Selasa, 24 Mei 2022

Sisa Sisa Gesang, Sebuah Upaya Mengukir Prasasti dari Bait-Bait Puisi. Oleh : Heru Patria

 Sisa Sisa Gesang, 

Sebuah Upaya Mengukir Prasasti dari Bait-Bait Puisi. 

Oleh : Heru Patria 

Di saat banyak orang bingung mengisi hari tuanya dengan sebuah kegiatan yang diharap cukup memiliki makna baik untuk diri sendiri, anak cucu, maupun sesama, Bapak RgBagus Warsono justru menggelontorkan ide pengumpulan karya puisi bagi penyair yang sudah memasuki usia 60 tahun lebih. 

Tentu hal ini merupakan sesuatu yang istimewa. Sesuai pepatah, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, maka di sisa sisa usia para penyair kembali dipompakan semangat untuk tetap berkarya. Sungguh sebuah upaya brillian untuk menjaga eksistensi dari para kakek atau nenek di sela kesibukan menimang cucu. 

Bisa jadi, meskipun karya puisi itu nanti tidak diterbitkan dan hanya dijadikan semacam dokumentasi, tapi akan menjadi sebuah warisan yang besar maknanya untuk anak cucu para khususnya dan untuk penyair generasi-generasi selanjutnya. Hal ini bisa menjadi sebuah prasasti yang akan mengabadikan nama dan karya para penulisnya. 

Saya yakin, akan ada banyak puisi berisi tentang pahit getir kehidupan, bahkan juga wejangan-wejangan untuk generasi mendatang yang bisa dipetik dari karya penyair 60+ ini. Karya mereka akan bisa menjadi cerminan sekaligus tonggak pengingat bahwa mereka pernah ada dan berjaya pada masanya. 

Dan tidak menutup kemungkinan pendokumentasian puisi para penyair usia lanjut ini juga akan menjadi semacam reuni kesusastraan sebagai bentuk masih adanya rasa kebersamaan antar penulis kawakan. 

Menurut hemat saya, mengisi sisa-sisa umur dengan berkarya semacam ini justru bisa menjadi terapi agar para penyair usia 60+ tetap sehat dan terus mampu menatap dunia lewat deretan kata-kata. 

Banyak orang mengatakan bahwa menulis bisa menjadi terapi jiwa. Itu artinya dengan tetap mengajak penyair 60+ untuk terus berkarya, akan menjadi terapi bagi mereka untuk tetap sehat, optimis, kreatif, dan produktif. 

Berkarya sepanjang hayat akan menjadi sebuah prasasti, pencatat jejak-jejak kreatifitas yang sangat layak untuk diapresiasi. 

Dengan terus berkarya di usia senja, akan menumbuhkan rasa syukur terhadap usia yang sudah dijalani. Banggalah mereka yang sudah merasa tua karena berarti mereka pernah muda, sementara banyak orang muda yang belum tentu bisa sampai tua. 

Ibarat kata, tua-tua keladi, makin tua makin cinta pada puisi. 

Tentu prasasti karya para penyair Sisa Sisa Gesang ini akan menjadi sebuah warisan tak ternilai untuk generasi sekarang maupun generasi nanti. Hanya doa doa terbaik yang bisa saya persembahkan semoga semuanya senantiasa sehat, tetap berkarya, dan menebar manfaat. 

Sisa Sisa Gesang akan mengukir nama para penulisnya menjadi bagian dari pegiat dunia sajak yang tak terlupakan. 

Salam literasi Indonesia

Blitar, 24 Mei 2022.



Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda