Rabu, 02 April 2025

Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi No. 26-50

 Puisi-puisi Lomba Cipta Puisi 2025 Lumbung Puisi

No. 26-50

(026) 

MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN,

Eko Tunas


Kebersamaan adalah keindahan katamu

Di taman kala resah atau di sekolah saat istirah

Apakah makan bersama adalah bukti keindahan

Anak-anak berseragam nusantara

Juga bapak-ibu guru tercinta

Di bahasa ibu atau negeri -- bahwa kita punya Presiden.

Kebersamaan adalah kebahagiaan katamu

Di ruang bermain atau di kelas belajar 

Adakah makan siang gratis tanda kebahagiaan

Anak-anak berbaris menyanyikan lagu kebangsaan 

Juga bapak-ibu guru yang mulia

Di hari dan bulan berganti -- bahwa kita punya waktu.

Kebersamaan adalah kehormatan katamu

Di tanah air atau di buku-buku pelajaran

Akankah makan siang gratis satu kehormatan

Anak-anak bercita-cita setinggi matahari

Juga bapak-ibu guru pertiwi sejati

Di tahun-tahun yang datang -- bahwa kita punya kehormatan

Kebersamaan

Keindahan

Kebahagiaan

Dan makan bergizi gratis 

Adalah penanda bahwa kita bukan bangsa miskin papa hina dina

Di mata dunia kita punya kehormatan 

Tak tergadaikan -- bahwa kita manusia Indonesia.


Semarang 15 Januari 2025




Eko Tunas (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956; umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang. Ratusan tulisan (puisi, cerpen, novel, dan esai) tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat (John dan Jack Pergi dari Tegal, Joshua Igho, Kompas Cetak, 25 September 2002)

Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.

Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Buku-buku karyanya yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (kumpulan puisi, 2000), Ponsel di Atas Bantal (kumpulan puisi, 2010), dan Tunas (kumpulan cerpen, CresindoPress, 2013).

Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Kota Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Sering kali diundang sebagai juri/pembicara dalam kompetisi/diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa. Karya Karya :

Wayang Kertas (novel, 1990)

Bidadari Sigarasa (cerpen 2002)

Puisi Dolanan (1978)

Yang Terhormat Rakyat (puisi, 2000)

Ponsel di Atas Bantal (puisi, 2010)

Tunas (cerpen, CresindO Press, 2013)


Martoloyo Martopuro

Ronggeng Keramat

Menunggu Tuyul

Gerbong

Sang Koruptor

Langit Berkarat

Rumah Tak Berpintu

Palu Waktu

Surat dari Tanah Kelahiran

Meniti Buih

Pasar Kobar






























(027) 

Utopia Si Jelata,

Wardjito Soeharso


Jangan pernah mengikuti naluri maling 

Dialah sumber utama masalah keruwetan hidup Si Jelata.

Seburuk-buruk manusia adalah yang tega mencuri kata-katanya sendiri. 

Di tanah lapang

Ada banyak orang

Beramai-ramai meniup matahari

Dengan mulutnya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanyaku

"Kami ingin mematikan cahaya matahari." Jawab mereka

Aku hanya geleng-geleng kepala

"Siapakah kalian ini?" Tanyaku lagi

"Kami adalah Pecinta Malam!" Jawab mereka

Mereka menggumam

: "Terang adalah ancaman!"

Aku tersenyum

: "Gelap hanyalah ketidak tahuan."

Kulihat mereka terus saja

Meniup matahari dengan mulutnya

Di bawah komando Si Pembenci Terang

Pohon-pohon wajah

Menunggu saatnya berbuah

Benarkah besok panen dengan sumringah?

Aku mendongak!

Matahari meredup tersaput awan

Tiba-tiba saja rasa rindu menyengat ingatan

Menggelitik harapan dan impian masa depan

Bagai aroma tempe hangat sedang terhidang

Menggoda merayu mengusik puncak selera

Terbang melayang terus mengendus 

Mencari sumber bau bawang merah mentah

Yang sempat terlewatkan setelah lima puluh tahun berkelana

Menyeruak kembali menyusun kenangan 

Mesti kembali tertata nyata di meja makan

Utopia Si Jelata?

Jangan mudah terbuai janji

Tak kan pernah ada itu dalam catatan memori

Makan siang gratis kok bernilai lengkap gizi 

Ah, entahlah!


Wardjito Soeharso

























(028) 

MENS SANA IN CORPORE SANO

Arya Setra


Hiruk pikuk

Riuh gemuruh

Menyambut uluran asupan untuk anak didik seluruh negeri

Test ombak awal tahun

Menimbulkan berbagai macam  opini

Atas situasi yang  terjadi

Sementara kantin kantin sepi

Tukang pikulan menanti harapan

Sepeser uang jajan yang di belanjakan

Semoga semua ini

Bukan sekedar menunaikan

Khotbah Janji 

Saat menarik simpati di panggung konstitusi

Untuk membangun generasi sehat dan bergizi

Mens sana in corpore sano

Jangan sampai programnya kesana

Dana nya lari kesono....


*Arya Setra, Jakarta 18 Januari 2025*


Arya Setra











(029) 

MENYALAKAN SOLIDARITAS,

Moel Soenarko


100 hari dikegelapan penantian 

Di kesenyapan dan kebimbangan

Cahaya harapan menerangi kenyataan Mengenali suara semangat ketulusan kegigihan dan kegigihan

Mengajak, merangkul memulihkan kepercayaan 'tuk pembuktian

Program Makan Bergizi Gratis pada anak

Menghasilkan generasi unggul  anak bangsa bermartabat

Ibarat cahaya mercusuar di kejauhan

Menuntun langkah melawan arus menuju muara pengakuan

Meraih kompas janji  jadi kenyataan

Kelangsungan kehidupan bangsa  sejahtera dan berkeadilan.


















Moel Soenarko 

( nama kecilnya Rr Sri Moeljaningsih ), lahir di Banjarmasin Kal-Sel ) tanggal 29 Maret 1941.

Alamat: Rumah Seni Moel Soenarko

Pondok Hijau Indah, jl Rafflesia No 12

Ciwaruga - Bandung ( 40559 )

Motto : "Dengan Menulis, merawat jalan menuju  sinar kebajikan kehidupan."*

 



















(030) 

Jangan Nak, jangan,

Maya Ofifa Kristianti


Sayur tumis

dan sepotong ikan 

ditambah susu kotak berharga ekonomis 

entah sampai kapan program ini tersampaikan

akankah merata di pelosok nusantara

atau hanya ada di ibukota dan 

di desa masih sekedar wacana

Makan bergizi gratis 

membuat hati miris

juga menangis

banyak nasi dan sayur tak termakan habis 

terbuang 

tak selera 

rasa hambar

enak masakan bunda

Ahhh anak jaman sekarang 

lebih gampang membuang

sayang

Nak, lihatlah

para petinggi negara

sudah berupaya

agar kalian  terjaga 

kesehatan dan gizinya

jangan kau sia siakan 

kebaikannya

jangan

*Kalialang baru 18 Januari 2025*






Maya Ofifa, lahir 46 tahun yang lalu di Semarang. 

senang membaca puisi, juga beberapa kali bergabung di antologi puisi dan gurit bersama kawan kawan. Saat ini menggeluti dunia pranatacara.

*



















 (031) 

MAKAN GRATIS NIKMAT SEKEJAP,

Mustiar Ar


Makan gratis, nikmat tak terhingga,

Tapi siapa bayar, tidak jelas.

Nasi goreng semua gratis

Sambalnya mahal,

Harga demokrasi tak terbayar.

Di kota orang makan di cafe mewah 

Rakyat di suguhi makanan gratis,

Rakyat miskin semakin terjepit 

Program politik digulirkan

Atau kebaikan hati sekejap 

Makanan gratis

Tapi korupsi merajalela.

Makan gratis, bukan senang sementara 

Surutlah ke belakang

Ada yang menderita.

Berbagi itu indah

Tapi jangan salah, makan gratis

Bukanlah solusi


*19 Januari 2025*

 












 (032) 

DI BALIK PIRING SEBUAH REALITA,

Drajat Adi Cahyon0


Sinar mentari pagi menyapa di sekolah

Meja panjang penuh piring warna-warni menggoda

Nasi putih, sayur hijau, sekerat daging yang menggiurkan

Gizi gratis: impian nyata, atau hanya ilusi yang dijual pemerintah?

Anak-anak sekolah berlari dengan riang

Sendok di tangan, dunia dalam gigitan

Mereka mengejar mimpi di balik piring

Di aula yang menjadi hutan magis penuh rahasia

Guru-guru dengan senyum penuh kasih

Mengajarkan kebijaksanaan di setiap suapan

Bahwa makanan ini lebih dari sekadar nutrisi

Adalah tanda cinta langit yang tak terputus

Sementara di luar, masyarakat terpecah belah

Pro dan kontra, debat sengit tak pernah jeda

Ada yang melihat berkah, ada yang mencipta fitnah

Namun jiwa yang tenang tak goyah oleh bisikan

Setiap gigitan adalah langkah menuju kedekatan

Dengan Sang Pencipta dalam rahmat tersembunyi

Menyerap hikmah di balik setiap butir-butir nasi

Mencari makna yang tulus dalam kesederhanaan

Sindiran menyelip dalam obrolan malam

Di media sosial maupun di meja makan

"Makan gratis? Siapa yang bayar?" tanya mereka

Seakan uang turun dari langit tanpa penghabisan

Tapi di hati anak-anak hanya rasa syukur yang ada

Setiap sendok nasi adalah janji masa depan cerah

Pro dan kontra jadi latar belakang yang sunyi

Ketika mereka duduk, makan, dan bermimpi

*Salatiga, 20 Januari 2025*


Drajat Adi Cahyono lahir pada tanggal 17 November di Jakarta. Suka menulis puisi sebagai terapi hati ketika lupa berdzikir dan khilaf mengeja kalam ilahi di umur yang tersisa.

 
























 (033) 

Sebutir Harapan,

IGN Oka Putra


Di saat engkau mengatakan kebijakanmu

Di saat itu pula muncul harapan baru

Kala negara carut marut mengurus keegoisan

Kala senja di atas awan ketidakpastian

Di situ engkau datang bak pahlawan

Dengan gagahnya engkau mengatakan bahwa anak adalah harapan bangsa

Dengan mata yang membara mengisyaratkan kesungguhanmu

Sebagai pemimpin patut ku gugu dan tiru

Kebijakanmu merupakan senyum kebahagian semua murid

Wajah lugu, lucu mereka dengan polos mengisyaratkan ketulusan hati

Senyum itu merupakan balasan atas kebijakan engkau buat yang dimana mereka dapat merasakan nikmat

Semoga engkau sehat selalu

Terimakasih atas pelaksanaan kebijakan yang dulu aku pikir hanya jargonmu

*MALANG, 20 JANUARI 2025*


IGN Oka Putra,  lahir  34 tahun silam di Surabaya. Awal tertarik menulis karena ajakan teman hingga akhirnya menjadi salah satu hobi  sekaligus untuk mengekspresikan perasaan dan hati

*

 






(034) 

Batalkan Saja,

Edi ustama Saragih


Sebagian lain menyelesaikan kata

Sementara ada yg terlunta

Mengharap dengan amat sangat

Nun di singgasana sang raja merealisasikan khayalnya

Batalkan saja.... 

Masih uji coba sudah pro kontra

Anank anak yg ingin makanan sehat

Relawan yg menyelam mencari hikmat

Sementara sampah sisa makanan menumpuk stiap hari

Lalu tikus menariknya pelan.... 

Berlahan

Dan  menumpuknya di gorong gorong

Di balik dinding

Dibalik hati yg kering

Batalkan saja..... 

Mengakui dengan bijaksana

Bahwa perjalanan ini tidak sederhana

Sebab waktu tak mau menunggu

Dumai 19012026














Aih Tene Nama aslinya  Edi ustama Saragih, 

Lahir 15 02 70 sekolah SPG tapi gak pernah jadi guru. Bikin puisi amatir.


































 (035) 

BISINGNYA MBG,

Fath WS


Genderang MBG bertalu

sesiapa merapat 

menahan gunggam

solusi atau mimpi

Berjuta mulut komat kamit, menanti ketidakpastian

yang kurus tetap kurus

yang tambun kian ceking

lalu kapan menyesap ilmu tanpa kebayang sekepal nasi yang belum disantap

Hah ribut lagi, 

Mana susu, buah dan daging

dan di sudut sana, beberapa harus melunaskan dengan muntah dan diare

Dan di TV hilir mudik menu menjadi berita utama, 

kesalahan kirim, hitung pun menjadi biasa

sampai kapan?


*Lembah Tidar, 20 Januari 2025*

 Published by Literanesia — 21 Jan 2025

 

Fath WS




















(036) 

SAYA LAPAR JENDRAL,

Agil Teguh S


Wooooe jendral saya lapar

Anak anak saya lapar

Para petani,pekebun,pekerja kasar pun lapar

Kamu hanya petantang petenteng

Sibuk dengan literasimu

Wooooe jendral sudah kau uruskah 

Perut penimba ilmu itu

Komposisi gizi tanpa biaya

Apakah itu benar jendral?

Lihat saudaraku yang dipapua makan dengan lahapnya

Lihat saudaraku yang dijakarta masih ada lauk sisa sia sia

Sungguh jendral,aku sudah muram dengan semua ini

Aku murka, tapi jendral aku lemah.

Aku cinta negeri ini

Tolonglah jendral urus kebijakanmu

Tentang makan

Tentang gizi

Jangan lukai mereka,jangan buat mereka menangis hanya karena embel embel gratis.

*Sidoarjo,21 januari 2025*













 (037) 

TENTANG MAKAN SIANG BERGIZI, LAGI GRATIS ITU, 

BH. Riyanto


Di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.

Murid-murid harus menikmatinya. Tepat di siang hari; yang di mana isi perut mereka mulai dipenuhi angin dan angan semata.

Murid-murid wajib merasakan; bahwa makan siang bergizi itu bukanlah kisah asing dan hoax yang semakin membasi.

Maka murid-murid wajib mengerti seutuhnya; bahwa makan siang bergizi itu adalah mengenyangkan, dan bukan sebatas bisa dibayangkan. Bahwa makan siang bergizi itu adalah menguatkan urat-otot, dan bukan melemahkan syaraf-otak.

Bahwa makan siang bergizi (lagi gratis itu) adalah program serius presiden kini; biar para murid Indonesia lebih tampak terurus dan tidak kurus.

Ya, di ambang duhur murid-murid mendapati sepiring nasi demokrasi; berlauk sepotong daging kemenangan; bersayur hijau-segar kesyukuran.

Dan sambelnya?

Dan aduhai sambelnya; adalah kombinasi pedasnya semangat perjuangan dan (mungkin ambisi); yang menyala-nyala!

*(Pamekasan, 2025)*


 


BH. Riyanto




















(038) 

LAHAP,

Mustofakhilmi


Dari tetesan hujan 

jatuh ke muka bumi

Nusantara terasa hijau

menyala kehijau subur

tanda tanam siap ditandur

menyemai bibit untuk ditata

teriring doa agar sehat seraya

telah tertanam semakin mapan

bertanam tak berilah macam

dahan tanaman semakin senang

berbuah hasil siap disajikan

menanti panen lama penantian

masak sendiri tak terkirakan

tak tergoda ujaran pecundang

cinta lahan cinta hasil tanaman

sajian mulai tertata di depan

perlahan hati siap santapan

Lahap harap jadi pikiran

Lahap jadi kenyataan

Lahap dalam kemandirian

Lahap nyata adanya


*Gust Must KW Lamatigjur, 090125*


 


Mustofakhilmi



















 (039) 

MAKAN SIANG DI SEKOLAH,

Rodiyatun


Pemimpin baru, kebijakan baru

Wacana di mana-mana

Anak sekolah dapat makan siang gratis

Mungkinkah realita sesuai rencana? 

Terpikir di benakku


Siswa-siswi jumlahnya ribuan

Butuh dapur yang luas, perabotan yang besar

Kerja yang dikejar waktu

Sebab distribusi ke berbagai lokasi

Dengan geografis yang medannya beragam


Mungkinkah sampai di lokasi

Makanan bergizi masih fress, hangat & nikmat untuk dikonsumsi? 

Harapanku, semoga saja

Janganlah sampai di lokasi

Makanan hampir basi


Karena disiapkan sejak dini hari

Ditutup ketika asap masih mengepul

Yang ada, malah timbul masalah lagi

*Pracimantoro, 22 Januari 2025.*


**Rodiyatun** , *guru SD. 

Senang menulis sejak masih sekolah SPG. 

Namun, terkendala peralatan, sekarang, mulai lagi mencoba menulis di berbagai lomba, nulis cerpen maupun puisi di medsos.

*

 


(040) 

Apa Kabar Makan Siang Gratis,

Rosyidi Aryadi



Anggaran membengkak, semua terasa menjadi benar padahal belum tentu suka selera dengan biaya 1 porsi cuma murah meriah maklum di kepala cuma gratis mau makan enak segala.

Inilah gaya hidup para penabuh gerak pematik rasa pada mimpi nyata, jangan paksakan cuma pencitraan memicu perubahan persinggahan 5 tahun cerita anak negeri.

Banyak sekolah tak layak, anak bekerja banting tulang untuk bayar pendidikan yang makin terbang tinggi di cakrawala.

Bergabunglah membaca nyanyian semesta sambil menarikan tarian letih sebatas bulan purnama sambil menabuh genderang keberagaman budaya bangsaku.

Teruslah menabuh keserasian sebab menyeragamkan diri sendiri lebih baik dari pada seragam atasan para pejabat korup.

Tinggalkan budaya malu dalam memerankan karakter seribu wajah luka pada cermin terbelah dua.

Apalah arti sebuah nama kalau memanjakan para pengikut sembari tersenyum malu.











Rosyidi Aryadi kelahiran Banjarmasin, 22 Juli 1956 beberapa kumpulan puisi bersama dalam antologi puisi, penerima Lencana Anugrah 30 Tahun Kesetiaan Setya Sastra Nagari Tahun 2021 dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Penerima Piagam Penghargaan dari LPP RRI Palangka Raya Tahun 2023, Penerima Piagam Penghargaan dari TBM Kalimantan Tengah.

Tinggal di Jl Temenggung Tilung Menteng 17 No 35 RT 02 RW 08 Kel Menteng Kec Jekan Raya, Palangka Raya 73112 Kalimantan Tengah, Wa 081346050064*

 















 (041) 

KEHIDUPAN DAN KESERAKAHAN,

Khalid Alrasyid


Melalui makan bergizi, pemerintah ingin anak-anak berselebrasi, mengurai distraksi juga fluktuasi diri

hari-hari bahagia, kenyangkan perut, sehatkan badan, karena makan bergizi adalah susu ibu yang mengenyangkan jiwa. Namun, di balik layar, korupsi mengintai, menghancurkan harapan, meracuni kepercayaan.

Tangan-tangan kotor, mengambil untuk diri, meninggalkan rakyat, dalam kekurangan, makanan bergizi menjadi komoditas, dengan harga kepentingan pribadi.

Korupsi merajalela, menjadi penyakit kronis, menghancurkan sistem pangan berkelanjutan bagi kelompok yang membutuhkan, pun kelompok rentan.

jika saja 271 triliun dibagi rata,maka 53 juta pelajar Indonesia penuh dengan gizi yang nyata, empat sehat lima sempurna bukan bayang- bayang saja, seperti kulacino di meja-meja, lalu mengembun, dalam perut yang tambun.


Kemlagi, 22 Januari 2024












Khalid Alrasyid seorang Serdadu Laut  kelahiran Pamekasan Madura, menetap di Bumi Mojopahit Mojokerto. Founder Komunitas Kopi & Diksi, Karya-karyanya bisa dilihat di berbagai antologi  puisi seperti : Whispers of The Heart, Thoughts in Words (Bhutan),   Kitab Putiba Indonesia "Takziah Bulan Tujuh." Segugus sajak "Suara-suara Gagak."  Biji-Biji Waktu,  8 Penjuru Mata angin, Neng Ning Nung Nang, 76 Penyair Membaca Indonesia, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Resital Musim,  Angkatan Milineal, Puisi dari Tanah Cahaya, Kumpulan Haiku Under The Moon, , Pare-Pare Kota Cinta,  Nama-Nama yang Dipahat di Batu Karang, Menjadi Indonesia, Kreasi SEMARIS,  Bayi-bayi Puisi di Era Digital, Menolak Puisi Korupsi 8 & 9, Wasiat Botinglangi’ Kebaya Bordir Untuk Umayah, Sekuntum Puisi Untuk Petani, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Meraba Sayap-sayap IKN, Ibu Aku Anakmu dll lebih dari 80 Antologi bersama.











(042) 

DARI MEJA SEKOLAH ADA CERITA,

Dyah Nkusuma


Ronis tersenyum meringis

Melihat ikan dan sayur buncis

Duh, aku tak suka makanan ini

Ditatapnya lekat-lekat tak sampai nangis

Pisang dan air mineral saja dinikmatinya

Mamanya pengusaha katering ternama

Dihitung-hitungnya keseluruhan harga: "aha ... sepuluh ribu kira-kira"

Dullah anak Wak Romlah

Putra ketiga dari janda beranak lima

Dia berucap Alhamdulillah Wasyukurillah

Makan gratis setiap hari sekolah adalah berkah

Lahap-lahap dia mengunyah, menelan tanpa susah payah

Perutnya yang kosong tak lagi berdendang tembang keroncong

Teman-temannya terkesima dan bengong

Sonya, gadis cantik anak pengusaha

Diam terpaku menatap suguhan menunya

Pelan-pelan mengeluarkan bekal dari dalam tasnya

Makan bergizi gratis tak menyentuh seleranya

Tetaplah utuh tergeletak di atas meja

Menunggu nasib baik di bawa pulang petugas kebersihan

Atau terbiar percuma, sia-sia basi dan muspra

Ibu kantin manggut-manggut, ngelangut

Kue-kue yang tertata dirubung semut

Jajanan ringan kering mendekati kadaluarsa

Mata sayu mengelap debu pada minuman kemasannya

Biaya sewa sudah terbayar penuh enam bulan

Pendapatan minus tak seiring jalan, memikirkan beralih ke usaha apa

Sedang makan bergizi gratis ibu-ibu PKK yang kelola

*Sampit, 22/01/2025*

 








Dyah Nkusuma, penyuka puisi sejak usia dini, domisili di kota Sampit, Kotim, Kalteng. Mengelola Sudut Baca Kin dan Rumah Jahit Kin. Aktif menulis di laman gawai sejak Oktober 2019. Hingga Desember 2024 telah turut 80 buku antologi bersama, 4 buku tunggal, satu buah Tandem. Terakhir  masuk dalam leksikom; Apa dan Siapa Perempuan Penulis/Pengarang Indonesia (KKK 2023). 

Saat ini aktif sebagai admin di Grup Sastra TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia), NHI (NewHaiku Indonesia), dan owner Grup Sastra PuSeRik.

Dari 2020 hingga 2024 didapuk menjuri untuk Dinas kebudayaan dan pariwisata baik lomba puisi, bercerita, deklamasi, presenter & guide museum, tingkat SD SLTP & SLTA, Juri lomba dongeng/cerita edukasi anak GOW (2022), Juri teaterikal puisi tingkat SLTP & SLTA Dinas Pemberdayaan Ibu dan Anak (2022): Kab Kotim. Juri lomba deklamasi tingkat SLTA, milad SMANDA Sampit (2023).


(043) 

Tidak Amanah,

Mata Atma


**Makan**

Beberapa suapan

Mantap tiada tandingan

Bersyukur atas nikmat tuhan

Tanpa diminta dia telah berikan

Tanpa sepeser uang yang harus dikeluarkan

Tulus ikhlas tanpa harus meminta belas kasihan

Tapi tidak semua insan merasakan kebijakan itu

Sebab penerapan belum menyebar ke penjuru

Tidak semua bergizi seperti katamu

Sebab korupsi lembar biru

Tiada amanah, semu

Ada penipu

Bisu

*Ponorogo,22 Januari 2025*


Meta Atma, Seorang ibu rumah tangga yang suka merangkai kata-kata dan suka belajar agar lebih baik lagi


 












 (044) 

SEORANG BOCAH DAN MAKAN SIANG,

Sulistyo


mata bocah kecil menerawang 

akankah makan siang dari tuan yang budiman ini terus bertahan?

seminggu ini perutnya kenyang 

tanpa harus mengeluarkan uang jajan 

yang hanya ada dalam angan-angan

hingga kelas lima sekolah dasar 

mustahil berbekal selembar lima ribuan 

"emak hanya buruh cuci baju harian" katanya kepada seorang teman yang pernah mentraktirnya makan 

ayam rica-rica 

irisan buah naga 

yang kemarin hanya ada dalam cerita

hari ini menjadi nyata 

dikunyah dengan suka cita 

dan diam-diam 

  dengan tetesan air mata 

apakah ini aku terus ada?

batinnya nelangsa

*Mulya Asri, 22 Januari 2025*












Sulistyo, Lahir dan besar di Kudus. Pensiunan Disc Jockey yang suka menulis puisi. Beberapa puisinya diterbitkan dalam antologi bersama dan antologi tunggal.*





























 (045) 

Mimpi Makan Siang Gratis,

Rahayu Budiman


Mimpi Makan Siang Gratis Nama Rahayu Budiman Makan siang gratis, baginya sebuah...

**BAGIMU HANYA, BAGI MEREKA LUAR BIASA

Riska Widiana**


Jangan kau sebut bahwa makan gratis itu memalukan 

Beberapa bagian, ia bagaikan tangan kanan 

Bagi orang-orang tak memiliki lengan 

Sebagai kaki, bagi mereka tak mampu melangkah 

Meski, di sebuah piring

Satu jeruk keriput tersenyum 

Tumis sayur dingin sedang manyun 

Daging ayam seruas jahe terlihat datar

Mungkin bagimu hanya sebuah makanan sederhana 

Tiada artinya, jika disandingkan dengan meja makanmu

Dipenuhi tawa dan buah segar

Nuansa ceria secerah musim semi

Daging yang mengepul, kadang sesekali terabai 

Oh, jangan, berbeda bagi kami yang selalu menghitung 

Setiap jumlah butir nasi, jatuhnya saja

Adalah tangisan anak-anak, jeritan orang pinggiran 

Setiap rasa, setiap asam, asin dan manisnya lauk-pauk 

Adalah detak dan napas kami, untuk terus merentangkan 

Sebuah kehidupan yang menjulur sepanjang rahasia Tuhan 

Jangan berkata-kata, kau cukup diam 

Jika hatimu tak suka, bawa saja Makanan dari dapurmu yang bersahaja 

Jangan dibuang, bagi kami, sehari makanan gratis 

Ada beberapa hari kehidupan diselamatkan 

Entah kau hendak berterima kasih atau tidak 

Diam saja, kita hanya cukup bersyukur 

Setiap jalan yang telah diukur 

Jangan mengeluh, duh

Bagimu adalah hanya 

Bagi mereka adalah luar biasa 

Sebab, tak semua nasi dan lauk istimewa 

Di meja mana mereka terhidang 

Tapi, di perut mana mereka diterima dengan syukur 


Riau,26/1/ 2025



 

Rahayu Budiman















 (046) 

Omong Kosong,

Rudi H.


         Ada yang bilang gratis

            Tapi nyatanya miris

                  Janji manis

                        Amis

                     Makanan

                 Hanya ucapan

       Tanpa adanya penerapan

Semua hanya menjadi omongan

      Ada yang sudah berharap

          Makan dengan lahap

            Siap menyantap

                   Bertiarap

                    Bergizi

              Atau bergengsi

           Semua hanya imaji

      Agar insan saling memuji

*Kota Reog, 22-01-2025*


Rudi H, Pria kelahiran Ponorogo,10 September 1996 , tinggal di desa baosan lor kecamatan Ngrayun,













(047)

Untuk Tuan dan Puan,

Elvayanti Tammelle


Di bilik bambu yang mulai rapuh

Di bawah atap yang tak lagi utuh

Anak-anak berpakaian lusuh

Menulis pesan di buku tulis

Untuk Tuan dan Puan

Kami anak-anak kuli

Tak begitu peduli

Juga tak memahami nilai gizi

Perut terisi dengan nasi

Bagi kami adalah rezeki

Apalagi ditambah ikan teri sambal terasi

Tuan dan Puan

Di tengah nyanyian perut semakin menghajar

Kami ingin tetap belajar

Semoga dengan izin Tuhan

Mata hati Tuan dan Puan

Sampai diantara lembah dan hutan

Di sini kami butuh makan untuk bertahan


Parigi Moutong, 23 Januari 2025













Elvayanti Tammelle.Kelahiran Bone, 29 September 1988 Sulawesi Selatan. Berdomisili di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Alumnus Pendidikan Matematika, Universitas Tadulako. Puisinya pernah dimuat di media online www.riausastra.com dan www.ranahriau.com. Memiliki beberapa buku Antologi Puisi dan satu buah Antologi Artikel. Salah satu artikelnya juga pernah dimuat di Majalah Suara Guru. Pernah juara III dan Harapan III cipta puisi yang diselenggarakan oleh Asqa Imagination School (AIS). Pernah terpilih sebagai salah satu penulis puisi nasional kategori guru yang diselenggarakan oleh Nyalanesia. Dapat disapa via Ig:@elvatammelle
























 (048) 

PESAN IBUKU :MAKAN GRATIS KENYANG

Eryanto Kamis


Anakku

Jangan kau nista makan tersedia

Duduk tenang menerima

Makan bergizi gratis belum tentu ada

Jika pimpinan hanya pandai mengolah kata 

Anakku

Jika ada makanan tak layak 

Percaya saja bukan dikehendak

Pengelola perlu menyesuaikan 

Waktu sempit jadi pelajaran

"Kuncinya, jangan kau makan,"

Anakku

Jangan sia - siakan makanan yang kau dapatkan

Tegakkan kepalamu  kedepan

Disana menanti sebuah harapan

Anak - anak negeri cinta keadilan

Bukan hanya pandai hujatan

"Makan gratis dan kenyang," 

Anakku

Berterimakasihlah kepada orang berbuat baik

Karena yang tidak suka

Belum tentu bisa berbuat lebih mulia

Mereka  mengadalkan bicara, padahal tidak bisa apa - apa

Anakku

Jika engkau mau makan berdoalah

Bersyukur negara ini bisa memberimu makan

Berterima kasih ada pemimpin perhatikan rakyatnya

Doakan agar damai sejahtera menaunggi negara kita

Anakku 

Ketika zaman gatal - gatal dan korengan di lututku

Makan gratis itu pulang sekolah ketemu orang hajatan

Kita mampir modal salaman numpang makan

"Sekedar untuk perbaikan gizi saja," begitu kata teman

Bekasi, 2025








ERYANTHO KAMIS, lahir di Sepang Simin, Kalimantan Tengah. Separuh usianya sebagai Jurnalis di Kalteng. Kini menetap di Bekasi. Anggota PWI seumur hidup sejak akhir tahun 2024. Menulis puisi sudah sejak 80-an, terjun sebagai jurnalis 89 -an. Pernah mengelola rubik sastra di Harian Kalteng Pos, mingguan Dinamika Pembangunan, dan di Radio Cakrawala Borneo Nusantara FM. Merasa belum siap menerbitkan buku puisi tunggal. Hanya ikut antologi puisi bersama rekan- rekan lainnya. Pendidikan terakhir S2 MSDM STIE Pancasetia Surabaya.*






 (049) 

MAKAN SIANG DALAM CELOTEHAN DI NEGERI AMAN DAN TENTERAM,

Mimi Marvill


Tak perlu gusar

ketika puluhan anak keracunan

usai makanan bergizi dibagikan

toh itu hanya secuil persen

dari total angka keseluruhan

Tanamkan pikiran positif pada atasan

yang mereka beri amat spesial

keracunan ialah reaksi efek

menjadikan anak-anak pintar

Kritik ialah sebuah kebodohan

tak tahu syukur atas pemberian

sedang kemiskinan merupakan ladang

yang mesti ditanam dan panen setiap saat

Tak perlu bertanya-tanya

mengapa anggaran dipangkas di mana-mana

santap saja apa yang ada

tak usah mencari susu segala

barangkali sapi-sapi telah menua, menopouse adanya

jika menu tak sempurna

masih banyak janji yang bisa disantap sepuasnya

Ingat saja kata nenek moyang dahulu

selagi tanah air dikuasai serdadu (Jepang dan Belanda)

makan yang penting ada 

tak perlu bertanya empat sehat lima sempurna

sebab kesempurnaan hanya milik yang Mahakuasa

**Temanggung, 24 Januari 2025**






Mimi Marvill, *lahir dan menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Puisinya terangkum dalam sebuah antologi tunggal dan beberapa antologi bersama, serta media online.




























(050) 

INTERPRETASI GIZI,

Cinta


Sepiring nasi

Adalah cinta pendiri negara ini

Dalam kitab undang-undang

Yang lama dikotori

Seperti puisi

Selalu banyak interpretasi

Menjadi kalimat bersayap

Berkoloni seperti rayap

Sepiring nasi

Dananya lebih bergizi

Yang siap dikorupsi

Mata mata api

*Surabaya, 2025*


Cinta, Perempuan kelahiran  Kota Pahlawan, pernah tinggal di Bandung, Jakarta & Padang, saat ini menetap di  Gresik, menyukai sastra setelah menetap di Kota kelahirannya, namun tidak pernah berani mengikuti antologi. Komunitas Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia adalah antologi ketiga yang diikutinya.

*

 












Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda