teman- temanku
Ah...aku ingin cepat pulang dan menikmati lezatnya makanan yang dibikin emak
Sawangan Depok, 16 Januari 2025
Puspasari adalah nama pena dari Ita Puspasari, SE
Lahir dan besar di Semarang tgl 15 juli
Menyelesaikan pendidikan di kota lumpia
Menulis adalah hobby yang dilakukan sejak SMP.
Tulisan nya mengisi Mading dan beberapa media lokal
Kini disela kesibukan sebagai seorang wirausaha mengisi waktu luang dengan menulis , bergabung dengan beberapa grup sastra.
Membukukan karya nya dalam , buku tunggal , kumpul cerpen, antologi bersama, antologi tandem dan antologi kolaborasi.
Tinggal di Semarang . Menulis bagi Puspasari adalah salah satu terapi untuk melawan alzheimer
(019)
ANAK BANGSA SEHAT NEGARA PUN KUAT,
IZ Anwar
Geliat negeriku seumpama orang baru bangun tidur
Gerakannya gemulai patah-patah
Meliuk sambil tengok kanan kiri
Inilah masa kepemimpinan baru
Bebenah dari masa lalu
Gebrakan pertama mulai dijalankan
Di tengah terpuruknya ekonomi rakyat jelata
Tenggelam dalam pajak menghimpit
Daya beli tak bisa didongkrak
Agar tetap sejahtera
Makan bergizi gratis bergulir
Meski belum merata ke seluruh wilayah
Tak pandang bulu kamu siapa
Kaulah anak bangsa
Menjadi sasaran utama
Berharap anak-anak merdeka
Tumbuh kembang tanpa kendala
Yang di sana mencemooh
Sebab menu tak sesuai ekspektasi
Ada yang salah?
Apakah tangan kotor koruptor
Turut memangkas anggaran
Hingga menu makan terkesan apa adanya
Tak mengundang selera
Jangan begitu
Jika benar akibat ulah koruptor
Dia hanya oknum
Mencari kesempatan di dalam kesempitan
Menuai untung tanpa berpikir keberkahan
Jadi, biarkan saja
Dia akan memetik hasilnya kelak
Banyak anak-anak
Harus diselamatkan gizinya
Jika program makan bergizi gratis
Berjalan sesuai aturannya
Tentu harapan itu semakin mekar
Anak-anak negeri bersyukur tak terperi
Bagai secercah cahaya
Terbit dari timur
Memberi kehangatan
Harapan bagi rakyat jelata
Selalu ada senyum
Menghias wajah berseri
Tak perlu debat dan nyinyir
Suara-suara bersipongang
Membelah kota dan desa
Bermacam menu viral di jagat maya
Sesuatu yang baik harus kita dukung
Percayalah
Program makan bergizi gratis
Adalah upaya
Membangun sumber daya manusia Indonesia
Anak bangsa sehat
Negara kuat
*Selatan Jakarta 15 Januari 2025*
IZ Anwar , adalah nama pena dari Sunaenah Anwar, salah seorang pengurus Yayasan Bina perempuan Mulia. Cirebon tempat dia dilahirkan pada tahun 1961, tetapi tumbuh besar di Jakarta yang menjadi domisilinya hingga sekarang. Menulis adalah hobi dan mulai serius pada dunia literasi sejak 2019. Ada karya solo yang sudah diterbitkan yaitu 3 buku novelet yang berjudul "Selalu Ada Jalan", "Hanya Ada Rindu" dan "Terminal Terakhir". Aktif juga pada event nulis bareng berupa antologi puisi dan cerpen, dan sudah mencapai 30 buku*.
(020)
Dari Tanah Kami ke Perut Anak-anak Kami,
Diana Rustam
Di tanah kami tumbuh padi yang benihnya disemai pak tani
Setiap masa tiba malainya menguning merunduk laksana si bijak tua
Bulir-bulirnya penuh berisi. putih. dan ditanak menjadi nasi
Buahbuah ranum bertengger di tangkaitangkai pohon setiap jengkal kebun dalam bedengbedeng yang panjang
Di tanah kami musim tidak pernah khianat: panas hujan panen tetap ada silih berganti dari penjurupenjuru pulau
Di laut kami ikanikan berenang bercengkerama di terumbu karang
Pak nelayan turun pagipagi dan ikanikan terjera pukat. dipikul dalam keranjangkeranjang bambu sepanjang pasir pantai
Digoreng dipanggang di atas api tungku para ibu
Ayam bebek sapi kambing berkawan di kandang peternak
Turun dua tumbuh empat. turun empat tumbuh delapan. turun delapan tumbuh enam belas
Susu murni yang segar rasanya mengalir dari perut sapi. daging empuk gemuk dipupuk rumputrumput hijau liar tepi hutan di pekarangan di pinggir jalan
Telur-telur hangat dierami induk yang khusyuk duduk menganggukangguk setengah mengantuk
Oo, alangkah membanggakannya apabila dari tanah kami yang hidup yang tumbuh yang dirawat ditimangtimang rakyat sendiri masuk dalam piringpiring sarapan pagi anakanak negeri
Oo, alangkah membahagiakannya andai jerih payah itu dari bulir keringat yang menetes di tanah kami. bukan tanah asing yang jauh di sana
Oo, betapa melegakannya di mejameja sekolah tidak ada tagihan untuk bapak ibu di rumah
**Makassar, 16 Januari 2025.**
Diana Rustam tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerita pendek dan puisinya telah dimuat di media-media online.*
(021)
Jeritan tangis : anak pelosok terpencil,
Annisa
Teruntuk puan dan tuan yang duduk di sana di atas kursi empuk engkau bersandar !
Apakah engkau mendengar jeritan kami
Anak pelosok dan terpencil di sudut negeri indonesia ini
Yang telah di janjikan makanan bergizi yang katanya gratis yang tak kunjung ada tanda-tanda akan menampakkan dirinya
Lantas bagaimana dengan kami yang terpencil yang hidup di tanah kuning , jalan tidak rata dan berlumpur ini
Apaka kami boleh mendapatkannya juga?
Siapa kah yang akan bercerita tentang derita kami?
Teruntuk puan dan puan di sana
Apakah kami jga berhak mendapatkannya
Dimanakah janji manis yang pernah ada?
Dimanakah hak kami?
Dimanakah keadilan bagi kami?
Kami juga anak bangsa , anak negeri indonesia
Tapi mengapa makanan bergizi itu belum
Kunjung dan menampakkan diri
Mengapa hanya angan angan semata
Janji kampanye harus tuntas
Makanan gratis yang katanya ada kerap tak kunjung juga
Padahal kami juga berhak mendapatkannya
Kami juga berhak menerima makanan itu yang katanya gratis
Hufffff ..........
Janji kampanye yang tidak pernah jadi kenyataan
Berantas KORUPSI hanyalah sebatas slogan semata
ANNISA
SULAWESI BARAT*
(022)
BERBUTIR NASI MENANGIS Oleh :
Gunadi Yusuf Soenhadji
Berbutir nasi
menunggu pagi
kecemasan tampak dari ronanya
semalam ia merenung sendiri
Esok sepertinya aku banyak yang terbuang sia-sia...gumannya,
teronggok dan membusuk di tong sampah
Aku sangat faham, anak-anak sekarang berbeda selera makan
masakan ibu menjadi pilihan nomor satu
dan jenis lauk-pauk amat menentukan tentang lahapnya
Ya....slogannya sich, sangat manis
makan siang bergizi gratis
tapi apa daya anggaran masih menipis
tinggal aku ditemani lauk seadanya ditambah pisang dan sayur tumis
Berbutir nasi akhirnya menangis
benar dugaanku...rintihnya,
aku banyak tersisa
entah sampai hari, bulan dan tahun yang ke berapa
Makan siang bergizi gratis
proyek masal diawali dari
subsidi sana subsidi sini
bantuan perusahaan anu dan dari sianu
seremonialnya gegap gempita
aparat dan polisi pun datang mengawasi
yang tengah makan diwawancarai karena akan tayang di telivisi
Makan siang bergizi gratis
ternyata bikin banyak orang menangis
pemilik dan karyawan kantin tinggal meringis
jajanan dan aneka makanan tak kunjung habis
*Kudus, 16 Januari 2025*
Gunadi Yusuf Soenhadji Asal kota : Kudus, Jawa tengah Domisili : Jl.KH. Noorhadi 43 Kudus Jateng
Kontak WA : 081325696697 Menempuh Jalur pendidikan IKIP Negeri Semarang dan Pasca Sarjana Manajemen SDM Kegiatan sehari-hari mengelola galeri karya seni Kayu dan barang-barang antik, Instruktur Achievement Motivation Training di lingkungan Pemda Kab Kudus
Aktivitas kepenulisan dilakukan karena hobi tentang sastra, dan aktif di kajian tasawuf. Karya puisi lebih banyak bersifat pribadi dan ada beverapa yang memenuhi di beranda facebook
Beberapa antologi bersama yang pernah diikuti Antologi puisi religi II Sang Musafir, Antologi Puisi Religi III Mata hati, antologi bersama pusai 2023, 100 tahun Penyair Choiril Anwar, antologi panjat pinang akhirnya aku pun bisa, antologi kumpulan puisi penyair Indonesia Melihat Indonesia masa kini, antologi bersama Democrazy, antologi bersama Merdeka Puisi*
(023)
JANTURAN PINGGIR KALI,
S. Ratman Suras
hung, kala sungsang meradang
ubun-ubun terbakar siang yang garang
matahari sepenuh lingkaran
pecah dicucuk gagak rimang
terjadi wolak-walik zaman
anak-anak lapar main petak umpet
wajah layu daun lumbu
nabuh kecrekan nadah recehan
di simpang empat metro yang sumuk
digaruk satu pleton petugas gabungan
tamu negara akan lewat mau ngasih utang
hung, aku lapar. teriak mereka
gizi buruk, kali busuk, cermin terkutuk
tak bisa lagi bernyanyi husale kriuk-kriuk
seperti anak-anak robicon
lahir dari ledakan mercon
laparku lapar beneran
segenggam nasi uduk sambel teri
rajangan kangkung sedikit zat besi
masuk perut jadi otak untuk saling membenci
hung, kau telah kenyang
aku tak bisa makan bangku sekolah
tak usah ditakar-takar makin parah
kau di langit penuh fantasi
aku di bumi pinggir kali basi
sungsang pada comberan kelam
bersama tikus kota yang gemuk dan kotor
sedang dirimu anak penggede
yang bisa mainkan angka-angka gaple
di laci meja kaum birokrat culas
dari luar nampak alim pake lobe
hung, aku lapar kau kenyang
laparku burung kulik terbang mendelik
melihat kali dan laut selalu berdarah
kali digaruk, laut dikeruk
semua serba misterius bagai badut
sembunyi dibalik topeng-topeng lucu
lihatlah, teman-teman senasibku
teronggok terduduk di lantai kelas
hanya karena nunggak spp tiga bulan
tak boleh duduk di kursi sekolah
semua kelas cuma ngejar rupiah
bocah gerobak yang pernah gempar
mengurus ayahnya yang tepar
sambil memunguti sampah-sampah
kota yang makin serakah
hung, di mana raja diraja yang bijaksana
tak hanya dagelan konyol
kartu-kartu gratis bagai mimis
untuk membidik agar jidat-jidat tetap klimis
setiap agenda buat bancakan
aku dan kawan-kawan senasib tak kebagian
hung, dari tepian kali yang busuk
aku tak bisa lagi bercermin
gunung, kali, ular dan lapar
gunung merindukan hujan
kali melingkari ular
ular meliuk memagar laut
laparku grojogan sewu
laparmu laut yang kehilangan rasa
hantu dimakan setan brekasan
wajahku belepotan dan hilang
wajahmu gentayangan jadi cenayang
hung, wautha laparku lapar bayang-bayang
cuma hidup di negeri wayang
usai puisi ini, ke mana singgah
cerita sang dalang?
Tanjung Anom, 170125
S. Ratman Suras, kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 08-10-1965. Mengeluti dunia puisi belajar ala otodidak. Gugur-Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) antologi puisi tunggalnya. Kini tinggsl di Jl. Sosial No. 659 Dsn III, Tanjung Anom, Deliserdang, Sumatra-Utara.*
Published by Literanesia — 18 Jan 2025
(024)
Syukur akan nikmatnya,
Metaria
Tetes tetes air mata
Menyambut sebutir nasi
Dan lauknya
Ada rasa terharu,dan bahagia
Ingin berteriak sejauh mungkin
Meneriakkan rasa syukur
Syukur kepadamu sang pemberi nikmat
Dan terimahkasih kepadamu hamba Allah
Karenamu uluran tanganmu...
Perut kami yang sering melilit kelaparan
Kini terisi penuh
Ibu bapa kami tak lagi risau
Memikirkan jajan kami sehari harinya
Adanya uluran tanganmu menjadikan
Kami lebih giat belajar
Terimahkasih.....
Hamba. Allah hadirmu memberi semangat baru....
Makanan bergizi gratis mu
Membawa kebahagiaan untuk kami
Kalangan bawah
Nama Metaria, Nama panggilan mom treis
Asal kebanga sulawesi barat indonesia
Lahir 9 november 2000***
(025)
Dapurku,
Kakashi Nurullah
Pada sebilik dapurku yang sunyi
Aku tertegun memandang butir-butir nasi
Melamun dalam ceremai suapan jari-jari
Pembuka waktu pemimpin yang katanya berdikari
Bapak, makan bergizi gratismu hari ini
Dengan nasi petanimukah atau uluran luar negeri?
Akankah menjadi tenaga kami?
Atau hanya pemanis pahitnya nestapa negeri?
Aku aduk periukku yang telah kelabu
Ku tuangkan harapan dalam setiap lauk paukku
Nasi gratismu yang bergizi dan bermutu
Mengapa lebih nikmat nasi dan terasi di dapurku
Ohhh, Dapurku
Mulai saat ini engkau kutinggalkan
Begitu pun dapur negeriku yang sudah karatan
Mengejar jatah makan gratisan
Mungkin saja jadi penyebab kemakmuran
Mungkin saja,..ya, mungkin saja kan?
*Kangean, 17 Januari 2025*
**
*Kakashi Nurullah,** Lahir di Kangean Sumenep Madura. Sangat mengagumi karya sastra dan terus berusaha mempelajari sastra
Label: Puisi-puisi


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda